motivator? kesadaran? psikiater? pekerjaan?

beberapa hari ini aku kembali bekerja dengan cukup aktif, pekerjaan yang pernah ku tinggalkan selama 2 tahun. ketika diingat-ingat kembali, dulu aku sangat menikmati pekerjaan ini, bertemu dengan beberapa orang, mendengar beberapa cerita dan pengalaman mereka dan mencoba membantu untuk menemukan solusi yang terbaik.

pekerjaan ini sebenarnya bukanlah pekerjaan yang aku cita-citakan. akan tetapi, seiring meningkatnya kemampuan dan kesadaranku akan manusia dan alam, aku menyadari bahwa setiap manusia lahir di dunia ini dengan membawa kewajiban dan tanggung jawab dari Tuhan.

dulu ketika masih di sekolah menengah, aku gemar mempelajari kepribadian manusia. melihat realitas dan pilihan yang mereka ambil dalam hidup, keputusan yang mereka ambil dalam menghadapi sebuah masalah, pemahaman yang mereka dapatkan dari pengalaman, memberikan banyak pengetahuan kepadaku tentang apa itu manusia dan cara berpikirnya.

ketika temanku mengatakan bahwa ia bisa melihat dan menebak ukuran tubuh wanita, aku jadi penasaran dan belajar darinya. ketika ia mengatakan bahwa ia bisa membaca pikiran wanita dari matanya, aku juga ikut belajar memahami ekspresi dan keinginan mereka. dulu teman-teman SMA ku sering bertanya apakah mataku tembus pandang hingga aku bisa menebak apa yang ada dibalik pakaiannya. aku pun bertanya pada diriku sendiri dan pada akhirnya aku menyadari bahwa bukan mataku yang tembus pandang, akan tetapi karena aku telah terbiasa memperhatikan wanita sehingga lekuk tubuh mereka terekam dengan jelas dalam memoriku.

setelah menguasai cara melihat tubuh dan pikiran wanita, aku melan’gkah pada kepribadian dan perasaannya. dengan beberapa percobaan untuk menemukan “true desire” atau keinginan terpendam hingga memperlakukan mereka sesuka hati seolah-olah ingin mempermainkan, aku menyadari bahwa ada “pattern” tertentu yang berlaku dalam hati dan perasaan wanita yang membentuk kepribadian dan pola pikirnya.

pada suatu hari pada masa-masa sekolahku, aku menyadari pengetahuan dan kemampuan yang ku miliki memiliki resiko yang besar. resiko itu adalah aku diberikan kewajiban dan tanggung jawab untuk membantu wanita yang kehilangan semangat hidupnya karena masalah-masalah yang tidak bisa mereka lalui. waktu demi waktu berlalu, aku bertemu dengan beberapa wanita yang benar-benar dalam kondisi mental yang tidak stabil. aku datang kepada mereka, menawarkan bantuan untuk menyembuhkan penyakit hatinya, memberikan motivasi dan mencoba untuk menemukan kebahagiaan yang mereka inginkan.

setelah kuliah, aku menyadari bahwa hal yang selama ini ku pelajari adalah psikologi terapan yang berbasis pada realitas yang ada. aku juga menyadari bahwa kewajibanku adalah sebagai seorang motivator, jika tidak ingin disebut sebagai psikiater. aku melanjutkan hidupku dengan lebih banyak belajar untuk menemukan kesadaran-kesadaran yang aku perlukan dalam hidup dan dalam pekerjaanku. pasien datang seiring waktu berlalu, menawarkan kepedihan yang mereka rasakan, penderitaan yang mereka alami dan bertanya apakah mereka pantas untuk bahagia.

kasus pertama yang tergolong sukses adalah konsultasi jarak jauh. aku berada di jogja dan pasienku berada di batam. perkenalan kami bisa dibilang tidak sengaja karena dulu aku gemar mencari teman. setelah beberapa waktu, kami mulai akrab dan dia mulai bercerita tentang kehidupan cintanya. dia putus dengan pacarnya karena pacarnya terbukti telah selingkuh dengan temannya sendiri. awalnya perpisahan ini bukanlah sebuah masalah yang serius, akan tetapi beberapa waktu kemudian mantannya memaksa untuk balikan. pemaksaan ini juga diikuti dengan hal-hal yang berbau magis. pasienku dibuat seperti orang gila yang menangis dan meraung-raung tiap malam. setelah memastikan mentalnya siap dan tekadnya kuat, aku membantu dia untuk bangkit dari keterpurukannya. menyadarkan ia akan pentingnya agama dalam terapi penyakit magisnya, memberikan beberapa pencerahan kepada hatinya agar tidak terpedaya dengan ancaman-ancaman yang ada serta membantu ia untuk keluar dari kekuatan yang membuat ia menderita. 2 minggu setelah kejadian tersebut, ia kembali ke kampung halamannya di jakarta dan mulai pulih secara berangsur-angsur. dia sebulan kemudian dia telah pulih sepenuhnya dan kembali ceria seperti biasa, melanjutkan hidup dengan orangtua dan saudara-saudaranya, bekerja di perusahaan milik papanya dan kembali merasakan ketenangan hidup yang pernah hilang darinya.

yah, hubunganku dengan pasien pertama tidak berlangsung lama. setelah memastikan dia sembuh total dari penyakit hati yang dialaminya, aku mulai fokus dengan kuliahku dan komunikasi kami mulai terputus dan pada akhirnya tidak ada komunikasi lagi. beberapa tahun kemudian aku diberikan pasien lain yang cukup parah penyakitnya. awal perkenalan kami di facebook, karena aku cowok tipe penggoda dia mudah akrab denganku. setengah tahun kemudian dia putus dengan pacarnya dan mengalami depresi berat. dia telah terlanjur berharap tetapi pada akhirnya tetap ditinggalkan.

melihat keadaannya yang seperti itu, sebagai seorang teman aku mencoba menghiburnya. ketika dia mulai membuka dirinya padaku, aku mulai menyadari penderitaan yang dialaminya serta kepribadian yang dimilikinya. dia cenderung polos dan penurut terhadap orang yang disayanginya. dia bahkan tidak bisa menolak permintaan orang lain sekalipun hal itu berakibat buruk pada dirinya. setelah mendapatkan beberapa keterangan dan mengetahui permasalahannya, aku mencoba membangkitkan dia dari keterpurukannya dengan mengubah kepribadiannya. ku tanamkan beberapa prinsip hidup yang tegas dalam pikirannya, ku sirami hatinya dengan kasih sayang yang berlimpah dan ku tunjukkan apa itu kebahagiaan.

satu kesalahan yang ku lakukan dalam hubunganku dengan pasien kedua ini. pada prinsipnya, seorang motivator tidak boleh menggunakan perasaan ketika merawat pasiennya. yah, semua terjadi begitu saja. walaupun aku sudah memberitahukan resiko dan betapa susahnya untuk jatuh cinta, namun melihat kepolosan dan kasih sayang darinya serta usahanya yang pantang menyerah untuk menjadikanku sebagai pasangannya, aku akhirnya luluh dihadapannya. sejak menjadi pasangannya, aku meninggalkan pekerjaanku ini dan memfokuskan diri untuk membalas kasih sayang yang diberikan kepadaku. di sisi lain aku mengadakan beberapa percobaan pada diriku sendiri untuk menguji sejauhmana aku bisa menjadi kekasih yang terbaik, sejauhmana cinta bisa mempengaruhi kepribadianku. percobaan-percobaan inilah yang pada akhirnya membuat dia memutuskan diriku, walaupun ada sebab-sebab lain yang tidak terelakkan. setelah 1,5 tahun bersama, kepribadiannya berubah menjadi kepribadian yang tegas, santai dan penuh kehati-hatian. dia tidak lagi polos, tidak lagi menjadi lilin, melainkan menjadi seseorang yang selalu berusaha meraih kebahagiaannya sendiri.

ketika menyadari masa kebersamaan kami telah habis, aku akhirnya meninggalkan pasienku yang kedua ini. meninggalkan dirinya dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang ia butuhkan, serta mendapatkan beberapa pengetahuan baru tentang rahasia hidupku sendiri. hati bukanlah sesuatu yang mudah dikendalikan, hati adalah sesuatu yang independen yang mempengaruhi seluruh kepribadian.

beberapa hari yang lalu, temanku datang dengan membawa beberapa kegalauan yang dirasakannya. yups, setelah menganggur selama 2 tahun lebih, aku akhirnya mendapatkan pekerjaanku lagi, walaupun tidak tepat pasiennya. mungkin pada postingan berikutnya ku lanjutkan cerita ini. masih banyak tugas yang harus dikerjakan. ^_^

One response to “motivator? kesadaran? psikiater? pekerjaan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s