Contoh Proposal Skripsi

A.           Latar Belakang Masalah

Hadis adalah sumber pokok kedua di dalam ajaran Islam. Hadis mengandung berbagai ajaran inti Islam, baik itu tentang beribadah maupun tentang berhubungan dengan sesama manusia. Selain itu, hadis juga sebagai penjelas dari kandungan Al Qur’an serta sebagai penjelas terhadap hal-hal yang tidak dibahas Al Qur’an secara terperinci.

Salah satu hal yang dijelaskan dalam hadis dan merupakan ibadah pokok di dalam Islam adalah berdoa. Secara bahasa doa berarti permintaan, undangan, ibadah, percakapan dan pujian.[1] Sedangkan doa secara umum diartikan sebagai permintaan seseorang kepada Tuhannya agar bisa memenuhi apa yang diinginkannya. Do’a memiliki tata cara yang berbeda-beda dalam setiap agama, sesuai dengan ajaran yang diwariskan secara turun-temurun oleh pembawa agama tersebut.

Di dalam Islam sendiri doa memiliki beberapa cara di dalam pelaksanaannya. Ada yang berdoa dengan mengangkat kedua tangan , berdoa dengan hanya menunjukkan satu jari, berdoa dengan menunduk dan ada yang hanya berdoa dengan memejamkan mata saja. Al Qur’an mengajarkan umatnya untuk berdoa setiap hari dan selalu memohon pertolongan kepada Allah di setiap saat. Akan tetapi Al Qur’an tidak menjelaskan secara terperinci bagaimana cara berdo’a yang baik dan benar. Oleh karena itu, Muhammad saw sebagai pembawa ajaran Islam dan penjelas wahyu Allah, memberikan keterangan tentang cara berdoa kepada Allah dalam hadis-hadisnya. Ada puluhan hadis shahih yang menjelaskan tentang cara berdoa dan waktu-waktu yang mustajab (dikabulkan) untuk berdoa.

Dalam studi living sunnah, umat Islam sendiri, khususnya di Indonesia memiliki cara-cara tersendiri di dalam berdoa. Kebanyakan dari mereka berdoa dengan mengangkat kedua tangan, dan ada juga sebagian kecil hanya berdoa dengan menunduk dan memejamkan mata. Dalam hal mengangkat tangan ketika berdoa, umat Islam di Indonesia juga memiliki perbedaan di dalam melakukannya. Ada yang hanya mengangkat tangan sebatas dada, ada yang mengangkat tangan sebatas pundak dan ada juga yang mengangkat tangan hingga diatas kepala. Perbedaan ini tentu saja timbul disebabkan pemahaman mereka terhadap ayat-ayat dan hadis-hadis yang berbicara tentang doa.

Selain itu, tradisi Islam yang ada mengajarkan tentang beberapa teori doa. Yaitu doa adalah senjata seorang muslim sehingga ia harus dilakukan dengan penuh khidmat (konsentrasi) atau yang lebih sering disebut khusyu’. Dengan berdoa seorang muslim merasakan ia selalu berada di dekat Tuhannya, sehingga ia tidak perlu merasa takut dalam keadaan apapun. Doa juga merupakan sebagian dari iman karena dengan berdoa manusia membuktikan dirinya lemah dihadapan Allah, dirinya tidak sempurna dan tidak bisa melakukan semuanya tanpa pertolongan Allah. Hal ini merupakan ajaran dasar dalam Islam, pasrah dan yakin bahwa Allah selalu berada di dekat hambaNya merupakan hal yang paling penting yang harus ada dalam hati seorang muslim.

Ajaran-ajaran tentang doa masih diajarkan hingga sekarang dan nantinya. Mulai dari adab berdoa, tata cara hingga saat-saat yang memang sangat dianjurkan dalam berdoa. Warisan sejak zaman Nabi saw ini diteruskan kepada generasi selanjutnya baik dengan cara mengajar langsung, maupun lewat kitab dan buku-buku yang ditulis oleh cendekiawan Islam. Sudah banyak hasil penelitian tentang doa dan adab-adabnya.  Diantara dengan memberikan beberapa definisi tentang doa, manfaat dari doa, hal-hal yang menyebabkan doa bisa terkabul, cara mengangkat tangan ketika hendak berdoa, hingga kata-kata apa saja yang bisa digunakan dalam berdoa. Akan tetapi, sampai saat ini belum ditemukan karya yang membahas perbandingan antara doa dengan mengangkat kedua tangan dan berdoa dengan selain mengangkat kedua tangan.

 

B.            Rumusan Masalah

Melihat kepada latar belakang penelitian diatas, dapat diambil beberpa permasalahan yang akan dijadikan fokus penelitian ini selanjutnya, adapun masalah-masalah itu adalah hal-hal yang menyangkut tentang perbandingan hadis-hadis yang membahas tentang berdoa dengan mengangkat tangan dengan berdoa dengan selain mengangkat tangan. Permasalahan ini menjadi permasalahan yang belum terlihat secara jelas letak perbedaan dan persamaannya. Mengangkat kedua tangan ketika berdoa adalah cara yang lazim dipakai mayoritas umat Islam di Indonesia, dalil-dalil yang menjelaskan hal tersebut juga sudah diakui kebenarannya.

Permasalahan kemudian timbul ketika ada sekelompok muslim yang berdoa dengan cara yang tidak lazim digunakan umat Islam di Indonesia. Misalnya berdoa dengan mengangkat satu jari ketika berdoa diantara dua khutbah jum’at, menggoyangkan jari telunjuk ketika berdoa pada duduk tahiyat shalat, berdoa dengan hanya memejamkan mata dan meletakkan tangan ketika sujud pada shalat, dan berdoa dengan berdiri saja tanpa mengangkat tangan ketika membaca doa qunut shalat subuh. Hal ini tentu saja mengundang pertanyaan dari masyarakat yang jarang melihat hal tersebut.

Oleh karena itu, dapat dirumuskan beberapa masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini, yaitu :

  1. Apa saja dalil yang membolehkan berdoa dengan tidak mengangkat kedua tangan ?
  2. Kapan saja kita bisa berdoa tanpa harus mengangkat kedua tangan ?
  3. Apa saja hikmah yang terdapat di dalam hadis-hadis yang membolehkan tidak mengangkat tangan ketika berdoa ?

Ruang lingkup penelitian ini adalah masalah-masalah yang berkaitan tentang cara berdoa, yang disimpulkan dalam beberapa pertanyaan diatas. Adapun yang dimaksud dengan cara berdoa disini adalah gerakan apa saja yang dilakukan ketika berdoa dan waktu-waktu apa saja yang dibolehkan melakukan gerakan tersebut. Lebih jauh lagi, penelitian ini adalah penelitian tentang hadis-hadis yang membahas cara berdoa. Sehingga hal-hal lain yang diluar pembahasan ini tidak menjadi fokus penelitian. Melainkan hanya sebagai data pelengkap untuk menambah kebenaran dari hal-hal yang akan ditemukan dalam penelitian ini nantinya.

 

C.           Kerangka Teori

Selama ini hadis yang lebih banyak dipakai dalam berdoa adalah hadis-hadis tentang mengangkat kedua tangan ketika berdoa. Hal ini disebabkan hadis-hadis yang seperti itula yang paling banyak ditemukandi dalam kitab hadis. Sedangkan hadis-hadis lain yang membahas tentang gerakan lain dalam berdoa, jarang sekali diteliti lebih lanjut. Hal ini bisa saja disebabkan jumlah hadis yang sedikit, para ulama jarang menuliskan hadis tersebut di dalam kitab-kitab atau buku-buku mereka yang membahas tentang doa, dan juga karena hadis-hadis ini jarang sekali diajarkan dalam lembaga pendidikan Islami seperti pondok pesantren.

Oleh karena itu, hanya sedikit teori-teori yang bisa dipakai dalam penelitian ini. Buku-buku yang digunakan juga tidak banyak mengemukakan teori-teori tentang cara berdoa selain dengan mengangkat kedua tangan. Akan tetapi, karena penelitian ini adalah penelitian tentang hadis, maka teori-teori yang berkaitan dengan hadis akan digunakan dalam penelitian ini.

Adapun teori-teori yang akan dipakai dalam menunjang penelitian ini adalah bagaimana kualitas hadis yang akan diteliti. Apakah hadis ini berkualitas shahih, hasan ataupun dhaif. Sehingga bisa dilihat apakah hadis ini bisa diamalkan ataupun tidak sesuai dengan kualitasnya.

Teori yang kedua adalah bagaimana cara menafsirkan hadis-hadis yang akan diteliti. Yaitu mencari sebab-sebab lahirnya hadis tersebut, bagaimana kondisi masyarakat pada saat hadis ini dikeluarkan, dan apa tujuan Nabi saw mengeluarkan hadis tersebut.

Teori yang ketiga adalah bagaimana tanggapan para ulama tentang pengamalan hadis tersebut. Yaitu menjelaskan pendapat-pendapat para ulama yang berkaitan dengan hadis ini, cara mereka menanggapinya dan cara mereka mengamalkan hadis-hadis tersebut.

Dan teori yang terakhir adalah bagaimana tanggapan masyarakat dalam menyikapi hadis-hadis itu. Hal ini menyangkut tentang respon masyarakat terhadap hadis-hadis yang menganjurkan berdoa dengan selain mengangkat kedua tangan. Apakah masyarakat menyambutnya dengan baik dan mengamalkannya ataukah masyarakat tidak perduli dan lebih menggunakan cara berdoa yang hadis-hadisnya lebih jelas keotentikannya.

Dari teori-teori diatas, dapat dirangkai satu kerangka teori yang akan menjadi rangkaian penelitian ini. Yaitu, penelitian ini akan diawali dengan mencari dan mengumpulkan hadis-hadis yang menjelaskan tentang cara berdoa, baik itu dengan mengangkat kedua tangan maupun yang selainnya. Hadis-hadis ini melingkupi hadis-hadis dengan berbagai kualitas dari kitab-kitab hadis yang terkenal, juga hadis-hadis yang mengandung makna atau isi yang sama.

Kemudian setelah hadis-hadis itu terkumpul semuanya, dipilih beberapa hadis yang akan menjadi fokus penelitian ini. Hadis-hadis yang terpilih itulah yang akan diteliti dari segi kualitas dan pengamalannya di tengah-tengah masyarakat.

Setelah diketahui kualitas hadis-hadis tersebut, kemudian hadis itu ditafsirkan dengan menggunakan metode sejarah dan pendapat-pendapat para ulama yang menjelaskan isi hadis tersebut.

Langkah terakhir adalah menjelaskan maksud dari hadis tersebut dengan menguraikan inti ajaran yang terdapat di dalam hadis. Dan juga membandingkannya dengan hadis-hadis lain yang satu tema tapi berbeda intinya. Serta menguraikan respon masyarakat terhadap hadis tersebut, baik dari segi sudut pandangnya maupun dari segi pengamalannya.

 

D.           Metodologi Penelitian

Dalam meneliti hadis-hadis tentang tata cara berdoa, penulis menggunakan dua metode penelitian. Yang pertama adalah metode kepustakaan, yaitu mencari data-data tentang hal-hal yang berkaitan dengan penelitian ini dari buku-buku yang ada. Baik itu buku-buku klasik karya ulama terdahulu, maupun buku-buku baru yang membahas tentang tata cara berdoa.

Selain itu, penulis juga menggunakan metode wawancara. Yaitu berbicara dengan orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang hadis-hadis iini dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Wawancara ini dilakukan di daerah kota Yogyakarta dan sekitarnya, karena penelitian ini hanya difokuskan pada daerah DIY, tempat penulis menempuh studi. Selain itu, daerah ini juga merupakan miniatur Indonesia dengan berbagai macam suku yang tinggal di dalamnya, tidak hanya terbatas pada suku jawa. Hal ini juga menyebabkan adanya akulturasi budaya antara budaya jawa dan non jawa, sehingga terdapat kompleksitas baik dari segi agama, budaya maupun pendidikan orang-orang yang tinggal di dalamnya.

 

E.            Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini antara lain :

  1. Mengemukakan hadis-hadis tentang cara-cara berdoa kepada masyarakat
  2. Menjelaskan isi hadis-hadis tentang cara-cara berdoa
  3. Mengungkapkan perbedaan antara berdoa dengan mengangkat tangan dan berdoa dengan selain mengangkat tangan
  4. Menjelaskan waktu-waktu untuk berdoa dengan mengangkat tangan dan berdoa dengan selain mengangkat tangan
  5. Memberikan pemahaman kepada umat Islam bahwa berdoa itu tidak hanya dengan mengangkat tangan saja
  6. Menghindarkan terjadinya kesalahpahaman diantara umat Islam yang belum terbiasa melihat cara lain di dalam berdoa
  7. Sebagai syarat wajib menyelesaikan pendidikan di Universitas.

 

F.            Sistematika Penulisan

Hasil penelitian ini akan disusun dengan sistematika penulisan standar skripsi. Hasil penelitian ini akan memuat empat bab yang masing-masing akan menjelaskan bagian-bagian dari fokus penelitian.

Adapun bab pertama berisikan pendahuluan. Bab ini mencakup latar belakang penelitian, masalah-masalah yang akan diteliti, teori-teori yang akan dipakai, metode-metode yang akan digunakan, tujuan penelitian, sistematika penulisan hasil penelitian dan tinjauan pustaka.

Bab kedua berisikan hadis-hadis tentang tata cara berdoa. Bab ini mencakup takhrij hadis-hadis tentang tata cara berdoa, kualitas hadis-hadis tentang tata cara berdoa, klasifikasi sanad hadis, klasifikasi matan hadis, dan konteks turunnya hadis.

Bab ketiga berisikan cara-cara dan waktu-waktu berdoa. Bab ini mencakup cara-cara berdoa, waktu-waktu untuk berdoa dengan mengangkat kedua tangan, waktu-waktu untuk berdoa dengan selain mengangkat tangan, dan pengulangan bacaan di dalam berdoa.

Bab keempat berisikan kesimpulan. Bab ini mencakup kualitas hadis secara umum, pendapat para ulama tentang pengamalan hadis-hadis tersebut, tanggapan masyarakat terhadap hadis-hadis tersebut, dan implikasi terhadap kehidupan sehari-hari.

 

G.           Tinjauan Pustaka

Adapun buku-buku yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah buku-buku yang berkaitan dengan fokus penelitian. Buku-buku itu antara lain kitab-kitab hadis yang enam, yaitu Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan at Turmuzi, Sunan Ibn Majah, Sunan an Nasai dan Sunan Abu Dawud. Kitab-kitab ini merupakan kitab-kitab hadis pokok dalam Islam, sehingga ketika seorang muslim ingin meneliti sebuah hadis, harus menggunakan rujukan kitab-kitab ini.

Buku yang lain antara lain, Quantum Doa karya Syukriadi Sambas dan Tata Sukayat. Buku ini membahas banyak hal tentang doa, baik itu dari segi definisi dan adab hingga pengaruh doa dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu buku ini juga membahas kata-kata lain yang berhubungan dengan makna doa.

Buku selanjutnya adalah Adab-adab Berdoa karya Balukia Syakir. Buku ini lebih khusus membahas tentang berbagai hal yang berkaitan tentang adab berdoa, melingkupi tentang persiapan sebelum berdoa, hal-hal yang harus dilakukan sebelum berdoa, hal-hal yang harus dilakukan ketika berdoa dan hal-hal yang harus dilakukan ketika selesai berdoa.

Serta buku-buku lainnya yang akan menunjang penelitian sehingga hasil penelitian ini bisa dipertanggungjawabkan secara akademik.


[1]  Syukriadi Sambas dan Tata Sukayat, Quantum Doa, (Jakarta: Hikmah,  2005) hal. 11-14

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s