Keistimewaan Umur Umat Islam

PENDAHULUAN

 

Ketika Adam a.s diturunkan ke bumi, saat itulah era pemerintahan manusia dimulai. Adam juga yang dikenal sebagai bapak seluruh manusia yang ada sampai saat ini. Pada awal mulanya ketika Adam masih hidup, semua anak-anak dan cucu beliau merujuk kepad beliau ketika menghadapi suatu maslah. Namun ketika beliau telah meninggal dan anak-anak beliau telah berkelana menyusuri setiap tempat yang bisa dijamah, mereka mulai membentuk kelompok sendiri dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya perbedaan ras dan suku serta bahasa yang pada akhirnya menjadi identitas setiap kelompok tersebut.

Karena tidak adanya pemimpin tetap setelah bapak mereka meningal, merekapun mulai memikirkan untuk membuat suatu aturan-aturan agar tidak terjadi ketimpangan antara mereka dan tidak ada yang merasa dirugikan. Oleh karena itu diperlukannya beberapa orang untuk merumuskan aturan tersebut sehingga terbentuklah sebuah pemerintahan kecil yang mengayomi kelompok-kelompok tersebut.

Siring dengan perkembangannya, populasi manusia semakin banyak dn semakin beragam sifat dan kepibadian yang muncul sehingga perlu lah ditunjuk seorang pemimpin untuk mengatur dan memutuskan suatu perkara sehingga terbentuklah sebuah bangsa dengan rakyat yang cukup banyak. Sejak saat itu mulailah kelompok-kelompok tersebut mendapat sebutan baru yaitu umat atau bangsa.

Disini penulis akan membahas tentang umur dan keistimewaan umat Islam berdasarkan dalil-dalil yang ada.

 

A.         Ayat-ayat tentang Umur dan Pertanggungjawaban Umat

Adapun ayat yang membahas tentang umur suatu umat yaitu surah al A’raf ayat 34 :

ولكل أمة أجل فإذا جاء أجلهم لا يستأخرون ساعة ولا يستقدمون

         Artinya :

         Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu[1]; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.

       Dan ayat yang membahas tentang pertanggungjawaban umat kepada Allah atas apa yang mereka lakukan selama ini salah satunya adalah surah al Baqarah ayat 143:

وكذلك جعلناكم أمة وسطا لتكونوا شهداء على الناس ويكون الرسول عليكم شهيدا وما جعلنا القبلة التي كنت عليها إلا لنعلم من يتبع الرسول ممن ينقلب على عقبيه وإن كانت لكبيرة إلا على الذين هدى الله وما كان الله ليضيع إيمانكم إن الله بالناس لرؤوف رحيم.

         Artinya :

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan[2] agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.

 

B.         Asbabun Nuzul

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasulullah SAW shalat menghadap ke Baitul Maqdis, dan sering melihat ke langit menunggu perintah Allah (mengharapkan qiblat diarahkan ke Ka’bah atau Masjidil Haram) sehingga turunlah surat Al Baqarah ayat 144 yang menunjukkan qiblat ke Masjidil Haram. Sebagian kaum Muslimin berkata: “Inginlah kami ketahui tentang orang-orang yang telah meninggal sebelum pemindahan qiblat (dari Baitul Maqdis ke Ka’bah), dan bagaimana pula tentang shalat kami sebelum ini, ketika kami menghadap ke Baitul Maqdis?” Maka turunlah ayat yang lainnya (S. 2. 143), yang menegaskan bahwa Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan iman mereka yang beribadah menurut ketentuan pada waktu itu. Orang-orang yang berfikiran kerdil di masa itu berkata: “Apapula yang memalingkan mereka (kaum Muslimin) dari Qiblat yang mereka hadapi selama ini (dari Baitul Maqdis ke Ka’bah)?” Maka turunlah ayat yang lainnya lagi (S. 2. 142) sebagai penegasan bahwa Allah-lah yang menetapkan arah qiblat itu. (Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari Ismail bin Abi Khalid, dari Abi Ishaq yang bersumber dari al-Barra. Di samping itu ada sumber lainnya yang serupa dengan riwayat ini).

Dalam riwayat lainnya dikemukakan bahwa di antara kaum Muslimin ada yang ingin mengetahui tentang nasib orang-orang yang telah meninggal atau gugur sebelum berpindah qiblat. Maka turunlah surat Al Baqarah ayat 143.[3]

 

C.         Tafsir Mufradat

Ada beberapa kata kunci dalam dua ayat ini yang pemakalah beri penjelasan semampu pemakalah, antara lain :

Kata pertama adalah kata umat (أمة). Di dalam mu’jam mufradat alfazhil al Quran kata umat berarti setiap kelompok yang bersatu dalam suatu hal. Baik itu satu agama, satu masa kehidupan, maupun satu tempat tinggal dalam suka dan duka.

الأمة : كل جماعة يجمعهم أمر ما إما دين واحد، أو زمان واحد، أو مكان واحد سواء كان ذلك الأمر الجامع تسخيرا أو اختيارا، وجمعها : أمم.

Kata umat dalam bentuk mufrad maupun jama’ terulang 36 kali didalam Al Qur’an, antara lain di surah al Baqarah ayat 128, 134, 141, 143 dan 213; surah an Nahl ayat 36, 63, 89 dan 93. Selain itu kata umat juga memiliki beberapa sinonim, antara lan : Bani, qurun, ‘alamin, qaum,dan  an nas.

Kata kedua yaitu ajal (أجل). Didalam mu’jam kata ajal digunakan untuk menunjukkan batas kehidupan atau berlakunya sesuatu, bisa itu berupa hutang ataupun hidup.

الأجل: المدة المضروبة للشيء وأصله: استيفاء الأجل أي: مدة الحياة

Kata ajal terulang 5 kali didalam Al Qur’an[4], yaitu pada surah Yunus : 49, al An’am :         2, Thaha : 129, Fathir : 45, Mukmin : 67.

Kata yang terakhir yaitu wasatha (وسط). jikalau merujuk pada arti harfiahnya, arti kata in adalah pertengahan atau tengah-tengah. Tetapi dalam ayat ini kata wasatha diartikan dengan sesuatu yang terbaik dan merupakan sesuatu yang istimewa. Dalam mu’jam tertulis :

فيستعمل استعمال القصد المصون عن الإفراط والتفريط، فيمدح به نحو السواء والعدل والنصفة، نحو: }وكذلك جعلناكم أمة وسطا” [البقرة/143][5]

D.         Tafsir Ayat

ولكل أمة أجل فإذا جاء أجلهم لا يستأخرون ساعة ولا يستقدمون

Artinya:

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (Q.S. Al-A’raf: 34).

Dalam tafsir al Wadhih dijelaskan bahwa tip-tiap umat (bangsa) memiliki batas waktunya sendiri sesuai dengan yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Segala kehidupan di alam nyata pasti memiliki batas waktu sendiri, dimana setiap makhluk diberi pilihan dalam menjalani kehidupannya. Dalam surah al Ankabut ayat 57 Allah menjelaskan :

كل نفس ذائقة الموت ثم إلينا ترجعون

Artinya :

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.

Disini dijelaskan bahwa setiap makhluk yang memiliki jiwa, baik itu manusia – jin – maupun tumbuhan dan makhluk lainnya pasti memiliki ajal (batas kehidupan) mereka sendiri. Begitu juga umat manusia yang terlahir sebgai komunitas kemudian mencapai kejayaan dan akhirnya lenyap ditelan masa.

Kemuliaan dan kebahagiaan suatu umat akan mereka dapatkan ketika mereka mematuhi aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah yng disampaikan oleh para nabiNya, mengajak kepada keutamaan, menajauhi kerusakan-keusakan (alam dan akhlak) dan berpegang teguh pada syariat Allah. Dan celakanya suatu umat adalah ketika mereka mengingkari syariat, berbuat kerusakan di muka bumi, melakukan kezhaliman dan bersikap berlebih-lebihan.  Dalam surah an Nisa ayat 18 Allah menjelaskan :

وليست التوبة للذين يعملون السيئات حتى إذا حضر أحدهم الموت قال إني تبت الآن ولا الذين يموتون وهم كفار أولئك أعتدنا لهم عذابا أليما

Artinya :

Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.” Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.

Musnahnya suatu umat (bangsa) terdahulu dikarenakan pengingkaran mereka terhadap syariat Allah. Allah menghancurkan mereka karena ajal meeka telah sampai dan Allah menceritakan hal itu kembali didalam Al Qur’an agar menjadi pelajaran bagi umat Muhammad sehingga kita tidak melakukan kesalahan yang telah diperbuat oleh umat-umat terdahulu. Dalam surah Thaha ayat 128 Allah menceritakan :

أفلم يهد لهم كم أهلكنا قبلهم من القرون يمشون في مساكنهم إن في ذلك لآيات لأولي النهى

Artinya :

Maka tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka (kaum musyrikin) berapa banyaknya Kami membinasakan umat-umat sebelum mereka, padahal mereka berjalan (di bekas-bekas) tempat tinggal umat-umat itu? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.

Kebanyakan para mufassir menafsirkan ajal (batas waktu), sebagai batas waktu kejayaan atau keruntuhan suatu bangsa atau peradaban. Hal ini terbukti dengan kejayaan dan keruntuhan suatu peradaban manusia, baik peradaban pra Muhammad saw maupun pasca Muhammad.

Kita mengenal bangsa Babylonia dengan tingkat intelektual tinggi peradabannya bisa membuat taman gantung yang luar biasa hebatnya, tapi akhirnya cerita tentang mereka hanyalah tinggal kenangan yang sampai saat ini masih menjadi misteri. Juga peradaban Mesir kuno dengan arsitektur tingginya menciptakan piramida sebagai sebuah bangunan yang sangat kokoh dan aman untuk tempat peristirahatan terakhir Fir’aun. Tetapi setelah mereka ingkar dan melakukan penganiayaan terhadap bangsa Israil – menurut penulis itu adalah hal yang wajar – terlebih ketika Fir’aun mengumumkan dirinya sebagai Tuhan, maka Allah menghancurkan dia dan pengikutnya di sungai nil dan mayatnya diabadikan sebagai pelajaran untuk generasi beikutnya. Umat (bangsa) ini pun lenyp ditelan waktu dan yang sampai kepad kita sekarang hanylah cerita-cerita tentang mereka saja seperti yang dituturkan Al Qur’an dalam surah al Baqarah ayat 50 :

وإذ فرقنا بكم البحر فأنجيناكم وأغرقنا آل فرعون وأنتم تنظرون

Artinya :

Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.[6]

Dan juga peradaban pasca Muhammad saw yang lebih banyak didomini oleh kaum muslimin dengan dua dinasti besar, Umayyah dan Abbasiyah. Tetapi yang lebih menonjol adalah dinasti Abbasiyah dibawah pemerintahan Harun al Rasyid dimana pada saat itu kota Baghdad menjadi pusat keilmuan dunia karena memiliki perpustakaan yang memuat literatur-literatur yang lengkap tentang keilmuan pada saat itu. Banyak sekali orang-orang ‘ajam yang pergi kesana untuk menuntut ilmu. Tetapi ketika pemimpin dan elit pemerintahannya sudah tidak menjalankan syariat Allah dengan sebaik-baiknya, maka umat itupun hancur diserang kaum Mongol. Demikianlah Allah menjalankan sunnahNya dengan alami, menjadikan semua itu ada sebab dan akibatnya.

وكذلك جعلناكم أمة وسطا لتكونوا شهداء على الناس ويكون الرسول عليكم شهيدا وما جعلنا القبلة التي كنت عليها إلا لنعلم من يتبع الرسول ممن ينقلب على عقبيه وإن كانت لكبيرة إلا على الذين هدى الله وما كان الله ليضيع إيمانكم إن الله بالناس لرؤوف رحيم

Dalam tafsir al Jawahir dijelaskan bahwa Allah telah memberikan hidayah dan pertolongan kepada siapa saja yang dikehendakiNya. Dan berdasarkan ayat diatas, umat Islam adalah salah satu umat yang diberikan hidayah agar bisa beribadah kepada Allah dengan sungguh-sungguh dan menjadikn umat Islam sebagai umat yang selalu menjaga diri dari berlebih-lebihan dan melampaui batas – walaupun masih banyak yang berbuat sepeti itu – baik dalam urusan duniawi maupun dalam urusan ibadah.

Umat Islam juga dituntut untuk menjadi umat yang netral dan selalu berada ditengah (tidak berpihak) dalam menghadapi persoalan sosial baik dalam urusan tempat tinggal maupun urusan lainnya. Oleh karena itu, umat Islam nantinya akan menjadi saksi atas seluruh umat  pada hari kiamat dan Nabi Muhammad akan menjadi saksi bagi kita semua.

Dalam suatu riwayat diceritakan bahwasanya pad hari kiamat nanti, umat-umat yang ingkar  pada seruan dakwah Nabinya akan menghadap Allah dengan membawa penjelasan. Sedangkan Allah lebih mengetahui siapa saja yang melaksanakan syariatnya dan siapa saja yang ingkar. Kemudian para nabi dari umat terdahulu itu mendapatkan berita bahwasanya umat Islam akan menjadi saksi bagi seluruh umat, sehingga para nabi tersebut menyampaikan berita ini kepada umatnya masing-masing. Umat-umat itupun bertanya kepada Nabinya : “darimana anda mengetahui hal ini?” lalu dijawab oleh nabi mereka : kami telah diberitahu oleh Allah melalui kitabNya dengan menggunakan bahasa rasulNya. Kemudian didatangkanlah nabi Muhammad dan ditanyakan tentang keadaan umatnya.[7]

 

E.         Analisis Ayat

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata umat memiliki arti:

1.   para penganut/ pengikut suatu agama

2.   makhluk manusia

selain itu, dalam beberapa ensiklopedia ada yang memahaminya segagai bangsa dan ada juga yang memahami sebagai Negara.

Namun pengertian-pengertian di atas dapat mengakibatkan kerancuan pemahaman terhadap konsep ummat yang ada dalam al-Qur`an. Bahkan, bisa jadi akan menimbulkan kesalahpahaman di kalangan umat Islam sendiri.

Kata ummat berasal dari kata (amma-ya`ummu) yang artinya menuju, menumpu, dan meneladani.

Dalam Al-Mufradat fi Gharib Al-Qur`an, Ar-Raghib menjelaskan bahwa kata ini didefinisikan sebagai semua kelompok yang dihimpun oleh sesuatu seperti agama, waktu atau tempat yang sama, baik penghimpunannya secara terpaksa maupun atas kehendak mereka.

Kata ummat dalam bentuk tunggal terulang lima puluh dua kali dalam al-Qur`an. Ad-Damighani dalam Kamus Al-Qur`an-nya menyabutkan sembilan arti untuk kata itu, yaitu kelompok, agama, waktu yang panjang, kaum, pemimpin, generasi lalu, umat Islam, orang kafir, dan manusia semuanya.

Ali Syari`ati dalam bukunya Al-Ummah wa Al-Imamah menyebutkan keistimewaan kata ini disbanding kata semacam nation atau qabilah. Pakar ini mendefinisikan kata umat –dalam konteks sosiologis- sebagai “himpunan manusiawi yang seluruh anggotanya bersama-sama menuju satu arah, bahu-membahu, dan bergerak secara dinamis di bawah kepemimpinan bersama.”

Kalimat wa li kulli ummatin ajal bermakna:”Katakanlah olehmu wahai Rasul, kepada kaummu dan yang lainnya bahwa bagi tiap-tiap umat itu ada jangka waktu yang sudah ditentukan bagi hidupnya, Allah sendiri yang mengetahui. Pada akhir batas itu ia berhenti.

Tiap-tiap umat itu memiliki dua ajal :

a.   ajal bagi wujudnya yaitu berupa kematian

b.   ajal kebahagiaan atau sejenisnya, yaitu kemuliaan yang ketika umat telah melepaskan keutamaan budi, agama dan teladan utama.

Sedangkan kalimat fa idza ja`a ajaluhum laa yasta`khiruna saa’atan wa laa yastaqdimun memiliki makna: “Apabila telah datang waktu yang telah ditentukan oleh Allah untuk kemusnahan mereka, tak dapatlah mereka melambatkannya meski sedikit, sebagaimana mereka tak dapat mendahulukannya.

Ayat ini memberi pengertian bahwa umat boleh memohon untuk ditangguhkan ajalnya, baik dengan doa atau usaha menjauhi hal-hal penyebab datangnya ajal..

M. Jamaluddin dalam bukunya Umur Umat Islam mencantumkan beberapa hadis tentang umur umat Islam :

  1. Nabi saw bersabda : “Aku diutus adalah bersamaan dengan kiamat, seperti dua jariku ini”. Dan beliau mengisyaratkan dengan mengiringkan jari telunjuk dan jari tengahnya. (Muttafaq ‘alaih).
  2. Nabi saw bersabda : “Masa yang tersisa bagi umatku hanyalah seperti waktu yang tersisa dari satu hari apabila shalat ashar telah dilaksanakan”. (H.R Bukhari dan Muslim).
  3. Dari Sa’ad bin Abi Waqash, Nabi saw bersabda : “sesungguhnya aku berharap bahwa umatku tidak akan lemah didepan Rabb dengan mengundurkan umur mereka setengah hari”. Kemudian Sa’ad ditanya : “berapakah lamanya satu hari itu ?” beliau menjawab : “lima ratus tahun”.

Menurut hadis-hadis diatas, jumlah umur umat Islam adalah 1400 tahun, tidak lama lagi akan menemui ajalnya. Walaupun begitu, umt Islam adalah umat pilihan dan saksi atas seluruh umat di dunia, jadi kita harus bisa membuktikan hal itu kepada umat-umat lainnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Al Qur’an Digital

E-book Mu’jam Mufahraz Alfazil Qur’an

Tafsir al Wadhih

Tafsir al Jawahir

Jamaluddin, Amin Muhammad, E book Umur Umat Islam


[1]  Maksudnya: tiap-tiap bangsa mempunyai batas waktu kejayaan atau keruntuhan

[2]  Umat Islam dijadikan umat yang adil dan pilihan, karena mereka akan menjadi saksi atas perbuatan orang yang menyimpang dari kebenaran baik di dunia maupun di akhirat

[3]  Diriwayatkan dalam kitab Shahihain (Bukhari dan Muslim) yang bersumber dari al-Barra

[4]  Menurut versi pemakalah setelah dcai denan menggunakan Al Qur’an digital.

[5]  Mu’jam Mufahraz li Alfazil Qur’an

[6]  Waktu Nabi Musa a.s. membawa Bani Israil ke luar dari negeri Mesir menuju Palestina dan dikejar oleh Fir’aun, mereka harus melalui laut Merah sebelah Utara. Maka Tuhan memerintahkan kepada Musa memukul laut itu dengan tongkatnya. Perintah itu dilaksanakan oleh Musa hingga belahlah laut itu dan terbentanglah jalan raya ditengah-tengahnya dan Musa melalui jalan itu sampai selamatlah ia dan kaumnya ke seberang. Sedang Fir’aun dan pengikut-pengikutnya melalui jalan itu pula, tetapi di waktu mereka berada di tengah-tengah laut, kembalilah laut itu sebagaimana biasa, lalu tenggelamlah mereka.

[7]  Tafsir al Jawahir hal : 3-4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s