Memory 4 (23-4-2009)

Cerita ini berawal hampir 7 tahun yang lalu, kira-kira awal bulan Agustus 2002. Tahun itu merupakan tahun yang menyenangkan bagiku karena bisa mengurus semua urusan sekolah sendirian tanpa campur tangan ortu. Mulai dari surat-surat kelulusan SMP hingga lulus masuk SMA. Tepatnya aku masuk di Madrasah Aliyah Negeri, satu-satunya MA negeri di kampungku, dengan jurusan keagamaan atau yang lebih dikenal MAK. Pertama kali masuk ke kelas aku bertemu dengan teman-teman yang menyenangkan dan perfect, semua jenis remaja ada disana.

Aku tidak tau bagaimana ini bermulai, tapi aku suka mengejek salah satu cewek di kelasku. Sebut saja dia Memel. Dia termasuk orang yang termungil di kelas walaupun aku juga gak tinggi (waktu itu cuma 150cm). aku sering menyebutnya “ucil” yang artinya mungil. Lama kelamaan kami semakin akrab dan aku merasa suka padanya. Setelah lebaran idul fitri, aku memberanikan diri untuk menembaknya. Dan dia menolakku dengan berkata “aku masih kecil (terlalu muda) untuk pacaran, aku tak bisa”. Aku menerima jawabannya karena dia memang benar. Waktu itu umurnya baru 13 tahun dan umurku 14 tahun. Aku pun mengatakan padanya “aku tunggu sampai tahun depan, tak mungkin kelas 2 SMA masih dibilang kecil”.

Waktu semakin berlalu, hari-hari kami lalui dengan belajar dan bermain bersama dengan teman-teman lainnya. Seluruh kelas tau aku suka sama memel dan mereka mendukung aku. Aku semakin akrab dengannya dan tau banyak tentang dirinya hingga kenaikan kelas pun tiba dan kami sudah setingkat diatas. MOS (masa orientasi siswa) digelar untuk mengenalkan sekolah kepada siswa-siswi baru. Pada waktu itu aku dengar rumor kalo memel pacaran dengan siswa baru, adek kelas kami. Sebut saja dia Said, berperawakan tinggi besar, termasuk kalangan bangsawan Melayu dan anak salah seorang guru di sekolahku.

Awalnya aku tidak percaya dengan gosip itu karena teman-temanku memang hobi gosip sampai aku lihat sendiri mereka sering berduaan dan jalan bersama tiap waktu istirahat. Teman-temanku pun mulai mengomporiku dan berkata “masa’ kau kalah sama said, kau jauh lebih tampan daripada dia yang dekil itu”. Akhirnya ku tanyakan sendiri kepada memel tentang kebenaran rumor itu. Dia tidak menolaknya dan itu terasa sangat menyakitkan bagiku setelah setahun menunggu. Itu awal aku mulai membenci cinta dan inspirasiku untuk meneliti cinta agar aku tau apa rahasia dari cinta itu sendiri. Aku pun berkata padanya “mulai saat ini, bagiku cinta dan wanita itu adalah mainan” dan aku berkata pada diriku sendiri “aku akan membuatmu jatuh cinta padaku dari rasa bencimu padaku, semakin besar rasa bencimu, sebesar itu pula rasa cintamu padaku. Selama rasa benci itu ada di dalam hatimu, selama itu pula kau tidak akan bisa melupakan aku”.

Sejak saat itu sikapku mulai berubah padanya. Aku mulai sering menyakitinya dan terkadang menunjukkan rasa cintaku padanya dengan cara yang lembut seperti layaknya seorang pencinta. Kami mulai sering bertengkar, hampir tiap kali bertemu kami selalu berantem. Entah itu di kelas, di kantin ataupun di lapangan olahraga. Aku tidak tau sudah berapa kali aku menyakitinya, membuat dia menangis dan benar-benar seperti boneka yang bisa ku mainkan sesuka hati. Terkadang aku iba melihat dia menangis, tapi sayang semua perasaanku telah hilang karena rasa sakit itu telah membutakan hatiku. Tapi ketika hatiku berada dalam keadaan tenang, akupun meminta maaf, cuma sekedar maaf karena besoknya aku menyakitinya lagi.

Setengah tahun berlalu, dia mulai tidak tahan dengan sikapku. Dia mulai berontak dan berkata padaku kalau dia ingin pindah kelas. Tentu saja hal itu tidak mungkin, karena kelas kami adalah kelas khusus, pelajaran yang khusus dan memang tidak diajarkan di kelas lain. Pelajaran yang ada di kelas lain juga tidak diajarkan pada kami. Aku cuek saja menanggapi perkataannya itu sedangkan teman-teman yang lain berusaha membujuknya agar dia tidak jadi pindah kelas. Permainan ini tetap berlangsung setiap hari, pertengkaran dan tangisan menghiasi hari-hari kami di kelas. Pernah suatu kali dia berkata padaku “kau tu bukan manusia, kau tu setan, kau tak punya perasaan. Belum puaskah kau nyakiti aku?” aku hanya mengangkat bahu dan pergi keluar kelas dengan santai.

Kelas 3 adalah momen yang penting bagiku. Setengah tahun pertama ku awali dengan kejahatan dan kenakalan. Sudah setahun aku mempermainkan memel, menyakiti perasaannya hingga aku melihat ada cinta di matanya. Dia juga sudah terlihat enjoy dengan permainanku dan mulai menikmatinya. Terkadang dia bahkan bisa membalikkan keadaan dimana aku yang merasa terpojok dengan sikapnya. Aku tetap melanjutkan permainanku dan aku melihat cinta itu semakin besar. Siapa sih yang bisa menyembunyikan rasa cinta dari tatapan matanya ketika dia bertemu dengan orang yang dicintainya?

Setelah ku rasa cinta itu cukup, akupun bertanya padanya “apakah kau mencintaiku?” tentu saja respon yang ku terima adalah penolakan walaupun tatapannya adalah kebalikan dari pernyataannya. Hal ini sering ku tanyakan dan aku mendapat jawaban yang sama hingga semester akhir menghampiri kami dimana kami harus serius belajar untuk menghadapi UNAS. Aku pun mulai merasa bosan dengan permainan ini sampai pada suatu pagi ketika aku dan teman-teman sekelas lagi ngumpul di kantin. Entah bagaimana hal itu dimulai, akupun mengatakan kepada teman-teman bahwa cinta itu adalah mainan. Memel langsung berontak dan mengatakan bahwa cinta itu adalah anugerah dari Tuhan. Aku pun menyanggahnya dan kami bertengkar lagi hingga perkataan dari temanku membuatku tersadar. Dia berkata “kalian ini dimana saja selalu bertengkar, kalau-kalau nanti jadi suami-isteri”. Aku tertegun mendengarnya dan aku menolak kata-kata terakhirnya, “dia bukan jodohku” hatiku berkata.

Sore harinya ketika kami sedang menunggu guru yang akan memberikan les tambahan untuk persiapan UNAS, aku menghampiri memel yang duduk sendirian di depan ruang guru. Aku menyapanya dan berkata “kita sudahi saja permainan ini, aku dah lelah dan bosan”. Dia menatapku dengan sedih seolah-olah tak rela kalau hal itu terjadi dan berkata “kenapa?”. Aku menghela napas dan menjawab “kata-kata dari wahyu (nama temenku) tadi pagi menyadarkanku. Kita tak mungkin bersama terus apalagi sampai menikah karena kau bukan jodohku”. Aku tidak tahan dengan tatapan sedihnya dan beranjak ke kelas.

Sejak saat itu aku jarang menyapanya lagi dan aku bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu diantara kami. Terkadang dia menyapaku dan hanya ku tanggapi dengan sikap dingin. Hal ini berlangsung hingga unas tiba dan kami mulai belajar ekstra agar lulus agar bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Dengan susah payah akhirnya aku dan semua teman sekelasku lulus, kami pun mulai mempersiapkan agenda perpisahan. Suatu sore ketika aku sedang duduk sendiri di pojokan kelas merasakan suara alam yang indah, memel datang menghampiriku dan duduk disampingku. Aku hanya menatap ke depan seakan-akan tidak ada orang disampingku. Dia menyapaku dan berkata “aku muna ya?” aku tertegun sejenak dan tertawa kecil. “baru sadar ya? Sakit kan jadi munafik, tidak mengakui perasaan sendiri?” memel menjawab “iya, tapi aku bingung dengan sikapmu. Kadang kau tu baik betul tapi lebih sering jahat sama aku”. Aku hanya bisa tertawa dan memberikan saran kepadanya “kalau kau memang suka sama seseorang, kalau kau memang cinta sama dia, bagaimanapun dia kau harus bisa menerima dia apa adanya dan kau ungkapkan perasaan kau kepadanya sebelum kau kehilangan dia. Kita tidak akan merasa memiliki sebelum kita kehilangan”.

Itulah akhir dari segalanya, aku tidak tahu pasti bagaimana perasaannya padaku sekarang setelah 4 tahun berpisah. Yang ku tau pasti, dia masih belum bisa melupakanku walaupun dia tidak begitu berharap padaku dan dia mewarisi satu sifat asliku, cuek tapi selalu bisa mengatasi keadaan. Setiap pulkam aku pasti menyempatkan diri untuk bertemu dengannya, sekedar buat silaturahmi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s