Pemikiran Hadis Ali Mustafa Ya’qub

Biografi Ali Mustafa Ya’qub

Nama lengkap beliau adalah Ali Mustafa bin Ya’qub, dilahirkan di desa Kemiri, kecamatan Subah, kabupaten Batang, Jawa Tengah pada tanggal 2 Maret 1952. Terlahir dari sebuah keluarga yang religius, sangat memegang ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan pertamanya ditempuh di SD dan SMP tempat kelahirannya. Setelh itu beliau melanjutkan pendidikan ke pesantren Seblak, Jombang pada tahun 1996. Pada tahun 1969, beliau lulus dari pesantren tersebut dan pendidikan formal SMA yang kemudian dilanjutkan ke jenjang S1 di fakultas Syari’ah, Universitas Hasyim Asy’ari. Selain itu beliau juga nyantri di pesantren Tebu Ireng untuk menambah keilmuan agamanya. Setelah menyelesaikan studi S1, beliau melnjutkn pendidikan di Universitas King Saud, Riyadh, Saudi Arabia. Pada tahun 1980, beliau lulus dari Universitas tersebut yang kemudian dilanjutkan dengan menekuni bidang Tafsir Hadis pada Universitas yang sama untuk mengambil S2.

Dalam menjalani bidang tafsir hadis inilah beliau bertemu dengan guru besar Hadis dan Ilmu Hadis Universitas King Saud, Muhammad Mustafa al A’zami. Disini beliau belajar banyak dari dosennya itu dan menjalin hubungan yang begitu akrab sehingga beliau diizinkan untuk menerjemahkan buku al A’zami yang berjudul Sejarah Teks Al Qur’an.

Setelah menyelesaikan studi dalam bidang tafsir hadis, beliau kembali ke Indonesia dan mengabdi di berbagai perguruan tinggi. Diantaranya adalaha Institut Ilmu Al Qur’an, Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah al Hamidiyah, dan UIN Syarif Hidayatullah. Selain itu, beliau juga menjadi pengasuh pesantren Darus Sunnah di Jakarta, Al Hamidiyah di Depok, dan juga Darus Salam di tempat kelahirannya. Dan pada saat ini beliau juga menjadi Imam besar di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Adapun karya-karya beliau antara lain :

  • Nasihat Nabi kepada pembaca dan penghafal Al Qur’an (1990)
  • Imam Bukhari dan metodologi Kritik dalam Hadis (1991)
  • Kritik Hadis (1995)
  • Sejarah dan metode dakwah Nabi (1997)
  • Peran ilmu hadis dalam pembinaan hukum Islam (1999)
  • Kerukunan umat Islam dalam perspektif Al Qur’an dan hadis (2000)
  • Islam masa kini (2001)
  • Fatwa-fatwa kontemporer (2002)
  • MM. A’zami pembela eksistensi hadis (2003)
  • Hadis-hadis bermasalah (2003)
  • Hadis-hadis palsu seputar Ramadhan (2005).

 

Pemikiran hadis

Dalam hal mendefinisikan hadis dan sunnah, beliau lebih banyak mengambil pendapat ulama hadis dan ulama fikih. Menurut ulama hadis, sunnah lebih umum daripada hadis karena sunnah mencakup perkataan, perbuatan, ketetapan, dan sifat-sifat nabi. Sedangkan menurut ulama fikih, sunnah hanya mencakup tiga hal, yaitu perkataan, perbuatan dan ketetapan Nabi. Adapun hadis adalah sifat-sifat Nabi saw. Menurut imam Syafi’i, setiap sunnah adalah hadis, tetapi tidak semua hadis adalah sunnah. Sunnah adalah hadis-hadis yang shahih.

Adapun kedudukan hadis, menurut beliau ada tiga kedudukan hadis di dalam Islam. Yang pertama adalah sebagai penjelas Al Qur’an. Di dalam Al Qur’an hanya terdapat perintah-perintah untuk melakukan ibadah kepada Allah, sedangkan cara beribadah itu sendiri sangat sedikit dijelaskan. Oleh karena itu, hadis diperlukan untuk memperjelas hal ini. Misalnya, tentang tata cara shalat, tata cara berdo’a dan sebagainya.

Yang kedua adalah sebagai pendukung ketetapan Al Qur’an. Di dalam Al Qur’an banyak sekali hukum-hukum tentang kehidupan sehari-hari. Misalnya, tentang hukum zina. Al Qur’an hanya menjelaskan tentang larangan mendekati zina dan hukuman bagi orang yang melakukan zina, tapi tidak menjelaskan bentuk-bentuk zina dan bagaimana cara menyikapinya. Untuk itu, hadis disampaikan oleh Nabi sebagai pendukung Al Qur’an dan langsung mencontohkan dalam kehidupan sehari-hari agar masyarakat bisa memahami secara langsung maksud yang terkandung di dalam penetapan hukum-hukum tersebut dan agar mereka bisa mengerti bahwasanya hukum-hukum itu bukan sekedar wahyu saja.

Yang ketiga adalah sebagai sumber hukum Islam. Hal ini berarti, selain sebagai penjelas hadis juga merupakan sumber hukum tentang hal-hal yang tidak terdapat di dalam Al Qur’an. Seperti hal-hal yang baru timbul di masyarakat setelah Al Qur’an diwahyukan. Dalam hal ini, banyak sekali ulama-ulama fiqh yang menggunakan hadis sebagai landasan untuk berijtihad dalam mengambil hukum (istidlal).

Dengan penjelasan diatas, sudah kelihatan apa kedudukan dan fungsi hadis. Yaitu sebagai sumber hukum kedua setelah Al Qur’an. Adapun fungsi hadis yang lebih dalam adalah sebagai penjelas dan penguat hukum yang ditetapkan dalam Al Qur’an, juga sebagai sumber hukum yang berdiri sendiri yang tidak dijelaskan dalam Al Qur’an.

Selain itu, beliau juga sering melakukan penelitian tentang hadis Nabi, terutama dari segi sanad hadis. Menurut beliau upaya untuk mendeteksi kedhabitan rawi dengan memperbandingkan Hadits-hadits yang diriwayatkannya dengan Hadits lain atau dengan al-Qur’an, dapat dilakukan melalui enam metode perbandingan Hadits, yaitu:

  1. Memperbandingkan Hadits-hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah Shahabat Nabi, antara yang satu dengan yang lain.
  2. Memperbandingkan Hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi pada masa yang berlainan.
  3. Memperbandingkan Hadits-hadits yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang berasal dari seorang guru Hadits.
  4. Memperbandingkan suatu Hadits yang sedang diajarkan oleh seorang dengan Hadits semisal yang diajarkan oleh guru lain.
  5. Memperbandingkan antara Hadits-hadits yang tertulis dalam buku dengan yang tertulis dalam buku lain, atau dengan hafalan Hadits.
  6. Memperbandingkan Hadits dengan ayat-ayat al-Qur’an.

 

Contoh Kritik Hadis

Salah satu hadis menjadi sasaran kritik Prof. Ali Mustafa adalah hadis tentang menuntut ilmu sampai ke negeri cina. Menurut beliau hadis ini termasuk hadis yang lemah, yaitu hadis yang tidak bisa dijadikan landasan hukum yang kuat. Untuk itu, di dalam melakukan kritik matannya, beliau banyak mengambil pendapat-pendapat ulama hadis. Adapun kritik beliau lebih jelas, adalah sebagai berikut :

 

Rawi dan Sanad

Hadis ini diriwayatkan Ibn ‘Adiy (w356H), Abu Nu’aim (w430H), al-Khatib al-Baghdadi (w463H), Ibn ‘Abd al-Barr (w463H), Ibn Hibban (w254H) dll. Semua menerima hadis tersebut dari al-Hasan bin ‘Atiyah, dari Abu ‘Atikah Tarif bin Sulaiman, dari Anas bin Malik, (dari Nabi SAW).

 

Kualitas Hadis

Ibnu Hibban mengatakan yang meriwayatkan hadis tersebut mengatakan hadis ini bathil la ashla lahu (Batil, palsu, tidak ada dasarnya)

Al-Sakhawi mengulang kembali pernyataan Ibnu Hibban dalam kitabnya.

Sumber kepalsuan hadis adalah rawi Abu ‘Atikah Tarif bin Sulaiman

al-Uqaili, al-Bukhari, al-Nasai dan Abu Hatim sepakat bahwa Abu ‘Atikah Tarif bin Sulaiman tidak memiliki kredibitas sebagai rawi hadis.

al Sulaimani mengatakan Abu ‘Atikah dikenal sebagai Pemalsu Hadis

Imam Ahmad tidak mengakui ini sebagai Hadis Nabi.

 

RIWAYAT-RIWAYAT LAIN

Hadis tersebut ditulis kembali oleh Ibn al-Jauzi dalam kitabnya al-Maudhua’at (Hadis-Hadis Palsu). Kemudian al Suyuti dalam kitabnya al-La’ali al-Mashnu’ah fi al_Ahadits al-Maudhu’ah (sebuah kitab ringkasan dari kitab Ibn al-Juazi ditambah komentar dan tambahan), mengatakan bahwa disamping sanad di atas, hadis tersebut memiliki tiga sanad lain, sbb :

Riwayat Ibn Abd al-Barr dan al-Baihaqi dalam kitab Syu’ab al-Iman, dengan sanad : Ahmad bin ‘Abdullah – Maslamah bin al-Qasim – Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim al-Asqalani – ‘Ubaidah bin Muhammad al-Firyabi – Sufyan bin ‘Uyainah – al-Zuhri – Anas bin Malik – (Nabi SAW).

Riwayat Ibn Karram dalam kitab al-Mizan (Mizan al-I’tidal fi Naqd al-Rijal) karya al-Dzahabi, dengan sanad : Ibn Karram – Ahmad bin Abdullah al-Juwaibari – al-Fadl bin Musa – Muhammad bin ‘Amir – Abu Salamah – Abu Hurairah – (Nabi SAW)

Riwayat Ibn Hajar al-’Asqalani dalam kitabnya al-Lisan (Lisan al-Mizan) dengan riwayat sendiri yang berasal dari Ibrahim al-Nakha’i – Anas bin Malik. Ibrahim berkata : “Saya mendengar Hadis itu dari Anas bin Malik.

Kualitas ketiga sanad itu sebagai berikut :

Sanad ke-1, menurut Imam al-Dzahabi : “Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim al-Asqalani adalah kadzdzab (pendusta)”

Sanad ke-2, Ahmad bin Abdullah al-Juwaibari, adalah seorang pemalsu hadis.

Sanad ke-3, Ibn Hajar al-Asqalani yang meriwayatkan hadis tersebut mengatakan Ibrahim al-Nakha’i tidak pernah mendengar apa-apa dari Anas bin Malik”. Karena itu al-Nakhai adalah seorang pembohong.

  

KESIMPULAN

 

Ali Mustafa Ya’qub adalah seorang ulama hadis yang paling berkompeten di Indonesia. Beliau adalah salah satu jajaran dari ulama-ulama kontemporer yang menaikkan nama bangsa setelah Syuhudi Isma’il dan Hasbi ash Shiddiqy.

Selain karena berlatar belakang keluarga yang kuat memegang ajaran Islam, beliau juga menempuh pendidikan yang terfokus pada kajian-kajian Islam. Sewaktu sekolah formal dan pesantren, beliau sudah mempelajari pemikiran ualama terdahulu dan pada saat kuliah, beliau sudah meneliti tentang pemikiran-pemikiran ulama kontemporer sehingga menjadikan beliau seorang yang benar-benar mengerti dalam pengkajian hadis ataupun Al Qur’an.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://www.mesjidsundakelapa.or.id
maxson1962.multiply.com/journal/item/21

Aryanti, Reni, Kritik Matan menurut Ali Mustafa Ya’qub, Fakultas Ushuludin (skripsi).

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s