Memory 2 (11-12-2008)

Cerita ini berawal sekitar 7 tahun yang lalu, tepatnya awal bulan juni ketika aku dan teman-teman mendaftar masuk SMA. Ortuku mengijinkan aku untuk masuk MAN dengan syarat harus mengambil jurusan Agama atau yang lebih dikenal dengan M-A-K, Madrasah Aliyah Keagamaan agar keilmuan agamaku terus berkembang dan terus dikaji.

Tidak terlalu susah bagiku untuk menjawab soal-soal tes masuk, ditunjang dengan nilai Danun-ku yang diatas rata-rata, membuatku mudah untuk lulus. Seperti biasanya siswa-siswa baru langsung berkenalan dengan teman sesama kelas, kami masih lugu dan masih menjaga image masing-masing. Disamping itu, aku juga berusaha untuk mengenal kepribadian teman-teman sekelas, terutama para siswinya, tentu saja, hehehe…!!!

Anak-anak jurusan umum, seperti IPA dan IPS banyak yang mengatakan bahwa siapa saja yang masuk jurusan agama, bisa jadi orang gila. Memang rumor ini sudah beredar dari dulu, hal ini disebabkan jurusan ini sudah intensif sejak kelas satu atau kelas 10 buat anak-anak sekarang. Selain itu rata-rata pelajaran kami menggunakan bahasa Arab tanpa baris, atau yang lebih sering disebut Arab gundul. Contohnya saja, pelajaran Bahasa Arab, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadis, Akidah Akhlak, Qur’an dan Hadis, dan pelajaran agama lainnya.

Tahun pertama dilalui dengan menyenangkan karena semua temanku bersikap complex. Mungkin kelas kami cukup mengagumkan, kelas ini mencakup berbagai perwakilan anak-anak muda. Mulai dari para ustad yang kerjaannya selalu di mesjid, para preman yang sukanya berjudi dan pemakai narkoba serta miras, anak band, pemain sepakbola, pemain takraw dan volley, Qari’ nasional, peneliti, penghafal Qur’an sampai pengedar koran dan majalah porno di kelas. Hal inilah yang membuatku selalu tidak ingin berpisah dengan mereka, walaupun sekarang kebanyakan dari mereka sudah menikah.

Naik ke kelas 2, masing-masing orang mulai menunjukkan keahliannya masing-masing. Tidak ada kesan malu-malu pada saat itu, ditunjang dengan motivasi dari guru tafsir kami yang merupakan alumni al Azhar University, yang mengajak kami untuk selalu dinamis dan berkembang. Pada saat inilah mulai dibentuk divisi bahasa yang terpisah tetapi masih dibawah naungan Osis. Tugas divisi ini adalah mengajarkan bahasa asing kepada siswa-siswi di sekolah, terutama bahasa Arab dan Inggris. Pada waktu itu, dengan basic pesantrenku yang memang sudah terbiasa dengan dua bahasa tersebut, aku diminta untuk menjadi ketua divisi. Yah, walaupun tidak sepenuhnya yakin, tapi karena janji para guru dan teman-teman yang punya skill dalam bidang bahasa akan turut membantu, akhirnya aku menyanggupi. Setiap pagi, setidaknya 3x dalam seminggu aku tampil di depan semua siswa untuk memberikan kosa kata dan sedikit bercerita dalam bahasa Inggris, karena pada saat itu aku memang sedang menekuni grammar 24 jam. Mungkin inilah yang membuat aku menjadi cukup terkenal dan sempat menjadi trendsetter karena aku tidak ingin berpenampilan yang sama seperti orang lain, selalu tampil beda. Mungkin…!!!

Disamping keahlian kami yang sudah mengharumkan nama sekolah hingga tingkat nasional, kami juga mempunyai catatan kelam tersendiri di sekolah. Apalagi ketika kelas 2 ini, aku ditunjuk sebagai wakil ketua, dimana aku sebagai penengah diantara kelompok ustad dan kelompok penjahat, maka aku mengatakan bahwa misi kita adalah membuat kelas kita menjadi yang terdepan dari kelas-kelas lain dalam kebaikan ataupun kejahatan.

Dan pada tahun kedua inilah kami mulai menunjukkan kenakalan kami. Dimulai dengan sering membolos, merokok di warung terdekat, hingga jalan-jalan ke pusat keramaian pada saat pelajaran berlangsung. Yah, sebagai orang paling bertanggung jawab atas pelanggaran-pelanggaran ini (karena ketua kelas termasuk kelompok ustad, jadi dibebaskan dari hukuman), maka aku yang dijadikan tersangka utama. Aku langsung mengakuinya dan aku juga yang berhadapan dengan para guru ketika ada sidang di kelas. Hal inilah yang mungkin membuatku memegang rekor berada di urutan pertama buku hitam selama 2 tahun berturut-turut. Pernah sekali aku diancam tidak dinaikkan ke kelas 3 jika aku tidak merubah sikap dan sifatku. Yah, aku cuma bisa menantang mereka dengan mengatakan : “kalau nilaiku memang tidak mencukupi untuk naik kelas, jangan izinkan aku naik kelas”. Tapi, seperti biasanya aku selalu menerima hadiah ketika pengumuman juara kelas dan juara umum pada akhir semester.

Kelas tiga, tidak ada yang berubah. Masih orang yang sama, sifat yang sama tetapi dengan suasana yang berbeda. Pada awal semester 5, prestasi dan kejahatan penghuni kelas tidak jauh berbeda. Guru-guru masih sering menanyakan hal ini kepadaku, bertanya kapan kami bisa menjadi siswa yang baik. Mereka tidak bisa berbuat lebih jauh, karena aku memegang semua kunci kelemahan mereka. Baik itu guru yang suka bolos, guru yang acuh tak acuh dan guru yang lebih mementingkan kelas lain daripada kelas kami. Pernah terjadi sebuah sidang di kelasku yang otomatis adalah daerah kekuasaanku, ketika mereka menyebutkan satu kesalahan kami, aku membalasnya dengan menyebutkan tiga kesalahan mereka. Mungkin itu juga yang menyebabkan aku tidak pernah di sidang dihadapan para guru, bahkan guru BK tidak pernah memanggilku untuk menghadap beliau di ruangannya. Pernah juga mereka mengejekku ketika aku mampir ke ruang guru untuk minum dan makan snack yang ada disana. Saat itu guru BK dan tafsirku sedang mengobrol di luar ruangan ketika aku datang. Aku duduk sebentar dihadapan mereka untuk mendengarkan. Spontan mereka mengejekku ketika tau aku ada disana. Guru BK berkata :”Ojan ini tidak pantas berada di sekolah, dia seharusnya ada di hutan dan tinggal disana”. Guru tafsirku langsung menyetujuinya sambil menambahkan ejekan kepada diriku. (aku tau itu hanyalah candaan semata, karena kami tidak pernah serius ketika mengejek orang lain, Cuma sebagai pencair suasana saja). Yah, aku hanya tersenyum sambil mengangkat tangan dan berdoa :”Ya Allah, jauhkanlah setan-setan ini dari sekelilingku”. Mereka langsung terdiam tanpa bisa berkata apa-apa dan aku pun beranjak ke kelas.

Akhirnya aku mengalah ketika surat panggilan orangtua melayang ke rumah, padahal aku belum pernah di sidang di hadapan para guru. Ibuku langsung menasehatiku :”kami paham dengan gejolak darah mudamu, tentang kritik-kritikmu terhadap guru-guru yang bermasalah. Tapi cobalah dewasa, jangan sampai nilai-nilaimu anjlok karena kritik pedasmu itu. Ingatlah satu hal, diam itu emas dan bicara itu perak”. Yah, dengan berat hati akhirnya aku mengatakan kepada teman-temanku kalau aku lepas tanggung jawab dari mereka, aku tidak ikut bertanggung jawab atas kenakalan mereka. Dan teman-temanpun memaklumi dengan mengurangi kejahatan mereka. Memasuki bulan puasa, aku mulai memasuki dunia penderitaan dan back to nature setelah sebelumnya aku memasuki dunia setan dengan segala kejujurannya atas kejahatan yang mereka lakukan. Dari situ, aku tau penderitan Iblis dan aku berusaha untuk memahaminya.

Semester 6, kami mulai fokus dengan pelajaran untuk menghadapi ujian Nasional. Hingga kelulusan dan perpisahan, semua teman-teman dan aku bisa menghadapi ujian dengan baik dan semua lulus walaupun aku sendiri mendapatkan nilai pas-pasan untuk matematika, dan angka 8 untuk bahasa Inggris serta angka 7 untuk bahasa Indonesia. Tapi itu sudah cukup bagiku untuk masuk jurusan Tafsir Hadis di UIN Jogja karena nilai ilmu tafsirku 9 dan nilai ilmu hadisku 8.

Sampai saat ini kami masih berhubungan dan kadang mengadakan reuni setiap lebaran Idul Fitri, dan hubunganku dengan para guru masih baik walaupun jarang berkomunikasi, sebagian diantara mereka menjadi partner dalam belajar.

Satu hal yang membuatku cukup bangga dengan kenakalan kami. Kami bisa merubah sifat buruk seorang guru yang dulunya sering membolos dan tidak pernah mengabsen murid. tapi setelah kami membalasnya dengan meninggalkan kelas ketika dia masuk untuk mengajar, dan tentunya setelah dia marah selama sebulan dengan tidak mengajar kami serta dengan melewati beberapa sidang antara kami dan dia, akhirnya dia menjadi teratur dalam mengajar, selalu memberi tahu kami ketika dia berhalangan masuk dan selalu mengabsen murid dengan senang hati.

Satu hal lagi, seseorang terkenal di sekolahnya cuma karena dua hal. Yang pertama adalah karena prestasinya dan yang kedua adalah karena kenakalannya. Tapi sayang, aku memegang keduanya, tentu saja dengan keahlian membaca situasi ketika kita berhadapan dengan seseorang. Ada yang mau mengikuti jejakku ? hehehe…!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s