Khusyu’ Dalam Al-Qur’an dan Hadis

Pengertian Khusyu’

Arti khusyu’ dalam bahasa Arab ialah al-inkhifaadh (merendah), adz-dzull (tunduk), dan as-sukuun (tenang). Seseorang dikatakan telah mengkhusyu’kan matanya jika dia telah menundukkan pandangan matanya. Secara terminology khusyu’ adalah seseorang melaksanakan shalat dan merasakan kehadiran Allah SWT yang amat dekat kepadanya, sehingga hati dan jiwanya merasa tenang dan tentram, tidak melakukan gerakan sia-sia dan tidak menoleh. Dia betul-betul menjaga adab dan sopan santun di hadapan Allah SWT. Segala gerakan dan ucapannya dia konsentrasikan mulai dari awal shalat hingga shalatnya berakhir.

Sedangkan menurut para ulama khusyu’ adalah kelunakan hati, ketenangan pikiran, dan tunduknya kemauan yang renadah yang disebabkan oleh hawa nafsu dan hati yang menangis ketika berada di hadapan Allah sehingga hilang segala kesombongan yang ada di dalam hati tersebut. jadi, pada saat itu hamba hanya bergerak sesuai yang diperintahkan oleh Tuhannya.[1]

Dalam Al-Qur’an kata khusyu’ disebutkan sebanyak 17 kali dalam bentuk kata yang berbeda. Meskipun mayoritas ditujukan kepada manusia namun ada juga sebagian ayat yang menyatakan bahwa khusyu’ berlaku juga untuk benda-benda yang lain seperti gunung dan bumi.

Imam Ibnul Qayyim ketika menjelaskan perbedaan antara khusyu’ iman dengan khusyu’ nifaq berkata : “Khusyu’ iman adalah: “khusyu’nya hati kepada Allah dengan sikap mengagungkan, memuliakan, sikap tenang, takut dan malu. Hatinya terbuka untuk Allah dengan keterbukaan yang diliputi kehinaan karena khawatir, malu bercampur cinta. Menyaksikan nikmat-nikmat Allah dan kejahatan dirinya sendiri. Dengan begitu secara otomatis hati menjadi khusyu’ yang kemudian khusyu’nya anggota badan. Adapun khusyu’ nifaq adalah : ia tampak pada permukaan badan dalam sifatnya yang dipaksakan dan dibuat-buat, sementara hatinya tidak khusyu’. Sebagian sahabat ada yang berkata: “Saya berlindung kepada Allah dari khusyu’ nifaq. Dikatakan kepadanya apa, “Apakah khusyu’ nifaq?” Ia menjelaskan “Jika badan kelihatan khusyu’ sementara hatinya tidak”.

Adapun pengertian hamba yang khusyu’ kepada Allah adalah : seorang hamba yang nafsu syahwatnya padam dan perasaan syahwatnya dalam hatinya tenang. Dengan begitu, dadanya menjadi terang dan di dalamnya terpancar cahaya agung. Maka kemudian matilah syahwat jiwanya, karena rasa takut dan adanya ketenangan yang memenuhi hatinya. Dengan begitu padamlah seluruh anggota badannya, hatinya tenang dan tuma’ninah kepada Allah . Ia berdzikir kepada-Nya dengan perasaan tenteram yang diberikan Rabb kepadaNya, dengan begitu, ia tunduk dan berserah diri kepada Allah . Sedangkan orang yang tunduk adalah orang yang tenang. Sebab yang disebut dengan tanah yang tenang adalah tanah yang tidak bergerak dan karenanya air bisa menggenang. Begitu pula hati yang tunduk, ia merasakan ketenangan dan kekhusyu’an, seperti belahan bumi yang tenang yang di atasnya air bisa mengalir kemudian menggenang di atasnya.

 

Ayat-ayat tentang Khusyu’

1)      Surah Al Baqarah ayat 45

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

Artinya :

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.

Kata khasyi’in dalam ayat ini merupakan bentuk jamak dari kata khasyi’ yang berarti orang yang merendahkan diri, menundukkan jiwa yang diperlihatkan oleh anggota badan dengan diam dan pasrah. Qatadah berkata : khusyu’ didalam hati maksudnya adalah sungguh-sungguh dalam melaksanakan shalat dengan memasrahkan diri sepenuhnya.

Sufyan as Tsauriy berkata : aku bertanya kepada al A’masy tentang khusyu’, beliau menjawab :”Engkau ingin menjadi imam bagi umat sedangkan engkau tidak mengetahui apa itu khusyu’”. Kemudian aku bertanya kepada Ibrahim an Nakh’I tentang khusyu’, beliau berkata :”engkau ingin menjadi imam bagi umat sedangkan engkau tidak mengetahui apa itu khusyu’. Khusyu’ itu bukanlah merendahkan diri dengan memakan makanan yang tidak baik ataupun memakai pakaian kasar dan menundukkan kepala. Melainkan jika kamu memandang seorang bangsawan dan rakyat biasa itu sama dalam hak (tidak membedakan status seseorang), dan kamu tunduk kepada Allah setiap kali kamu melakukan kewajiban yang diberikannya kepadamu”.

Umar bin Khattab ketika melihat seorang pemuda yang menundukkan kepalanya, beliau berkata : “apa yang terjadi? Angkatlah kepalamu, sesungguhnya menundukkan kepalamu seperti itu tidak akan menambah apapun yang ada di dalam hati”.

Ali bin Abi Thalib berkata : “khusyu’ itu ada di dalam hati. Hendaklah kamu bersikap lemah lembut secukupnya kepada seorang muslim dan hendaklah kamu memperhatikan shalatmu”. Pengertian ini juga terdapat dalam surah al Mukminun ayat 2. Barangsiapa yang tunduk kepada seseorang sedangkan hatinya tidak, maka jelaslah ia seorang penipu.

Sahal bin Abdulah berkata : “seseorang itu tidak disebut rendah diri hingga tunduk setiap helai rambut yang ada di tubuhnya”. Al Kurtubi berkata : “inilah khusyu’ yang terbaik karena ketakutan didalam hati mengharuskan untuk tunduk secara nyata. Orang yang khusyu’ itu tidak memiliki kelemahan melainkan ia terlihat sebagai seorang pemikir yang terpelajar lagi rendah diri. Orang-orang khusyu’ dalam ayat ini adalah orang yang beriman.[2]

 

2)      Surah Ali Imran ayat 199

وَإِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ لِلَّهِ لَا يَشْتَرُونَ بِآَيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Artinya :

Dan sesungguhnya diantara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya.

Khusyu’ dalam ayat ini maksudnya adalah sikap tunduk atau rendah diri, memperhatikan sesuatu yang ada didalam hati.[3]

 

3)      Surah Al Isra’ ayat 109

وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا

Artinya :

Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.

Khusyu’ disini adalah menundukkan kepala ketika mendengarkan Al Quran, sikap rendah diri terhadap semua orang serta bijak dalam menentukan sesuatu.[4]

 

4)      Surah Al Anbiya’ ayat 90

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Artinya :

Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.

Orang-orang khusyu’ disini adalah orang-orang yang pasrah kepada Tuhannya dan merendahkan diri.[5]

 

5)      Surah Al Mukminun ayat 2

الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

Artinya :

(yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.

Khusyu’ disini maksudnya adalah serius dalam melaksanakan shalat, tidak ada kesombongan dan niat bermain-main didalamnya. Maknanya adalah tunduk dan merendahkan diri ketika berada di hadapan Tuhannya. Khusyu’ itu letaknya didalam hati, jika seseorang telah khusyu’ maka seluruh anggota tubuhnya akan tunduk mengikutinya. Ulama jika melakukan shalat, timbullah rasa takutnya kepada Allah dan tubuhnya bergerak mengikuti sesuatu, sedangkan jiwanya memberitahukan sesuatu tentang dunia.[6]

Sedangkan menurut Ibnu Katsir khusyu’ disini maksudnya adalah takut dan tenang. Dan adapun pengertian khusyu’ menurut beliau adalah ketenangan, tuma’ninah, pelan-pelan, ketetapan hati, tawadhu’ serta merasa takut dan selalu merasa diawasi Allah Ta’ala.[7]

Dari Abi Hurairah r.a berkata bahwa dahulu Rasulullah saw bila shalat mengarahkan pandangannya ke langit. Maka turunlah ayat: yaitu orang yang di dalam shalatnya khusyu’. Maka beliau menundukkan pandangannya. (HR. Al-Hakim).[8]

 

Hadis-hadis tentang Khusyu’

Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah saw bersabda, yang artinya: “Tujuh golongan yang mendapat naungan Allah pada suatu hari yang tidak ada naungan kecuali naungan Allah; …(dan disebutkan di antaranya) seseorang yang berdzikir (ingat) kepada Allah dalam kesendirian (kesunyian) kemudian air matanya mengalir.” (HR: Al-Bukhari, Muslim dan lain-lainya)

Nabi saw bersabda, yang artinya: “Barangsiapa yang mengingat Allah kemudian dia menangis sehingga air matanya mengalir jatuh ke bumi niscaya dia tidak akan diazab pada hari Kiamat kelak.” (HR. al-Hakim dan dia berkata sanadnya shahih)

Dari Abu Hurairah r.a, Nabi saw bersabda, yang artinya: “Semua mata (manusia) pada hari Kiamat akan menangis kecuali (ada beberapa orang yang tidak menangis) (pertama) mata yang terjaga dari hal-hal yang diharamkan Allah, (kedua) mata yang dipergunakan untuk berjaga-jaga (pada malam hari) di jalan Allah, (ketiga) mata yang menangis karena takut pada Allah walau (air mata yang keluar itu) hanya sekecil kepala seekor lalat” (HR: Ashbahâny)

Dari Bahaz Bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya semoga Allah meridhai mereka, kakeknya berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, “Diharamkan neraka membakar tiga golongan manusia yang disebabkan matanya, (pertama) mata yang menangis karena takut pada Allah, (kedua) mata yang dipergunakan untuk berjaga-jaga (begadang) di jalan Allah, (ketiga) mata yang terpelihara dari hal-hal yang diharamkan Allah.” (HR: At-Thabrani, Al-Baghawi dan yang lainnya, al-Hakim mengatakan hadits ini shahih dan disepakati oleh adz-Dzahabi)

Diriwayatkan dari Zaid bin Arqam bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam berdo’a : “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak puas, dan do’a yang tidak dikabulkan.
(HR. Muslim no.2722)

Dari Syaddad bin ‘Aus bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya perkara yang pertama kali dicabut dari manusia adalah kekhusyu’an.” (HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabiir no. 7138, diriwayatkan secara marfu’)

 

Tempat dan Hukum Khusyu’

Tempat khusyu’ adalah hati, sedangkan buahnya akan tampak pada anggota badan. Anggota-anggota badan hanya mengikuti hati. Jika kekhusyu’an rusak akibat kelalaian, kelengahan, serta was-was, maka rusaklah ubudiyah anggota badan yang lain. Sebab hati diibaratkan raja, sedangkan anggota badan lainnya sebagai pasukan dan tentaranya. Kepadanya mereka taat dan darinyalah sumber segala perintah. Jika sang raja dipecat dengan bentuk hilangnya penghambaan hati, maka hilanglah rakyat yaitu anggota-anggota badan lainnya.

Khusyu’ dalam shalat bisa dicapai oleh siapapun yang mampu mengosongkan hatinya hanya untukNya, disibukkan hanya denganNya dan lebih mengutamakan Allah dari selainNya. Saat itulah shalat menjadi ruang peristirahatan sekaligus penyejuk matanya.[9]

Adapun hukum khusyu’ dalam shalat adalah wajib. Ibnu Taimiyah berkomentar tentang surah Al-Baqarah ayat 45, beliau berkata : “hal ini mengandung celaan atas orang-orang yang yang tidak khusyu’ dalam shalat, sementara celaan tidak terjadi kecuali atas ditinggalkannya hal yang wajib atau karena keharaman yang dilakukan. Jika orang-orang yang tidak khusyu’ dalam shalat mendapatkan celaan, hal itu menunjukkan wajibnya khusyu’.”

Jadi jika khusyu’ dalam shalat merupakan kewajiban, yaitu yang mencakup ketenangan dan ketundukan, maka barangsiapa yang sujud sebagaimana mematuknya burung gagak, berarti ia tidak khusyu’ dalam sujudnya. Begitu pula siapa yang mengangkat kepalanya di dalam ruku’ dan ia bersikap tidak tenang sebelum seluruh anggota badannya tenang, berarti ia dianggap tidak tenang. Sebab hakikat ketenangan adalah tuma’ninah. Barangsiapa tidak tuma’ninah ia belum dikatakan tenang. Dan barangsiapa tidak tenang, ia belum dikatakan khusyu’ dalam ruku’ dan sujudnya. Dan barangsiapa yang tidak khusyu’ ia berdosa dan bermaksiat. Bukti lain yang menunjukkan kewajiban khusyu’ dalam shalat adalah bahwa Nabi saw mengancam mereka yang meninggalkannya, misalnya orang yang mengarahkan pandangannya ke langit, maka gerakan dan pandangannya ke arah langit tersebut berlawanan dengan ihwal orang yang khusyu’.[10]

 

Hal-hal yang Dapat Mendatangkan Khusyu’

Ibnu Taymiah dalam hal ini mengatakan bahwa ada dua hal yang dapat mewujudkan khusyu’ didalam shalat.

1)      Kuatnya hal-hal yang mendorongnya, yaitu usaha keras hamba untuk memikirkan apa yang ia ucapkan dan lakukan, menghayati dan merenungi bacaan, dzikir dan do’anya, serta menyadari sepenuhnya bahwa ia sedang bermunajat di hadapan Allah dan Dia melihatnya, sebab seorang yang sedang shalat dengan berdiri berarti ia sedang bermunajat kepada Rabbnya.

2)      Lemahnya hal-hal yang mengganggunya, yaitu menghilangkan rintangan, adalah upaya seorang hamba untuk menolak apa yang mengganggu hatinya, semisal berfikir tentang hal-hal yang tidak bermanfaat, serta upaya menghilangkan fikiran-fikiran yang menyeret hati dari tujuan utama shalatnya. Dalam hal ini setiap hamba tentu berbeda-beda kemampuannya.

 

Adapun langkah-langkah untuk mendapatkan kekhusyu’an di dalam shalat antara lain :

a)      Bersiap diri sepenuhnya untuk shalat

b)     Tuma’ninah

c)      Mengingat mati di saat shalatmu

d)     Menghayati makna bacaan shalat

e)      Meyakini bahwa Allah akan mengabulkan permintaannya saat hamba sedang shalat

f)      Melihat ke arah tempat sujud

g)     Memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syetan

h)     Menghilangkan sesuatu yang mengganggu di tempat shalat

i)       Menghindari shalat dalam keadaan menahan buang air kecil maupun besar dan dalam keadaan mengantuk.

j)       Jangan shalat di belakang orang yang sedang bercakap-cakap ataupun tidur.

k)     Tidak menjulurkan pakaian hingga menyentuh tanah.[11]

 

Tingkatan Khusyu’

Adapun tingkatan khusyu’ antara lain :

1. Gemetarnya Hati
2. Merindingnya Kulit
3. Tangisan
4. Lembutnya Hati dan Kulit
5. Ketenangan
6. Ketawadhu’an
7. Ketentraman (Thuma’niinah)

 

Keutamaan Khusyu’

Adapun keutamaan khusyu’ antara lain :

1. Beruntunglah Orang-Orang yang Khusyu’
2. Memperoleh Ampunan
3. Mendapatkan Pahala yang Besar
4. Khusyu’ adalah Faktor Keberuntungan
5. Khusyu’ adalah Jalanmu Menuju Surga
6. Khusyu’ adalah Kokoh di Atas Manhaj Allah[12]

Dan sifat-sifat orang yang khusyu’ antara lain :

1. Takut kepada Allah
2. Menangis karena Takut kepada Allah
3. Bersabar terhadap Apa yang Menimpa Mereka
4. Mendirikan Shalat
5. Mengeluarkan Zakat
6. Mengagungkan Syi’ar-Syi’ar Allah dan Ayat-Ayat-Nya
7. Beriman kepada Allah dan Kitab-Nya
8. Yakin terhadap Perjumpaan dengan Allah dan bahwa Mereka akan Kembali.

 

Kesimpulan

Khusyu’ sering juga diartikan dengan ketenangan dan kehati-hatian dalam melakukan shalat, dan hilangnya kesombongan yang ada di hati manusia sehingga jika manusia melakukan shalat dengan khusyu’, maka dia akan mendapatkan ketenangan hati dan merasakan manisnya iman di dalam melaksanakan ibadah. Selain itu Allah juga akan memberikan mereka pengetahuan dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dengan begitu, manusia akan lebih sadar dan tahu apa maksud hidupnya serta untuk apa dia hidup.

Khusyu’ juga memiliki tingkatan dan hikmah yang banyak buat kehidupan manusia. Sehingga wajarlah jika sebagian ulama mewajibkan khusyu’ dalam melakukan shalat. Hal itu berdasarkan pemahaman mereka tentang ayat-ayat dan hadis-hadis yang membahas tentang khusyu’. Walaupun bagi kebanyakan manusia hal itu termasuk sulit dilakukan, tapi tidak ada salahnya untuk dicoba karena Allah tidak akan menyuruh manusia melakukan hal yang tidak bermanfaat bagi mereka.

DAFTAR PUSTAKA

E Book Al Qur’an Digital

E Book Tafsir Al Qurtubi

Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, Beruntunglah Orang-orang yang khusyu’,  Pustaka Ibnu Katsir

www.eramuslim.com/ustadz/shl/4556dca3.htm

Tafsir Ibnu Katsir, cet. Darus Syi’b

Syaikh Muhammad bin Shalih al Munajjid, 33 Kiat Mencapai Kekhusyu’an dalam shalat, At-Tibyan, Solo


[1]  Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, Beruntunglah Orang-orang yang khusyu’,  Pustaka Ibnu Katsir

[2]  Tafsir al Kurtubi

[3]  Ibid

[4] Ibid

[5]  Ibid

[6] Ibid

[7]  Tafsir Ibnu Katsir, cet. Darus Syi’b,  jilid VI, hal. 414

[8]  www.eramuslim.com/ustadz/shl/4556dca3.htm

[9]  Tafsir Ibnu Katsir, jilid V, hal. 456

[10] Lihat  Majmu’ Fataawa jilid 22, hal. 553-558

[11] Syaikh Muhammad bin Shalih al Munajjid, 33 Kiat Mencapai Kekhusyu’an dalam shalat, At-Tibyan, Solo

[12] Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, Beruntunglah Orang-orang yang khusyu’,  Pustaka Ibnu Katsir

5 responses to “Khusyu’ Dalam Al-Qur’an dan Hadis

  1. Subhanallah.. sangat bermanfaat ilmux!! izin di ambil unt referensi dakwah.. syukran

  2. 2:45
    SAHIH INTERNATIONAL
    And seek help through patience and prayer,
    and indeed, it is difficult
    except for the humbly submissive [to Allah ]
    INDONESIAN
    Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.
    Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat,
    kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,
    TRANSLITERATION
    WastaAAeenoo bissabriwassalati
    wa-innaha lakabeeratunilla AAala alkhashiAAeen
    2:46
    SAHIH INTERNATIONAL
    Who are certain that they will meet their Lord
    and that they will return to Him.
    INDONESIAN
    (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya,
    dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.
    TRANSLITERATION
    Allatheena yathunnoonaannahum mulaqoo rabbihim
    waannahum ilayhi rajiAAoon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s