Review Kitab Jawahir fi Tafsir al-Qur’an al-Karim

Mukaddimah kitab ini diawali dengan ayat Al Qur’an  surah an Nahl ayat 89 :

ونزلنا عليك الكتاب تبيانا لكل شيء

Artinya :

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu”.

Dari ayat ini kami dapat memahami bahwasanya Al Qur’an merupakan kitab yang universal dan bisa ditafsirkan dri berbagai sudut pandng. Mungkin inilah yng ingin diungkapkan penulis kitab ini, bahwasanya Al Qur’an bukanlah kitab hukum saja, akan tetapi ia juga bisa ditafsirkan untuk kepentingan lainnya.

Kemudian mukaddimah diteruskan dengan mengucapkan segala puji kepada Allah Ta’ala dan dilanjutkan dengan shalawat kepada Nabi Muhammad saw. Menurut salah satu orang Indonesia alumnus al Azhar University, bershalawat kepada Nabi merupakan salah satu kebiasaan orang mesir hingga sekarang.

Pada awal Mukaddimahnya syekh Tanthowi mengungkapkan ketertarikannya pada alam semesta dan segala isinya. Beliau mengatakan : “Sejak dahulu aku senang menyaksikan keajaiban alam, mengagumi dan merindukan keindahannya baik yang ada di langit atau kehebatan dan kesempurnaan yang ada di bumi. Perputaran atau revolusi matahari, perjalanan bulan, bintang yang bersinar, awan yang berarak datang dan menghilang kilat yang menyambar seperti listrikyang membakar, barang tambang yang elok, tumbuhan yang merambat, burung yang beterbangan, binatang buas yang berjalan, binatang ternak yang digiring, hewan-hewan yang berlarian, mutiara yang berkilauan, ombak laut yang menggulung, sinar yang menembus udara, malam yang gelap, matahari yang bersinar dan sebagainya”.[1]

Dari ungkapan beliau diatas dapat dipahami bahwasanya beliau sangat mengagumi keindahan alam semesta yang diciptakan oleh Allah. Dari sini kami mendapatkan sebuah acuan bahwasanya kekaguman pada keindahan alam itulah yang kemudian mnejadi awal munculnya niat beliau untuk mengetahui lebih jauh tentang pengaturan dan penciptaannya sehingga beliau kemudian mendalami ilmu pengetahuan dan teknologi agar bisa menyingkap maksud dari penciptaan tersebut.

Selanjutnya beliau mengatakan : “Tatkala diriku berfikir untuk merenungi keadaan umat Islam sekarang, dan kondisi pendidikan agamanya, maka aku menuliskan surat kepada beberapa tokoh cendekiawan (al ‘Uqala) dan para ulama besar (ajiilah al ‘Ulama ) yang berpaling dari makna-makna alam tersebut, juga tentang jalan keluarnya yang masih banyak dilalaikan dan dilupakan. Sebab sedikit sekali di antara para ulama yang memikirkan realitas alam semesta dan keanehan-keanehan yang ada di dalamnya”.[2]

Dari perkataan beliau tersebut dapat dipahami bahwasanya beliau merasa prihatin dengan keadaan umat Islam pada saat itu yang tertinggal dalam segi ilmu pengetahuannya dan banyak sekali hal-hal yang dilalaikan tentang maksud penciptaan alam. Oleh karena itu beliau ingin sekali agar umat Islam pada saat itu mengenal lebih jauh dan mempelajari tentang ilmu pengetahuan agar bisa memahami arti dari ciptaan Allah yang begitu megah dan indahnya.

Selain itu didalam Al Qur’an terdapat 750 ayat yang berbicara tentang ilmu pengetahuan, lebih banyak dibandingkan dengan ayat-ayat hukum yang sharih.[3] Inilah yang menjadi landasan beliau didalam menuliskan kitab tafsir yang memfokuskan tafsirannya pada ilmu pengetahuan. Beliau juga menjelaskan bahwasanya Islam datang untuk umat yang banyak dan surah-surah dalam ayat Al Qur’an secara umum menjelaskan tentang ilmu-ilmu alam.

Selanjutnya beliau mengatakan tentang isi dari kitab tafsir ini yang antara lain tentang hukum alam dan kebudayaan umat-umat, mutiara ilmu, keindahan alam, atuan-aturan dan Islam dan sebagainya. Dan tidak lupa beliau memohon petunjuk kepada Allah Ta’ala agar beliau bisa menyelesaikan kitab ini dengan sebaik-baiknya sehingga bisa diamalkan oleh umat Islam yang membacanya. Seperti yang disampaikan beliau dalam mukaddimahnya : “di dalam karangan-karangan tersebut aku memasukkan (mazajtu) ayat-ayat Al Quran dengan keajaiban-keajaiban alam semesta, dan aku menjadikan wahyu Ilahiyah itu sesuai dengan keajaiban-keajaiban penciptaan, hukum alam, munculnya bumi disebabkan cahaya TuhanNya. Maka aku meminta petunjuk (tawajjuh) kepada Tuhan yang Maha Agung agar memberikan taufik dan hidayahNya sehingga aku dapat menafsirkan Al Quran dan menjadikan segala disiplin ilmu sebagai bagian dari penafsiran serta penyempurnaan wahyu Al Quran”.


[1]  Jauhari, syekh Tanthowi, Al Jawahir fi tafsir Al Qur’an al Karim, Muassasah Musthafa al-Babi al-Halabi, Kairo, 1929, cetakan kedua, jilid 1, hal. 2. lihat juga At Tafsir wal Mufassirun, jilid 2 hal. 505.

[2]  Ibid.

[3]  Az Zahabiy, Dr. Muhammad Husain, At Tafsir wal Mufassirun, Muassasah Musthafa al-Babi al-Halabi, Kairo, 1976, cetakan kedua, jilid 2, hal. 506

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s