Hermeneutika Validasi

ERIC DONALD HIRSCH Jr.

  1. A.      Sejarah Kehidupan

Hirsch lahir di kota Memphis pada tanggal 28 maret 1928. Dia merupakan anak dari Rabbi Eric Donald Hirsch dan Leah Aschaffenberg Hirsch. Dia mendapatkan pendidikan tentang literature pertamanya di Universitas Cornell, dan menyelesaikan studinya pada tahun 1950. kemudian dia melanjutkan pendidikannya di Universitas Yale dan mendapatkan gelar M. A pada tahun 1955. kemudian dilanjutkan dengan gelar Dr. Ph. pada tahun 1957 dengan disertasinya yang merupakan revisi dari karya William Wordsworth and Friedrich Schelling, dan kontribusi filsafat mereka terhadap literatur romantis yang diterbitkan pada tahun 1960.

Setelah itu dia memfokuskan dirinya pada kajian interpretasi literatur dan hermeneutika. Bukunya yang berjudul Validity in Interpretation yang diterbitkan pada tahun 1967 dan The Aims of Interpretation yang diterbitkan pada tahun 1976, mengandung banyak kritikan dan klaim postmodernis terhadap perdebatan, yang mana intensi pengarang merupakan fokus utama dalam memahami teks.

Pada tahun 1977, Hirsch menerbitkan bukunya yang berjudul  The Philosophy of Composition, sebuah penelitian tentang permasalahan hilangnya kemampuan memahami teks.

Pada tahun 1986, ia menemukan fondasi pengetahuan dan menerbitkan buku yang berjudul Cultural Literacy: What Every American Needs To Know pada tahun 1987.

 

  1. B.       Hermeneutika Sebagai Logika Validasi

Pada tahun 1967, Hirsch menerbitkan risalah pertamanya mengenai hermeneutika umum yang ditulis dalam bahasa Inggris : Validity in Interpretation. Kehadiran buku ini pada tahun itu secara nyata mengambil posisi diantara karya penting Amerika mengenai teori interpretasi. Dalam presentasinya Hirsch meluruskan bahwa intensi pengarang harus menjadinorma dimana validitas “interpretasi” (penjelasan tentang makna verbal tulisan) diukur. Selanjutnya ia mengatakan bahwa intensi ini merupakan entitas yang menentukan dimana fakta-fakta obyektif dapat dikumpulkan dan bahwa, ketika fakta-fakta telah didapat, makna dapat dibuat dimana selanjutnya akan diakui secara universal sebagai sesuatu yang valid.

Tentu “makna verbal” tulisan yang ditentukan oleh analisis filosiofis intentsif (baik terhadap karya dan semua fakta-fakta eksternal yang menunjang intensi pengarangnya) dan “signifikansi” dimana karya yang sama yang ada saat ini merupakan dua persoalan yang berbeda. Tetapi ini merupakan poin penting Hirsch : kekeliruan yang senantiasa terjadi diciptakan oleh penyatuan “makna verbal” dan “signifikansi” (kebemaknaan bagi kita, dan kesalahan ini dia anggap berasal dari Gadamer, Bultmann, dan para teolog hermeneutik baru). Meminjam bahasa Betti, bedeutung (makna) harus dipisahkan dari bedeutsamkeit (signifikansi), atau filologi akan terpisah dan kemungkinan memperoleh hasil obyektif akan sirna. Integritas filologi dan obyektivitas terletak pada distingsi ini.

Tujuan hermeneutika, kata Hirsch. Bukan untuk mendapatkan “signifikansi” tulisan pada kita saat ini, tetapi untuk menjelaskan makna verbal itu sendiri. Hermeneutika adalah disiplin filologi yang menyusun kaidah dimana ketentuan makna verbal peristiwa yang valid akan tercapai. Esensinya, Hirsch mengatakan bahwa jika diyakini “makna” tulisan (dalam pengertian makna verbal) dapat berubah, maka tidak terdapat norma yang baku untuk memilah apakah peristiwa dapat ditafsirkan dengan baik.

Sebagai contoh, kalau seseorang mengakui “glass slipper” (sepatu kaca) dari makna verbal asli yang dimaksudkan pengarang, maka tidak ada cara untuk memisahkan Cinderella dari gadis-gadis lain. Inilah yang membuat Betti keberatan terhadap hermeneutika Gadamer : bahwa Gadamer tidak menyediakan wadah prinsip normatif dimana makna tulisan yang “benar” itu dapat ditentukan secara valid. Hirsch menjadikan makna verbal yang dimaksud pengarang sebagai norma dan selanjutnya mengkarakterisasikan makna verbal sebagai ketidak berubahan, peniruan kembali, dan ketetapan. Berikut kutipan tentang penjelasannya :

Oleh karena itu, ketika saya mengatakan bahwa makna verbal itu tetap, saya bermaksud bahwa ia merupakan entitas yang identik dengan sendirinya. Selanjutnya, saya juga bermaksud bahwa ia merupakan entitas yang selalu tetap sama itu dari satu momen ke momen selanjutnya – yaitu ketidak berubahan. Tentu saja criteria ini diimplikasikan dalam suatu kebutuhan bahwa makna verbal merupakan peniruan kembali, yaitu ia selalu sama dalam perbedaan bentuk penafsiran. Dengan demikian, makna verbal adalah substansinya sendiri dan bukan sesuatu yang lain, dan ia selalu sama. Itulah apa yang saya maksudkan dengan determinasi.

Hermeneutik disini mengetengahkan perangkat justifikasi teoritik bagi determinasi obyek interpretasi dan membentuk norma-norma dimana ketapan, ketidak berubahan, makna identik-diri dapat dipahami. Umumnya tugas itu juga untuk mengatakan landasan apa makna bisa dipilihketimbang yang lain, inilah persoalan validitas. Dalam pandangan Hirsch, hermeneutika yang tidak berurusan dengan validitas, bukanlah hermeneutika tetapi sesuatu yang lain.

Mengenai keberatan bahwa hermeneutika akan berurusan dengan signifikansi teks dan struktur atau mekanisme dimana makna verbal menjadi berarti bagi kita, Hirsch menegaskan bahwa ia merupakan wilayah penelitian sastra dan area-area yang lain dari hermeneutika.[1] Hermeneutika, jelasnya, merupakan “sesuatu yang sederhana, dan dalam pengertian yang lama, merupakan usaha filologis untuk mengetahui maksud pengarang”. Ini “hanya pondasi utama bagi kritisme”, tetapi ia bukan kritisme, ia adalah interpretasi. Hermeneutika dapat menggunakan analisis logis, biografi, dan bahkan hitungan kemungkinan yang baik, tetapi secara esensial ia tetap filologi.

Hermeneutika tidak memfokuskan perhatian pada proses subyektif pemahaman, atau tidak dalam kaitannya dengan makna yang dipahami sekarang (kritisme), tetapi berkaitan dengan persoalan menegahi antara makna yang dipahami supaya dapat menilai adil antara persoalan interpretasi yang mungkin. Ia akan membimbing para filsuf untuk memutuskan diantara beberapa kemungkinan apa makna yang paling mungkin dari tulisan itu.

Hirsch akan menyatakan bahwa menghubungkan teks dengan masa sekarang adalah persoalan yang riil, tetapi dia menolak hal itu terdapat dalam wilayah hermeneutika. Dengan posisi ini, dia harus menjelaskan bahwa makna verbal adalah sesuatu yang independent, tidak berubah dan tetap, dimana seseorang dapat menentukan sesuatu secara obyektif.

Ketika problem hermenutis didefinisikan secara sederhana sebagai problem filologis, maka seluruh perkembangan kompleks pemikiran abad ke-20 tentang pemahaman histories didorong keluar sebagai hal yang irelevan dengan penetapan praktis makna verbal. Tetapi dalam kenyataannya, problem hermeneutis tidak sesederhana problem filologis, dan ini tidak mungkin untuk memindahkan pada tempat terlantardengan definisi Aristotelian mengenai pemahaman teori. Hirsch mengatakan bahwa makna verbal dalam kenyataannya dipisah dari signifikansi karena :

1)  Kita bisa membedakan apa yang dimaksudkan karya itu pada pengarang itu sendiri dan apa yang dimaksudkan pada kita,

2)   Sebaliknya, makna objektif yang diulang akan tidak mungkin.

Fakta bahwa objek mental dapat ditampakkan dari beberapa perspektif tidak menjadikannya ketidak berubahan histories dan eternal; dan berargumen bahwa objektifitas sebaliknya akan menjadi tidak mungkin adalah sirkular, karena kemungkinan objektif dan pengetahuan ahistoris adalah persoalan tersendiri. Bagaimanapun, validitas distingsi antara makna dan signifikansi inilah, validitas seluruh pernyataan Hirsch tentang validitas bergantung.

Hirsch mengatakan : ” tindakan pemahaman awalnya adalah dugaan secara umum, dan tidak ada metode-metode untuk membuat dugaan, ataupun kaidah-kaidah yang menghasilkan persepsi. Aktifitas metodologi interpretasi dimulai ketika kita mulai menguji dan mengkritisi sangkaan kita”. Atau lebih khusus, “disiplin interpretasi mencakup gagasan-gagasan dan mengujinya….diperoleh tidak pada konstruksi metodologis tetapi pada logika pengesahan”. Hermeneutika bagi Hirsch bukan lagi logika pemahaman; ia adalah logika pengesahan.

Hirsch telah berhasil merumuskan dengan brilian tujuannya : yaitu, untuk mengkonstruk sistem tunggal untuk sampai pada makna yang dapat dibuktikan secara objektif. Manfaatnya adalah pertama, untuk membuat makna yang tetap, dia menyatakan bahwa norma atau standarnya harus selalu intensi dari pengarang. Kedua, guna membuat makna objektif ini, ia harus reproduksi dan tetap. Karenanya Hirsch menyatakan bahwa makna verbal, sebagai sebuah makna selalu sama, dan bahwa terpisah dan dapat dipisah dari makna itu sendiri dari kita, seperti yang terjadi dalam pemahaman.

dari berbagai sumber


[1]  Hermeneutic sebagai logika validitas meniadakan “pemahaman” pada satu sisi, dan kritisme pada sisi yang lain; ia merupakan sebuah ilmu atau seperangkat prinsip-prinsip bagi pengetahuan valid dari pengertian verbal teks. Misalnya interpretasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s