Filsafat Rene Descartes

Rene-Descartes

A.      Pendahuluan

Era filsafat modern dimulai sejak munculnya pemikiran positivisme dan rasionalisme. Positivisme adalah aliran filsafat yang menyatakan bahwa ilmu alam merupakan satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak hal-hal yang bersifat metafisik.

Sedangkan rasionalisme secara umum diartikan sebagai teori yang menyatakan bahwa kebenaran ditentukan melalui pembuktian, logika dan analisis yang bisa diterima oleh akal manusia. Ciri khas dari aliran filsafat ini adalah semboyan yang berbunyi “Corgito Ergo Sum” yang berarti saya berpikir, maka saya ada.

Selain rasionalisme, ada beberapa aliran lain yang ikut meramaikan dunia akademik filsafat, diantaranya:

  1. Empirisme, yaitu aliran yang berpendapat bahwa segala pengetahuan berasal dari pengalaman. Aliran ini menolak anggapan bahwa manusia membawa pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Tokoh-tokohnya antara lain David Hume, George Berkeley dan John Locke.
  2. Idealisme, yaitu aliran yang beranggapan bahwa mental dan ideasional sebagai kunci untuk mencapai kebenaran realitas. Tokoh-tokohnya antara lain Johan G. Fitcher, Hegel dan Immanuel Kant.[1]

Pada dasarnya aliran-aliran filsafat ini mencoba untuk mengemukakan teori-teori pengetahuan untuk memperoleh kebenaran akan pengetahuan tersebut. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Dalam hal realitas yang bisa dijangkau oleh panca indera manusia, kebenaran dari pengetahuan tersebut bisa dibuktikan melalui pengujian secara ilmiah, pendekatan melalui akal pikiran terhadap benda-benda yang nyata yang bertemu langsung antara subjek dan objeknya. Sedangkan hal-hal yang tidak bisa dijangkau oleh panca indra manusia dan bersifat abstrak, mendapatkan kebenaran pengetahuan tersebut bisa dilakukan dengan berpikir dan merasakan dengan pengalaman.

Dalam makalah ini akan dibahas teori filsafat rasionalisme dengan berbagai teori dan semboyan serta metode yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan maupun kebenarannya. Selain itu juga akan dipaparkan tokoh yang menggunakan teori pemikiran ini.

B.       Pengertian Rasionalisme

Kata rasionalisme secara berasal dari kata rasio yang memiliki arti masuk akal, akal budi. Rasional memiliki beberapa pengertian, yaitu:

  1. Secara umum, rasional menunjukkan modus atau cara pengetahuan diskursif, konseptual yang khas manusiawi.
  2. Secara khusus, raisonal memiliki makna konklusif, logis, metodik. Ilmu pengetahuan rasional merupakan ilmuyang bersifat deduktif atau reduktif.
  3. Rasional juga menunjukkan sesuatu yang mempunyai atau mengandung rasio atau dicirikan oleh rasio, dapat dipahami, cocok dengan rasio, dapat dimengerti/ditangkap.

Bentukan kata lain dari kata rasio adalah rasionalisasi yg memiliki dua makna umum, yaitu:

  1. Makna positif, yaitu membuat rasional (masuk akal) atau membuat sesuatu dengan akal budi atau menjadi masuk akal.
  2. Arti negatif, yaitu pembenaran berdasarkan motif-motif tersembunyi.

Adapun rasionalisme adalah prinsip bahwa akal harus diberi peranan utama dalam menjelaskan sesuatu. Secara umum kata rasionalisme menunjuk pada pendekatan filosofis yang menekankan akal budi (rasio) sebagai sumber utama pengetahuan.[2] Rasionalisme menjadi aliran baru dalam filsafat sejak Descartes mengemukakan hasil filosofinya dengan menggunakan pikiran dan rasionya untuk menguji kebenaran pengetahuan. Dasar-dasar dari aliran ini dilandaskan pada pemikiran filsafat Descartes yang kemudian dikenal sebagai Rasionalisme Kontinental.

C.      Sejarah Hidup Descartes (1596-1650)

Descartes dikenal sebagai “Penemu Filsafat Modern” dan “Bapak Matematika Modern”. Ia lahir di La Haye, sebuah kota kecil di daerah Tourine, Perancis. Pada tahun 1606 ia mengikuti pendidikan di Jesuit College yang berada di kota La Fleche. Selama menempuh studi disana, ia menjadi siswa kesayangan gurunya, walaupun Descartes menyatakan bahwa ia hanya mendapatkan sedikit ilmu dan lebih banyak memberikan perhatian pada studi matematika. Pada tahun 1616, Descartes mendapatkan gelar Baccalaureat dan Licence dalam bidang hukum dari University of Poitiers.[3]

Pada tahun 1618, Descartes berangkat ke Belanda untuk bergabung dengan pasukan Perancis dibawah pimpinan pangeran Maurice dari Nassau. Disana ia bertemu dengan Isaack Beckman yang kemudian bersama-sama menciptakan sebuah nada musik yang dikenal dengan Compendium Musicae. Pada tahun 1619, ia berangkat ke Jerman dalam misinya bersama pasukan Perancis. Pada malam tanggal 10 November, setelah seharian merenung dan berpikir, ia mendapatkan mimpi yang ditafsirkannya sebagai pertanda dari Tuhan (divine sign) yang dianggap sebagai takdir hidupnya untuk menemukan kesatuan ilmu alam pada matematika.[4] Pada masa itu ketertarikannya sangat tertuju pada hukum alam dan matematika yang diinspirasi oleh Isaac Beckman. Selama masa perang tersebut, Descartes lebih banyak melakukan perjalanan daripada menulis dalam bidang filosofi atau ilmu alam. Pada tahun 1622, ia kembali ke Perancis dan menetap selama beberapa waktu di Paris serta melakukan beberapa perjalanan di Eropa.

Pada tahun 1628, Descartes menulis karya pertamanya yang tidak pernah terselesaikan yang berjudul Regulae ad Directionem ingenii (aturan dalam pengarahan pikiran) yang dikerjakannya dalam kurun waktu satu tahun. Karyanya tersebut menunjukkan bahwa Descartes telah menyibukkan diri dengan metode-metode untuk memajukan ilmu alam (scientific advance), sebuah metode yang berdasarkan inspirasi hitungan matematika, walaupun ditujukan sebagai metode penyelidikan rasional pada berbagai keadaan subjek dan hal-hal lain. Pada bulan November 1628, Descartes membuat dirinya terkenal melalui pertentangan (perbedaan pendapat) dengan Chandoux yang menganggap ilmu (science) hanya bisa dibangun dari kemungkinan-kemungkinan. Sedangkan menurut Descartes, kepastian absolut yang menjadi dasar pengetahuan manusia dan ia mempunyai metode untuk membuktikannya.[5] Pada tahun tersebut, Descartes pensiun menjadi tentara dan pergi ke Belanda serta menetap disana sampai tahun 1649 dengan berulang kali berpindah alamat.

Pada tahun 1629, Descartes menulis tentang Le Monde (The World) yang merupakan hasil penyelidikan ilmiahnya tentang alam. Ketika ia mendengar penghukuman Galileo yang mengajarkan sistem Copernican[6], ia membatalkan penerbitan Le monde tersebut. Kejadian itu merupakan hal penting dalam hidup Descartes yang menunjukkan sikap hati-hati dan kebijaksanaan terhadap otoritas yang berlaku dalam dirinya.[7] Pembatalan penerbitan buku tersebut juga mempengaruhi penerbitan karya Descartes berikutnya yang mana ditujukan untuk memperlihatkan kurangnya pengaruh ortodox dalam gaya pemikirannya.

Pada tahun 1637, Descartes menerbitkan sebuah buku yang berjudul Discours de la Metode. Buku ini memuat tiga rumus dalam matematika dan hukum alam, yaitu Geometry, Dioptric dan Meteors. Buku ini menjadi sebuah tanda penting bagi Descartes, baik dari segi kepadatan penjelasan tentang penemuan sistem Cartesian, autobiographical, dan kenyataan bahwa buku tersebut ditulis di Perancis. Buku ini ditujukan bagi kaum akademik yang diharapkan bisa memberikan masukan penting bagi Descartes. Model Perancis  yang dikembangkan oleh Descartes dalam perkembangan ilmu matematika dan ilmu alam ini dihargai sebagai model ekspresi dari pemikiran abstrak bagi bahasa tersebut.[8]

Pada tahun 1641, Descartes menerbitkan buku lain yang lebih membahas tentang hal-hal metafisik. Buku yang berjudul Meditationes de Prima Philosophia (Perenungan sebagai langkah awal berfilosofi) memuat enam langkah berpikir dalam filsafat.[9] Setahun kemudian ia menerbitkan edisi revisi dari buku Meditations dengan tujuh langkah berpikir dalam filsafat.

Pada tahun 1643, filsafat Cartesian dianggap tidak layak untuk akademik di University of Utrecht dan Descartes mulai hubungan surat menyurat dengan putri Elizabeth dari Bohemia. Pada tahun berikutnya, Descartes mengunjungi Perancis dan menerbitkan tulisannya yang lebih formal dalam filsafat yang berjudul Principia Philosophiae (prinsip dalam berfilsafat). Selain memuat tentang filsafat Descartes, buku tersebut juga memuat tentang pandangan Descartes terhadap kosmologi (ilmu perbintangan) yang mana ia menyatakan bahwa ia berharap buku tersebut dapat digunakan sebagai bahan pelajaran bagi umat Kristen tanpa harus bertentangan dengan teks Aristoteles.

Pada tahun 1647, Descartes diberikan penghargaan dari raja Perancis dan menerbitkan Comment on a Certain Broadsheet serta mulai menulis tentang Description of the Human Body. Pada tahun 1648, ia mendapatkan wawancara oleh Frans Burman di Egmond-Binne yang kemudian menjadi tulisan yang berjudul Conversation with Burman.

Pada tahun 1649, Descartes berangkat ke Swedia atas undangan dari ratu Christina. Setelah beberapa lama menunggu ia menyerah setelah mendapati banyak ketidakpastian dari permintaan ratu Christina yang menyatakan bahwa ia akan dimasukkan ke dalam golongan filsuf terkemuka. Pada tahun ini Descartes juga menerbitkan buku Les Passions de l’ame (gairah jiwa). Tahun berikutnya, Descartes meninggal karena terserang penyakit pheneumonia sebagai akibat dari iklim yang ada di Swedia dan ketatnya jadwal yang diinginkan oleh sang ratu.

D.      Pemikiran Filsafat Descartes

Sebagai seorang filsuf, Descartes memiliki konsep sendiri tentang pengetahuan. Menurut beliau pengetahuan adalah keyakinan yang yang berdasarkan pada sebuah alasan yang kuat yang tidak bisa digoyahkan oleh alasan lain yang muncul kemudian. Metode yang digunakannya adalah meragukan semua pengetahuan yang ada. Hal ini terlihat pada bukunya yang berjudul Meditations dimana ia menempatkan keraguan sebagai renungan pertama.

Descartes menyandarkan keraguannya pada semua kepercayaan yang ada dalam dirinya pada sebuah alasan, yaitu keyakinan yang tidak bisa digoyahkan, keyakinan yang nyata yang diketahui oleh orang umum yang biasa digunakan dalam prinsip matematika. Walaupun saya dalam keadaan sadar ataupun bermimpi, dua ditambah tiga hasilnya tetap lima. Oleh karena itu, Descartes meminta kita untuk berimajinasi sebuah jiwa yang memiliki kekuatan dan kemampuan yang menyebabkan kita merasakan pengalaman yang kita miliki dan semua keyakinan yang berkaitan dengannya.[10]

Menurut beliau, ada beberapa langkah untuk mencapai pengetahuan yang tidak ada lagi keraguannya. Dalam Ensiklopedi Filsafat disebutkan empat aturan dalam menjalankan metode “keraguan” Descartes[11], yaitu:

  1. Menerima bahwasanya tidak ada sesuatu yang benar (true). Hal ini berguna untuk mencegah adanya dugaan dan prasangka dalam menentukan kebenaran, untuk menerima kebenaran itu apa adanya yang tidak ada celah untuk meragukannya kembali.
  2. Mengelompokkan berbagai masalah yang akan diperiksa sebanyak yang bisa dilakukan dan yang dibutuhkan untuk mencapai kebenaran tersebut, yang kemudian diselesaikan dengan cara yang paling baik/tepat.
  3. Memasukkan pemikiran subjek (peneliti/pemikir) sesuai dengan masalahnya, dimulai dari objek yang paling mudah dimengerti, kemudian meningkatkannya secara perlahan. Atau dengan cara mengetahui yang paling rumit sesuai dengan keadaan sekalipun hal tersebut tidak nyata, yang diantaranya tidak sesuai dengan peristiwa alam yang saling berkaitan satu sama lain.
  4. Yang terakhir adalah dengan memberikan penomoran terhadap semua kasus dengan lengkap dan meninjaukembali secara umum supaya terhindar dari ketiadaan (nothing).

Langkah-langkah diatas cukup rumit untuk dipahami karena ada beberapa hal yang terkesan vague. Langkah pertama cukup jelas dengan meragukan semua kebenaran yang ada agar tidak terjadi perselisihan antara kebenaran yang ada di dalam pikiran dengan kebenaran yang ada dalam realitas alam. Hal ini bisa disebut dengan menghapuskan doktrin atau tradisi yang terdapat di dalam pikiran manusia dari ia dilahirkan hingga ia bertemu dengan sesuatu yang belum diketahui kebenaran aslinya.

Langkah kedua yaitu dengan mengelompokkan masalah-masalah yang ingin diteliti kebenarannya kemudian diselesaikan dengan cara yang tepat. Semua hal yang berkaitan dengan masalah yang ingin diketahui kebenarannya tersebut dikelompokkan sesuai tema dan inti permasalahannya agar tidak terjadi kesalahan di dalam memahami kebenaran yang ingin diungkap. Dengan begitu, kebenaran akan terbuka satu-persatu seiring dengan terpecahkannya masalah yang sudah dikumpulkan sebelumnya.

Langkah ketiga yaitu dengan memasukkan pemikiran subjek sesuai dengan masalahnya. Pada langkah ini, setelah semua masalah diketahui dengan jelas dan telah dilihat dari berbagai aspek yang meliputi hal tersebut, subjek mulai memasukkan pemahaman yang ada dalam pikirannya untuk membuka secara perlahan inti dari masalah tersebut, dimulai dari hal yang paling mudah hingga hal yang paling sulit, atau sebaliknya, dimulai dari hal yang paling rumit hingga bisa menjawab hal yang paling mudah. Misalkan meneliti kepribadian dan cara berpikir seseorang untuk mengetahui sejauh mana ia menilai kebenaran dari sebuah pengetahuan. Hal yang paling mudah bisa saja dengan mengetahui sejarah hidupnya, kemudian latar belakang intelektualnya, dilanjutkan dengan kebiasaannya dalam berpendapat hingga masuk ke alam pemikirannya. Atau sebaliknya dengan mencoba menerobos alam pikirannya dari gaya pengungkapan dan pemilihan bahasanya yang kemudian dilanjutkan dengan melihat kebiasaannya sehari-hari.

Langkah terakhir adalah verifikasi terhadap semua masalah yang ada dan memberikan tanda tertentu terhadap permasalahan yang sudah diselesaikan. Hal ini bertujuan agar tidak ada masalah yang tertinggal atau luput dari penyelesaian. Semua masalah yang telah diselesaikan ditinjau kembali untuk mendapatkan pemahaman yang tepat terhadap kebenaran yang didapatkan.

Langkah-langkah diatas terkesan cukup sulit untuk dilakukan dalam perenungan dan penelitian ilmu alam. Leibniz menanggapi metode tersebut dengan cara yang mudah, yaitu: ambil apa yang kamu perlukan, lakukan apa yang harus kamu lakukan, dan kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan.[12]

Adapun pemikiran filsafat Descartes yang dirangkum dalam wikipedia dibagi menjadi tiga bagian[13], yaitu:

Pengetahuan yang Pasti.

Menurut Descartes, pengetahuan adalah sesuatu yang tidak ada lagi keraguan di dalamnya. Metode yang digunakannya adalah meragukan semua pengetahuan yang ada hingga ia mendapatkan kesimpulan bahwa ada tiga pengetahuan yang bisa diragukan, yaitu:

  • Pengetahuan yang berasal dari pengalaman inderawi. Contohnya kayu lurus yang dimasukkan ke dalam air maka akan kelihatan bengkok.
  • Fakta umum tentang dunia seperti api itu panas dan benda yang berat akan jatuh. Ia juga menyatakan bahwa mimpi yang berulang kali bisa memberikan pengetahuan tentang sesuatu.
  • Prinsip-prinsip logika dan matematika. Ia menyatakan bagaimana jika ada seorang makhluk yang bisa memasukkan ilusi ke dalam pikiran kita, dengan kata lain kita berada dalam suatu matrix.

Menurut Decrates, eksistensi pikiran manusia adalah sesuatu yang absolut dan tidak dapat diragukan. Sebab meskipun pemikirannya tentang sesuatu salah, pikirannya tertipu oleh suatu matriks, ia ragu akan segalanya. Oleh karena itu tidak dapat diragukan lagi jika pikiran itu eksis. Sedangkan pikiran menurut Descartes adalah suatu benda berpikir yang bersifat mental, bukan bersifat fisik atau material. Dari prinsip awal bahwa pikiran itu ada, Descrates melanjutkan penyelidikan filsafatnya untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada.

Ontologi Tuhan Dan Benda

Decrates mendeskripsikan Tuhan sebagai makhluk sempurna yang tak terhingga. Gagasan tersebut tidak mungkin muncul begitu saja dari hasil pikiran dan pengalaman manusia karena kedua hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak sempurna dan bisa diragukan dan tidak memenuhi sebab lebih sempurna dari akibat. Gagasan tentang Tuhan itu muncul karena ada yang menaruh pikiran itu ke dalam pikiran manusia, yaitu Tuhan tersebut.

Setelah membuktikan keberadaan Tuhan, Descartes mencoba membuktikan benda material itu ada. Ia menyatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan ketidakmampuan untuk membuktikan bahwa benda material itu sejatinya tidak ada, bahkan Tuhan menciptakan manusia untuk memiliki kecenderungan bahwa benda material itu ada. Jika pemahaman bahwa benda material itu ada hanya sebuah matrik kompleks yang menipu pikiran manusia, hal itu menunjukkan bahwa Tuhan adalah penipu dan bagi Descrates penipu adalah ketidaksempurnaan sedangkan Tuhan adalah makhluk sempurna sehingga Tuhan tidak mungkin menipu dan benda material itu ada.

Metafisika

Menurut Descartes, realitas itu terdiri dari tiga hal, yaitu: benda material yang terbatas seperti objek-objek fisik, benda-benda mental yang terbatas seperti pikiran dan jiwa manusia, dan benda mental yang tidak terbatas yaitu Tuhan. Ia juga membedakan pikiran dan tubuh manusia yang membawanya kepada pembagian ilmu, yaitu realitas material sebagai ranah bagi keilmuan baru seperti yang dibawa oleh Galileo dan Copernicus, dan realitas mental bagi ranah keilmuan seperti ilmu agama, etika dan sejenisnya yang tidak berkaitan dengan objek material.

Hasil pemikiran Descartes yang dijelaskan dalam tiga bagian diatas cenderung merupakan hasil refleksi yang disampaikannya dalam buku Meditations. Pengetahuan yang pasti dengan metode keraguannya adalah langkah awal dalam perenungan. Dilanjutkan dengan berpikir untuk menemukan eksistensi diri terdapat pada perenungan kedua. Pengetahuan akan Tuhan terdapat dalam perenungan ketiga. Perenungan keempat membahas tentang objek material. Pada perenungan kelima membahas tentang pembuktian keberadaan Tuhan. Pengetahuan akan metafisika dibahas dalam perenungan keenam.[14] Dibawah ini akan dijelaskan tentang enam langkah perenungan (meditasi) filsafat rasionalisme yang juga dianggap sebagai dasar awal terbentuknya aliran rasionalisme tersebut.

Meditasi Pertama: Apa Saja yang Bisa Diragukan[15]

Sejak dilahirkan, manusia diberikan pengetahuan yang diajarkan terus-menerus seiring pertumbuhannya, baik ajaran dari keluarga, lingkungan, masyarakat, sekolah ataupun yang lain yang merupakan refleksi dari pikirannya. Semua pengetahuan tersebut tertanam dalam pikiran manusia, begitu dalam hingga apa saja yang ada dalam pikiran mereka semua dianggap benar sesuai dengan apa yang telah diajarkan dan dimasukkan dalam pikiran tersebut. Ketika manusia mencapai titik kesadaran tertentu dimana dia berhadapan dengan realitas yang berbeda dengan apa yang ada dalam pikiran mereka selama ini, mulai timbul keraguan yang semakin dalam apakah pengetahuan tersebut sudah benar, ataukah masih perlu dikaji ulang.

Lebih jelasnya jika diilustrasikan pada diri penulis. Saya hidup dalam lingkungan yang mempunyai adat, tradisi dan agama. Saya terikat pada hukum-hukum yang berlaku pada tiga hal tersebut. Seiring pertumbuhan saya dan minat saya dalam mengetahui sebuah hal secara lebih dalam dan terperinci, saya melihat banyak perbedaan antara apa yang saya pelajari dengan apa yang terjadi dalam kenyataan (realitas). Apa yang saya temukan dari hasil penglihatan, percobaan, dan berpikir lebih dalam (seeing deep insight)[16], mengantarkan saya pada sebuah kesadaran bahwasanya semua hal yang sudah tertanam di dalam pikiran saya dapat diragukan kebenarannya. Saya semakin tertarik untuk mengetahui hal tersebut dan berusaha untuk menemukan sebuah pengetahuan yang tidak dapat lagi diragukan kebenarannya.

Descartes berkata :

“But to accomplish this, it will not be necessary for me to show all my opinions are falls, which is something i could perhaps never manage. Reasons now leads me to think that i should hold back my assent from opinions which are not completely certain and indubitable just as carefully as i do from those which are patently false”.[17]

Tidak semua pengetahuan yang tertanam di dalam pikiran harus diragukan, ada beberapa juga yang harus dipertahankan yang belum bisa diragukan. Untuk mencapai pengetahuan yang benar, alasan diperlukan sebagai tolak ukur bahwasanya pengetahuan itu tidak bisa diragukan kembali.

Cara untuk menolak semua pengetahuan yang dimiliki (opinions) dapat dilakukan dengan menemukan alasan untuk meragukan pengetahuan tersebut. Ketika kebenaran baru telah ditemukan dengan menggunakan alasan tersebut, maka kebenaran pengetahuan yang lama yang berada dalam pikiran akan hilang dengan sendirinya. Apapun yang saya terima sebagai hal yang paling benar harus saya yakinkan baik dalam sense (indera/perasaan) maupun melalui perasaan tersebut. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, saya menemukan bahwasanya perasaan dan sense saya ternyata menipu. Akan lebih bijak jika saya tidak mempercayai orang atau apapun yang telah menipu saya.[18]

Walaupun sense kita terkadang menipu untuk mempercayai objek yang kecil dan jauh, ada keyakinan lain yang lebih tidak mungkin untuk diragukan walaupun itu berasal dari sense. Contohnya: saya sedang duduk diatas api, menggunakan pakaian musim dingin (jaket yang sangat tebal dan hangat) sambil memegang beberapa kertas. Pertanyaannya adalah apakah tubuh itu benar-benar milik saya? Apakah saya sedang bermimpi atau dalam keadaan sadar? Mimpi ataupun sadar, pengetahuan yang saya dapatkan itu ada dan tertanam dalam pikiran.[19]

Ini adalah sebuah alasan yang tepat. Apapun keadaan saya, baik tidur ataupun terjaga, pengalaman yang saya rasakan dan pengetahuan yang saya dapatkan tetap sama. Ketika saya bermimpi sedang menggunakan jaket yang tebal, saya merasa jaket itu benar-benar ada dan pengalaman/pengetahuan yang saya dapatkan juga ada sekalipun ketika terbangun saya dalam keadaan tanpa busana. Jadi, apapun yang bisa dikhayalkan baik dari segi bentuk tubuh atau warna-warna dan apa yang ada di bumi itu nyata sekalipun hanya dalam pikiran kita.[20]

Bisa disimpulkan bahwa fisika, astronomi, kedokteran dan disiplin ilmu lain yang memerlukan pengajaran (study) untuk menggabungkan sesuatu bisa diragukan. Sedangkan aritmatic, geometry dan hal-hal lain yang lebih sederhana sekalipun dia nyata atau tidak di dunia ini mengandung kepastian dan tidak bisa diragukan kembali.[21]

Meditasi Kedua: Pikiran Alami Manusia.[22]

Seperti yang telah dijelaskan pada meditasi pertama, segala sesuatu yang dapat diragukan bisa dianggap sebagai hal yang palsu. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah metode untuk menemukan hal atau pengetahuan yang tidak bisa diragukan dan tidak bisa digoyahkan oleh hal lainnya. Sebuah pernyataan menarik dari Descartes dalam meragukan pengetahuan yang ada, yaitu:

“I will Suppose then, that everything I see is spurious. I will believe that my memory tells me lies, and that none of the things that it reports ever happened. I have no senses. Body, shape, extensions, movement and places are chimeras. So what is remains true? Perhaps just the one fact that nothing is certain.”[23]

Lebih lanjut, ia mempertanyakan siapa yang memasukkan pengetahuan dalam pikirannya, apakah itu Tuhan atau apapun sebutan-Nya. Tapi mengapa ia bisa berpikiran seperti itu sedangkan ada kemungkinan bahwa ia yang menuliskan pengetahuan tersebut ke dalam pikirannya. Oleh karena itu, ia menganggap bahwa dirinya adalah sesuatu yang dia yakini ada (exist). Akan tetapi di sisi lain ia juga menerima bahwa ada kekuatan besar dan cerdas yang ikut mempengaruhi diri dan pikirannya. Menurut Descartes, dalam kasus ini ia menganggap bahwa keberadaan dirinya tidak dapat diragukan lagi. Sekalipun ada kekuatan di dalam dirinya yang mempengaruhi pikirannya, kekuatan tersebut tidak akan bisa meyakinkan bahwa dirinya tidak ada selama ia berpikir bahwa ia adalah sesuatu. Disinilah kemudian muncul istilah Cogito Ergo Sum, saya berpikir maka saya ada.[24]

Dalam kamus filsafat dijelaskan bahwa ada beberapa pengertian yang terkait dengan Cogito Ergo Sum, antara lain:

  • Ungkapan tersebut merupakan kepastian pertama menurut Descartes. Sebelumnya sudah ada argumen Agustinus “Si Fallor Sum”, jika saya tertipu saya ada. Satu-satunya kepastian yang kita miliki adalah kepastian eksistensi (keberadaan) kita sendiri.
  • Dengan ungkapan tersebut, Descartes mau menunjukkan suatu intuisi langsung, niscaya, dan tidak dapat diragukan, dimana ia mengenal dirinya sendiri secara jelas dan terpilah-pilah. Seseorang tidak dapat meragukan bahwa dia berpikir (ragu), karena dalam tindakan meragukan itu dia membuktikan bahwa hal tersebut ada (eksis) dan nyata.
  • Cogito Ergo Sum dianggap sebagai kebenaran yang terbukti dengan sendirinya atau aksioma yang jelas dengan sendirinya dan dari dasar ini Descartes mengembangkan sistem filsafatnya yang bersifat rasionalistis.[25]

Dari pola pikir bahwa ia adalah sesuatu (something), Descartes melanjutkan pembuktiannya untuk mengetahui siapakah dia sebenarnya. Dia mempertanyakan dirinya sendiri dan menjawab pertanyaan itu dengan cara yang unik, yaitu:

“What then did I formerly thinks I was? A man. But what is a man? Shall I say ‘a rational animal’? No; for then I should have to enquire what an animal is, what rationality is, and in this way one question would lead me down the slope to other harder ones, and I do not now have the time to waste on subtleties of this kind…

What else I am? I will use my imagination. I am not the structure of limbs which is called a human body. I am not even some thin vapour which permeates the limbs – a wind, fire, air, breath, or whatever I depict in my imagination, for those are things which I suppose to be nothing..

But what then am I? A thing that thinks. What is that? A thing that doubts, understands, affirms, denies, is willing or unwilling, and also imagines and has sensory perceptions.”[26]

Perjalanan pemikirannya untuk membuktikan keberadaan dirinya dan siapakah sebenarnya dirinya tersebut, Descartes menciptakan dua istilah yang dianggap sebagai pondasi dasar dalam pemikiran rasionalisme. Istilah yang pertama adalah Cogito Ergo Sum, saya berpikir maka saya ada. Dengan berpikir manusia sudah membuktikan jika dirinya ada (exist). Pikiran adalah kunci keberadaan manusia. Hal ini berimplikasi jika manusia atau sesuatu tidak berpikir maka dia tidak ada. Sedangkan istilah kedua yaitu Sum Res Cogitans, saya adalah sebuah benda yang berpikir.

Dari sini Descartes mulai menaruh pijakannya bahwa manusia adalah sebuah benda yang berpikir, benda yang mempunyai mental yaitu pikiran itu sendiri. Sebuah benda yang bisa meragukan, bisa mengerti, bisa menegaskan, bisa menolak, bisa berkehendak ataupun tidak berkehendak, bisa berimajinasi dan mempunyai pemikiran sendiri. Klaim seperti ini tentu bertentangan dengan ajaran agama yang menyatakan manusia adalah makhluk, bukan benda. Ini salah satu bukti rasionalitas dalam berfilsafat yang dikemukakan oleh Descartes.

Meditasi Ketiga: Keberadaan Tuhan.[27]

Seperti yang telah disinggung pada meditasi pertama, Descartes mengemukakan bahwasanya ada sebuah kekuatan besar dan memiliki kecerdasan yang memasukkan pengetahuan ke dalam pikiran manusia. Kekuatan besar dan memiliki kecerdasan yang digambarkan Descartes sebagai makhluk yang sempurna ini disebut sebagai Tuhan. Descartes melanjutkan pemikirannya untuk mengetahui eksistensi Tuhan.

Setelah menyatakan dirinya adalah benda yang bisa berpikir, Descartes mencoba untuk melanjutkan pemikirannya terhadap sesuatu yang berada dalam dirinya yang belum ia sadari. Kembali ke pemikiran awalnya bahwa ia meragukan berbagai hal yang ada di dunia ini, baik itu bumi, langit, bintang dan apapun yang bisa dipahami dengan sense (indera/perasaan). Walaupun begitu, ia menyadari bahwa ada sesuatu di luar dirinya yang sudah terbiasa ia yakini sebagai sumber ide yang muncul di pikirannya.[28]

Disini ia mulai membuka kembali pengetahuan yang ada dalam pikirannya. Descartes berkata:

“Indeed, the only reason for my later judgement that they were open to doubt was that it occured to me that perhaps some God could have given me a nature such i was deceived even in matters which seemed most evident. And whenever my preconceived believe in the supreme power of God comes to mind,  I can not but admit that it would be easy for him, if he so desired, to bring it about that I go wrong even in those matters which I think I see utterly clearly with my mind’s eye.”[29]

Dari pernyataan tersebut, Descartes mengakui bahwa Tuhan itu ada dan mempunyai kemampuan untuk mengubah persepsi atau pandangannya menjadi salah jika Tuhan berkehendak sekalipun Descartes sudah melihat dengan jelas melalui mata dan pikirannya. Pernyataan Descartes berikutnya adalah pijakan awal untuk mengetahui keberadaan Tuhan dengan meragukan adanya Tuhan, yaitu:

“And since I have no cause to think that there is a deceiving God, and I do not yet even know  for sure there is a God at all, any reason for doubt which depends simply on this supposition is very slight and, so to speak, metaphysical one. But in order to remove even this slight reason for doubt, as soon as the opportunity arises I must examine whether there is a God, and, if there is, whether he can be deceiver.”[30]

Langkah pertama yang dilakukan Descartes untuk membuktikan keberadaan Tuhan yaitu dengan memisahkan pikirannya dalam beberapa hal yang terperinci dan membedakan mana yang benar (truth) dan mana yang palsu (falsity). Hal ini berguna agar ia bisa mengkategorikan mana yang ia sebut dengan kehendak (volition) atau perasaan (emotion) dan yang mana ia sebut dengan penilaian (judgement). Ketika pengetahuan yang ia terima berdasarkan kehendak dan perasaan yang ada dalam pikirannya, maka tidak ada kekhawatiran pengetahuan tersebut jatuh kepada kepalsuan (falsity). Ia juga menjaga pikirannya agar tidak sampai membuat penilaian (judgement) yang pada akhirnya membuat ia melakukan kesalahan. Diantara ide-ide yang muncul dalam pikirannya, beberapa merupakan pengetahuan yang didapatkan sejak lahir, beberapa didapatkan dengan cara tidak sengaja[31], dan beberapa lainnya merupakan pengetahuan yang ditemukan dalam proses berfilsafatnya.[32]

Langkah selanjutnya, Descartes memisahkan antara objek dan ide. Objek adalah hal di luar pikiran yang menjadi sumber pengetahuan yang bisa ditangkap langsung oleh indera manusia. Sedangkan ide adalah persepsi yang ada dalam pikiran tentang objek tersebut sekalipun objek tersebut tidak ada (exist) atau abstrak.

Ia mencontohkan matahari untuk menjelaskannya. Matahari adalah sebuah objek yang bisa dilihat langsung oleh mata atau indera manusia. Dengan penglihatan langsung, matahari terlihat kecil bahkan jauh lebih kecil dibandingkan bumi. Ketika sudah menggunakan ilmu astronomi dalam melihat matahari, ternyata matahari begitu besar, bahkan jauh lebih besar daripada bumi.[33]

Ada dua ide yang muncul dari sebuah objek yaitu matahari. Ide pertama bahwa matahari itu terlihat kecil dan memancarkan cahaya, ide kedua bahwa matahari itu ternyata jauh lebih besar daripada bumi. Adapun ide yang muncul tanpa ada objek nyata dicontohkan dalam beberapa bentuk. Diantaranya adalah panas. Panas bisa dirasakan oleh kulit kita sekalipun objeknya tidak ada atau tidak terlihat[34]. Panas dari api maupun dari pancaran sinar matahari memunculkan satu ide tentang sesuatu yang abstrak tapi eksis.

Menurut Descartes, ide tentang panas sekalipun dia tidak terlihat, adalah sebuah bukti bahwa panas itu ada. Jadi ada sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh indera manusia tapi ada (exist) di sekitar mereka. Begitu juga bunyi. Kita hanya bisa mendengar dan mengetahui suara sirene dari jenis gelombang udara yang ditimbulkan. Kita yakin sirene itu ada walaupun kita tidak tahu persis bagaimana bentuknya.[35]

Berangkat dari gagasan diatas, Descartes mencoba untuk menjelaskan tentang Tuhan. Dia berkata:

“Undoubtly, the ideas which represent subtances to me amount to something more and, so to speak, contain within themselves more objective reality than the ideas which merely represent modes or accidents. Again, the idea that gives me my understanding of a supreme God, eternal, infinite, omniscient, omnipotent and the creator of all things that exist apart from him, certainly has in it more objective reality than the ideas that represent finite substance.”[36]

Dari pernyataan diatas, secara tidak langsung Descartes mendefinisikan Tuhan sebagai sesuatu yang luar biasa, abadi, maha besar, maha mengetahui, maha kuasa dan pencipta segala sesuatu yang ada di dunia ini. Dalam pernyataan lain ia menyebutkan bahwa Tuhan ketika menciptakan dia telah menempatkan ide tentang eksistensi Tuhan ke dalam pikiran Decrates sebagai tanda bahwa ia (manusia) adalah hasil ciptaan-Nya.[37]

Meditasi Keempat: Truth and Falsity.[38]

Setelah mengetahui keberadaan Tuhan, Descartes menyadari bahwa dirinya adalah makhluk yang tidak sempurna. Dengan menggunakan konsep “Thingking thing”, sesuatu yang berpikir, Descartes menyadari ada sesuatu atau makhluk (being) yang memiliki kesempurnaan sebagai akibat dari keberadaan dirinya yang tidak sempurna. Makhluk tersebut, yang disebut Descrates sebagai Tuhan, adalah sesuatu yang berbeda dari dirinya. Dia mengakui kenyataan bahwa dirinya memiliki keraguan, tidak sempurna dan bergantung pada sesuatu, yang kemudian memunculkan gagasan tentang sesuatu yang berdiri sendiri dan sempurna yang disebut Tuhan. Dia juga menyadari bahwa kemampuan berpikir manusia (human intellect) tidak bisa mengetahui sesuatu dengan sangat jelas dan pasti. Dari sini, dia mengakui bahwa Tuhan yang memiliki kebijaksanaan dan mengetahui apa yang tersembunyi dibalik pengetahuan sepenuhnya (secara pasti).[39]

Dalam menjelaskan tentang kebenaran dan falsity, Descartes lebih banyak membandingkan kemampuan dirinya dengan kemampuan Tuhan. Hal ini juga mengantarkan ia pada kesadaran dimana ia adalah makhluk yang bisa berbuat salah atau menuju kesalahan, sedangkan Tuhan selalu menyampaikan kebenaran yang tidak mungkin bisa disalahkan.

Sebagai langkah awal, Descartes menanamkan dalam pikirannya bahwa Tuhan tidak mungkin menipu dirinya. Hal ini disebabkan segala macam bentuk tipu daya adalah bukti dari ketidaksempurnaan. Walaupun memiliki kemampuan untuk menipu sebagai bukti maha kuasa Tuhan, keinginan untuk menipu itu sendiri tidak diragukan lagi adalah sebuah kelemahan dan ketidaksempurnaan, jadi hal tersebut tidak mungkin terdapat pada Tuhan yang sempurna.[40]

Langkah selanjutnya yang ditempuh oleh Descartes adalah dengan menyadari bahwa ia memiliki pengetahuan (faculty) dalam menilai sesuatu (judgement). Seperti halnya segala yang ada dalam dirinya, ia menerima bakat tersebut dari Tuhan. Karena Tuhan tidak mungkin menipu dirinya, maka ia yakin bahwa Tuhan tidak akan memberikan bakat (pengetahuan) yang bisa mengantarkan dirinya kepada kesalahan jika ia menggunakan bakat tersebut dengan benar. [41]

Descartes menyadari bahwa tidak mungkin ada celah untuk berbuat salah atau salah menilai jika semua yang ada pada dirinya datang dari Tuhan. Oleh karena itu, jika ia terus berpikir tentang Tuhan dan memberikan seluruh perhatiannya kepada Tuhan, dia tidak menemukan sebab apapun untuk berbuat salah (error or falsity). Akan tetapi, jika ia kembali kepada dirinya sendiri, dengan pengalaman yang ia miliki, ia menyadari bahwa dirinya rawan untuk melakukan kesalahan (error). Dari sini ia mengetahui bahwa ia mengakui dan berpikir secara nyata tentang hal-hal positif yang berasal dari Tuhan yang maha sempurna, dan juga ia mengakui ada sisi negatif dan kekurangan sebagai akibat dari ketidaksempurnaan tersebut.[42]

Di sisi lain Descartes menjelaskan bahwa kekeliruan (error) disebabkan kurangnya pengetahuan yang ada dalam dirinya. Hal ini jauh berbeda dengan kemampuan Tuhan yang maha tahu. Lebih lanjut Descrates menjelaskan perbedaan antara dirinya dan Tuhan:

“For since I now know that my own nature is very weak and limited, whereas the nature of God is immense, incomprehensible and infinite. I also know without more ado that he is capable of countless things whose cause are beyond my knowledge.”[43]

Hal itulah yang menjadi alasan bagi Descrates untuk mencari tahu sebab yang tidak bisa diungkap dalam ilmu fisika dengan pertimbangan bahwa dirinya mempunyai kemampuan untuk mengetahui tujuan Tuhan. Oleh karena itu, untuk mengetahui apakah ciptaan Tuhan itu sempurna sesuai dengan diri-Nya yang sempurna, jangan hanya melihat pada satu ciptaan-Nya saja, akan tetapi lihat seluruh dunia secara luas.

Langkah berikutnya yang digunakan Descartes adalah dengan melihat jauh ke dalam dirinya sendiri dan menyelidiki kekurangan atau ketidaksempurnaan yang ada pada dirinya yang menyebabkan ia bisa melakukan kekeliruan. Ia menyadari ada dua pengetahuan yang terdapat dalam dirinya, yaitu pengetahuan yang didasarkan pada pilihan dan pengetahuan yang didasarkan pada kebebasan berkehendak, yang mana kedua pengetahuan tersebut bergantung pada kemampuan berpikir (intelektual) dan kehendak secara bersamaan. [44]

Intelektual membuat ia mampu untuk menyadari dimana subjek dimungkinkan untuk memberikan penilaian yang tidak ada celah kekeliruannya. Akan tetapi ada hal-hal dimana ia tidak mempunyai atau kurang pengetahuan sehingga bisa mengarahkan penilaiannya pada kesalahan. Hal ini disebabkan karena ia tidak mempunyai alasan untuk membuktikan bahwa Tuhan seharusnya memberikan ia pengetahuan yang luas daripada yang ia miliki. Disamping itu, ia tidak bisa mengeluh atas kebebasan berkehendak dan memilih yang diberikan Tuhan kepadanya yang bisa mengantarkan ia kepada kekeliruan dan ketidaksempurnaan. Ia juga tidak bisa mengeluh kenapa Tuhan memberikan keinginan (kebebasan) yang jauh lebih besar daripada intelektualnya.[45]

Sebagai kesimpulan dari meditasi keempat ini, Descartes menyadari bahwa semua kebenaran itu datang dari Tuhan yang memberikan pengetahuan untuk mencapai kebenaran tersebut, dan segala kekeliruan yang ada adalah akibat dari keinginan manusia yang banyak serta kebebasan yang ia miliki yang diberikan Tuhan melebihi pengetahuan, karena manusia itu tidak sempurna dan kurang pengetahuannya sehingga wajar jika mereka berbuat salah.

Meditasi Kelima: Inti dari Benda Materi dan Keberadaan Tuhan.[46]

Descartes menyatakan bahwa setelah ia mengetahui apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari untuk memperoleh kebenaran, ia anggap sebagai cara untuk lepas dari keraguan yang menjadi pondasi metodenya dan bisa mencapai beberapa kepastian yang berkaitan dengan objek material.[47]

Sebelum melakukan penyelidikan tentang benda-benda lain yang eksis di luar dirinya, Descartes memikirkan kembali gagasan-gagasan tentang benda-benda yang eksis dalam pikirannya yang mana yang berbeda (distinct) dan yang mana yang membingungkan (confused).[48]

Hal pertama yang ingin dijelaskan oleh Descartes adalah jumlah (quantity). Hal-hal yang bisa dijumlahkan atau bisa dihitung adalah hal yang bisa dibedakan (distinctly) menurut Descartes meliputi panjang, lebar dan kedalaman. Ia juga memasukkan beberapa bagian dalam hal tersebut yang meliputi ukuran, bentuk, posisi dan gerak tetap, dan pada gerak tersebut ia menentukan durasinya. Selain itu, ia juga membedakan benda-benda yang tidak terhingga seperti bentuk, angka dan gerakan. Kebenaran dari benda-benda tersebut adalah mereka selalu seimbang dengan alam dan tidak memerlukan kajian lebih dalam karena mereka akan tetap seperti itu.[49]

Akan tetapi, yang menjadi masalah kemudian, Descartes menemukan banyak gagasan tentang benda-benda yang mungkin saja tidak eksis di luar dirinya dan tidak bisa dikatakan tidak ada (nothing). Ia kemudian memberikan contoh dalam bentuk segitiga yang mana sering digunakan dalam rumus-rumus matematika. Segitiga tersebut merupakan sebuah benda luar yang masuk dalam pikirannya hingga ia bisa memastikan bahwa segitiga itu ada dan nyata. Berbeda ketika membicarakan tentang Tuhan. Tuhan ditemukan dari hasil perenungan jauh ke dalam hati (diri) dan pikiran yang mana Tuhan akan selalu ada dan mempunyai alam-Nya sendiri seperti halnya bentuk dan angka yang mengikuti sifat alaminya.[50]

Lebih lanjut ia menjelaskan dua bagian penting dari alam, yaitu esensi (inti) dan eksistensi (keberadaan). Manusia merupakan esensi dari bukti eksistensi Tuhan. Ada pernyataan menarik dari Descartes ketika membahas eksistensi Tuhan, yaitu:

“However, even granted that I cannot think of God except as existing, just as I cannot think of a mountain without a valley, it certainly does not follow from the fact that i think from mountain with a valley that there is mountain in the world, and similiarly, it does not seem to follow from the fact that i think of God as existing that he does exist. For my tought does not impose any necessity on things, and just as I imagine a winged horse even though no horse has wings, so i may be able to attach existence to God even though no God exist.”[51]

Dari pernyataan diatas, Descartes dengan rasionalitasnya tidak terlalu yakin dengan keberadaan Tuhan, tetapi ia yakin bahwa apa yang eksis dalam pikirannya adalah eksis menurut pemikirannya walaupun tidak ada bukti nyata akan keberadaan hal tersebut.

Descartes menyimpulkan meditasi ini dengan menyatakan bahwa ia telah menyadari akan keberadaan Tuhan dan mengerti bahwa semua hal bergantung pada-Nya, dan Tuhan bukan seorang penipu. Ia juga membuat kesimpulan bahwa semua hal yang sudah jelas baginya dan bisa dibedakan dengan benar merupakan komponen yang dibutuhkan untuk mencapai kebenaran. Ia juga menyatakan, selama ia masih bisa mengingat dengan jelas dan menyadari dengan nyata tentang sesuatu, maka tidak ada argumen atau alasan lain yang bisa membuat ia ragu akan hal tersebut, bahkan ia memiliki kebenaran dan pengetahuan yang pasti akan hal tersebut.[52]

Meditasi Keenam: Keberadaan Benda Material dan Perbedaan Jelas Antara Pikiran dan Tubuh.[53]

Sebelum menjelaskan tentang benda material, Descartes menanamkan dalam pikirannya bahwa ada kemungkinan benda material itu ada dan tidak ada keraguan lagi bahwa Tuhan memiliki kemampuan untuk menciptakan apapun yang mana ia memiliki kemampuan untuk menyadari ciptaan Tuhan tersebut. Selain itu ia juga menyatakan bahwa keberadaan benda material itu dinyatakan oleh bakat imajinasi yang mana ia menyadari penggunaannya ketika mengarahkan pikirannya kepada benda material. Descartes berkata: “For when I give more attentive consideration to what imagination is, it seems to be nothing else but an application of the cognitive faculty to a body which is intimately present to it, and which therefore exist”.[54]

Langkah awal yang digunakan Descartes untuk menjelaskan benda material adalah menjelaskan perbedaan antara imajinasi dan pemahaman dasar (pure understanding). Ia memberikan contoh ketika ia membayangkan sebuah segitiga. Ia tidak sekedar memahami bahwa itu bentuk yang terbuat dari tiga garis, akan tetapi pada saat yang sama ia juga melihat tiga garis tersebut dengan mata pikirannya (mind’s eye) seperti yang diperlihatkan padanya. Hal ini ia sebut sebagai imajinasi. Ia menyadari imajinasi memerlukan cara yang khas dan unik dari pikiran yang mana tidak membutuhkan pemahaman dalam mengetahuinya. Cara berpikir yang khas ini secara jelas menunjukkan perbedaan antara imajinasi dan pemahaman dasar.[55]

Dari kemampuan berimajinasinya, Descartes meyakini ada sesuatu yang memberikan pengetahuan padanya tentang hal-hal yang belum bisa dicapai oleh inderanya sehingga ia bisa membayangkan sesuatu sekalipun sesuatu itu belum ada. Kemudian ia membedakan dengan jelas perbedaan antara imajinasi dan pemahaman dasar, yaitu: “Ketika pikiran memahami sesuatu, ia akan menggali pengetahuan yang ada di dalam pikiran tersebut dan mencari gagasan yang ada di dalamnya. Sedangkan ketika berimajinasi, pikiran akan menjelajahi seluruh tubuh dan mencari sesuatu pada tubuh tersebut yang sesuai dengan gagasan yang dipahami oleh pikiran atau disadari oleh perasaan”.[56]

Disamping menggunakan teori matematika yang bersifat exact seperti contoh diatas, ada kebiasaan imajinasi lain yang digunakan oleh Descartes. Seperti membayangkan tentang warna, suara, rasa, sakit dan yang lain sejenisnya.

“Now i perceive this thing much better by means of the senses, which is how, with the assistance of memory, they appear to have reached the imagination. So in order to deal with them more fully, I must pay equal attention to the senses, and see whether  the things which are perceived by means of that mode of thinking which i call ‘sensory perception’ provide me with any sure argument for the existence of corporeal things.”[57]

Dalam pernyataan diatas ia mengenalkan sebuah istilah baru yang disebut dengan sensory perception (tanggapan pancaindera) yang merupakan sebuah cara berpikir baru untuk hal-hal yang abstrak yang memberikan argumen pasti terhadap eksistensi benda-benda jasmani.

Kemudian ia menjelaskan metode yang dipakai untuk membedakan antara pikiran dan tubuh. Metode ini dimulai dengan mengembalikan semua hal yang disadari atau dipahami oleh panca indera dan menganggap bahwa hal-hal tersebut adalah benar, menemukan alasan untuk memikirkan hal ini (perbedaan tubuh dan pikiran). Kemudian menetapkan alasannya dan menempatkan hal-hal tersebut dalam keraguan. Langkah terakhir adalah mempertimbangkan satu-persatu yang mana yang harus diyakini kebenarannya.[58]

Langkah paling awal adalah kesadaran dengan menggunakan panca indera bahwa ia memiliki kepala, tangan, kaki dan anggota tubuh yang lain yang merupakan bagian dari dirinya. Ia juga menyadari bahwa ia bisa merasakan sesuatu yang menyenangkan seperti kebahagiaan dan yang tidak menyenangkan seperti rasa sakit. Ia juga menyadari bahwa dirinya memiliki rasa yang bermacam-macam seperti rasa lapar, haus, maupun hal-hal lain kecewa, sedih, marah dan lain sebagainya. Selain itu ia juga bisa mengetahui adanya cahaya, warna, bau dan rasa. Ia tidak bisa menjelaskan kenapa ia harus makan, merasa kering ketika kehausan dan dengan refleks pikirannya mengatakan ia harus minum, kecuali karena hal tersebut terjadi secara alami.[59]

Descartes berpendapat bahwa tubuh manusia seperti sebuah mesin yang tersusun dari tulang, saraf, otot, urat, darah dan kulit. Sekalipun dalam tubuh tersebut tidak terdapat pikiran, ia tetap melaksanakan semua gerakan dengan alami yang mana gerakan tersebut tidak disertai dengan kehendak atau keinginan sebagai akibat ketiadaan pikiran.[60]

Selanjutnya Descartes mengemukakan hasil observasi pertamanya. Disini ia menyatakan ada perbedaan besar antar pikiran dan tubuh, tubuh dengan alaminya bisa dibagi (terpisah) sedangkan pikiran tidak dapat dipisahkan. Ketika ia memikirkan tentang pikirannya, ia tidak bisa membedakan bagian-bagian dari dirinya, ia memahami dengan jelas bahwa pikiran adalah sesuatu yang menyatu (single) dan lengkap.[61] Walaupun pikiran sepertinya menyatu dengan tubuh, akan tetapi jika ada bagian tubuh yang terlepas (cut off), tidak ada bagian dari pikiran yang ikut terlepas.[62]

Pengamatan berikutnya Descartes menyatakan bahwa pikiran dipengaruhi secara langsung oleh bagian tubuh kecuali otak, atau mungkin bagian kecil dari otak yang mana mengandung nalar (common sense). Ketika bagian kecil tersebut dalam keadaan memberitahukan, ia membuat sebuah sinyal ke dalam pikiran, sekalipun bagian lain yang ada di tubuh berada dalam kondisi yang berbeda.[63]

Pengamatan terakhir Descartes menjelaskan bahwa gerakan apapun yang terjadi dalam bagian kecil otak secara langsung mempengaruhi pikiran yang menciptakan hanya satu sensasi yang keterkaitan. Pengalaman menunjukkan bahwa perasaan itu terjadi secara alami dalam berbagai kondisi. Oleh karena itu, tidak ditemukan hal apapun yang menyalahi kekuasaan dan rahmat Tuhan.[64]

Sebagai kesimpulan dari meditasi terakhir ini, Descartes menyatakan bahwa pikiran memiliki alurnya sendiri yang bergerak bebas untuk menemukan pengetahuan dan membuktikan kebenaran sebagai akibat adanya keraguan dalam pengetahuan tersebut. Sedangkan tubuh adalah sebuah mekanisme yang bergerak secara alami dan terpisah dari pikiran walaupun pada dasarnya adalah satu kesatuan. Tubuh juga berfungsi sebagai proyeksi dari pikiran dan menangkap hal-hal yang kemudian diolah oleh pikiran untuk menjadi sebuah pengetahuan. Kombinasi dari tubuh dan pikiran merupakan bukti bahwa Tuhan itu ada dan menjadi salah satu masterpiece ciptaan-Nya yang paling sempurna dari sifat kesempurnaan yang dimiliki-Nya.[65]

E.       Rasionalisme dalam Filsafat

Rasionalisme muncul sebagai aliran filsafat ketika Descartes mulai berfilosofi dan menyampaikan hasil pemikirannya kepada khalayak umum. Rasionalisme klasik era Descartes merupakan awal dari terbentuknya pemikiran filsafat yang menyandarkan pengetahuan dari hasil berpikir. Aliran filsafat ini juga disebut dengan rasionalisme kontinental.

Menurut Lorens Bagus, ada beberapa ajaran pokok aliran rasionalisme[66], yaitu:

  1. Dengan proses pemikiran abstrak kita dapat mencapai kebenaran fundamental yang tidak dapat disangkal, tentang apa yang ada dan mengenai strukturnya serta tentang alam semesta pada umumnya.
  2. Realitas atau kebenaran tentang realitas dapat diketahui secara tidak tergantung dari pengamatan, pengalaman, dan penggunaan metode empiris.
  3. Pikiran dapat mengetahui beberapa kebenaran tentang realitas yang mendahului pengalaman apapun juga (selain kebenaran analitis). Kebenaran-kebenaran ini adalah gagasan bawaan dan secara isomorfis cocok dengan realitas.
  4. Akal budi adalah sumber utama pengetahuan, dan ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah suatu sistem deduktif yang dapat dipahami secara rasional yang hanya secara tidak langsung berhubungan dengan pengalaman inderawi ini.
  5. Kebenaran tidak diuji dengan prosedur verifikasi-inderawi tetapi dengan kriteria konsistensi logis.
  6. Kepastian mutlak mengenai hal-hal adalah ideal pengetahuan dan sebagian dapat dicapai dengan pikiran murni.
  7. Hanya kebenaran-kebenaran niscaya dan benar pada dirinya sendiri, yang timbul dari akal budi saja, yang dikenal sebagai benar, nyata dan pasti.
  8. Alam semesta (realitas) mengikuti hukum-hukum dan rasionalitas (bentuk) logika. Ia adalah suatu sistem yang dirancang secara rasional yang aturannya cocok dengan logika.
  9. Begitu logika dikuasai, segala sesuatu dalam alam semesta dapat dianggap deduksi dari prinsip-prinsip atau hukum-hukumnya.

Rasionalisme sebagai filsafat ilmu merupakan lawan langsung dari positivisme. Menurut rasionalisme, semua ilmu berasal dari pemahaman intelektual kita yang dibangun atas kemampuan argumentasi secara logik.[67]

Rasionalisme merupakan sebuah filsafat yang menekankan pada penggunaan akal pikiran. Pikiran merupakan satu-satunya makhluk yang bisa menemukan kebenaran dari proses interaksi dengan alam, baik objeknya real dan dapat dilihat secara langsung maupun objek yang hanya bisa diketahui dengan mengetahui objek yang berkaitan sebagai alasan keberadaan dari objek tersebut.

F.       Epistimologi Pemikiran

Epistimologi pemikiran Descartes tentang rasionalisme terbagi pada beberapa pengertian, yaitu:

Sumber dan Hakikat Pengetahuan

Sumber pengetahuan adalah rasio atau akal budi. Semua pengetahuan berasal dari akal. Dengan berpikir, manusia bisa menjelaskan semua fenomena yang terjadi di sekitarnya serta bisa menunjukkan eksistensi dan menguji setiap pengetahuan yang ia terima selama ini sehingga kemudian ia bisa mendapatkan sebuah pengetahuan baru yang ia yakini kebenarannya.

Sedangkan hakikat pengetahuan adalah apriori, yaitu setiap manusia memiliki landasan pengetahuan dasar tanpa harus mengalami secara langsung atau pengetahuan sebelum pengalaman. Pengetahuan yang dimiliki dan diberikan sejak lahir harus diragukan kebenarannya. Dengan meragukan pengetahuan tersebut, manusia bisa menguji kembali pengetahuan itu satu persatu hingga didapatkan pengetahuan yang benar dan tidak bisa diragukan kembali.

Alat Pengetahuan.

Alat pengetahuan yang digunakan adalah akal pikiran. Akal pikiran manusia adalah ciptaan dari Tuhan yang maha sempurna dan sebagai bukti dari kesempurnaan Tuhan itu sendiri. Dalam hal ini, ia membedakan antara imajinasi dan pemahaman dasar. Imajinasi adalah perluasan dari pemahaman dasar terhadap suatu objek yang diolah oleh pikiran sehingga menemukan sebuah pengetahuan baru.

Metode Memperoleh Pengetahuan.

Langkah dasar yang dilakukan Descartes dalam memperoleh pengetahuan adalah dengan berpikir. Setelah ia menyadari akan proses berpikirnya, kemudian ia meragukan semua pengetahuan yang ia miliki dan mulai menyelidiki pengetahuan itu satu persatu dalam pikirannya. Dalam menentukan mana pengetahuan yang bisa dan tidak bisa diterima, ia menggunakan alasan untuk memutuskannya hingga mendapatkan sebuah pengetahuan yang tidak bisa diragukan lagi kebenarannya.

Teori Kebenaran.[68]

Teori yang digunakan adalah teori koherensi, yaitu suatu pernyataan dinilai benar jika tidak bertentangan dengan pernyataan-pernyataan lain yang telah dipastikan kebenarannya sebelumnya, atau ada urutan logis antar kebenaran pernyataan yang ada dengan kebenaran pernyataan berikutnya.

Pengujian atau Validasi kebenaran Pengetahuan.

Dari penjelasan pada pembahasan sebelumnya dapat diketahui bahwa Descartes cenderung mengumpulkan seluruh pengetahuan yang ia miliki, kemudian mengujinya satu persatu hingga diperoleh pengetahuan pasti yang tidak bisa diragukan kembali. Metode ini lebih dikenal dengan metode deduksi, yaitu mengumpulkan semua pengetahuan umum yang kemudian ditarik satu kesimpulan dalam sebuah pengetahuan yang pasti.

Descartes berpendapat bahwa manusia memiliki pengetahuan bawaan yang diterima dari Tuhan sudah terjamin kebenarannya. Disamping itu, manusia memiliki akal pikiran yang diberikan oleh Tuhan yang maha sempurna, sehingga segala pikiran yang diberikan oleh Tuhan tersebut adalah benar dan pengetahuan yang diberikan juga pasti benar. Dengan kata lain, pengetahuan yang diyakini berasal dari Tuhan adalah pengetahuan yang benar, sedangkan pengetahuan yang dihasilkan oleh manusia masih bisa diragukan kebenarannya. Dengan cara berpikir seperti ini, maka pengetahuan yang muncul adalah benar.

Sebagai contoh, panas. Panas merupakan sesuatu yang tidak bisa dilihat, melainkan hanya dirasakan. Pengetahuan akan panas ini sudah terdapat dalam pikiran manusia sejak mereka lahir. Begitu indera mereka merasakan panas baik dari api maupun cuaca, pikiran langsung merespon dan mengatakan bahwa ini adalah panas. Ini adalah kebenaran dari pengetahuan yang sudah ada dan tidak bisa diragukan kembali.

G.      Kesimpulan

Berdasarkan pengalaman penulis, pemikiran Descartes merupakan sesuatu yang alami dan bisa dijadikan landasan dalam memperoleh serta menguji pengetahuan. Seringkali manusia terjebak pada pengetahuan (doktrin) yang mereka peroleh sejak mereka lahir. Mereka menyangka bahwa pengetahuan itu absolut dan tidak bisa diragukan kembali. Akan tetapi mereka tidak menyadari bahwa di dunia ini tidak ada yang absolut kecuali Tuhan dan segala aturan-Nya.

Metode meragukan yang dilakukan oleh Descartes adalah sebuah metode yang bagus dalam menguji pengetahuan, karena tanpa meragukan sesuatu manusia cenderung puas dengan apa yang ada dan menjadi idealistik terhadap pengetahuan yang ia miliki. Akan tetapi dibalik itu semua, pengetahuan tidak semua berasal dari pikiran saja. Ada pengetahuan yang didapatkan dari pengalaman.

Contohnya, untuk menjadi seorang yang perasa, kita harus bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Untuk itu, manusia harus mengalami sendiri apa yang disebut dengan merasakan, baik itu suka maupun duka, bahagia maupun menderita. Pengetahuan seperti ini tidak bisa didapatkan hanya dari proses berpikir, tapi juga melalui pengalaman.

Adapun kelebihan dari pemikiran Descartes ini yang tertangkap dalam pikiran penulis antara lain:

  1. Descartes menyampaikan cara berfilosofi baru yang menggunakan pikiran murni untuk mencapai kebenaran pengetahuan. Pikiran yang juga ia sebut sebagai esensi dirinya adalah sebuah makhluk yang bebas dan bisa melakukan apa saja dan bisa mengungkap apa saja. Dalam hal ini Descartes mengungkapkan berbagai macam kelebihan pikiran.
  2. Descartes ingin menyampaikan kepada seluruh manusia bahwa pengetahuan tidak boleh langsung diterima begitu saja. Pengetahuan harus diragukan dulu, kemudian dikaji ulang hingga ia tidak bisa lagi diragukan.
  3. Descartes mengajarkan kita untuk mencapai tingkat kesadaran diatas tingkat kesadaran manusia kebanyakan. Tingkat kesadaran ini tidak akan bisa dicapai jika kita menerima secara mutlak sebuah pengetahuan yang disampaikan kepada kita tanpa meragukan kebenarannya. Disamping itu, dengan kesadaran ini kita menjadi berbeda dan terlepas dari dunia (alam pemikiran) manusia sehingga kita bisa dengan mudah menghadapi mereka.

Sedangkan kekurangan dari pemikiran Descartes yang bisa dilihat oleh pikiran penulis antara lain:

  1. Descartes menganggap pikirannya adalah sumber kehidupan dan keberadaannya di dunia ini. Hal ini berimplikasi dia tidak mempercayai roh-roh, jin dan makhluk yang tak bisa dijangkau oleh pikirannya.
  2. Descartes terkesan tidak percaya kepada wahyu. Baginya wahyu hanyalah proses imajinasi dari pikiran sebagai akibat dari pengetahuan yang diberikan Tuhan kepadanya.
  3. Descartes terkesan tidak mempercayai keberadaan makhluk yang tidak memiliki pikiran. Baginya tumbuh-tumbuhan dan hewan adalah benda material yang dijadikan bukti eksisitensi Tuhan.
  4. Descartes mengakui bahwa pikirannya tidak mungkin selalu benar. Ada kalanya ia terjebak dalam kekeliruan sebagai akibat dari kebebasan memilih dan berkehendak yang diberikan Tuhan kepadanya, dan juga ia terjebak kepada kekeliruan jika ia berhenti berpikir tentang Tuhan.
  5. Descartes terkesan menganggap tubuh manusia tidak lebih sebagai mekanisme alami yang bergerak sendiri dan terpisah dari pikirannya. Walaupun dia mengakui bahwa pikiran dan tubuh itu menyatu, tapi dia tetap membedakan dua hal tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

 

Bagus, Lorens, Kamus Filsafat (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002)

Descartes, Rene, Meditations on First Philosophy trans. John Cottingham (Sydney: Cambridge University Press, 1986)

Muhadjir, Prof. Dr. Noeng, Metode Penelitian Kualitatif (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1996)

Scruton, Roger, A Short History of Modern Philosophy: From Descartes to Wittgenstein (Canada: Routledge, 1996)

The Encyclopedia of Philosophy (London: Collier Macmillan Publishers, 1967)

http://id.wikipedia.org/wiki/Ren%C3%A9_Descartes

http://id.wikipedia.org/wiki/Rasionalisme


[1]  http://id.wikipedia.org/wiki/Rasionalisme, diakses tanggal 10-10-2012 jam 22.30

[2]  Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002), hlm. 928-929.

[3] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy trans. John Cottingham (Sydney: Cambridge University Press, 1986), hlm. xix

[4]  The Encyclopedia of Philosophy (London: Collier Macmillan Publishers, 1967), Vol. 1-2, hal. 344.  Dikatakan juga sebagai vision dari sistem baru dalam ilmu matematika dan ilmu alam (scientific system). Lihat Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hlm. xix.

[5]  The Encyclopedia of Philosophy, hlm. 344.

[6]  Kemungkinan besar tentang klaim bahwa bumi mengelilingi matahari.

[7]  Sikap ini tidak disetujui oleh para pengikutnya termasuk oleh Leibniz dan Bossuet.

[8]  Mungkin lebih tepatnya disebut sebagai model pembahasaan yang tepat dan akurat dalam  menjelaskan pemikiran yang abstrak.

[9]  Untuk lebih jelasnya, silahkan baca buku Meditations on First Philosophy trans. John Cottingham (Sydney: Cambridge University Press, 1986).

[10]  Roger Scruton, A Short History of Modern Philosophy: From Descartes to Wittgenstein (Canada: Routledge, 1996), hal. 28.

[11]  Untuk lebih jelas, silahkan baca The Philosophical Works of Descartes.

[12]  The Encyclopedia of Philosophy, hal. 345.

[13]  http://id.wikipedia.org/wiki/Ren%C3%A9_Descartes, diakses tanggal 11-10-2012 jam 01.14.

[14]  Ini adalah judul bab dari rangkaian meditasi Descartes. Lihat Rene Descartes, Meditations on First Philosophy trans. John Cottingham (Sydney: Cambridge University Press, 1986).

[15] Terjemahan sekaligus analisis dari penulis terhadap meditasi Descartes yang pertama. Lihat Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 12-15.

[16] Dalam bahasa Descartes disebut meditasi.

[17] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 12.

[18]  Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 12.

[19] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 13.

[20] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 13.

[21] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 14.

[22] Terjemahan dan analisis dari meditasi yang kedua. Lihat Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 16-23.

[23]  Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 16.

[24] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 16-17.

[25] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, hal. 142-143.

[26] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 17-19.

[27] Terjemahan dan analisis dari meditasi ketiga. Lihat Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 24-36.

[28] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 24.

[29]  Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 25.

[30]  Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 25.

[31]  Dalam terjemahan bahasa Perancis disebutkan “pengetahuan yang asing bagiku dan berasal dari luar pemikiranku”.

[32] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 25-26.

[33]  Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 27.

[34]  Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 28.

[35] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 27.

[36] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 28.

[37]  Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 25.

[38]  Penulis tidak berani menterjemahkan karena belum mengerti makna sebenarnya dari kata “falsity” sesuai yang disampaikan oleh Descartes. Dalam kamus, falsity diartikan sebagai kepalsuan. Ada juga yang mengartikan sebagai penipuan. Selain itu, jika melihat konteksnya falsity bisa juga diartikan sebagai kesalahan. Tapi dalam pikiran penulis, yang dimaksudkan dengan falsity disini adalah kebalikan dari truth (kebenaran) atau hal yang bertentangan dengan kebenaran itu. Lihat Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 37-43.

[39]  Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 37.

[40] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 37.

[41] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 38.

[42]  Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 38.

[43]  Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 39.

[44] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 39.

[45] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 39.

[46] Terjemah dan analisis dari meditasi kelima. Lihat Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 44-49.

[47] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 44.

[48] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 44.

[49] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 44.

[50] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 45.

[51] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 46.

[52] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 48.

[53] Terjemahan dan analisis dari meditasi keenam. Lihat Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 50-62.

[54] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 50.

[55] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 50.

[56] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 51.

[57] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 51.

[58] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 51.

[59] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 52.

[60]  Mungkin gambaran tentang zombie berawal dari pemikiran Descartes ini.

[61]  Penulis memahami kata single disini sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

[62] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 59.

[63] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 59-60.

[64] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 60.

[65] Rene Descartes, Meditations on First Philosophy, hal. 61-62.

[66]  Lorens Bagus, Kamus Filsafat, hal. 929-930.

[67]  Prof. Dr. Noeng Muhadjir, Metode Penelitian Kualitatif (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1996), hal. 55.

[68] Diambil dari perkuliahan Filsafat Ilmu: Epistimologi oleh Pak Alim Roswantoro.

One response to “Filsafat Rene Descartes

  1. Pingback: Tugas Online 1 Filsafat Manusia Menurut Rene Descartes | Wahindasari 201371051·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s