Hadis Tentang Takdir

 A.      Pengertian dan Macam-macam Takdir

Kata takdir berasal dari bahasa Arab yang merupakan bentuk mashdar dari qaddara (قدر) yang berarti kemampuan dalam melakukan sesuatu. Dalam kamus Lisan al Arab, kata qadara berarti salah satu sifat Allah yang mampu melakukan apa saja yang Ia kehendaki. Takdir berkaitan erat dengan qadha dimana takdir adalah perwujudan dari qadha Allah dalam memutuskan sesuatu.[1] Sedangkan dalam kamus Mu’jam Maqayis al Lughah, kata qadara berarti sampainya sesuatu. Qadr juga berarti ketetapan Allah terhadap sesuatu yang telah sampai waktunya dan merupakan penjelasan dari kehendakNya terhadap sesuatu itu.[2] Dan dalam kamus al Munawwir, kata qadr berarti ukuran, kuasa dan kemampuan.

Sedangkan menurut istilah dari penulis, takdir adalah ketetapan Allah atas segala makhluknya yang pasti terjadi dan tidak bisa dihindari oleh manusia jika waktunya telah tiba, akan tetapi dalam menghadapi ketetapan tersebut, manusia masih diberikan kebebasan untuk memilih mana yang terbaik bagi diri mereka. Oleh karena itu, permasalahan takdir tidak bisa dilepaskan dari ketetapan Tuhan dan pilihan manusia. Karena dalam melaksanakan ketetapannya, Allah selalu memberikan sebab-sebab yang alamiah yang bisa diterima akal manusia, walaupun terkadang tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam pikiran (baca: harapan) manusia.

Adapun macam-macam takdir, menurut sebagian besar ulama takdir terbagi kepada dua macam, yaitu : Takdir Mubram dan Takdir Mu’allaq. Takdir mubram adalah ketetapan Allah atas makhluknya yang mana tidak ada kemampuan dari makhluk tersebut untuk menghindarinya.[3] Dalam hal ini, takdir seperti ini lebih sering penulis sebut sebagai Qadha Allah. Artinya, takdir jenis ini adalah kehendak mutlak dari Allah yang mana semua makhluknya suka atau tidak suka harus menerimanya. Contohnya antara lain: kematian, orang tua, keluarga, dan keturunan.

Sedangkan takdir yang kedua adalah takdir mu’allaq, yaitu ketetapan Allah yang berlaku pada makhluknya sesuai dengan apa yang dilakukannya di dunia sesuai dengan kemampuannya sendiri.[4] Takdir jenis ini lebih sering penulis sebut sebagai Takdir Allah. Artinya, segala ketetapan Allah yang terjadi pada diri manusia sesuai dengan apa yang mereka pilih dalam hidup mereka. Dalam hal ini, segala sesuatu yang terjadi pada diri manusia yang berkaitan dengan masa depan mereka adalah takdir mu’allaq ini. Apa yang sering diprotes oleh manusia, apa yang sering dipasrahkan oleh mereka adalah takdir yang seperti ini. Contohnya adalah rejeki, jodoh, ilmu, kemampuan, bakat, keahlian (skill), dan sebagainya.

Banyak orang yang menganggap bahwa salah satu takdir yang tidak bisa dirubah adalah jodoh dan rejeki. Akan tetapi, menurut penelitian yang penulis lakukan dengan melihat realitas dan apa yang terjadi di lingkungan penulis berada, jodoh dan rejeki termasuk jenis takdir yang bisa dirubah. Karena di dalamnya ada kebebasan yang diberikan kepada manusia untuk memilih yang terbaik baginya. Dan filosofi pilihan adalah setiap pilihan pasti mempunyai resiko. Jadi, ketika telah memilih sesuatu, manusia harus siap menanggung segala resiko yang timbul dari perbuatannya itu.

Sebagai contoh adalah memilih jodoh. Jodoh pada prinsipnya termasuk takdir, tapi semuanya tergantung diri manusia sendiri. Dalam hadis diterangkan bahwa seseorang dipilih karena salah satu dari 4 hal, yaitu keadaan fisiknya, hartanya, keturunannya dan agamanya. Ketika seseorang memilih jodohnya dengan melihat dari hartanya, resikonya adalah dia akan dikendalikan oleh harta itu sendiri dan akan semakin jauh dari Allah jikalau ia tidak bisa mengendalikan harta tersebut. Ditambah lagi dengan sifat pasangannya yang cenderung terbiasa hidup mewah, ketika mendapatkan sebuah cobaan berupa kehilangan semua hartanya, maka pasangannya itu bisa mendorong ke hal-hal yang dilarang Allah agar bisa mendapatkna kemewahan lagi. Begitu juga sebaliknya jika seseorang memilih jodohnya karena agamanya.

 

B.       Hadis-hadis Tentang Takdir

Adapun hadis-hadis yang berbicara tentang takdir diantaranya adalah :

  • Ø Shahih Bukhari no 3332 :

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِى حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهْوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ « إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ فِى بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ إِلَيْهِ مَلَكًا بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ، فَيُكْتَبُ عَمَلُهُ وَأَجَلُهُ وَرِزْقُهُ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ، ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ، فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ، فَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ، حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُ النَّارَ »[5]

Artinya :

Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah mencertikan kepada kami Rasulullah saw : “Sesungguhnya salah satu dari kamu (sperma) dikumpulkan dalam perut ibumu selama 40 hari, kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga, kemudian menjadi segumpal daging selama itu juga, kemudian Allah mengutus malaikat untuk menyerukan 4 hal. kemudian malaikat itu menulis amalnya, rezekinya, ajalnya, yang buruk maupun yang baik. Kemudian ditiupkan ruh ke dalam segumpal daging tersebut. Maka sesungguhnya salah seorang diantara kamu mengerjakan amalan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka itu tinggal satu hasta, sampai melebihi apa yang telah ditetapkan padanya, tetapi kemudian ia mengerjakan amalan ahli surga, maka ia masuk ke dalam surga. Dan salah satu diantara kamu mengerjakan amalan ahli surga hingga jarak antara ia dan surga tinggal satu hasta, sampai ia melebihi apa yang telah ditetapkan padanya dan mengerjakan amalan ahli neraka, maka ia masuk ke dalam neraka”.

  • Ø Hadis riwayat Bukhari no 6599 :

حَدَّثَنِى إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ ، كَمَا تُنْتِجُونَ الْبَهِيمَةَ ، هَلْ تَجِدُونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ حَتَّى تَكُونُوا أَنْتُمْ تَجْدَعُونَهَا »[6]

Artinya :

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda : “Setiap orang lahir dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang membuat ia menjadi Yahudi dan Nasrani seperti lahirnya binatang ternak. Apakah kamu melihat ada kecacatan padanya sampai kamu membuatnya menjadi cacat ?”

  • Ø Hadis riwayat Turmuzi no 2309 :

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُنْذِرِ الْبَاهِلِىُّ الصَّنْعَانِىُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ الْمُقْرِئُ حَدَّثَنَا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ حَدَّثَنِى أَبُو هَانِئٍ الْخَوْلاَنِىُّ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِىَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ « قَدَّرَ اللَّهُ الْمَقَادِيرَ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ »[7]

Artinya :

Umar bin Abdullah berkata : aku mendengar Rasulullah saw bersabda : “Allah telah menetapkan ukuran-ukuran (takdir) 500 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi”.

  • Ø Hadis riwayat Turmuzi no 2294 :

حَدَّثَنَا أَبُو الْخَطَّابِ زِيَادُ بْنُ يَحْيَى الْبَصْرِىُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَيْمُونٍ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ حَتَّى يَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَهُ »[8]

Artinya :

Dari Jabir bin Abdullah berkata : Rasulullah saw bersabda :”Tidaklah beriman seseorang diantara kamu sebelum ia beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk. Sehingga ia mengetahui bahwa apa saja yang ditetapkan akan menimpanya, pasti tidak akan meleset darinya. Dan apa saja yang ditetapkan meleset darinya, pasti tidak akan menimpanya”.

  • Ø Hadis riwayat Turmuzi no 2307 :

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَبِى الْمَوَالِى الْمُزَنِىُّ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَوْهَبٍ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « سِتَّةٌ لَعَنْتُهُمْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ وَكُلُّ نَبِىٍّ كَانَ الزَّائِدُ فِى كِتَابِ اللَّهِ وَالْمُكَذِّبُ بِقَدَرِ اللَّهِ وَالْمُتَسَلِّطُ بِالْجَبَرُوتِ لِيُعِزَّ بِذَلِكَ مَنْ أَذَلَّ اللَّهُ وَيُذِلَّ مَنْ أَعَزَّ اللَّهُ وَالْمُسْتَحِلُّ لِحَرَمِ اللَّهِ وَالْمُسْتَحِلُّ مِنْ عِتْرَتِى مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَالتَّارِكُ لِسُنَّتِى »[9]

Artinya :

Dari Aisyah berkata : Rasulullah saw bersabda :”Enam golongan yang yang aku dan Allah serta para Nabi mengutuknya adalah orang yang melebih-lebihkan kitab Allah, orang yang mendustakan takdir Allah, penguasa yang mengunakan kekuasaanya untuk memuliakan orang yang menghina Allah dan menghinakan orang yang memuliakan Allah, orang yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah, orang yang menghalalkan perbuatan jahat yang diharamkan Allah, dan orang yang meninggalkan sunnahku”.

Hadis pertama berbicara tentang takdir yang diberikan Allah kepada manusia pada awal penciptaannya sebelum lahir ke dunia. Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa pada saat manusia berada di dalam kandungan, kira-kira berumur 4-5 bulan, diutus malaikat kepadanya untuk menuliskan takdirnya di dunia. Takdir disini berupa rezeki dan umur serta hal-hal yang akan terjadi dalam hidupnya, baik itu hal-hal yang membahagiakan ataupun penderitaan-penderitaan yang akan dialaminya. Dalam hadis ini juga dijelaskan bahwa terkadang ada manusia yang tidak akan bisa menyangka bagaimana akhir hidupnya sesuai dengan takdir yang telah Allah tetapkan padanya. Diceritakan dalam hadis tersebut bahwa ada seseorang yang berbuat kejahatan terus menerus hingga sampailah ketetapan akan hukuman dari perbuatannya, akan tetapi di akhir hidupnya ia bertobat dan mengerjakan amal kebaikan hingga akhirnya masuk surga. Begitu juga sebaliknya, orang yang pada awalnya selalu mengerjakan amal kebaikan, akhirnya masuk neraka karena di akhir hidupnya ia berpaling dari kebaikannya. Begitulah takdir Allah terhadap manusia, jikalau Ia menghendaki sesuatu terjadi, sehebat apapun manusia menghindar, ia tidak akan terlepas dari takdir itu. Hal ini telah dijelaskan di dalam Al Qur’an surah al Mursalat ayat 20-23 :

أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ (20) فَجَعَلْنَاهُ فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (21) إِلَى قَدَرٍ مَعْلُومٍ (22) فَقَدَرْنَا فَنِعْمَ الْقَادِرُونَ (23)

Artinya :

“Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina. Kemudian Kami tempatkan dia di dalam tempat yang kokoh (rahim). Sampai waktu yang ditentukan. Lalu Kami tentukan (bentuknya), Kami adalah  sebaik-baik yang menentukan”.

Hadis kedua berbicara tentang kesucian manusia ketika ia lahir. Di dalam hadis itu disebutkan bahwasanya ketika manusia lahir ke dunia, ia bersih dari segala dosa dan ia nantinya akan mengikuti jejak orang tuanya dalam beragama. Berbeda dari hadis pertama, hadis ini ingin memberikan penjelasan bahwasanya takdir manusia tidak mutlak bergantung pada keinginan Tuhan saja, tetapi ada faktor-faktor lain yang mempengaruhinya agar terjadi, ada sebab-sebab yang menjadikan takdir itu sebagai kejadian alam yang lazim. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi takdir manusia adalah orang tua dan lingkungan. Seorang anak yang lahir dalam keluarga yang Islami, tentunya akan menjadi seorang muslim yang baik. Begitu juga dengan seorang anak yang lahir dalam keluarga yang beragama lainnya, tentunya akan menjadi penganut agama orang tuanya. Selain dari itu, karakter dan cara berpikirnya juga berbeda, sesuai dengan lingkungan yang membesarkannya. Manusia dilahirkan dalam keadaan sempurna tanpa ada cacat, akan tetapi di tengah perjalanan hidupnya bisa saja terjadi sesuatu yang membuatnya mempunyai cacat di mata orang lain. Hal ini dijelskan Al Qur’an dalam surah an Nisa ayat 79 :

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

Artinya :

“Apa saja kebaikan yang datang kepadamu, maka sesungguhnya itu adalah dari Allah. Dan apa saja bencana yang datang kepadamu, maka itu berasal dari perbuatanmu sendiri. Kami telah mengutusmu untuk menjadi rasul bagi umat manusia dan cukuplah Allah sebagai saksi”.

Seperti halnya pertanyaan nabi di atas, sampai kamu membuatnya menjadi cacat. Yaitu sampai orang-orang yang berada disekitarnya memberikan pengaruh yang tidak baik padanya sehingga ia menjadi cacat baik dari segi fisik, mental dan akal.

Hadis ketiga berbicara tentang ketetapan-ketetapan Allah terhadap seluruh makhluknya. Allah telah memberikan takaran-takaran yang akan membuat dunia ini menjadi seimbang dan akan membuatnya menjadi lebih indah sebelum dunia itu diciptakan. Segala ketetapan, takdir, ukuran-ukuran, batasan-batasan, semuanya sudah diatur sedemikian rapi agar kehidupan makhlukNya menjadi nyaman dan bisa melaksanakan tugas masing-masing di muka bumi. Selain itu, semuanny mempunyai ukurannya masing-masing yang apabila ukuran itu dilanggar, maka akan mengganggu stabilitas yang lainnya sehingga akan menimbulkan hal-hal yang akan merusak kehidupan makhluk di muka bumi ini. Seperti eksplorasi kekayaan bumi yang berlebih-lebihan, pembuangan limbah yang sembarangan serta hal-hal yang lain yang akan merusak ekosistem yang telah ada. Seperti firman Allah dalam surah al Qamar ayat 49 :

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

Artinya :

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan ukurannya masing-masing”.

Hadis keempat berbicara tentang datang dan tertolaknya sebuah takdir yang diberikan Allah kepada manusia. Hadis ini menjelaskan bahwa ketika Allah sudah menetapkan suatu musibah kepada manusia, maka tidak ada satu orangpun yang bisa lari dari takdir tersebut. Akan tetapi, jikalau takdir itu bukan untuknya, maka dia tidak akan bisa mendapatkan hal tersebut dan musibah apapun tidak akan menimpanya. Hadis ini menjadi penengah diantara hadis pertama yang menjelskan tentang kemutlakan takdir dan hadis kedua yang berbicara tentang kebebasan manusia di dalam memilih jalan hidupnya serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Hadis yang terakhir berbicara tentang kebencian Allah dan rasul-rasulNya terhadap orang yang tidak mempercayai adanya takdir, orang yang tidak percaya bahwasanya segala yang terjadi di dalam hidupnya sudah diatur sedemikian rupa sesuai dengan jalan hidup yang dipilihnya. Hal ini berkaitan dengan paham-paham yang menafikan takdir dalam kehidupan manusia, dimana di dalam Islam sendiri ada paham-paham yang sudah ekstrim mengatakan bahwa Allah tidak mempunyai hak dalam kehidupan manusia. Padahal, segala yang terjadi dalam hidup manusia sudah ada jalannya sendiri-sendiri. Hal ini sudah dijelaskan dala Al Qur’an surah al Hadid ayat 22 :

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Artinya :

“Tiada suatu bencanapun yang terjadi di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfudz) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalh mudah bagi Allah”.

Kesimpulan

 

Dari uraian diatas dapatlah diambil hikmah bahwasanya takdir tidak hanya sebuah ketetapan yang tidak bisa dirubah. Tetapi takdir adalah kesepakatan bersama antara Allah dan manusia di dalam mengatur kehidupan. Saling memberi dan saling menghargai serta saling mencintai antara satu dengan yang lainnya tentu akan menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dan Tuhannya, sehingga takdir yang tadinya menjadi sesuatu yang kelihatan jelek, menjadi suatu nikmat yang tidak akan pernah didapatkan dari mahklukNya.

Daftar Pustaka

 

E Book Al Qur’an al Karim

E Book Shahih Bukhari

E Book Sunan at Turmuzi

Software Maktabah Syamilah

Hasyim, Umar, Mencari Takdir, Penerbit Ramadhani, Solo, 1983, hal. 74


[1]  Ibn Munzur, Muhammad bin Karim, Lisan al Arab, Dar Shadir, Beirut, t.t. , juz 5, hal. 74

[2]  Abi al Husain, Ahmad bin Qaris bin Zakariya, Mu’jam Maqayis al Lugah, Ittihad al Kitab al Arab, t.tp. , 2002, juz 5, hal. 51

[3]  Hasyim, Umar, Mencari Takdir, Penerbit Ramadhani, Solo, 1983, hal. 74

[4]  Ibid, hal. 75

[5]  Al Bukhari, Muhammad bin Ismail, al Jami’ al Shahih al Mukhtashar, Dar Ibn Katsir, Beirut, 1987, juz 11, hal. 490

[6]  Ibid, juz 22, hal. 9

[7]  At Turmuzi, Muhammad bin Isa, al Jami’ ash Shahih, Dar Ihya’ at Turats al Arabi, Beirut, 1998, juz 8, hal. 310

[8]  Ibid, hal. 287

[9]  Ibid, hal. 307

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s