Kaidah Isim dan Fi’il Dalam Al-Qur’an

A.           Penggunaan Isim dan Maknanya

Pengertian isim didalam Al Qur’an menurut Jalaludin as Suyuthi didalam kitab Al Itqannya adalah menunjukkan arti tsubut (tetap) dan istimrar (berkelangsungan) dalam sebuah keadaan. Lafaz ini mempunyai makna dan tempat sendiri yang tidak dapat diganti atau ditukar dengan yang lainnya untuk menghadirkan makna yang sama.[1] Hal ini disebabkan hakikat makna yang dikandung oleh satu ayat dengan ayat lainnya yang berbeda sesuai dengan perbedaan kata yang digunakan.[2]

Adapun ayat-ayat Al Qur’an yang memuat kaedah-kaedah isim ini antara lain :

 

QS Al Baqarah ayat 177 :

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآَتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآَتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Artinya :

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa“.

Di dalam ayat ini dijelaskan bahwa menepati janji (al mufuna bi ‘ahdihim), kesabaran (ash shabirin), dan ketakwaan (muttaqun) merupakan sifat-sifat tersebut akan tetap ada dan terus dikerjakan oleh orang-orang yang benar imannya dan sebagai bukti bahwa iman itu akan selalu ada sebagai bukti bahwamereka termasuk orang-orang yang bertakwa.

 

QS. Al Kahfi ayat 18 :

وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا

            Artinya :

Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka”.

Ayat ini menjelaskan tentang keadaan anjing penjaga Ashabul Kahfi ketika mereka tertidur didalam gua. Ayat ini menggunakan kata isim untuk menerangkan keadaan anjing tersebut, yaitu basithun dzira’aihi bil washidi (anjing mereka merentangkan kedua kaki depannya di ambang pintu). Ini menunjukkan tetapnya keadaan anjing tersebut yang tidur dengan posisi seperti itu sepanjang waktu. Sehingga orang-orang akan mengira bahwa anjing yang tertidur tersebut tetap terjaga dan orang yang melihatnya akan menjadi ketakutan dan berpaling.

 

QS Al Ahzab ayat 35 :

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

            Artinya :

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.

Ayat diatas menunjukkan bahwa pengertian tentang sifat-sifat Islam, iman, taat dan yang lainnya merupakan sifat relevan dan selalu harus ada dalam diri seseorang. Semakin banyak sifat-sifat itu terdapat dalam diri seseorang, semakin sempurna pahala dan ampunan yang akan diperolehnya. Dan begitu juga sebaliknya, semakin sedikit dan berkurangnya sifat-sifat tersebut dalam diri seseorang, semakin sedikit balasan yang akan diperolehnya. Dan apabila tidak ada satupun dari sifat-sifat itu terdapat dalam diri seseorang, maka ia tidak akan memperoleh pahala dan ampunan dari Allah SWT.[3]

 

QS Al Hujurat ayat 15 :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

            Artinya :

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar”.

Kata al mukminun (orang-orang yang beriman) pada ayat diatas menggunakan isim yang menunjukkan bahwa keimanan adalah sesuatu yang harus selalu ada dan sifatnya tetap selama keadaan masih menghendakinya, sebagaimana halnya ketakwaan dan kesabaran. Jadi, maksud penggunaan isim al Mukminun pada ayat ini menagaskan bahwa orang yang beriman adalah orang yang imannya tetap ada di hati dan tidak pernah hilang atau kadang ada kadang tidak. Iman itu akan selalu ada di hatinya, tidak pernah goyah dan menemaninya dalam setiap aktifitas.

 

B.            Penggunaan Fi’il dan Maknanya

Menurut Jalaludin as suyuthi, lafaz fi’il didalam Al Qur’an menunjukkan arti tajaddud (munculnya sesuatu yang baru) dan huduts (temporal atau perbuatan itu hanya sementara saja, tidak tetap).[4]

Adapun contoh-contoh penggunaan fi’il didalam Al Qur’an antara lain :

 

QS Al Baqarah ayat 274 :

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Artinya :

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

Ayat diatas menekankan tentang keutamaan orang yang suka menafkahkan hartanya. Kata yunfiqun dalam ayat ini menggunakan bentuik fi’il yang menunjukkan fungsinya sebagai tindakan yang bisa ada dan juga bisa tidak sebagai sesuatu yang temporal. Jikalau seseorang melakukan apa yang dikehendaki oleh ayat itu, maka ia akan mendapatkan pahala dari Tuhannya dan hati mereka akan menjadi tenang.

 

QS Asy Syu’ara’ ayat 78-82 :

الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ

Artinya :

“(yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat”.

Kata kerja khalaqa dalam ayat tersebut menunjukkan telah terjadi dan selesainya sebuah perbuatan pada waktu yang lampau, sedang kata kerja yahdi dan lainnya dalam rangkaian ayat tersebut menunjukkan berlangsungnya perbuatan itu waktu demi waktu dan berangsur-angsur hingga sekarang.

 

QS Fathir ayat 3 :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ

Artinya :

“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi ? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?

Isim khaliq dalam ayat tersebut menunjukkan sifat yang melekat secara permanen pada pelakunya. Sedangkan fi’il yarzuqukum atau pemberian rezeki terjadi secara bertahap, sehingga terjadi persesuaian redaksi dan makna yang dimaksud.


[1] Ichwan, Nor, Memahami Bahasa Al Qur’an, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002, hal. 66

[2] Chirzin, Dr. Muhammad, Al Qur’an dan Ulumul Qur’an, PT Dana Bhakti Prima Yasa, Yogyakarta, 1998, hal. 157

[3] Dahlan, Drs. Abdurrahman M. A, Kaidah-kaidah Penafsiran Al Qur’an, Mizan, Bandung, 1997, hal. 60

[4] Ichwan, Nor, Memahami Bahasa Al Qur’an, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002, hal. 66

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s