Otensitas Hadis Menurut Harald Motzki

Biografi Harald Motzki

Tidak banyak yang yang menjelaskan biografi orientalis yang satu ini, bahkan wikipedia.com (salah satu situs ensiklopedia yang terkenal) hanya menjelaskan bahwa beliau adalah seorang orientalis yang tertarik pada kehidupan umat Islam.

Beliau adalah salah seorang Profesor di Institute of Languages and Cultures of the Middle-East, University of Nijmegen, Belanda. selain itu beliau juga sering melakukan penelitian tentang Islam, terutama hukum Islam. Hal ini terlihat dari karya-karya beliau yang lebih terfokus pada hukum Islam dan kehidupan Muhammad saw.

Beliau termasuk salah seorang orientalis yang sering melakukan kritik atas pemikiran Ignas Goldziher dan Josep Schaht, terutama pada kritik sanad yang diajukan oleh Schaht. Dalam karyanya yang berjudul The Origin of Islamic Jurispudence : Meccan Fiqh before The Classical Schools, beliau mengemukakan pendapat-pendapat Ignaz dan Schaht, kemudian memberikan bantahan-bantahan terhadap hasil penelitian mereka dengan menggunakan metodologi yang logis dan bisa dipertanggungjawabkan secara akademis.

Khusus untuk pemikiran Schaht dan teori-teori kritik sanadnya, beliau menyusun sebuah penelitian tersendiri untuk membuktikan keotentikan hadis dengan meneliti salah satu karya ulama pada abad kedua Hijriah, yaitu Musannaf Abdul Razaq al Shan’aniy. Hasil penelitian beliau kemudian dimuat dalam sebuah Jurnal yang bernama Jurnal of Near Estern Studies dengan judul tulisan The Musannaf Abdul Razaq al Shan’aniy : a Source of Authentic Ahadith of First Century.

Beliau termasuk orientalis yang muncul belakangan, mungkin itu salah satu sebab kenapa biografi beliau tidak banyak dipublikasikan.

 

Pemikiran Hadis Harald Motzki

Hadis menurut beliau adalah sebuah teks yang memuat Informasi Nabi Muhammad dan Shahabah-shahabahnya, yang memiliki jalur transmisi (periwayatan) dari mereka. Keaslian teks-teks ini menjadi isu perdebatan yang utama pada keilmuan Islam sekarang. Terutama setelah adanya teori Projecting Back oleh Schaht yang menyatakan bahwa isnad atau mata rantai sanad adalah buatan para ulama abad ke 2 H untuk menguatkan legitimasi hukum-hukum yang ada pada saat itu dengan menyandarkan pada tokoh-tokoh sebelumnya hingga pada Nabi saw.

Walaupun pemikirannya dipengaruhi oleh pemikiran Schaht, akan tetapi dalam hal ini, Motzki tidak setuju dengan pendapat Schaht. Oleh karena itu, beliau meneliti sebuah Musannaf (sebuah kitab hadis dengan corak fiqh) sebagai jawaban atas otensitas hadis yang memang benar-benar berasal dari abad pertama Hijriah atau berasal dari Nabi Muhammad.

Dalam melakukan penelitian ini, beliau menggunakan teori dating, yaitu menentukan asal-muasal terhadap sumber sejarah yang merupakan salah satu substansi sejarah. Beliau berasumsi, ketika data sejarah, yakni kitab Musannaf al Shan’aniy terbukti sebagai dokumentasi sejarah pada abad pertama Hijriah yang otentik, maka apa yang ada di dalamnya merupakan rekaman berabagai persoalan hukum Islam (hadis-hadis) yang secara tidak langsung diakui otensitasnya.

Adapun untuk melakukan penelitian terhadap hadis-hadis yang terdapat di dalam Musannaf tersebut, beliau menggunakan metode Isnad cum Matn Analys, yaitu dengan menganalisa sanad dan matan hadis dengan menggunakan pendekatan Traditional-Historical. Metode ini bekerja dengan cara menarik sumber-sumber awal dari kompilasi yang ada, yang tidak terpelihara sebagai karya yang terpisah dan memfokuskan diri pada meteri-materi tertentu daripada hadis-hadis yang terkumpul pada topik-topik tertentu.[1]

Oleh karena kitab tersebut terdiri dari 11 Juz dengan jumlah hadis mencapai 21.033 hadis, beliau memfokuskan diri denganmenggunakan metode sampling. Yaitu dengan mengangkat beberapa bagian yang penting (hadis) yang dianggap mewakili secara keseluruhan. Dalam hal ini beliau meneliti 21 % hadis dari keseluruhan hadis yang ada di kitab tersebut, yaitu sekitar 3810 hadis.[2]

Hadis-hadis tersebut mempunyai beberapa rawi yang menjadi fokus penelitian sanad yang merupakan sumber utama untuk mengetahui keaslian hadis tersebut bersambung pada Nabi saw. Ada tiga perawi yang merupakan guru-guru paling berpengaruh bagi al Shan’aniy yang menjadi fokus penelitian sanad motzki, yaitu Ma’mar, Ibn Juraij dan Sufyan ats Tsauri.

Dari hasil penelitian tersebut, beliau mengungkapkan bahwa dari segi materi hadis, al Shan’aniy memiliki keunikan tersendiri. Dan hampir tidak mungkin seorang pemalsu dapat memberikan sumber yang begitu bervariasi. Belum lagi jika penelitian ini difokuskan pada asal perawi dan karakter teks yang diriwayatkan.

Beliau melanjutkan, faktor lainnya adalah gaya penyajian al Shan’aniy yang terkadang secara jujur mengakui ketidakpastian sebuah riwayat. Suatu hal yang tidak mungkin ditemui pada orang-orang yang melakukan pemalsuan. Oleh karena itu, pada Musannaf ini jelas bahwa sebuah hadis itu memang sudah ada sejak abad pertama hijriah dan bersambung pada Nabi saw. serta diriwayatkan oleh para shahabah, hingga otensitasnya terjaga sampai pada masa kodefikasi.

Adapun kelebihan dari hasil penelitian beliau adalah beliau mampu menjelaskan secara logis tentang otensitas hadis yang didasarkan pada data sejarah. Selain itu, beliau juga menggunakan literatur-literatur hadis yang sering digunakan oleh umat Islam. Dan kekurangannya adalah kurangnya interprretasi sejarah karena beliau hanyaterfokus pada otensitas hadis. Selain itu, beliau juga hanya terpaku pada kajian kitab Musannaf al Shan’aniy yang tidak bisa digeneralisir pada kitab-kitab hadis lainnya, karena setiap kitab hadis memiliki ciri khas tersendiri.

KESIMPULAN

Walaupun biografi beliau sangat sulit ditemukan, tapi sumbangan beliau terhadap keilmuan Islam sangatlah berharga. Beliau bisa menjelaskan keaslian hadis dengan menggunakan teori dan metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjaeabkan secara akademis. Selain itu beliau juga ikut membantu dalam mematahkan teori-teori yang diajukan oleh Josep Schaht dalam penelitian sanad hadis.

DAFTAR PUSTAKA

Wikipedia.com

Rahmatullah, Lutfi, Otensitas Hadis (Studi atas Pemikiran Harald Motzki tentang Sanad dan Matan Hadis), Uin Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2006

Motzki, Harald, The Origin of Islamic Jurispudence : Meccan Fiqh before The Classical Schools, Boston Koln, Leiden, 2002

——–, The Musannaf Abdul Razaq al Shan’aniy : a Source of Authentic Ahadith of First Century dalam Jurnal of Near Estern Studies


[1]  Untuk lebih jelas bisa lihat artikel beliau yang berjudul The Musannaf Abdul Razaq al Shan’aniy : a Source of Authentic Ahadith of First Century.

[2]  Lihat pada The Origin of Islamic Jurispudence : Meccan Fiqh before The Classical Schools, Boston Koln, Leiden, 2002, hal. 58-59

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s