Memory 3 (25-12-2008)

Cerita ini berawal pada suatu pagi sekitar jam 10an, aku duduk termenung di kelas yang sangat ribut karena tidak ada guru. Kebetulan pada saat itu pandanganku tepat menghadap kearah luar pintu, ke arah asrama putri. Disana terlihat dua orang adik kelasku yang baru keluar dari kamar dan beranjak ke kelas. Yang satu bernama Indalipah, dan yang satunya bernama Sari (mungkin, karena aku tidak ingat jelas siapa nama temannya).

Ketika keduanya tepat berada di depan kelasku yang otomatis pandanganku terarah padanya, sari meminta iin (panggilan Indalipah) untuk memperbaiki jilbabnya. Setelah selesai, iin langsung maju untuk berjalan dan secara tidak sengaja matanya bertemu dengan mataku yang fokus menatapnya (padahal pada saat itu aku lagi melamun). Spontan ia terdiam sejenak dan langsung berlindung di balik punggung temannya seperti orang yang malu ketika bertatapan langsung dengan lawan jenis.

Kebetulan pada saat itu kelasku cepat selesai dan aku duduk di pelataran asrama sambil memandangi sekolah. Tidak lama kemudian iin keluar dari kelas dan ketika melihatku, ia langsung menutupi wajahnya dengan buku sambil sesekali curi-curi pandang. Aku bingung melihat sikapnya itu, maklum masih anak-anak karena pada saat itu umurku belum mencapai 13 tahun. Kebingunganku akhirnya terjawab ketika esok paginya aku berjalan untuk mencari sarapan pada istirahat pertama. Saat melewati kelas iin, aku melihat dia bersembunyi dariku dan sari mengatakan ada surat buatku. Seketika sebuah kertas berisikan kata-kata cinta melayang tepat dihadapanku (yah kelas mereka kan ada dilantai 2, hehehe). Kata-katanya begitu indah, aku hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum.

Akhirnya aku memberanikan diri untuk berbicara dengannya dan kamipun semakin akrab.  Tak terasa perasaan itupun tumbuh dan aku semakin suka padanya, bisa dibilang ini cinta karena aku merasa sangat kehilangan dan merindukannya ketika dia pulkam pas liburan, bahkan aku sangat bahagia ketika sempat bermimpi dia sudah datang.

Hubungan itu berjalan baik dan selayaknya anak pesantren yang menjalaninya dengan Islami. Sampai akhirnya ketika saat ujian kenaikan kelas sudah berakhir, ibuku datang menjemput dan mengatakan bahwa kakakku kabur ke Jakarta dan meninggalkan kuliahnya. Akupun dipaksa pulang ke Riau walaupun sebenarnya aku sangat ingin tinggal lebih lama di Banjarmasin. Dan yang membuat aku sangat menyesal adalah aku tidak sempat mengucapkan selamat tinggal kepada iin, aku seolah-olah langsung menghilang begitu saja dari hadapannya. Dan sampai saat ini aku juga tidak pernah memberi kabar kepadanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s