Hassan Hanafi dan Oksidentalisme

HASSAN HANAFI DAN OKSIDENTALISME

 

Oksidentalisme atau kajian tentang Barat tidak pernah lepas dalam kiprah Hassan Hanafi yang juga merupakan salah satu tokoh oksidentalis dalam rangka mengimbangi orientalisme yang telah dilakukan oleh orang-orang barat pasca perang salib.

Adapun pengertian oksidentalisme yang saya ketahui adalah kajian yang dilakukan oleh masyarakat Timur (Islam) tentang kebudayaan dan sejarah Barat. Kajian tersebut menggunakan perspektif dan ukuran-ukuran Timur. Oksidentalisme sebagai sebuah istilah dan disiplin keilmuan diperkenalkan oleh seorang cendekiawan Muslim asal Mesir, Hassan Hanafi. Dalam bukunya Muqaddimah fi ‘Ilmi al-Istighrab, 1999 (Pengantar Oksidentalisme)—diterjemahkan oleh Penerbit Paramadina dengan judul Oksidentalisme: Sikap Kita terhadap Tradisi Barat (2000)—, Hanafi mengatakan bahwa oksidentalisme muncul untuk mengurai kesadaran yang terbelah, antara ego (Barat) dan the other (Islam). Sejauh ini Barat telah banyak melakukan kajian terhadap the other (Islam), apa yang dikenal luas sebagai Orientalisme. Menurut Hanafi, Barat mengidap superiority complex, sehingga kajian para orientalis tersebut mengandung muatan ideologis. Latar belakang tumbuhnya orientalisme sendiri didorong oleh kebutuhan negara-negara Barat untuk memahami Islam dan masyarakatnya. Kebutuhan tersebut juga seiring dengan upaya penundukkan the other (negara terjajah). Karena itu Oksidentalisme dimaksudkan untuk mengembalikan Barat pada posisinya.

Selama ini Barat menilai dirinya sebagai peradaban yang matang, humanis, dan modern. Sedangkan peradaban Islam, disamping kelebihannya yang juga diakui Barat, memerlukan pertolongan Barat agar dapat maju seperti peradaban Barat. Oksidentalisme ingin mengurai superioritas semacam itu dengan cara menjadikan peradaban Barat sebagai objek kajian (the other).

Menurut Zuhairi Misrawi, bahwa buku Oksidentalisme karya Hassan Hanafi ini, ada beberapa gagasan besarnya yang dapat diringkas dalam 3 (tiga) poin. Pertama, kritik terhadap Barat; bahwa kita perlu melakukan kritik terhadap Barat, karena ia tidak lepas dari dominasi budaya dan peradabannya terhadap dunia Timur yang tentu tidak terhindar dari aspek superioritas dan imperialismenya; aspek kekurangan dan kekeliruannya; mengkerdilkan Timur. kedua, menjadikan Barat sebagai obyek kajian (mempelajari Barat), karena selama ini hanya Timurlah yang menjadi obyek kajian. Ketiga, mengajari Barat, bahwa Timur bisa menunjukkan Barat kepada relnya, bagaimana menempatkan dirinya di tengah-tengah dunia global.

Berkenaan dengan yang kedua, yakni mengkaji Barat. Menurut Zuhairi, dimaksudkan agar ada keseimbangan antara Barat dan Umat Islam/Timur. Di mana, bahwa ketidak seimbangan tersebut akibat dari kolonialisme, zionisme, penindasan, dan seterusnya, yang merupakan kekeliruan Orientalisme. Jadi Oksidentalisme dalam hal ini, untuk memperbaiki masyarakat Timur dari berbagai sudut pandang, kelemahan, dan ketertindasan.

Oksidentalisme merupakan satu bagian terpenting dari realisasi tiga agenda besar dari proyek Hassan Hanafi, al-turâts wa tajdîd (tradisi dan pembaruan). Ketiga agenda ini: pertama, sikap kita terhadap tradisi lama; kedua, kritisisme terhadap peradaban Barat; dan ketiga, sikap kita terhadap realitas.

Bagi Hanafi, ketiga agenda di atas ini merupakan dinamika dan produk proses dialektika antara ‘ego’ (al-anâ) dan ‘the other’ (al-âkhar) . Dalam ketiga agendanya ini, ia mengembangkan teori dan paradigma interpretasi.

Ia mengakui bahwa Barat yang dalam buku edisi berbahasa Arabnya, dibahasakan dengan istilah al-akhar (“the other”) adalah pendatang utama dan juga sumber pengetahuan ilmiah dalam kesadaran kita. Sebagai pendatang utama dan juga sumber pengetahuan, Barat menduduki posisi sangat penting. Kedudukan yang demikian pentingnya ini, menurut Hanafi, tidak pernah dikritisi secara serius oleh kalangan intelektual Islam. Memang selama ini ada kritik, namun kritik yang dilakukan masih dalam batas-batas yang amat sempit. Salah satu kelemahan kritik dunia Islam terhadap Barat terletak pada gaya dan metodenya yang sangat bersifat retorik dan dialektik. “Seharusnya kritik melibatkan pendekatan kritis dan memakai logika demonstratif serta empiris-induktif,” saran Hanafi.

Secara ideologis, Oksidentalisme versi Hassan Hanafi ini diciptakan dengan maksud sebagai alat untuk menghadapi Barat yang memiliki pengaruh besar terhadap kesadaran peradaban kita.

Meskipun begitu, dengan sikap rendah hati, Hanafi menyatakan bahwa Oksidentalisme sesungguhnya bukan lawan Orientalisme melainkan sebuah hubungan dialektis yang saling mengisi dan melakukan kritik antara yang satu terhadap yang lain sehingga terhindar dari relasi hegemonik dan dominatif dari dunia Barat atas dunia Timur.

Kajian tradisi Barat oleh non Barat menyimpan potensi proyektif dari pengkaji terhadap obyek kajiannya. Malah tidak menutup kemungkinan pengkaji lebih banyak melihat apa yang ada dalam dirinya daripada apa yang ada dalam premis-premis retorik atau fanatisme dan menyerang peradaban lain yang menjadi obyek kajiannya. Meskipun bisa saja dalam keadaan seperti ini, pengkajian terhadap Barat bisa dimanfaatkan untuk melakukan balas dendam, tetapi menurut Hanafi, kesadaran dan orisinalitas pengkaji akan dapat menjaganya dari ketergelinciran ke dalam bahaya ini.

Hal lain yang penting dari pengkajian tradisi Barat oleh peneliti non Barat juga, dimaksudkan untuk memberikan sumbangsih kepada tradisi Barat dengan dilakukannya sebuah kajian netral terhadapnya, seperti dilakukan peneliti Eropa terhadap peradaan non Eropa.

Oksidentalisme juga merupakan reaksi atas eurosentrisme. Oksidentalisme bertugas menghapus Eurosentrisme, menjelaskan bagaimana kesadaran Eropa mengambil posisi tertinggi di lingkungan kita khususnya di sepanjang sejarah. Tugas baru ilmu ini (Oksidentalisme), kata Hanafi, adalah mengembalikan kebudayaan Barat ke batas alamiahnya setelah selama kejayaan imperialisme menyebar keluar melalui penguasaan media informasi, kantor-kantor berita, peran penerbitan besar, pusat penelitian ilmiah dan spionase umum. Singkatnya, tugas oksidentalisme adalah menghapuskan dikotomi sentrisme dan ekstremisme pada tingkat kebudayaan dan peradaban. Dengan kata lain, mengembalikan keseimbangan kebudayaan umat manusia, menggantikan timbangan yang tak seimbang dan hanya menguntungkan kesadaran Eropa dan merugikan kesadaran non Eropa. Ditegaskan Hanafi, “Selama neraca tidak berimbang, kesadaran Eropa akan tetap mengekspansi kebudayaan bangsa lain dengan produk pemikiran saintisnya. Ia bersikap seolah-olah hanya pihak Baratlah satu-satunya tipe produsen. Ketidakadilan sejarah ini akan tetap menimpa kebudayaan-kebudayaan yang tidak istimewa dalam perjalanannya menuju tingkat kebudayaan istimewa.” (hlm. 37).

Menurut Hassan Hanafi, “Jika Oksidentalisme telah selesai dibangun dan telah dipelajari oleh para peneliti dari beberapa generasi, lalu menjadi arus utama (thayyar `âmm) pemikiran di negara kita (Mesir dan Timur Tengah, termasuk Indonesia –red.) serta memberikan andil dalam membentuk kebudayaan tanah air, maka akan terdapat hasil-hasil seperti berikut ini (hlm. 51-59):

  1. Adanya kontrol atau pembendungan atas kesadaran Eropa dari awal sampai akhir, sejak kelahiran hingga keterbentukan.
  2. Mempelajari kesadaran Eropa dalam kapasitas sebagai sejarah, bukan sebagai kesadaran yang berada di luar sejarah (khârij al-târîkh) .
  3. Mengembalikan Barat ke batas alamiahnya, mengakhiri perang kebudayaan, menghentikan ekspansi tanpa batas, mengembalikan filsafat Eropa ke lingkungan di mana ia dilahirkan, sehingga partikularitas Barat akan terlihat.
  4. Menghapus mitos “kebudayaan kosmopolit”; menemukan spesifikasi bangsa di seluruh dunia, dan bahwa setiap bangsa memiliki tipe peradaban serta kesadaran tersendiri, bahkan ilmu fisika dan teknologi tersendiri seperti yang terjadi di India, Cina, Afrika dan Amerika Latin; menerapkan metode sosiologi ilmu pengetahuan dan antropologi peradaban pada kesadaran Eropa yang selama ini diterapkan produsennya pada kesadaran non Eropa, dan merupakan satu penemuan yang sangat berharga yang orisinal dan tidak pernah terjadi sebelumnya. Singkatnya, agar terjadi pola hubungan seimbang, akan muncul berbagai sentrimisme, semua peradaban dalam satu level, sehingga terjadi hubungan timbal balik dan interaksi peradaban yang harmonis.
  5. Membuka jalan bagi terciptanya inovasi bangsa non Eropa dan membebaskannya dari “akal” Eropa yang menghalangi nuraninya, sehingga bangsa non Eropa dapat berpikir dengan “akal” dan kerangka lokalnya sendiri. Sehingga akan ada keragaman tipe dan model. Tidak tunggal bagi semua bangsa di dunia (baca, QS. Al-Mâ’idah[5]:48). “Tidak ada kreasi tanpa pembebasan diri dari kontrol the other dan tidak ada inovasi orisinal tanpa kembali kepada diri sendiri yang telah terbebas dari keterasingan dalam the other. Orisinalitas ini akan beralih dari tingkat kesenian rakyat ke tingkat substansial dan konsepsi tentang alam.” Tegas Hanafi.
  6. Menghapus rasa rendah diri yang terjadi pada bangsa non Eropa ketika berhadapan dengan bangsa Eropa dan memacu mereka menuju tahap inovator setelah sebelumnya hanya berperan sebagai konsumen kebudayaan, ilmu pengetahuan dan kesenian, bahkan tidak mustahil akan dapat melampaui Eropa.
  7. Melakukan penulisan ulang sejarah agar semaksimal mungkin dapat mewujudkan persamaan bagi seluruh bangsa di dunia yang sebelumnya menjadi korban perampasan kebudayaan yang dilakukan bangsa Eropa.
  8. Permulaan filsafat sejarah Barat yang dimulai dari angin Timur; ditemukannya siklus peradaban dan hukum evolusinya yang lebih komprehensif dan universal dibanding yang ada di lingkungan Eropa; dan tinjauan ulang terhadap posisi bangsa Timur sebagai permulaan sejarah seperti dikatakan Herder, Kant, dan Hegel.
  9. Mengakhiri Orientalisme; mengubah status Timur dari obyek menjadi subyek, dari sebongkah batu menjadi suatu bangsa; meluruskan hukum-hukum yang diterapkan Barat ketika berada di puncak kebangunannya kepada peradaban Timur yang sedang berada dalam keterlelapan tidur dan kealpaannya.
  10. Menciptakan Oksidentalisme sebagai ilmu pengetahuan yang akurat, bisa mengubah peradaban Barat dari kajian obyek menjadi obyek kajian; melacak perjalanan, sumber, lingkungan, awal, akhir, kemunculan, perkembangan, struktur dan keterbentukan peradaban Barat.
  11. Membentuk peneliti-peneliti tanah air yang mempelajari peradabannya dari kacamata sendiri dan mengkaji peradaban lain secara lebih netral dari kajian yang pernah dilakukan Barat terhadap peradaban lain. Dengan begitu akan lahir sains dan peradaban tanah air, serta akan terbangun sejarah tanah air.
  12. Dimulainya pemikir baru yang dapat disebut sebagai filosuf, pasca generasi pelopor di era kebangkitan. Hal ini untuk menjawab pertannyaan, apakah kita memiliki filosuf?
  13. Kalupun generasi kita telah merampungkan tugas pembebasan dari penjajah, pendudukan militer, kemudian berupaya merubah revolusi menjadi sebuah negara yang mewujudkan kemerdekaan ekonomi, maka tugas itu, kata Hanafi, belum sempurna.
  14. “Dengan Oksidentalisme, manusia akan mengalami era baru di mana tida ada lagi penyakit rasialisme terpendam seperti yang terjadi selama pembentukan kesadaran Eropa yang akhirnya menjadi bagian dari strukturnya. Permusuhan antar bangsa seperti dialami umat manusia dalam dua kali perang Eropa yang hanya berjarak dua puluh tahun, akan sirna.” Diingatkan Hanafi, bahwa, “Zionisme telah mewarisi penyakit tersembunyi ini dan masih menjalankan cara penjajah dan rasialisme.”

SUMBER DATA

 

Talkshow Perspektif Progresif, bedah buku Oksidentalisme karya Hassan hanafi yang diterjemahkan oleh Tim Paramadina, Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s