Islamisasi Ilmu

 A.           Sejarah dan Perkembangan

Semenjak Rasulullah diutus untuk memperbaiki akhlak manusia, mak saat itu keilmuan mulai diperbaharui. Setelah beliau menjadi pemimpin dan memberi nama aama yang dibawanya dengan sebutan Islam, peradaban pun mulai berubah. Keilmuan yang dulunya masih terpaku pada hal-hal yang abstrak, mulai dibawa menuju realitas kebudayaan.

Ajaran yang disampaikan Allah kepada Nabi saw mulai membuka cakrawala berpikir masyrakat pada saat itu. Mereka mulai dikenalkan dengan rasa sosial dan kekeluargaan dimana mereka diajarkan untuk menghargai nyawa manusia yang mana pada saat itu anak-anak mereka atau keluarga mereka yang akan membuat harga diri mereka jatuh akan langsung dibunuh. Pada saat itu berkembang paradigma sosial yang berpendapat bahwa anak perempuan adalah aib yang sangat besar dalm keluarga. Oleh karena itu Islam datang untuk mengubah paradigma tersebut dn mengenalkan hak asasi manusia (HAM) kepada masyarakat setempat. Pada masa ini Islamisasi ilmu baru sebatas kebudayaan, sosial dan teologi.

Islamisasi ilmu besar-besaran terjadi pada masa pemerintahan Harun al Rasyid dibawah kekuasaan dinasti Abbasiyah. Keilmuan barat baik dari segi sastra, filsafat, teologi maupun arsitektur peradaban mulai diterjemahkan dan diasimilisasi kedalam kebudayaan Islam. Dimana ilmu-ilmu yang lahir dan berkembang pada saat itu diadopsi sesuai dengan ajaran Islam sehingga seluruh keilmuan bersendikan nilai-nilai keislaman.

Akan tetapi pasca perang salib dimana peradaban Islam mengalami kemunduran yang sangat pesat, segala keilmuan yang tadinya berpusat di dunia Timur dipindahkan ke Barat. Apalagi setelah meletusnya revolusi Prancis yang diikuti dengan reinassance, keilmuan di Barat mengalami perkembangan besar-besaran dan melaju dengan pesat sampai sekarang ini. Dunia Timur yang dulunya menjadi pusat keilmuan sudah tidak berkutik menghadapi kemajuan dunia Barat. Hal ini diperkuat dengan lahirnya paham rasionalisme yang memusatkan keilmuan sesuai dengan akal manusia.

Walaupun begitu, perkembangan keilmuan ini juga tidak luput dari cacat. Seiring dengan berkembangnya paradigma bahwa manusia adalah pusat keilmuan (antroposentris), lahirlah paham ateis yang menafikan Tuhan dalam kehidupan manusia dan agama hanyasebagai sampingan saja sehingga lahir paham sekularisme yang memisahkan antara urusan manusia dan urusan keTuhanan.

Hal inilah yang kemudian dikritik oleh Syekh Muhammad Naquib al-Attas. Menurut beliau ada 5 faktor yang menjiwai kebudayaan dan peradaban Barat :

  1. Akal diandalkan untuk membimbing kehidupan manusia
  2. Bersikap dualistik terhadap realitas dan kebenaran
  3. Menjadikan aspek eksistensi yang memproyeksikan pandangan hidup sekular
  4. Membela doktrin humanisme
  5. Menjadikan drama dan eksistensi sebagai unsur-unsur yang dominan dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan.[1]

Masih menurut beliau, ilmu bisa dijadikan alat yang tepat untuk menyebarkan cara dan pandangan hidup sebuah kebudayaan. Oleh karena itu, ilmu itu bersifat sarat nilai. Keilmuan Barat dan cara pandang hidup umat Islam tentu saja sangat berbeda. Barat lebih menekankan akal sebagai pusat keilmuan dan menafikan wahyu, sedangkan dalam Islam wahyu adalah pusat ilmu pengetahuan dan akal digunakan untuk memahami wahyu tersebut didalam menghadapi realitas kehidupan. Tanpa wahyu, ilmu hanya menjangkau realitas yang terlihat tanpa mencoba untuk memahami alam lain yang tidak terlihat.

Kemudian beliau mengenalkan Islamisasi Ilmu untuk menghadapi westernisasi ilmu yang terjadi di Barat. Islamisasi ilmu ditujukan untuk memfilter keilmuan Barat yang tidak mengenal dunia akhirat, yang kemudian melepas batas dunia yang terlihat menuju dunia yang tidak terlihat (akhirat).

Jejak al Attas kemudian dilanjutkan oleh Ismail al Faruqi. Ia melihat kelemahan umat Islam terletak pada pada sistem pendidikan dualisme di negara-negara Islam sehingga kehidupan modern dan kebudayaan Barat mempengaruhi pandangan hidup umat Islam. Dalam bukunya yang berjudul Islamization of Knowledge : General principles and work plan, beliau mulai mempopulerkan istilah Islamisasi ilmu untuk melawan arus kebudayaan Barat di kalangan umat Islam.[2]

 

B.           Maksud dan Tujuan Isamisasi Ilmu

Menurut al Attas Islamisasi adalah pembebasan manusia dari budya magis, mitologis dan segala hal yang bertentangan dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, menurut beliau Islamisasi Ilmu adalah pembebasan ilmu dari penafsiran yang didasarkan pada ideologi, makna dan paham sekular Barat.[3]

Maksud beliau disini adalah menempatkan ilmu sesuai dengan fitrah Islam yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw yang bersandarkan pada Al Qur’an dan Hadis. Saat ini pengkajian ilmu telah mengalami dualisme, yaitu pemisahan antara wahyu Tuhan dengan kemampuan akal manusia. Dan pada tradisi Barat akal adalah dasar dalam mempelajari ataupun mengkaji ilmu pengetahuan. Terlebih lagi setelah mereka lelah dengan kekuasaan absolut gereja yang ikut mengatur tentang realitas alam semesta, yang pada akhirnya melahirkan sekularisme yaitu ilmu pengetahuan dan agama berdiri sendiri dan tidak terikat satu sama lain.

Hal ini tentu berbeda dengan ajaran Islam yang keilmuannya bersendikan Al Qur’an dan Hadis. Oleh karena itu, al Attas mencoba untuk mengeluarkan paham sekular keilmuan Barat agar tidak terserap oleh umat Islam didalam mempelajari suatu ilmu. Kemudian mengadopsi ilmu-ilmu yang datang dari Barat dengan memasukkan nilai-nilai keIslaman didalamnya dan menghapus paham-paham yang bertentangan dengan ajaran Islam sehingga ilmu-ilmu tersebut nantinya tidak akan membuat orang yang mempelajarinya lupa kepada ajaran agamanya.

Definisi yang sama juga disampaikan oleh al Faruqi. Beliau mengartikn Islamisasi Ilmu sebagai proses mengubah ilmu pengetahuan yang ada agar sesuai dengan nilai-nilai keIslaman. Yaitu mendefinisikan, menuyusun, memikirkan dan menstruktur ulang semua data, mengevaluasi ulang kesimpulan, mengatur ulang tujuan dan membuat disiplin baru keilmuan yang sesuai dengan syari’at Islam.[4]

Islamisasi bukan saja mengkritik budaya dan peradaban global Barat. Ia juga mentransformasi bentuk-bentuk lokal, etnik supaya sesuai dengan pandangan-alam Islam. Islamisasi adalah menjadikan bentuk-bentuk budaya, adat, tradisi dan lokalitas universal agar sesuai dengan agama Islam yang universal.[5]

Selanjutnya al Attas menjelaskan bahwasanya ada dua cara yang saling terkait didalam pelaksanaan Islamisasi ilmu, yaitu :

  1. Memisahkan unsur-unsur paham yang membentuk kebudayaan dan peradaban Barat dari setiap cabang ilmu yang berkembang saat ini, terutama pada ilmu humaniora. Disini beliau menyarankan kepada umat Islam agar bersifat kritis didalam menguji dasar-dasar landasan, konsep, teori serta nilai yang terdapat dalam ilmu modern.
  2. Memasukkan nilai-nilai keIslaman dan menjadikannya landasan setiap cabang keilmuan masa kini.[6]

Untuk itu orang yang ingin melaksanakan konsep Islamisasi ilmu ini hendaklah seseorang yang benar-benar mengerti tentang sejarah dan latar belakang lahirnya sebuah ilmu. Serta pemahaman yang mendalam tentang kebudayaan dan dasar-dasar keilmuan Barat, sehinga tidak mengubah maksud dari ilmu tersebut dan bisa dimanfatkan sesuai dengan ajaran Islam.

Adapun langkah-langkah Islamisasi ilmu yang dicanangkan oleh al Faruqi antara lain :

  1. Menguasai disiplin ilmu modern dan melakukan kajian yang mendalam terhadap ilmu-ilmu tersebut,
  2. Menguasai dan memahami ilmu-ilmu pokok Islam (turath),
  3. Mengkritisi ilmu-ilmu modern dan turath,
  4. Memahami keadaan umat Islam dan manusia lainnya,
  5. Menganalisa dan menyatukan anatara ilmu-ilmu modern dan turath,
  6. Mengubah disiplin ilmu modern agar berlandaskan nilai-nilai keIslaman,
  7. Menyebarkan ilmu baru yang didapatkan dari proses-proses diatas.[7]

 

C.           Kritik terhadap Islamisasi Ilmu

Menurut Fazlur Rahman, ilmu pengetahuan tidak bisa diIslamkan krena ilmu pengetahun adalah sesuatu yang murni dn terlepas dari kesalahan. Kesalahan yang terjadi adalah disebabkan oleh penggunanya, bukan ilmunya (value free). Akan tetapi lanjut beliau, ilmu itu seperti senjata bermata dua yang harus hati-hati dalam mengunakannya dan harus disertai tanggung jawab dalam megamalkannya.

Menurut Abdul Salam Khorus, Islamisasi ilmu pengetahuan adalah hal yang tidak logis dan tidak mungkin. Hal ini disebabkan realitas dan kebenaran keilmuan tidak terletak pada Islami atau tidak Islaminya sebuah ilmu, begitu juga proposisi kebenaran sains. Dalam ilmu pengetahuan terdapat pertanyaan dan jawaban terhadap permasalahan yng timbul dalam suatu ilmu, juga metode yang digunakan untuk menyelesaikannya dan kesemuanya itu tidak bisa diIslamkan.[8]


[1]  Armas, Adnin, Westernisasi Ilmu dan Islamisasi Ilmu, Insistnet.com, hal. 2

[2]  Zabidi, Mahfuz Muhammad, Islamisasi Ilmu : Suatu analisis Kritik, hal. 3

[3]  Ibid hal. 4

[4]  Ibid hal. 5

[5]  Armas, Adnin, Westernisasi Ilmu dan Islamisasi Ilmu, Insistnet.com, hal. 4

[6]  Zabidi, Mahfuz Muhammad, Islamisasi Ilmu : Suatu analisis Kritik, hal. 7

[7]  Ibid hal. 10

[8]  Opcit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s