Penerbitan Al-Qur’an

Al Qur’an Pasca Usman bin ‘Affan

Setelah Al Qur’an  ditulis ulang menjadi satu mushaf penuh, mushaf-mushaf awal tersebut dikirim ke berbagai kota yang menjadi pusat perselisihan umat Islam bersama dengan qari’nya yang membimbing mereka dalam membaca Al Qur’an tersebut.

Sampai sekarang, setidaknya masih ada empat mushaf yang disinyalir adalah salinan mushaf hasil panitia yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit pada masa khalifah Usman bin Affan. Mushaf pertama ditemukan di kota Tasyqand yang tertulis dengan Khat Kufy. Dulu sempat dirampas oleh kekaisaran Rusia pada tahun 1917 M dan disimpan di perpustakaan Pitsgard (sekarang St.Pitersburg) dan umat Islam dilarang untuk melihatnya.

Pada tahun yang sama setelah kemenangan komunis di Rusia, Lenin memerintahkan untuk memindahkan Mushaf tersebut ke kota Opa sampai tahun 1923 M. Tapi setelah terbentuk Organisasi Islam di Tasyqand para anggotanya meminta kepada parlemen Rusia agar mushaf dikembalikan lagi ketempat asalnya yaitu di Tasyqand (Uzbekistan, negara di bagian asia tengah).

Mushaf kedua terdapat di Museum al Husainy di kota Kairo, Mesir dan mushaf ketiga dan keempat terdapat di kota Istambul, Turki. Umat Islam tetap mempertahankan keberadaan mushaf yang asli apa adanya.

Adapun orang yang pertama kali membuat tanda baca dalam Al Qur’an adalah Abu al Aswad ad Du’aly. Beliau menulis atas izin dan perintah khalifah Umar bin Khattab yang menginginkan agar Al Qur’an bisa dibaca oleh orang-orang non Arab sesuai dengan bacaannya yang berlafazkan bahasa Arab yang fasih. Beliau memberikan tanda titik berupa titik merah pada akhir huruf di setiap kata.  Kemudian usaha beliau dilanjutkan oleh generasi selanjutnya yang salah satunya bernama Nashr bin ‘Asim al Laithi, beliau membuat tanda baca yaitu berupa titik untuk membedakan huruf yang memiliki karakter yang sama.[1]

Pada masa kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah, berkembang berbagai jenis ilmu-ilmu Al Qur’an, terutama pada masa Dinasti Abbasiyah. Pada masa ini disiplin ilmu membaca Al Qur’an telah diterapkan, antara lain : ilmu tajwid, ilmu Qira’ah dan ilmu-ilmu Tafsir untuk memahami Al Qur’an sesuai dengan keadaan pada masa itu.

 

Pencetakan dan Penerbitan Al Qur’an

Pada masa Dinasti-dinasti Islam hingga sebelum abad ke 16 M, Al Qur’an diperbanyak dengan cara ditulis oleh para juru tulis yang dipercaya dengan menyandarkan tulisan mereka kepada Mushaf Imam yang ada di Madinah. Karena semakin lama umat Islm semakin banyak dan daerah kekuasaan Dinasti Islam juga sudah menyentuh daerah-daerah diluar Arab, maka semakin banyak mushaf yang diperlukan untuk diajarkan kepada orang-orang non Arab. Sehingga dibutuhkan banyak penulis dan alat-alat tulis. Pada masa ini Al Qur’an mulai didistribusikan dengan menggunakan bayaran untuk membalas jasa juru tulis dan sebagai ganti atas alat-alat tulis yang terpakai untuk menyalin Al Qur’an tersebut.

Ketika di Inggris terjadi revolusi industri pada abad ke 16 M dan mesin cetak ditemukan dan telah dimodifikasi serta diperbanyak, maka Al Qur’an mulai diterbitkan secara massal. Al Qur’an pertama kali dicetak pada tahun 1964 di Hamburg, Jerman. Naskah tersebut dilengkapi dengan tanda baca. Kemudian umat Islam mulai menggunakan mesin cetak untuk menerbitkan Al Qur’an yang pertama kali diterbitkan di St. Pitersburg, Rusia pada tahun 1787 M dan dikenal dengan Mushaf Malay Usman.

Hal serupa juga diikuti oleh penerbit lainnya, yaitu di Kazan pada tahun 1828, di Persia pada tahun 1838 dan Turki pada tahun 1877 M. Kemudian seorang orientalis Jerman yang bernama Fluegel, menerbitkan Al Qur’an yang lengkap dengan pedoman bacaan. Akan tetapi, terbitan Jerman yang disebut dengan edisi Fluegel ini mengandung cacat yang fatal karena sistem penomoran ayat tidak sesuai dengan sistem penomoran yang ada pada mushaf standar. Oleh karena itu, pada abad ke 20, umat Islam mulai mencetak Al Qur’an dengan menggunakan penerbit sendiri yang mendapat pengawasan dri para ulama agar tidak terjadi kesalahan cetak.

Cetakan Al Qur’an yang banyak digunakan oleh umat Islam pada masa sekarang adalah cetakan Mesir yang dikenal dengan edisi Raja Fuad, selaku pelopor dan pencetus ide penerbitan Al Qur’an secara massal dan dikirim ke seluruh dunia. Edisi ini ditulis berdasarkan qira’at ‘Ashim riwayat Hafsah yang dicetak pertama kali pada tahun 1344 H/1925 M.

Pada tahun 1947 M, Al Qur’an pertama kali dicetak dengan menggunakan teknik desain huruf-huruf yang indah dan teknik cetak offset yang canggih atas usulan seorang ahli kaligrafi terkemuka di Turki yang bernama Syaikh Badiuz Zaman Said An-Nursi.[2]

 

Al Qur’an Pasca Pencetakan

Setelah Al Qur’an dicetak secara massal dibawah pengawasan ulama-ulama Al Qur’an dan disebarkan ke seluruh dunia, maka umat Islam tidak mendapatkan kesulitan lagi di dalam membaca Al Qur’an. Seiring dengan hal itu, perbedaan bahasa yang digunakan oleh umat Islam non Arab menjadi kendala tersendiri didalam memahami Al Qur’an. Oleh karena itu, usaha untuk menerjemahkan Al Qur’an ke dalam bahasa ‘ajam (non Arab) mulai dilakukan.

Al Qur’an pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh orang-orang Barat untuk keperluan biara Clugni sekitar tahun 1145 M dan diterbitkan pada tahun 1543 di Bastle oleh penerbit Bibliander. Kemudian Al Qur’an diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman oleh Schiweigger pada tahun 1616 M di Nurenberg. Al Qur’an juga diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis oleh Du Ryer diterbitkan pada tahun 1647 M di Paris dan oleh Savari yang diterbitkan pada tahun 1783, ke dalam bahasa Rusia yang diterbitkan di St. Petersburg pada tahun 1776. Dan menyusullah tokoh-tokoh jerman lainnya yang menerjemahkan Al Qur’an ke dalam bahasa mereka, yaitu Boysen pada tahun 1773, Wahl pada tahun 1828 dan Ullman pada tahun 1940 M. Adapun terjemahan ke dalam bahasa Inggris yang dianggap paling lengkap dan digunakan hingga sekarang adalah The Holy Qur’an yang dilakukan oleh Abdullah Yusuf Ali pada tahun 1934.

Sedangkan terjemahan ke dalam bahasa Indonesia untuk pertama kalinya dilakukan oleh Abdul Ra’uf al Fansuri, seorang ulama yang berasal dari Aceh dengan menggunakan bahasa Melayu pada pertengahan abad ke 17 M. Selanjutnya Al Qur’an mulai banyak diterjemahkan oleh ulama-ulama Indonesia, diantaranya adalah Tafsir Qur’an Indonesia oleh Mahmud Yunus pada tahun 1935, Al Furqan dan Tafsir Qur’an oleh A. Hasan dari Bandung pada tahun 1928, Tafsir Al Qur’an oleh K.H. Hamidi cs. pada tahun 1959, Al Ibris oleh K.H. Bisyri Mushthafa pada tahun 1960, Tafsir Al Qur’an al Hakim oleh H.M. Kasin Bakry cs. pada tahun 1960, dan Tafsir al Azhar oleh Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah pada tahun 1973. Selain itu, pemerintah juga menerbitkan terjemahan edisi Depag sejak zaman pemerintahan Soeharto dengan Pelitanya dan terus mengalami revisi hingga sekarang oleh Lembaga Studi Al Qur’an dibawah naungan Departemen Agama Indonesia.[3]

KESIMPULAN

 

Al Qur’an yang telah ditulis ulang dan disusun serta disebarkan pada masa khalifah Usman bin Affan sebagai pemersatu umat dan solusi atas konflik yang terjadi di dalam pasukan Islam pada saat itu, akhirnya disebarkan secara luas pada masa generasi selanjutnya. Namun karena terkendala alat yang hanya menggunakan tenaga manusia untuk menulis pada saat itu, menyebabkan tidak efisiensinya waktu dan menjadi kendala tersendiri untuk menyebarkan Al Qur’an. Akan tetapi, ketika revolusi industri di Inggris pecah dan alat-alat cetak baru ditemukan, maka semakin mudah dan cepat untuk mendistribusikan Al Qur’an ke seluruh dunia. Apalagi setelah diterbitkannya Al Qur’an pada masa Raja Fuad di Mesir sebagai salah satu standar pentashihan Al Qur’an masa modern, menjadikan umat Islam di seluruh belahan dunia mudah mengakses dan membaca kitab sucinya. Hal ini didukung dengan penterjemahan Al Qur’an ke dalam berbagai bahasa, sehingga tidak ada lagi kendala di dalam memahami Al Qur’an.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

E Book Sejarah Teks Al Qur’an karya Prof. Dr. M.M. al A’zami (edisi terjemahan)

Dewan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsiran Al Qur’an, Al Qur’an dan Terjemahannya, CV. Bumi Restu, Jakarta, 1990

http://www.geocities.com/denwij/kodifikasi.htm


[1]  Lihat Sejarah Teks Al Qur’an karya Prof. Dr. M.M. al A’zami (edisi terjemahan), hal. 150-158.

[2]  http://www.geocities.com/denwij/kodifikasi.htm

 

[3]  Lihat pada mukaddimah Al Qur’an dan Terjemahannya yang disusun oleh Dewan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsiran Al Qur’an, CV. Bumi Restu, Jakarta, 1990, hal. 31-33

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s