Memory 7

Cerita ini berawal pada awal tahun 2002. Pada suatu malam aku duduk ditepi sungai memandang indahnya langit yang dihiasi bintang-bintang dan cahaya temaram bulan, tiba-tiba terlintas dalam pikiranku untuk membuat perjanjian dengan Tuhan.

 

Yah, waktu itu umurku beranjak memasuki masa remaja atau masa baligh dalam bahasa agamanya. Aku penasaran mengapa sampai saat itu aku belum juga mendapatkan mimpi yang menandai selesainya masa kecilku. Akhirnya dibawah sinar bulan pada langit yang cerah, aku mengangkat tangan dan memohon kepada Tuhan: “Tolong mimpikan aku dengan jodohku dan tunjukkan kepadaku siapa dirinya, maka aku akan melepaskan semua kebahagiaan yang ku miliki”.

 

Beberapa waktu kemudian ketika hari ulang tahunku tiba, bertepatan dengan malam jum’at, permintaanku dipenuhi dan aku mendapatkan mimpi dengan seseorang yang masih membekas di memoriku hingga saat ini. Dan yang membuatku semakin senang, mimpi itu berlanjut pada malam-malam berikutnya hingga aku berada pada kelas 3 SMA.

 

Ketika memasuki semester akhir kelas 3 SMA, aku mulai menyusun rencana untuk melanjutkan pendidikan. Beberapa tujuan mulai merasuk dalam pikiranku dan ada sebuah suara yang senantiasa berbisik di telingaku ketika aku bertanya kepada diriku sendiri tentang kampus mana yang akan ku tuju. Suara itu berkata: “Jika kamu ingin menemukan wanita dalam mimpimu itu, pergilah ke jogja. Disana akan ada petunjuk untuk bertemu dengannya”.

 

Setelah mengumpulkan beberapa informasi, akhirnya aku putuskan untuk berangkat ke jogja. Pertemuan kami dalam mimpi masih sering terjadi seperti biasanya, walaupun semenjak aku tiba di jogja intensitas pertemuan itu semakin berkurang. Hingga pada pertengahan tahun 2008 aku bertemu dengan teman SD ku yang kuliah di solo dan menceritakan mimpi tersebut kepadanya.

 

Temanku terkejut ketika mendengar cerita tersebut. dia mengatakan kalau teman cewek sekampusnya juga mengalami mimpi yang sama, sebut saja namanya okta. Lalu aku meminta nomor okta untuk memastikannya sendiri. Pada Agustus 2008 aku dan okta janjian untuk bertemu, kebetulan saat itu aku lagi ada kegiatan organisasi di solo. Kami bertemu dan berkenalan secara resmi dan makan bareng. Okta mengakui jika dia memiliki mimpi yang sama denganku, walaupun aku masih ragu jika dia adalah cewek yang ada dalam mimpiku.

 

Menjelang hari ultah aku dan okta, kami merencanakan untuk pergi ke pantai dan bermalam disana. Memang ultah kami berdekatan, hanya berjarak 3 hari, jadi kami memutuskan untuk merayakannya bersama. Akhirnya ditemani 3 orang temannya yang juga cewek semua, kami berlima berangkat ke pantai. Pada saat di pantai itulah okta menjelaskan semua hal tentang mimpi tersebut. dia mengakui jika aku adalah cowok dalam mimpinya dan dia mengakui jika mimpi tersebut bersejarah baginya hingga ia melakukan berbagai hal untuk menemukan diriku.

 

Yah, dia menikmati kebersamaan kami di pantai tersebut. Walaupun cuma sebentar, dia merasa cukup bahagia, hal tersebut ku lihat dari ekspresi yang terpancar ketika kami bermain di pantai. Hal tersebut membuatku melupakan sejenak tentang keraguanku pada dirinya.

 

Sebulan kemudian aku bertanya kepadanya tentang kepastian perjodohan ini, apakah dia ingin melanjutkan atau ingin menikmati kehidupannya sekarang yang telah terbiasa tanpa cowok dalam mimpinya tersebut. Setelah berpikir lama, okta memutuskan untuk melanjutkan kehidupannya yang sekarang, dia telah melupakan perjodohan tersebut dan terlebih lagi dia sudah memiliki cowok yang pada akhirnya menjadi suaminya beberapa tahun yang lalu.

 

Setelah mendengar jawabannya, akupun meminta ia untuk memohon kepada Tuhan agar membatalkan perjodohan ini. Semenjak itu aku tidak percaya lagi dengan konsep jodoh, bahkan aku bertanya-tanya apakah jodoh itu sebenarnya. Sering kali aku melihat realitas kehidupan orang yang berpasangan. Yang pacaran bisa putus, yang tunangan bisa batal, bahkan yang menikahpun bisa bercerai.

 

Kemudian apa yang dimaksud dengan jodoh tersebut?

Apakah benar jodoh adalah pasangan yang ditakdirkan untuk bersama kita?

Apakah dengan pernikahan sudah bisa menjamin kita menemukan jodoh kita?

 

Yah, manusia dengan keterbatasan ilmu dan pengetahuannya mencoba untuk menjadikan kehidupannya lebih nyaman dengan membuat beberapa konsep sebagai obat penenang dalam hidup mereka.

 

Setelah ku pikir-pikir lagi, daripada pusing mikirin jodoh, lebih baik mensyukuri apa yang ada dan menjaganya dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang. Karena sudah menjadi realitas kehidupan manusia bahwa kita tidak akan merasa memiliki sebelum kita kehilangan..!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s