Sabbaha, Hamida, Istagfara, Din

MAKNA KATA-KATA SABBAHA, HAMIDA, ISTAGHFARA DAN AD DIN DI DALAM AL QUR’AN

 

SABBAHA

Kata sabbaha berasal dari kata sabaha yang berarti berenang.[1] Secara umum kata sabaha berarti berenang, sabaha bi an nahr (سبح باالنهر) yang berarti berenang di sungai.[2] Sedangkan kata sabbaha berarti menunaikan shalat. Bentuk lainnya adalah tasbiih yang berarti pensucian dan subhanallah berarti mensucikan Allah dari sahabat dan keluarga. Dan dikatakan bahwa subhanallah berarti mensucikan Allah dari semua yang tidak pantas untuk mensifatiNya. Seperti yang tertuang di dalam Al Qur’an surah al Isra’ ayat 1 :

سبحان الذي أسرى بعبده ليلا من المسجد الحرام إلى المسجد الأقصى الذي باركنا حوله لنريه من آياتنا إنه هو السميع البصير

Artinya :

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Di dalam tafsir Fi Zilal Al Qur’an dijelaskan bahwa ayat ini dimulai dengan tasbih dan diakhiri dengan tahmid yang maksudnya adalah satu satu yaitu menunjukkan keutamaan masalah akidah.[3]

Dalam Al Qur’an ayat ini terulang sebanyak 14 kali. Diantaranya adalah surah al Anbiya’ : 33, an Nazi’at : 3, al Muzammil : 7, al Baqarah : 30 dan 32, Ali Imran : 41, Qaf : 40, dan lainnya.[4] Dalam buku yang lain tertulis bahwa kata sabbaha/tasbih terulang sebanyak 46 kali dengan maksud yang berbeda.[5] Diantaranya adalah Allah memerintahkan untuk bertasbih kepadanya, dalam surah al Hijr ayat 98 :

فسبح بحمد ربك وكن من الساجدين

Artinya :

“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat)”.

Masing-masing makhluk mengetahui cara bertasbih kepadanya, dalam surah an Nur ayat 41 :

ألم تر أن الله يسبح له من في السماوات والأرض والطير صافات كل قد علم صلاته وتسبيحه والله عليم بما يفعلون

Artinya :

“Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”.

Orang-orang beriman apabila diperingatkan Allah bertasbih memuji Tuhan, dalam surah as Sajdah ayat 15 :

إنما يؤمن بآياتنا الذين إذا ذكروا بها خروا سجدا وسبحوا بحمد ربهم وهم لا يستكبرون

Artinya :

“Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong”.

 

Hamida

Secara bahasa hamida berarti lawannya celaan, yaitu pujian.[6] Dan dikatakan memujinya (حمدته) adalah kata kerjanya dan perbuatan terpuji (المَحْمَدة) adalah lawan kata dari perbuatan tercela (المذمّة).

Tsa’labi berkata sebuah pujian atau ungkapan terima kasih (الحمد) bisa diwujudkan dengan melakukan sesuatu (عن يد) atau hanya berupa ucapan saja, sedangkan berterima kasih (الشكر) harus diwujudkan dengan melakukan sesuatu. Al Lihyaniy berkata kata al hamdu dan al syukr memiliki arti yang sama, tidak ada perbedaan diantara keduanya, tetapi kata al hamdu lebih sering dipakai untuk sanjungan. Sedangkan al Azhariy berkata al hamdu lebih umum artinya daripada al syukr karena al syukr adalah perwujudan dari al hamdu dengan perbuatan.[7]

Bentuk lain dari kata al hamd adalah hamid (حميد) yang merupakan maf’ul dari kata hamida, tetapi sering juga diartikan sebagai fa’il. Kata ini adalah salah satu dari Asma’ al Husna, sifat Allah yang sering digunakan di dalam Al Qur’an sebagai bentuk pensucian dengan maksud terpuji/suci dari segala sesuatu.

Dalam Al Qur’an kata hamida ini terulangsebanyak 44 kali dalam bentuk yang berbeda-beda. Diantaranya adalah puji-pujian kepada Allah dalam surah al An’am ayat 1:

الحمد لله الذي خلق السماوات والأرض وجعل الظلمات والنور ثم الذين كفروا بربهم يعدلون

Artinya :

“Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka”.

Dalam tafsir at Thabary, Abu Ja’far berkata : “Segala puji hanya bagi Allah semata, tidak boleh mempersekutukanNya dengan sesuatu apapun, baik itu berhala ataupun tuhan-tuhan lainnya. Ayat ini berbentuk berita (الخبر) tetapi mengandung maksud perintah. Sesungguhnya manusia itu wajib bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikan kepadanya”.[8]

Orang-orang yang selalu memuji Allah, dalam surah at Taubah ayat 112 :

التائبون العابدون الحامدون السائحون الراكعون الساجدون الآمرون بالمعروف والناهون عن المنكر والحافظون لحدود الله وبشر المؤمنين

Artinya :

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu”.

Dalam tafsir Al Qurtuby dijelaskan bahwa maksud dari orang-orang yang memuji (الحامدون) disini adalah orang-orang yang ridho terhadap segala yang terjadi padanya (qadha), orang-orang yang menggunakan nikmat Allah untuk beribadah dan taat kepadanya, serta orang yang selalu memuji dan bersyukur kepada Allah dalam setiap keadaan.

 

Istaghfara

Kata istaghfara berasal dari kata ghafara yang berarti mengampuni. Dalam kaedah bahasa Arab, dengan adanya penambahan alif, sin dan fa’ dalam sebuah kata, maka arti dari kata tersebut akan berubah menjadi meminta sesuatu. Oleh karena itu, kata istaghfara berarti meminta ampun. Kata ini sering dipakai untuk berzikir kepada Allah, karena seseorang tidak akan berzikir dengan lisan dan hatinya kecuali ketika meminta sesuatu kepada Allah dan diikuti dengan istighfar, memohon ampun atas segala dosanya agar keinginannya bisa dikabulkan.[9]

Kata istaghfara terulang di dalam Al Qur’an sebanyak 15 kali dengan maksud yang berbeda. Diantaranya adalah dengan maksud memohon ampun atas segala dosa yang telah diperbuat, dalam surah adz Dzariyat ayat 18 :

وبالأسحار هم يستغفرون

Artinya :

“Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar”.

Ayat ini menjelaskan tentang ciri-ciri orang bertakwa, yaitu orang-orang yang setiap malam sedikit sekali tidurnya, mereka banyak mengisi malam dengan beribadah kepada Allah hingga tiba waktu sahur. Kemudian memohon ampunan atas segala dosa yang telah diperbuatnya selama hidupnya di waktu sebelum fajar (السحر). Hasan berkata : “Sahur adalah waktu yang tepat untuk berdoa, karena itu adalah waktu-waktu terkabulnya doa”.[10]

Memohon Ampun untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan, dalam surah Hud ayat 52 :

ويا قوم استغفروا ربكم ثم توبوا إليه يرسل السماء عليكم مدرارا ويزدكم قوة إلى قوتكم ولا تتولوا مجرمين

Artinya :

Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.”

Ayat ini menjelaskan berita yang disampaikan oleh nabi Hud kepada kaumnya agar memohon ampun kepada Allah agar penderitaan mereka berakhir dengan cepat. Abu Ja’far berkata : “memohon ampun disini berarti beriman kepada Allah hingga Dia mengampuni dosa-dosa kaumnya”. Istighfar disini maksudnya adalah beriman kepada Allah, karena pada saat itu Hud mengajak kaumnya untuk mengesakan Allah (توحيد الله) agar dosa-dosa mereka diampuni Allah.[11]

 

Ad Din

Kata ad din secara harfiah artinya adalah balasan yang setimpal (الجزاء والمُكافأَة), yaum ad din artinya adalah hari pembalasan. Kata ad din juga berarti perhitungan, ketaatan, agama, kebiasaan dan keadaan. Tetapi kata ad din lebih sering dipahami dengan arti agama, seperti kata din al Islam (الدِّين الإِسلام) yang berarti agama Islam.

Kata ad din terulang lebih dari 50 kali di dalam Al Qur’an dengan maksud yang berbeda-beda. Diantaranya adalah dengan maksud agama dalam surah al Baqarah ayat 132 :

ووصى بها إبراهيم بنيه ويعقوب يا بني إن الله اصطفى لكم الدين فلا تموتن إلا وأنتم مسلمون

Artinya :

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”.

Kata-kata ad din disini berarti agama Islam, alif dan lam pada kata din mempunyai makna sebagai pesan karena anak-anaknya sudah mengerti dan tahu apa maksud dari perkataan Ibrahim tersebut.[12]

Ad din dengan maksud pembalasan, dalam surah al fatihah ayat 4 :

مالك يوم الدين

Artinya :

Yang memiliki hari pembalasan”.

Kata ad din disini artinya adalah pembalasan dan perhitungan (الحسابُ), dan juga berarti pengganti perbuatan yang telah dilakukan selama hidup di dunia.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

E Book Al Qur’an Digital

Software Maktabah Syamilah

Tim Kashiko, Kamus Arab-Indonesia, Kashiko, Surabaya, 2000

E Book Tafsir Al Qurtuby

Asy’ari, Sukmajaya dan Rosy Yusuf, Indeks Al Qur’an, Penerbit Pustaka, Bandung, 2000

Ibn Munzhur, Muhammad bin Mukarram, Lisanul Arab, Dar Shadir, Beirut, 1996

Sayyid Qutb, Fi Zilal Al Qur’an

Abu Qasim, Husain bin Muhammad bin Mufadhil, Mu’jam Mufradat li Alfaz Al Qur’an

Abu Ja’far at Thabary, Muhamad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib, Jami’ul Bayan fi Ta’wil Al Qur’an, Muassasah ar Risalah, (t. tp.), 2000


[1]  Tim Kashiko, Kamus Arab-Indonesia, Kashiko, Surabaya, 2000, hal. 275

[2]  Ibn Munzhur, Muhammad bin Mukarram, Lisanul Arab, Dar Shadir, Beirut, 1996, juz 2, hal. 470

[3]  Sayyid Qutb, Fi Zilal Al Qur’an, (t. p.), (t. tp), (t. t.), juz 4, hal. 500

[4]  Abu Qasim, Husain bin Muhammad bin Mufadhil, Mu’jam Mufradat li Alfaz Al Qur’an, hal. 248-249

[5]  Asy’ari, Sukmajaya dan Rosy Yusuf, Indeks Al Qur’an, Penerbit Pustaka, Bandung, 2000, hal. 221

[6]  Tim Kashiko, Op. Cit, hal. 152

[7]  Ibn Munzhur, Op. Cit, juz 3, hal. 155

[8]  Abu Ja’far at Thabary, Muhamad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib, Jami’ul Bayan fi Ta’wil Al Qur’an, Muassasah ar Risalah, (t. tp.), 2000, juz 11, hal. 247

[9]  Ibn Munzhur, Op. Cit, juz 5, hal. 25

[10]  Tafsir al Qurtuby

[11]  Abu Ja’far at Thabary, Op. Cit, juz 15, hal. 358

[12]  Tafsir al Qurtuby.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s