Hubungan Antara Agama dan Negara

 Sejarah hubungan  Agama  dan Negara

Hubungan antara agama dan negara sudah berlangsung sejak agama itu muncul sebagai solusi untuk mencapai ketenangan batin. Di Barat hubungan itu sudah terjadi pada masa Yunani Kuno yang mana keseimbangan sebuah negara bergantung pada kepercayaan yang berlandaskan mitos kepada dewa-dewa yang menguasai dan mengatur alam raya.

Pada masa itu, setiap periode tertentu ketika kekuasaan baru memegang peranan dalam masyarakat, diadakanlah peryaan dan persembahan kepada dewa-dewa agar negara itu bisa makmur dan aman sejahtera. Dan ketika terjadi sebuah konflik di dalam kerajaan atau masyarakat, maka keputusan terakhir akan diserahkan kepada dewa melalui orang bijak atau filosof yang memiliki hubungan yang kuat dengan dewa-dewa tersebut.

Setelah datangnya Isa al Masih dengan membawa agama yang kemudian dikenal dengan sebutan Christian atau kristen, pola pikir yang terbentuk tidak lagi bersifat mitos. Agama ini berkembang pesat pada masa kerajaan Romawi yang kemudian membentuk sebuah dewan untuk mengurus masalah keagamaan. Walaupun begitu, agama ini juga cukup sulit untuk masuk ke dalam negara tersebut untuk menghilangkan kepercayaan terhadap dewa-dewa tersebut. Hal ini terbukti dengan disalibnya Jesus sang Penyelamat karena adanya kekuasaan dari pemerintah yang mencegah terjadinya perpecahan di dalam negara tersebut karena adanya perbedaan kepercayaan. Pasca wafatnya Jesus, agama tersebut berkembang dengan pesat karena adanya Bible yang diyakini oleh umat Kristen sebagai wahyu dari Tuhan. Lama-kelamaan akhirnya kepercayaan akan adanya wahyu Tuhan tersebut mulai menyentuh elit pemerintah yang kemudian menyuruh mayarakat untuk mengikuti jejaknya.

Dari sinilah dimulai era kekuasaan Gereja yang diberi kekuasaan untuk mengatur masalah kenegaraan. Puncaknya terjadi pada masa kekhalifahan Salahudin al Ayubi dari Dinasti Fatimiyyah di Mesir yang melancarkan perang agama terbesar sepanjang sejarah terhadap gereja. Disini terlihat bahwa gereja memiliki kekuasaan penuh untuk menggunakan elit negara, terutama kekuatan pasukan untuk mempertahankan eksistensi sehingga terjadilah Perang Salib sebagai simbol pertahanan gereja terhadap serangan dari luar.

Akan tetapi, campur tangan gereja yang dianggap terlalu berlebihan  dalam mengatur kehidupan bernegara masyarakat akhirnya menimbulkan kejenuhan dan kegelisahan di kalangan masyarakat dan negarawan. Sehingga terjadilah sebuah reformasi pemikiran terhadap agama yang dinamakan dengan reinassance yang diikuti dengan munculnya aufklarung di Jerman. Pada masa ini, masyarakat dan negarawan, terutama filosof tidak lagi ingin terikat dengan dogma-dogma negara yang dianggap sudah berlebihan dalam mengatur kehidupan bermasyarakat. Pada akhirnya mereka mencetuskan sekularisme yang memisahkan antara agama dan negara. Sehingga hubungan antara agama dan negara tidak seintim pada abad pertengahan.

Hal ini berlangsung hingga pada abad modern dan masa sekarang dimana kekuasaan gereja hanya terpaku pada masalah batin masyarakat, tidak lagi mengatur masalah-masalah lahirnya.

 

Pengaruh Agama dalam Kehidupan Bernegara

Adanya hubungan antara agama dan negara yang semakin kuat pada abad pertengahan yang kemudian berakhir dengan munculnya pencerahan di Barat, menimbulkan banyak pengaruh yang masih eksis hingga sekarang.

Salah satunya adalah dengan munculnya paham marxisme sebagai kritik atas kekuasaan gereja yang semakin menggila. Marx sebagai pencetus paham materialisme menganggap bahwa agama adalah candu masyarakat. Dimana agama membuat masyarakat tidak bisa melaksanakan fungsinya secara penuh dalam struktur kenegaraan karena adanya aturan-aturan dan kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi. Sesuai dengan pengakuan Karl Marx sendiri di dalam bukunya yang berjudul Contributon to the Critique of Hegel’s Philosophi of Right yang menyatakan “Agama adalah keluh kesah rakyat yang tertindas, hati dari dunia yang tidak berhati, dan jiwa dari suatu situasi yang tak berjiwa. Agama adalah candu bagi rakyat”. Dengan begitu, paham ini meniadakan fungsi agama dalam kehidupan bernegara dan secara mutlak menyatakan bahwa agama hanyalah buatan manusia yang tidak berdaya di dalam menghadapi persaingan hidup.

Adapun pengaruh lainnya adalah dengan munculnya sekularisme sebagai kritik langsung terhadap kekuasaan agama. Dalam Webster Dictionary, sekularisme adalah Sebuah kepercayaan bahwa agama dan ajaran-ajaran gereja tidak boleh memasuki fungsi negara, khususnya dalam pendidikan publik. Paham ini menolak segala bentuk praktek keagamaan yang merusak fungsi kenegaraan sehingga negara tidak bisa menjalankan tugasnya dengan sempurna. Paham ini tidak meniadakan eksistensi agama, hanya saja agama mempunyai funsi sendiri ketika masyarakat membutuhkannya.

 

Islam dan Negara

Adapun pola hubungan yang berkembang di dalam Islam tidak sama halnya dengan pola yang berkembang di Barat. Di dalam Islam, terdapat sebuah doktrin yang menyatakan bahwa sebuah negara yang tidak berlandaskan agama, maka negara tersebut akan menuju kehancuran terutama dari segi moral masyarakatnya.

Oleh karena itu, walaupun Islam mengatur kehidupan bermasyarakat, tapi Islam masih memberikan kebebasan untuk memilih sesuatu yang terbaik dalam menjalankan fungsi sebagai warga negara dan elit pemerintah. Menurut Islam, sebuah negara akan menjadi negara yang makmur apabila aspek kemasyarakatannya berlandaskan agama yang merupakan sebuah solusi untuk menjadikan masyrakat yang bermoral dan jauh dari kerusakan yang akan merusak dan menjatuhkan negara tersebut.

Adapun formulasi hubungan agama-negara dalam pandangan Islam dapat diistilahkan sebagai hubungan yang positif, dalam arti bahwa agama membutuhkan negara agar agama dapat diterapkan secara sempurna dan bahwa agama tanpa negara adalah suatu cacat yang akan menimbulkan reduksi dan distorsi yang parah dalam beragama. Agama tak dapat dipisahkan dari negara. Agama mengatur seluruh aspek kehidupan melalui negara yang terwujud dalam konstitusi dan segenap undang-undang yang mengatur kehidupan bernegara dan bermasyarakat.

Imam al Ghazali dalam bukunya al Iqtishad fi al I’tiqad mengatakan bahwa agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Dikatakan pula bahwa agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang yang tidak berpenjaga niscaya akan hilang lenyap. Adapun Ibn Taimiyah dalam bukunya Majmu’ al Fatawa memberikan komentar bahwa Jika kekuasaan terpisah dari agama, atau jika agama terpisah dari kekuasaan, niscaya keadaan manusia akan rusak.

Oleh karena itu, hubungan agama-negara dalam pandangan Islam harus didasarkan pada Aqidah Islamiyah, bukan aqidah yang lain. Aqidah Islamiyah telah memerintahkan penerapan agama secara menyeluruh, yang sangat membutuhkan eksistensi negara. Jadi, hubungan agama dan negara sangatlah eratnya, karena agama (Islam) tanpa negara tak akan dapat terwujud secara sempurna dalam kehidupan.

 

KESIMPULAN

 

Hubungan antara agama dan negara hendaklah seimbang agar tidak terjadi kerusakan moral maupun kerusakan stabilitas kehiupan bernegara. Dalam hal ini, paham-paham yang berkembang di Barat tentang agama dan negara tidak sepenuhnya benar, malah semakin membuat moral mereka menjadi semakin rusak. Hal ini dibuktikan dengan realitas bahwa orangtua tidak berhak mengatur kehidupan anaknya secara menyeluruh, orangtua hanya boleh memberikan nasehat-nasehat agar anaknya bisa memilih dengan baik.

Hal ini berbeda dengan Islam yang memberikan hak penuh kepada orangtua untuk mengatur anaknya hingga anaknya menikah dan bisa menjalankan kehidupan sendiri. Disamping itu Islam juga berpendapat bahwa agama dan negara adalah satu-kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Agama tanpa negara tidak akan menjadi apa-apa dan negara tanpa agama akan menjadi buta karena tidak ada aturan-aturan dasar dalam kehidupan batin masyarakat.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Redefinisi Hubungan antara Agama dan Negara, http://www.icrp-online.org/wmview.php?ArtID=174

Relasi Agama-Negara Menurut Sosialisme, Kapitalisme, Dan Islam, osdir.com/ml/culture.region.indonesia.ppi-india/2005-03/msg00490.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s