Pemikiran Hadis Fazlur Rahman

Biografi Fazlur Rahman

Beliau dilahirkan di daerah sebelah Barat Laut Pakistan pada tahun 1919 M. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang berlatar belakang mazhab Hanafi, ayahnya adalah seorang ulama besar pada saat itu.

Pendidikan pertamnya ia tempuh di Madrasah dan belajar juga kepada ayahnya. Setelah menyelesaikan sekolah menengahnya, ia melanjutkan studi ke Universitas Punjab jurusan Ketimuran hingga meraih gelar Master (MA) pada tahun 1942. Empat tahun kemudian ia memperdalam studinya ke Oxford University, Inggris. Selain melanjutkan kuliah, ia juga mempelajari berbagai bahasa asing seperti latin, Yunani, Perancis, Jerman, Persia dn Turki.

Setelah menyelesaikan kuliahnya di Oxford, beliau mengajar di Universitas Durham, Inggris. Pada tahun 1958, ia menjadi 1958 beliau menjadi Associate Professor of Philosophy di Institute of Islamic Studies University McGill, Kananada.

Pada awal tahun 1960-an beliau kembali ke Pakistan, pada saat itu sedang terjadi perdebatan sengit antara kaum konservatif, modernis dan sekularis dalam menentukan struktur Islam yang relevan untuk pakistan. Beliau kemudian menjadi staf senior di Lembaga Riset Islam dan pada tahun 1962 diangkt menjadi direktur lembaga tersebut. Selain itu pada tahun 1964 beliau diangkat menjadi anggota Dewan Penasehat Ideologi Islam.

Selama menjabat di Lembaga Riset Islam tersebut, beliau menulis karya-karya yng menimbulkan kontroversi di kalangan pemikir Islam Pakistan. Pada akhirnya pada tanggal 5 September 1968 Rahman mengundurkan diri dari jabatan Direktur Lembaga Riset Islam dan pada tahun 1969 beliau juga mengundurkan diri dari keanggotaan Dewan Penasihat Ideologi Islam.

Setelah pengunduran diri tersebut, beliau hijrah ke Amerika dan mengabdikan dirinya di Departmen of Near Estearn Languages and Civilization University Chicago sebagai Profesor Islamic Studies hingga akhir hayatnya. Beliau meninggal pada tanggal 26 Juli 1988 M di Chicago, USA.[1]

Adapun karya-karya beliau antara lain adalah Islam, Islamic Methodology in History, Prophecy in Islam : Philosophy and Ortodoxy, Avicenna’s de Anima, Journal Islamic Studies dan Fikr u Nazr, serta berbagai artikel di berbagai jurnal internasional.

 

Pemikiran hadis

Sunnah menurut bahasa adalah jalan dan digunakan untuk menyebut sebuah tingkah laku bangsa Arab sebelum Islam yang berasal dari nenek moyangnya. Dalam hal ini, sunnah mencakup duaaspek yaitu suatu fakta sejarah yang menyatakan tindakan dan norma-norma untuk generasi penerus.[2]

Adapun Sunnah menurut beliau adalah konsep kebiasaan atau adat istiadat, baik dari segi fisik maupun tingkah laku secara mental. Dan kebiasaan ini bukan hanya sekali saja dilakukan, tetapi terus berulang dan ada kemungkinan untuk terulang lagi.[3]

Sedangkan hadis adalah suatu cerita yang biasanya sangat pendek, dalam rangka memberikan informasi tentang apa yang dikatakan, dilakukan, disetujui atau tidak disetujui Nabi, atau informasi yang serupa mengenai sahabat-sahabatnya, khususnya sahabat-sahabat senior dan terutama enpat Khlaifah yang pertama. Hadis terbagi dua yaitu teks (matan) dan mata rantai periwayatan (isnad) yang memberikan nama-nama perawi sebagai penunjang teks tersebut.

Beliau berpendapat bahwa bila pada masa hidup Nabi orang membicarakan apa yang diucapkannya atau yang dikerjakannya sebagai suatu sasaran, maka sesudah wafatnya Nabi, pembicaraan itu menjadi sebuah gejala berhati-hati dan kesadaran sejak muncul suatu generasi baru yang mempertanyakan tindakan Nabi. Orientasi keagamaan tentang hadis sesuai dengan sunnah yaitu suatu norma keagamaan yang praktis. Oleh karena itu, sunnah pada generasi setelah Nabi dapat diartikan sebagai tindakan Nabi, untuk dapat memperoleh norma-norma.

Selanjutnya beliau menjelaskan, dari pengertian sunnah secara bahasa, sunnah bukan berarti amalan Nabi, melainkan amalam masyarakat muslim lokal di Madinah dan Irak. Namun hadis bukanlah sesuatu yang diam dan non verbal belaka seperti yang dipahami mayoritas umat Islam selama ini.

Dari keterangan diatas, beliau menyimpulkan bahwa Sunnah dan Hadis merupakan perwujudan dalam fase permulaan setelah era Muhammad, dan segala sesuatu yang disandarkan kepadanya dan norma-norma itu diambil darinya. Selain itu, konsep sunnah yang memulainya sebagai sebuah tradisi yang diam-diam terpaksa tumbuh menjadi tradisi yang berarti yang hidup pada setiap generasi penerus. Lebih dari itu, pengaruh politik pada awal kemunculan istilah sunnah di kalangan umat Islam, menjadikan seseorang menentang konsep sunnah yang sebenarnya ingin mengadakan perubahan (bid’ah).

Secara garis besar sunnah Nabi adalah tradisi yang hidup pada generasi awal dan penyimpangan dari keduanya. Adapun yang dimasudkan dengan penyimpangan disini adalah menciptakan kekayaan materi, terutama melalui penafsiran hukum dan dogma secara pribadi walaupun pada umumnya seragam dalam intinya. Adapun maksud materi ini adalah konsep praktek yang disepakati (al a’mal) dan konsensus (ijmak). Sunnah dan ijmak pada generasi awal dirumuskan untuk meneliti pembaruan-pembaruan yang dihasilkan dari pendapat oribadi dan aliran-aliran yang menyimpang. Namun diantara keduanya terdapat konsep yang berbeda, yaitu sunnah merupakan jalan Nabi dalam maksud primodialnya yang mana pembaruan adalah pelanggaran terhadap model kenabian. Sedangkan ijmak merupakan konsensus atau kesepakatan ulama-ulama terdahulu dalam menghadapi masalah-masalah baru dalam keagamaan. Oleh karena itu, sunnah dan ijmak saling melengkapi satu sama lainnya.

 

KESIMPULAN

Pemikiran beliau terhadap sunnah dan hadis banyak mengundang kontroversi di kalangan umat Islam. Menurut beliau, sunnah Nabi merupakan ideal yang hendak di contoh secara persis oleh generasi muslim pada era awal dengan menafsirkan teladan-teladan Nabi berdasarkan kebutuhan-kebutuhan mereka yang baru. Secara garis besarnya sunnah Nabi merupakan konsep pengayoman, bukan ajaran-ajaran khusus yang bersufat mutlak. Sedangkan hadis secra garis besarnya merupakan penafsiran dan rumusan situasional terhadap teladan atau semangat Nabi. Karena itu hadis tidak bersumber dari Nabi, namun semangatnya yang pasti berasal dari Nabi.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Tim IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia, Penerbit Djambatan, Jakarta, 1992

Rahman, Fazlur , Islam, PT Bumi Aksara, Jakarta, 1987

——–, Islamic  Methodology, Adam Publisher & Distributor, New Delhi, 1994


[1] Tim IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia, Penerbit Djambatan, Jakarta, 1992, hal. 247-248

[2] Fazlur Rahman, Islam, PT Bumi Aksara, Jakarta, 1987, hal. 69

[3] Fazlur Rahman, Islamic  Methodology, Adam Publisher & Distributor, New Delhi, 1994, hal. 1

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s