Pengantar Historisitas Wilhelm Dilthey

wilhelm-dilthey-avatar-2999

PENDAHULUAN

 

Hermeneutika telah menjadi sebuah metode interpretasi teks sejak Schleiermacher mengenalkan seni pemahaman dalam mempelajari teks. Kemudian seorang sejawaran Jerman yang bernama Wilhelm Dilthey mencoba menginterpretasikan teks dalam kehidupan manusia dengan metode sejarahnya.

Proyek hermeneutika ini terus berlanjut dengan bergabungnya Heidegger dalam menyumbangkan idenya untuk metode ini. Dilanjutkan dengan kritik Gadamer terhadap dua orang estetika modern dan kesadaran sejarah yang kemudian mengenalkan metode dialektis.

Dalam makalah ini akan dijelaskan tentang hermeneutika sejarah yang diperkenalkan oleh Wilhelm Dilthey. Dilthey sendiri merupakan seorang filsuf yang terkenal dengan filsafat hidupnya yang menyatakan bahwa hidup adalah rangkaian pengalaman manusia yang menjadi sejarah hidupnya yang dipahami secara luas dan menyeluruh.

Dalam proyek hermeneutikanya, Dilthey memberikan definisi baru terhadap pengalaman, makna dan pemahaman. Ia sendiri menyandarkan pada karya seni sebagai objek hermenutikanya. Dengan metode sejarah, Dilthey mencoba memberikan pemahaman baru dalam menginterpretasi rangkaian pengalaman manusia baik itu berupa teks, biografi dan lain sebagainya.

 

WILHELM DILTHEY

 

A.      Sejarah Singkat Kehidupan Wilhelm Dilthey

Wilhelm Dilthey lahir di Biebrich pada tanggal 19 November 1833. Ayahnya adalah seorang pendeta Gereja Reformasi. Setelah lulus sekolah grammer di wiesbaden, Dilthey meneruskan pendidikan Theologi di Heidelberg selama setahun. Ketika kuliah di Heidelberg, ia dibimbing oleh Kuno Fischer. Kemudian ia pindah ke Universitas Berlin dan selama disana Dilthey dibimbing oleh Adolf Trendelenburg.[1]

Pada awalnya Dilthey berminat untuk menjadi seorang pendeta. Akan tetapi kemudian ia terpengaruh oleh sejarawan ulung seperti Jacob Grimm dan Leopold Von Ranke dan mengalihkan minatnya kepada filsafat dan sejarah. Pada tahun 1864 Dilthey memperoleh gelar doktornya dan kemudian menjabat sebagai Profesor Filsafat di Basel pada tahun 1867, di Kiel pada tahun 1868-1870 dan di Breslau pada tahun 1981. Kemudian ia kembali ke Berlin untuk menggantikan Herman Lotze pada tahun 1882-1905. Pada tanggal 1 Oktober 1911 Dilthey wafat di Seis.[2]

Sebagai seorang filsuf, Dilthey sangat berminat pada logika dan metodologi sejarah serta masyarakat. Ia termasuk pelopor filsafat yang anti intelektualis, mempertahankan ilmu-ilmu kebudayaan atau humaniora sebgai ilmu-ilmu yang tidak bergantung pada ilmu-ilmu alam atau realita. Selain sebagai filsuf dan sejarawan, ia juga terkenal sebagai penulis biografi dan kritisi sastra.[3]

Adapun karya-karyanya yang dicetak pada masa hidupnya antara lain:

  1. Das Leben Schleiermachers (Kehidupan Schleiermacher), 1870.
  2. Einlietung in Die Geisteswissenschaften (Pengantar Studi ilmu-ilmu Kebudayaan), 1883.
  3. Ideen Uber Eine Beschreibende und Zergliedernde Psychologi (Ide-ide tentang Psikologi deskriptif dan Analitik), 1894.
  4. Das Wesn der Philosophie (Esensi Filsafat), 1907.
  5. Der Aufbau der Geschichtlichen Welt in Den Geisteswissenschaften (Konstruksi Dunia Sejarah dalam Studi-studi Ilmu kebudayaan) 1910.

B.       Pemikiran Wilhem Dilthey

Berdasarkan sejarah kehidupan Dilthey yang dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, dapat diketahui bahwa Dilthey awalnya seorang yang sangat religius dan ingin menjadi seorang pendeta. Akan tetapi setelah ia bertemu dengan seorang sejarawan yang kemudian mengajarkannya berbagai hal, Dilthey mengalih arah pemikirannya ke ranah sejarah dan filsafat.

Adapun beberapa pemikiran Dilthey yang bisa dijelaskan dalam makalah ini antara lain:

Filsafat Kehidupan.

Istilah filsafat kehidupan pertama kali disebut pada tahun 1827 oleh Fr. Schlegel. Dilthey kemudian mengembangkan dengan memberi arti yang luas pada kehidupan. Menurut Dilthey, kehidupan adalah kumpulan dan kesatuan pengalaman manusia dari lahir sampai mati dan menyatu dalam kehidupan umat manusia.[4] Gagasan ini yang mendasari pemikiran Dilthey selanjutnya.

Pemikiran Dilthey sebagai filsuf terletak pada tiga hal yang saling berkaitan. Pertama, ia berpendapat bahwa semua pengetahuan berdasarkan dari pengalaman. Kedua, filsafat muncul dari dan mengacu pada kehidupan manusia sehari-hari. Ketiga, filsafat harus terikat kuat pada pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu-ilmu budaya empirisme.[5]

Langkah awal Dilthey menerangkan tentang filsafat kehidupannya adalah dengan menyadari bahwa kehidupan itu sepenuhnya adalah objek dari filsafat. Segala refleksi pikiran terhadap kehidupan, segala nilai-nilai dan prinsip moral, adalah bukanlah produk yang berasal dari pengetahuan murni pikiran melainkan kehidupan tertentu dari seseorang pada waktu tertentu di sebuah tempat tertentu, dikuatkan oleh berbagai keadaan, dipengaruhi oleh berbagai pendapat di sekitar mereka, dibangun wawasan pada masa mereka. Segala refleksi dan penilaian tersebut diwarnai oleh relativitas.[6]

Kemudian Dilthey menegaskan bahwa apa yang sebenarnya kita alami adalah hidup dengan penuh pengalaman dan variasinya. Segala pengalaman ini bukan hanya sebuah gumpalan sensasi dari warna dan garis lukisan, melainkan bagian dari pengalaman yang merupakan awal realita.[7]

Untuk menjawab masalah empiris, Dilthey menyatakan bahwa hidup bukan kumpulan fakta yang terpisah, hidup merupakan sesuatu yang sudah teratur, diinterpretasi dan penuh dengan makna. Meunurtnya, seorang filsuf merupakan bagian dari kehidupan, sebuah kehidupan manusia yang dipengaruhi oleh berbagai kejadian dan pengetahuan yang menyatu dalam pikiriannya. Proses pemaknaan hidup yang sudah terorganisir dan kaya akan pengetahuan didapatkan dari pengalaman orang tersebut. Dia menyadari kinerja pikirannya, bagaimana gagasan meningkatkan perasaannya dan perasaan tersebut berubah menjadi sebuah perhatian yang kemudian membuat filsuf tersebut terbiasa kualitas kehidupan. Kehidupan yang ada pada saat ini merupakan rangkaian dari pengalaman masa lalu yang memberikan pengetahuan untuk merangkai masa depan.[8]

Dalam pembacaan Wahyu Pribadi Wibowo, ada tiga struktur kehidupan yang dijelaskan oleh Dilthey, yaitu:

a)         Dimensi intelektual yang dibangun oleh akal budi.

b)        Dimensi afektif yang menjadi dasar realisasi keseluruhan nilai yang membentuk penghayatan hidup.

c)         Dimensi kehendak yang mencakup prinsip-prinsip tindakan.

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa dalam pemaknaan kehidupan kita tidak akan mungkin lepas dari sejarah. Seorang filsuf sekalipun sangat terikat pada sejarah kehidupannya. Pengetahuan yang diperoleh dari masa lalu, masa sekarang yang kemudian menjadi rangkaian masa depan adalah satu-kesatuan yang membentuk kehidupan manusia. Sedangkan ilmu-ilmu lain adalah alat bantu untuk mengungkap sejarah kehidupan manusia. Dilthey menjelaskan:

“if There is Kernel of truth behind the hopes of philosophy of history, it is this: historical research, based on a mastery as complete as possible of the various human science. As physics and chemistry are the tools of the study of organic life, so are Anthroplogy, the study of law, and political sciecnce, the tools for the study of the course of history.”[9]

Adapun menurut Abu Risman, Filsafat hidup menurut Dilthey memiliki arti khas sebagai berikut:[10]

a)         Hidup itu merupakan satu-satunya pokok persoalan filsafat. Hidup merupakan hasil kehidupan individual dalam suatu waktu dan pada suatu tempat tertentu, diwarnai oleh keadaan, dipengaruhi oleh pendapat sekitar, dibatarasi oleh cakrawala usia individu, dan oleh karena itu menjadi bersifat relatif.

b)        Yang sungguh-sungguh dialami manusia adalah hidup dalam keseluruhan corak kemajemukan hidup.

Geisteswissenschaften.

Richard Palmer menjelaskan setelah schleiermacher meninggal, proyek pengembangan hermenutika mengalami kemunduran hingga seorang filsuf berbakat dan juga sejarawan sastra bernama Wilhem Dilthey mulai melihat hermeneutika sebagai fondasi Geisteswissenschaften, yaitu semua ilmu sosial dan kemanusiaan, semua disiplin yang menafsirkan ekspresi-ekspresi “kehidupan batin manusia”, baik dalam bentuk ekspresi isyarat (sikap), prilaku historis, kodifikasi hukum, karya seni atau sastra. Tujuannya adalah untuk mengembangkan metode memperoleh interpretasi “obyektivitas yang valid” dari “ekspresi kehidupan batin”.[11]

Menurut Abu Risman, geisteswissenschaften Dilthey terdiri atas sekelompok subyek yang heterogen. Ada yang termasuk ilmu pengetahuan eksperimental seperti psikologi; ada yang tergolong studi individu dan kelompok tentang keunikan hidup dan perbuatan nyata seperti sejarah, biografi, otobiografi; ada yang termasuk studi evaluasi dan normatif seperti ilmu hukum, teori moral, teori politik, kritik sastra, perbandingan agama; yang kesemuanya memiliki persamaan yaitu merupakan seluruh aspek studi kehidupan dan pengalaman manusia dan tidak akan lengkap jika salah satu dari disiplin ilmu tersebut ditiadakan.[12]

Ada dua bagian yang bisa digunakan untuk menerangkan geisteswissenschaften Dilthey, yaitu:

a)         Historisisme. Dilthey menyebut aliran ilmu sejarah ini dengan “kritik pemahaman sejarah”. Ia menerapkan epistimologi sejarahnya dalam bidang ini yang meliputi tiga prinsip, yaitu: pertama, semua manifestasi kemanusiaan itu merupakan bagian dari proses sejarah yang harus dijelaskan dengan metode sejarah. Keadaan, keluarga, bahkan diri manusia itu sendiri tidak bisa dijelaskan secara abstrak karena masing-masing dari hal tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Kedua, masa-masa yang tidak sama dan individual yang berbeda itu hanya dapat dipahami dengan memasukinya secara imajinatif melalui pandangan khusus mereka. Ketiga, sejarawan sendiri dibatasi oleh cakrawala masanya sendiri.[13]

b)        Das Verstehen. Dalam studi kemanusiaan, prosedur dan metode umum studi tersebut terikat dengan observasi, deskripsi, klasisfikasi, kuantifikasi (jika memnugkinkan), induksi dan deduksi, generalisasi, penggunaan model-model dan penyusunan serta pengujian hipotesis. Ada tiga unsur penting yang memiliki peranan penting, yaitu sikap memahami (verstehen) perbuatan dan kejadian, penghayatan batin manusia, ekspresi hidup manusia individual maupun sosial dengan pendekatan historis.[14]

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa ilmu sejarah memiliki peranan yang sangat signifikan dalam menjelaskan kehidupan manusia. Disiplin ilmu tersebut mencakup berbagai aspek disiplin ilmu lainnya yang saling keterkaitan di dalam menjelaskan berbagai pengetahuan dan kehidupan manusia. Selain itu, pemahaman terhadap pengetahuan dan pelaman dari kehidupan manusia memiliki peranan penting dimana pengetahuan dan pengalaman tersebut diolah dalam pikiran batin manusia untuk menjelaskan ekspresi dan segala jenis bentuk kehidupan individual maupun sosial.

Kata kunci bagi geisteswissenschaften Dilthey adalah pemahaman. Penjelasan adalah milik sains, namun pendekatan terhadap fenomena yang menyatukan unsur dalam dan unsur luarnya adalah pemahaman. Sains menjelaskan alam, ilmu kemanusiaan memahami ekspresi hidup.[15]

Hermeneutika Dilthey.

Sebelum menjelaskan tentang hermenutika Dilthey, ada dua aliran yang dikritik oleh Dilthey sebagai pembentuk konstruksi pemahaman manusia. Yang pertama adalah aliran realist tradisionalis. Aliran ini berpendapat bahwa fakta dan interpretasi didasarkan pada aturan agama yang mengaturnya. Kehidupan manusia sudah diatur sedemikian rupa dalam kitab suci sehingga manusia hanya perlu menjalani tanpa harus menafsirkan lebih jauh tentang teks tersebut. Hal ini menurut Dilthey merupakan penyempitan makna kehidupan itu sendiri. Kehidupan manusia dibangun atas dasar sejarah hidupnya dan semua itu bisa ditafsirkan ulang untuk memperoleh makna dari kehidupan itu sendiri.[16]

Yang kedua adalah aliran idealist. Aliran ini berpendapat bahwa sejarah merupakan proses alami manusia yang berjalan terus menerus dan tidak pernah berubah. Menurut Dilthey, sejarah kehidupan manusia bersifat dinamis dan selalu berbeda dari waktu ke waktu. Sejarah hidup tersebut hanya diketahui oleh orang yang bersangkutan. Manusia mempelajari hidupnya dari sejarah yang kemudian mengarahkannya pada suatu perubahan baru untuk mencapai kebenaran pengetahuan.[17]

Richard Palmer menjelaskan hermeneutika Dilthey dalam beberapa bagian, yaitu:

a)        Pengalaman.

Dilthey memaknai pengalaman dengan kehidupan itu sendiri. Pengalaman hidup dimaknai sebagai suatu unit yang secara bersamaan diyakini mempunyai makna yang umum:

“Apa yang terdapat dalam arus waktu satu kesatuan pada masa sekarang karena makna kesatuannya itu merupakan entitas paling kecil yang dapat kita tunjuk sebagai sebuah pengalaman. Lebih jauh, seseorang dapat menyebut setiap kesatuan menyeluruh dari bagian-bagian hidup terikat secara bersama melalui makna umum bagi keseluruhan hidup sebagai suatu pengalaman, bahkan jika bagian-bagian lainnya terpisah antara satu dengan yang lain oleh adanya gangguan berbagai peristiwa.”[18]

Pengalaman memiliki dua arti, yaitu kesegeraan dan totalitas. Kesegeraan menunjukkan bahwa makna hadir tanpa kebutuhan akan rasionalisasi. Totalitas berarti bahwa kandungan makna mempunyai bobot dan cukup signifikan untuk memadukan beberapa momen dalam kehidupan seseorang. Pengalaman dalam hal ini dipandang sebagai sumber sejarah.[19]

Dilthey mendefinisikan pengalaman tidaklah dibentuk sebagai kandungan perilaku kesadaran reflektif, karena jika demikian ia akan menjadi sesuatu yang akan kita sadari, lebih dari itu ia merupakan prilaku itu sendiri. Ia merupakan sesuatu dimana kita hidup dan kita lalui, ia merupakan sikap yang sebenarnya kita jalani untuk hidup dan dimana kita hidup. Hal ini mengandung makna bahwa pengalaman secara langsung tidak akan dapat memahami dirinya sendiri, karena jika hal ini terjadi maka sesungguhnya pengalaman merupakan perilaku kesadaran reflektif.[20]

Pemahaman Dilthey terhadap pengalaman membawa ia sampai pada sebuah kesadaran penting yang ia gunakan dalam hermeneutikanya bahwa pengalaman secara instrinsik bersifat temporal (dan ini bermakna historis dalam artian yang paling dalam dari kata tersebut) dan untuk itu pemahaman akan pengalaman juga harus sepadan dengan kategori temporal (historis) pemikiran.[21]

b)        Ekspresi.[22]

Dilthey memahami ekspresi bukan merupakan pembentukan perasaan seseorang namun lebih kepada ekspresi hidup. Sebuah ekspresi mengacu pada ide, hukum, bentuk sosial, bahasa dan segala sesuatu yang merefleksikan kehidupan manusia. Dengan demikian, ekspresi bisa dimaknai dengan obyektivikasi pemikiran/pengetahuan, perasaan dan keinginan manusia.

Signifikansi hermeneutis obyektivikasi adalah sesuatu yang oleh karena pemahaman dapat difokuskan terhadap sesuatu yang dapat difiksisasikan, ekspresi obyektif pengalaman hidup yang berlawanan dengan segala upaya untuk dapat mengatasinya melalui aktifitas introspeksi. Introspeksi tidak dapat dijadikan sebagai basis ilmu-ilmu kemanusiaan, karena refleksi langsung atas pengalaman menghasilkan sebuah intuisi yang tidak dapat dikomunikasikan dan konseptualisasi yang dengan sendirinya merupakan sebuah ekspresi kehidupan yang mendalam. Setiap sesuatu dimana spirit manusia telah mengobyektifikasikan dirinya masuk dalam wilayah ilmu-ilmu kemanusiaan. Cakupannya seluas pemahaman itu sendiri dan pemahaman memiliki obyek kebenarannya dalam obyektifikasi kehidupan itu sendiri.

c)        Karya Seni Sebagai Obyektifikasi Pengalaman Hidup.[23]

Dilthey mengklasifikasikan hidup dan pengalaman manusia ke dalam tiga kategori utama:

Pertama, gagasan-gagasan (yaitu konsep, penilaian, dan bentuk-bentuk pemikiran yang lebih luas) merupakan sebuah kandungan pemikiran yang terbebaskan dari ruang, waktu dan pelakunya dimana gagasan-gagasan itu lahir dan untuk alasan inilah gagasan-gagasan itu memiliki akurasi dan mudah dikomunikasikan.

Kedua, tindakan leih sulit untuk diinterpretasikan karena di dalam sebuah tindakan terdapat sebuah tujuan tertentu, namun hanya dengan kesulitan besarlah kita dapat menemukan faktor-faktor yang dapat bekerja yang memastikan sebuah tindakan tersebut.

Ketiga, terdapat ekspresi pengalaman hidup yang meluas dari ekspresi kehidupan dalam yang spontanseperti pernyataan dan sikap diri ke ekspresi sadar yang terbentuk dalam karya seni.

“Dalam karya-karya seni agung, sebuah visi dibentuk bebas dari pengarang, penyair, seniman, ataupun penulisnya dan kita dimasukkan dalam suatu bidang dimana permainan atau tipu daya oleh yang berekspresi berakhir. Sebenarnya tidak ada karya seni besar yang dapat mencoba mencerminkan realitasyang asing terhadap isi dalam pengarangnya. Tentu saja, karya tersebut tidak berkeinginan untuk mengatakan segala hal tentang pengarangnya. Dalam dirinya sendiri, karya-karya agung tersebut benar-benar bersifat pasti, visible dan abadi…”[24]

Dalam ungkapan diatas dapat diketahui bahwa karya-karya seni belum bisa menjelaskan kehidupan pengarangnya secara menyeluruh, namun karya tersebut hanya mengungkapkan apa yang ada dalam kehidupan sehingga diperlukan sebuah metode interpretasi untuk mengungkap pemikiran pengarangnya secara obyektif. Metode inilah yang kemudian disebut dengan hermeneutika.

Dilthey menegaskan  prinsip-prinsip hermeneutika dapat menyinari cara untuk memberikan landasan teori umum pemahaman. Dengan demikian hermeneutika menjadi sebuah teori yang tidak hanya interpretasi teks, namun bagaimana hidup mengungkap dan mengekspresikan dirinya dalam karya. Oleh karena itu, ekspresi secara keseluruhan tidak bersifat personal, melainkan merupakan realitas sosial historis yang terungkap dalam pengalaman, realitas sosial historis dari pengalaman itu sendiri.

d)       Pemahaman.[25]

Menurut Dilthey, pengalaman merupakan proses jiwa dimana kita memperluas pengalaman hidup manusia. Ia merupakan tindakan yang membentuk hubungan terbaik kita dengan hidup itu sendiri. Pemahaman membuka dunia individu orang lain kepada kita dan dengan begitu juga membuka kemungkinan-kemungkinan di dalam hakikat kita sendiri.

Dilthey menegaskan bahwa manusia adalah makhluk historis. Manusia memahami dirinya tidak melalui introspeksi tapi melalui obyektifikasi hidup. Sejarah kehidupan dan pengalaman yang didapatkan oleh manusia mengantarkan mereka pada sebuah pemahaman akan nilai-nilai yang terkandung dalam hidup itu sendiri. Masa lalu adalah pembelajaran dimana dengan mengingat kembali rangkaian kejadian dan pengalaman hidupnya, manusia bisa mencapai suatu pemahaman yang mendasar terhadap dirinya sendiri.

Menurut Dilthey, makna memiliki peranan penting dalam pemahaman. Makna adalah apa yang diperoleh pengalaman dalam interaksi resiprokal yang esensial dari keseluruhan dan bagian-bagian lingkaran hermeneutis. Makna keseluruhan adalah suatu “makna” yang diperoleh dalam pemaknaan bagian-bagian individual. Suatu peristiwa atau pengalaman akan mengubah kehidupan kita, dimana apa yang sebelumnya bermakna menjadi tidak bermakna dan sebaliknya.

Makna merupakan sesuatu yang bersifat historis, ia merupakan suatu hubungan keseluruhan kepada bagian-bagiannya yang kita lihat dari sudut pandang tertentu, pada saat-saat tertentu, bagi kombinasi bagian-bagian tertentu. Makna berubah selaras dengan waktu, merupakan persoalan hubungan dimana peristiwa dilihat. Dengan demikian, makna bersifat kontekstual dan merupakan bagian dari situasi.[26]

Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa pemahaman tidak terlepas dari setting historisnya. Kita menangkap makna yang terdapat dalam setiap kejadian dan pengalaman yang mana makna tersebut memberikan pemahaman kepada kita. Pengalaman yang terjadi di masa lalu yang memiliki makna dan memberikan pemahaman bisa merubah manusia dalam menjalani hidupnya. Dengan berkaca pada sejarah kehidupannya, manusia mendapatkan banyak makna-makna penting yang menjadi pemahaman-pemahaman baru dalam menginterpretasikan hidupnya. Hal inilah yang menjadi landasan perubahan besar dalam hidup seseorang yang bisa saja menjadi momentum baru dalam sejarah hidupnya.

 

 

KESIMPULAN

 

Sejarah kehidupan Dilthey menunjukkan bahwa ia adalah seorang religius yang kemudian berubah haluan menjadi sejarawan dan filsuf. Pemikirannya dipengaruhi oleh sejarawan dan filsuf pada masa hidupnya yang mana banyak memberikan ia pengetahuan yang besar dalam memahami kehidupan secara menyeluruh.

Filsafat kehidupan Dilthey menjelaskan bahwa hidup adalah satu kesatuan menyeluruh dari berbagai aspek yang melingkupinya. Hidup tidak hanya sebatas dogma agama maupun pengalaman manusia, melainkan hidup merupakan rentetan kejadian yang menyatu dalam sejarah hidup itu sendiri.

Ilmu humaniora (geisteswissenschaften) Dilthey menjelaskan bahwa setiap manusia terikat dengan sejarah hidupnya masing-masing. Diperlukan pemahaman yang komprehensif untuk menjelaskan pemikiran dan rentetan kejadian yang terjadi yang menjadi sejarah hidup itu sendiri. Oleh karena itu, sejarah merupakan landasan interpretasi dalam mempelajari dunia manusia dan pemahaman adalah kunci dalam interpretasi tersebut.

Dengan hermeneutiknya, Dilthey mencoba menjelaskan bahwa pengalaman manusia merupakan kehidupan manusia itu sendiri. Pengalaman merupakan bagian dari sejarah hidup yang kemudian menjadi obyek refleksi dari interpretasi. Adapun ekspresi adalah segala bentuk refleksi kehidupan manusia dimana dengan melihat ekspresi tersebut kita dapat mengetahui obyek kebenaran dengan menggunakan pemahaman. Kemudian disebutkan bahwa karya seni merupakan manifestasi hidup yang tidak sepenuhnya mengungkap segala hal dari pengarangnya. Oleh karena itu, hermeneutik menjadi sebuah metode interpretasi dalam memahami apa yang belum terungkap dalam karya seni tersebut. Lebih lanjut Dilthey menjelaskan bahwa kunci dari interpretasi itu sendiri adalah pemahaman. Dimulai dari memahami historisitas manusia yang mana kemudian pemahaman tersebut menemukan makna dibalik sejarah hidup manusia. Makna tersebut digunakan sebagai pengetahuan yang akan diolah dalam menginterpretasikan sejarah ataupun teks dan lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Edwards, Paul, The Encyclopedia of Philosphy (London: Collier MacMillan Publishers, 1967)

Risman, Abu, Metodologi Humaniora Dilthey dalam Jurnal Al-Jami’ah No. 25 (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1981)

Wibowo, Wahyu Prihadi, Filsafat Kehidupan Wilhem Dilthey dalam Majalah Filsafat Driyarkara (Jakarta: STFD, 1990)

Bulhoft, Ilse N., The Melody of Life: Dilthey on The Meaning of History (London: Martinus Nijhoff Publishers, 1980)

Palmer, Richard E., Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi terj. Musnur Hery (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005)

Young, Thomas J., The Hermeneutical Significance of Dilthey’s Theory of World-Views dalam Jurnal International Philosophical Quarterly (New York: Fordham University, 1983)

Howard, Roy J., Hermeneutika terj. Kusmana (Bandung: Penerbit Nuansa, 2001)


[1] Paul Edwards, The Encyclopedia of Philosphy (London: Collier MacMillan Publishers, 1967), Vol. 1-2, hal. 403.

[2] Abu Risman, Metodologi Humaniora Dilthey dalam Jurnal Al-Jami’ah No. 25 (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1981), hal. 2.

[3] Abu Risman, Metodologi Humaniora Dilthey, hal. 2.

[4]  Wahyu Prihadi Wibowo, Filsafat Kehidupan Wilhem Dilthey dalam Majalah Filsafat Driyarkara (Jakarta: STFD, 1990), vol. 16, no. 3, hal. 15.

[5]  Wahyu Prihadi Wibowo, Filsafat Kehidupan Wilhem Dilthey, hal. 15.

[6]  Paul Edwards, The Encyclopedia of Philosphy, hal. 404.

[7]  Paul Edwards, The Encyclopedia of Philosphy, hal. 404.

[8]  Paul Edwards, The Encyclopedia of Philosphy, hal. 405.

[9] Ilse N. Bulhoft, The Melody of Life: Dilthey on The Meaning of History (London: Martinus Nijhoff Publishers, 1980), vol. 2, hal. 117.

[10] Drs. Abu Risman, Metodologi Humaniora Dilthey, hal. 4.

[11] Richard E. Palmer, Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi terj. Musnur Hery (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hal. 110.

[12]  Drs. Abu Risman, Metodologi Humaniora Dilthey, hal. 7.

[13]  Paul Edwards, The Encyclopedia of Philosphy, hal. 405.

[14]  Drs. Abu Risman, Metodologi Humaniora Dilthey, hal. 9.

[15]  Richard E. Palmer, Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi, hal. 118.

[16] Thomas J. Young, The Hermeneutical Significance of Dilthey’s Theory of World-Views dalam Jurnal International Philosophical Quarterly (New York: Fordham University, 1983), hal. 127-131.

[17]  Thomas J. Young, The Hermeneutical Significance of Dilthey’s Theory of World-Views, hal. 132-134.

[18]  Richard E. Palmer, Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi, hal. 120-121.

[19]  Roy J. Howard, Hermeneutika terj. Kusmana (Bandung: Penerbit Nuansa, 2001), hal. 164.

[20]  Untuk lebih jelasnya silahkan lihat Richard E. Palmer, Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi, hal. 121-125.

[21]  Richard E. Palmer, Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi, hal. 125.

[22]  Richard E. Palmer, Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi, hal. 126.

[23]  Richard E. Palmer, Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi, hal. 127-129.

[24] Richard E. Palmer, Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi, hal. 128.

[25] Richard E. Palmer, Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi, hal. 129-137.

[26]  Richard E. Palmer, Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi, hal. 134-135.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s