STUDI KOMPARASI AL-FATIHAH, THE LORD’S PRAYER DAN SHU-ILA

Pendahuluan

Penafsiran terhadap Al-Qur’an pada era kontemporer sudah banyak dilakukan oleh para sarjana intelektual yang tertarik akan Al-Qur’an itu sendiri, baik dari segi otensitas maupun kebahasaan dan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Kajian terhadap Al-Qur’an sendiri tidak hanya dilakukan oleh sarjana muslim saja, akan tetapi juga menarik perhatian kaum orientalis yang ingin membuktikan klaim-klaim umat Islam atas kitab sucinya tersebut.

Salah satu orientalis yang ikut berkutat dalam pengkajian Al-Qur’an ialah Dr. Stefan Sperl. Beliau merupakan seorang dosen di Universitas of London pada bidang bahasa dan kebudayaan Arab. Dalam tulisannya yang berjudul “The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord’s Prayer and A Babylonian Prayer to The Moon God” Sperl berusaha untuk membuktikan klaim yang menyatakan bahwa surah al-Fatihah merupakan surah yang unik yang tidak terdapat di dalam Taurat dan Injil.

Oleh karena itu, Sperl mencoba untuk membandingkan surah al-Fatihah dengan teks-teks lain yang memiliki kesamaan makna baik dari segi pengungkapannya maupun susunan kebahasaan yang digunakan. Sperl menggunakan metode sastra (literary) dalam menganalisa teks-teks yang menjadi objek komparasi, dalam hal ini ia menggunakan teks Bible yang berisikan The Lord’s Prayer dan tablet dari Babylonia yang memuat teks pemujaan terhadap dewa bulan.

Dalam makalah ini akan dijelaskan tentang latar belakang penulisan studi komparasi al-Fatihah yang disampaikan oleh Sperl, analisa Sperl terhadap teks-teks tersebut, dan kesimpulan umum atas pembacaan terhadap hasil penelitian Sperl dalam studi komparasinya.

 

Latar Belakang Penulisan

Sperl menyatakan bahwa tulisannya yang berjudul “The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord’s Prayer and A Babylonian Prayer to The Moon God” terinspirasi dari artikel yang ditulis oleh Muhammad Arkoun yang berjudul “Lecture de La Fatiha’”. Dalam artikel tersebut Arkoun mengembangkan sebuah prinsip baru dalam pembacaan kitab suci yang berbeda dari penafsiran klasik. Ia mengungkapkan bahwa pemahaman seseorang tidak harus dilandasi dari asumsi kebenaran seseorang, akan tetapi dengan melihat dari berbagai sudut pandang seperti biophysical, economic, political, linguistic constraint yang membatasi dirinya.[1]

Arkoun menyatakan bahwa al-Fatihah pada dasarnya merujuk pada nilai-nilai liturgis, teologis, linguistik, dan spiritual yang kemudian ditafsirkan menjadi praktek ajaran pokok agama. Di dalam al-Fatihah terdapat  sikap-sikap ritual, interaksi dari hubungan antara orang-orang mukmin dan Tuhannya, serta penghayatan seluruh ajaran wahyu yang terangkum dalam tujuh ayat sebagai sarana untuk memperoleh keselamatan.[2]

Oleh karena itu, Arkoun menawarkan beberapa prinsip dalam membaca (menafsirkan) Al-Qur’an, yaitu:

  1.          Manusia adalah persoalan yang konkret bagi manusia.
  2.          Pengetahuan yang memadai mengenai kenyataan adalah tanggung jawab saya.
  3.          Pengetahuan (sejarah dan manusia) merupakan suatu usaha untuk mengatasi paksaan yang membatasi kondisi kehidupan manusia.
  4.          Pengetahuan merupakan jalan keluar yang diulang-ulang karena telah mengalami reduksi akibat tekanan tradisi dan budaya.
  5.          Jalan keluar tersebut sesuai dengan tindakan kaum sufi yang mengarah kepada Tuhan,[3]

Arkoun melanjutkan bahwa ayat pertama dalam surah al-Fatihah menekankan pada bentuk tunggal (إسم) dari Tuhan. Hal ini berimplikasi pada pengaruh semantik yang menekankan pada keesaan Tuhan. Ayat kedua menggunakan gramatikal jumlah ismiyyah yang memiliki nilai semantis bahwa Tuhan sudah terpuji sebelum manusia memujinya. Sifat terpuji Tuhan tersebut tidak akan terpengaruh dengan ada atau tidak adanya pujian yang disampaikan kepada-Nya. Selanjutnya, penggunaan idhafah pada kata dan ayat berikutnya untuk menunjukkan pengertian yang dikenal oleh lawan bicara. Konsep رَبِّ pada ayat kedua dipersempit dengan adanya kata الْعَالَمِينَ sebagai realitas ruang dan waktu, begitu juga kata الْعَالَمِينَmenempati posisi ketergantungan pada kata رَبِّ.[4]

Penggunaan kata ganti pada ayat kelima menunjukkan penyembahan dan permohonan hanya bisa ditujukan kepada satu Tuhan, yaitu Allah. Begitu juga perlawanan kata pada ayat tujuh dengan menggunakan kata ganti (أَنْعَمْتَ) menunjukkan pelaku gramatikal (Allah) merupakan pencipta kemurahan. Kalimat selanjutnya (غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ) yang merupakan perlawanan dari kalimat sebelumnya (أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ) secara gramatikal tidak diketahui pelakunya (majhul). Hal ini sepadan dengan konsep kemarahan yang bertentangan dengan konsep kemurahan pada ayat yang sama.[5]

Penjelasan linguistik di atas sangat menarik perhatian Sperl dalam mengungkapkan sisi-sisi kebahasaan dalam surah al-Fatihah dan membandingkannya dengan teks-teks lain yang memiliki kesamaan konsep hubungan manusia dan Tuhan dengan pola dan rangkaian kebahasaan yang mirip.

Disamping itu, Spearl juga tertarik untuk menguji hadis yang diriwayatkan dari ‘Ubay bin Ka’ab tentang keistimewaan surah al-Fatihah:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ

قَالَ أَتُحِبُّ أَنْ أُعَلِّمَكَ سُورَةً لَمْ يَنْزِلْ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ وَلَا فِي الزَّبُورِ وَلَا فِي الْفُرْقَانِ مِثْلُهَا قَالَ نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ تَقْرَأُ فِي الصَّلَاةِ قَالَ فَقَرَأَ أُمَّ الْقُرْآنِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا أُنْزِلَتْ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ وَلَا فِي الزَّبُورِ وَلَا فِي الْفُرْقَانِ مِثْلُهَا وَإِنَّهَا سَبْعٌ مِنْ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُعْطِيتُهُ

Artinya: Rasulullah bersabda: “Apakah kamu mau saya ajari satu surah yang belum pernah diturunkan di kitab Taurat, Injil, Zabur, dan juga Al-Qur’an?” Ubay menjawab: “Iya, wahai Rasulullah”. Beliau melanjutkan: “Apakah yang kamu baca ketika Shalat?” Ubay menjawab: “Aku membaca Umm al-Qur’an”. Beliau berkata: “Demi Zat yang jiwaku ada pada-Nya, belum pernah diturunkan surah seperti itu pada Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an. Dan sesungguhnya surah tersebut adalah tujuh ayat yang diulang-ulang di dalam bacaan Al-Qur’an yang telah aku berikan”. (H.R. Tarmidzi, Kitab Keutamaan Al-Qur’an dari Rasulullah, Bab Keutamaan Surah Al-Fatihah).[6]

Dalam tulisan ini Sperl berusaha meneruskan jejak Arkoun dalam membaca surah al-Fatihah melalui perbandingan terhadap The Lord’s Prayer dan Shu-ila. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk menguji kembali apakah terdapat sesuatu (comparison) yang bisa menambah pemahaman terhadap teks-teks tersebut dan untuk melihat lebih jauh bentuk ibadah yang ingin diekspresikan melalui teks-teks tersebut. Oleh karena itu, Sperl mencoba untuk mengkomparasi teks-teks tersebut dengan menggunakan metode sastra untuk mengungkap pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.[7]

 

Perbandingan Teks Agama

Ada tiga teks yang akan dianalisa dalam tulisan ini, dua diantaranya merupakan teks dari kitab suci agama Islam dan Kristen. Teks-teks tersebut secara umum menggambarkan bagaimana kekuasaan Tuhan dan penghambaan manusia dari masa ke masa dalam berbagai bentuk ungkapan dan kepercayaan yang dimiliki.

1.         Al-Fatihah[8]

Sperl menjelaskan bahwa surah al-Fatihah dibagi menurut pola syair yang terdapat di dalamnya. Sebagian umat Islam mengakui bahwa tujuh ayat yang terdapat di dalam Fatihah adalah sab’ul matsaniy yang disebutkan dalam surah al-Hijr ayat 87:

وَلَقَدْ آَتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآَنَ الْعَظِيمَ

Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung”.

Akan tetapi, Sperl membagi tujuh ayat ini menjadi sepuluh frase yang membentuk pola pemaknaan dengan menggunakan metode parallelistic phraseology.[9] Sepuluh frase ini membentuk susunan yang simetris dimana pada frase yang pertama terdapat sepasang kata yang menunjukkan atribut Ketuhanan (1-4), pasangan kata yang di tengah (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) disebut sebagai bagian pemujaan yang memperkenalkan hubungan antara manusia dan Tuhan yang juga digunakan sebagai doa dalam shalat untuk menunjukkan jalan manusia menuju Tuhan. Dalam hal ini Sperl berkata:

As can be seen at a glance, the sura is composed of ten parallel phrases which form a highly symmetrical pattern. The first two couplets are an invocation dwelling on the divine attributes; the central couplet, henceforth called worship section, introduces man’s relationship to God and the two concluding couplets constitute the petition of the prayer which centres on man’s path to God. Hence the invocation defines the power of the Lord, the petition focuses on the condition of mankind and the central couplet, in accordance with its structural position, defines the relationship between the two.[10]

 

Hal ini sesuai dengan hadis yang menyatakan bahwa shalat itu terbagi dua, sebagian untuk-Ku (Allah) dan sebagian lainnya untuk hambaku (manusia).

حَدَّثَنَاه إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ ثَلَاثًا غَيْرُ تَمَامٍ فَقِيلَ لِأَبِي هُرَيْرَةَ إِنَّا نَكُونُ وَرَاءَ الْإِمَامِ فَقَالَ اقْرَأْ بِهَا فِي نَفْسِكَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ…الخ

Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari NabiShalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Barangsiapa yang melakukan shalat dengan tidak membaca Ummul Qur’an (Induk Qur’an) maka shalat itu kurang” tiga kali, yaitu tidak sempurna. Ditanyakan kepada Abu Hurairah : “Sesungguhnya kami di belakang imam (menjadi ma’mum)”. Ia berkata : “Bacalah dalam hatimu, karena saya mendengar Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Aku membagi shalat antara Aku dan hambaKu separoh-separoh…” (H.R. Muslim: Kitab Shalat Bab Kewajiban Membaca Al-Fatihah Pada Setiap Raka’at).

Untuk lebih jelasnya lihat skema berikut:

1)        بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

2)        الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

3)        الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

4)        مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

5)        إِيَّاكَ نَعْبُدُ

6)        وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

7)        اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

8)        صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

9)        غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ

10)    وَلَا الضَّالِّينَ

Analisa struktur paralel di atas merupakan analisa yang digunakan oleh Sperl. Ia menyatakan bahwa lima frase awal (1-5) merupakan bentuk pemujaan dengan menyebut atribut Ketuhanan. Setelah memuji Tuhan, manusia menyampaikan kelemahannya dengan mengucapkan doa kepada Tuhan agar terhindar dari hal-hal buruk yang akan menimpanya pada lima frase terakhir (6-10).

Selain itu, terdapat hubungan (paralel) dari frase 1 dan frase 2 yang membentuk ekspresi pujian kepada Tuhan. Hal tersebut juga berlaku pada dua frase berikutnya dimana kata الرَّحْمَنِ dan الرَّحِيمِ berulang. Hal ini menunjukkan adanya dualisme sifat Tuhan dimana satu sisi menyatakan Maha Pemurah (Penyayang), dan di sisi lain menyatakan Maha Kuasa. Frase 1 dan 3 mengungkapkan Maha Pemurah Tuhan, sedangkan frase 2 dan 4 mengungkapkan Maha Kuasa Tuhan.[11]

Analisa yang lebih rinci tentang frase 2 dan 4 bisa terlihat dari adanya penggunaan kata yang berlawanan secara gramatikal. Kata الْعَالَمِينَ pada frase 2 merupakan bentuk jamak yang sangat kontras pada frase berikutnya yang menggunakan kata يَوْمِ yang merupakan bentuk tunggal. Semantik kata ini jika dianalisis dari sudut pandang sintaksis menunjukkan bahwa kekuasaan Tuhan meliputi apapun baik yang luas maupun sempit, ruang dan waktu, dimana satu hari (يَوْمِ الدِّينِ) bisa menentukan takdir segala ciptaan-Nya. Hal ini dijelaskan Sperl sebagai berikut:

The description of God’s might exhibits a similar type of duality between God’s status as supreme ruler over creation (rabb al-‘alamin) and His power as supreme judge on the Day of Reckoning (malik yawm al-din). Grammatically, the plural ‘alamin contrasts with the singular yawm, establishing an antithesis between singularity and multiplicity, time and space, as a single day determines the fate of creation in its entirety.

The phrases of the invocation thus establish the outlines of a cosmology the structure of which mirrors that of the Fatiha itself. Just as this world and the Hereafter converge on the Day of Judgement and are thus crucially linked by the concept of yawm al-din, so the invocation and petition of the Fatiha juxtapose world of God and world of man with their linkage at the centre: the act of worship directed at His might and the plea for help directed at His mercy. The focal subject of the petition, the straight path which leads to God provides the central axis of the graphic image below. [12]

 

Oleh karena itu, pada frase selanjutnya terdapat permohonan yang menyatakan bahwa tiada yang dapat menolong manusia pada hari akhir selain Tuhan. Pertentangan gramatikal yang terdapat pada frase 2 dan 4 dilanjutkan pada frase 7-8 dan 9-10. Pada frase 7-8 manusia memohon kepada Tuhan untuk menunjukkan jalan yang diridhai oleh-Nya, dimana pada frase 9-10 manusia memohon untuk dihindarkan dari jalan yang tidak mendapatkan pertolongan dari Tuhan. Pertentangan semantik dan gramatik antara kebaikan (أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ) dan keburukan (الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ) merupakan lanjutan paralel dari pertentangan antara frase 2 dan 4 sebelumnya yang menunjukkan Maha Pemurah dan Maha Kuasa yang dimiliki oleh Tuhan.[13]

Analisa di atas merupakan analisa sintaksis (tata bahasa) yang mengulas tentang susunan kalimat atau frase untuk mencari pesan yang ingin diungkapkan oleh teks. Garis besarnya dari pesan yang bisa ditangkap dari analisa struktur paralel di atas adalah surah al-Fatihah merupakan salah satu doa dan pembelajaran penting bagi manusia bahwasanya langkah awal untuk memohon sesuatu kepada Tuhan adalah dengan mengagungkan diri-Nya, kemudian dilanjutkan dengan kepasrahan total akan kekuasaan-Nya dan diakhiri dengan permohonan untuk mendapatkan kemurahan serta pertolongan dari-Nya.

Selanjutnya Sperl juga mengungkapkan tentang analisa leksikal, yaitu analisa kata per kata yang merupakan elemen penting dalam surah al-Fatihah. Kerendahan status manusia diungkapkan dengan adanya pengulangan kata عَلَيْهِمْdimana manusia menjadi subjek keridhaan dan kemarahan Tuhan. Manusia tidak bisa berbuat apa-apa selain berharap untuk menemukan jalur yang tepat (صِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ) melalui doa dan ibadah kepada Tuhan (إِيَّاكَ). Sedangkan pengulangan kata الرَّحْمَنِ dan الرَّحِيمِ dalam bacaan shalat tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan kemurahan dari Tuhan agar doanya (frase 7-10) dikabulkan. Sperl berkata:

However, from a structural point of view it can be shown that the word repetitions are aligned in such a way as to stress key elements in the overall thematic progression of the sura. The words repeated are: Allah, al-rahman, al-rahim; iyaka; sirat, ‘alayhim. Clearly they go to emphasize the basic thrust of the prayer. Man’s subordinate status is made manifest in the repetition of ‘alayhim: he is but subject to divine favour and anger. All he can hope for is to find the right path (sirat) through supplication and worship directed towards God (iyaka). The repetition of al-rahman al-rahim in the context of the prayer is therefore auspicious in that the focus upon mercy engenders hope for a favourable response to the prayer. In the words of al-Ghazali, al-rahmatu tastad’i marhuman, mercy presupposes one to whom mercy is granted (1987: 61). It will be noticed that there is an inverse movement between the textual progression which leads from God to man and the orientation of the praying subject which leads from man to God. [14]

 

Menurut Sperl, pemilihan kata tidak dilakukan secara kebetulan, melainkan terdapat chemistry di dalamnya. Hubungan antara kata إِيَّاكَ pada frase 5-6 dan kata مَالِكِ pada frase 7 menegaskan orientasi ibadah yang ditujukan kepada Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa. Kata نَسْتَعِينُ yang diperkuat dengan kata الْمُسْتَقِيمَ menunjukkan letak pentingnya jalur yang lurus yang mengarah pada keselamatan dan terkabulnya doa. Adapun hubungan antara awal dan akhir surah terdapat pada pengulangan kata اللَّهsebagai penghubung antara frase 1 dan 2 serta kata وَلَاsebagai penghubung pada frase 9 dan 10. Kesamaan bunyi antara dua kata tersebut yang dipertegas dengan tasydid pada huruf ل menunjukkan perbedaan antara keselamatan dan kehancuran, absolut positif dan absolut negatif menandakan keterbatasan yang dimiliki oleh manusia.[15]

Kesimpulan yang dapat ditarik dari penjelasan di atas adalah surah al-Fatihah melambangkan hubungan antara Tuhan dan manusia dimana صرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ menjadi jalur yang menghubungkan antara Tuhan dan manusia. Jalur tersebut juga menjadi tujuan utama dari doa orang yang beribadah.

The analysis has shown to what a remarkable extent all linguistic levels of the prayer text converge around the central axis symbolized by the siri.t, the path linking God and mankind. The path is also the focus of the prayer’s petition, the objective of the worshipper’s plea. It is all the more remarkable to realize that the recitation of the prayer itself is the means by which that hoped-for goal may be attained; it is a linguistic image of its own fulfillment.”[16]

 

Demikianlah yang disampaikan oleh Stefan Sperl sebagai penutup penafsiran surah al-Fatihah.

  1.          The Lord’s Prayer[17]

Sperl mengungkapkan kesulitannya ketika akan menganalisa The Lord’s Prayer karena terdapat dua versi yang berbeda. Versi yang pertama terdapat dalam Matius pasal 6 ayat 9-13, sedangkan versi kedua terdapat pada Lukas pasal 11 ayat 1-4. Berdasarkan hasil pengamatan yang mendalam terhadap dua teks tersebut, Sperl memilih untuk menggunakan versi Matius sebagai perbandingan karena Matius dianggap yang paling menarik baik dari segi bentuk ungkapan maupun keselarasan bunyi. Dalam hal ini ia berkata:

The Lord’s Prayer faces us with rather more textual problems than the Fatiha. Not only have two different versions come down to us in the Gospels but both of them are held to be translations of lost Aramaic originals. The relationship between the two versions, Matt: 6 and Luke: 11, has been extensively studied (for references see Finkel, 1981). They appear to have derived from diverse liturgical origins and to have undergone a period of evolution and change before entering the gospel. A reconstruction of the Aramaic originals as attempted among others by Lohmeyer (1946) is, therefore problematic, but ‘so far as this is possible the results for each gospel indicate that … the prayer was cast in rhythmic form, reminiscent of poetry with stresses, assonances and a strophic structure (Smith, 1962: 155). As observed by Jeremia (1960: 142 f.), Matthew’s longer version contains all the elements of Luke while expanding the prayer in certain places to amplify the parallelistic elements and create the symmetrical patterns of phrase frequently found in liturgical texts.[18]

 

Seperti halnya surah al-Fatihah, Sperl membagi frase doa tersebut dalam sepuluh frase, yaitu:[19]

1)        Bapa kami yang di sorga

2)        Dikuduskanlah nama-Mu

3)        Datanglah kerajaan-Mu

4)        Jadilah kehendak-Mu

5)        Di bumi seperti di sorga

6)        Berikanlah kepada kami hari ini makanan kami yang secukupnya

7)        Dan ampunilah kami akan kesalahan kami

8)        Seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami

9)        Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan

10)    Tetapi lepaskanlah kami dari kejahatan

Sepertinya halnya Fatihah, Sperl juga membagi doa di atas menjadi dua bagian berdasarkan hadis yang telah diungkapkan pada pembahasan sebelumnya. Sebagian dari doa ditujukan kepada Tuhan dan sebagian yang lain diperuntukkan kepada manusia. Dengan kata lain, frase 1-5 ditujukan kepada Tuhan, sedangkan frase 6-10 diperuntukkan bagi manusia. Sperl mengungkapkan:

Matthew’s version of the Lord’s prayer can be divided into ten lines, five dealing with the world of God and five with the world of man. The words of the hadith quoted above ‘half for Me and half for my servant’ thus apply quite literally to both prayers. Both also exhibit a similar thematic progression leading from Heaven to perdition, with man suspended in between. The invocation of both prayers establishes an ‘eschatological cosmology’ designed to praise and to describe the deity. The sanctity of God’s name, the enunciation of which affirms His presence, is a universal element of worship: both prayers begin by invoking the divine name and then proceed to qualify the status of God as sole and supreme ruler and to describe His power over mankind in this world and the next.”[20]

 

Terdapat beberapa kesamaan antara surah al-Fatihah dan the Lord’s Prayer ini. Pertama, keduanya sama-sama bisa ditujukan pada dua bagian, satu untuk Tuhan dan lainnya untuk manusia. Kedua, pola pembacaan sama-sama merujuk pada “dunia eskatologi” yang digunakan untuk pemujaan dan melukiskan sifat Ketuhanan. Ketiga, kedua doa tersebut dimulai dengan menyebut nama Tuhan yang dilanjutkan dengan pengungkapan atribut  Tuhan sebagai satu-satunya penguasa yang tertinggi. keempat, kedua doa tersebut menjelaskan tentang kekuasaan Tuhan atas manusia baik di dunia maupun di akhirat. Kelima, pembedaan bentuk sintaksis dan morfem digunakan untuk membedakan bidang Tuhan dan bidang manusia.[21]

Dalam the Lord’s Prayer, pusat oposisi menggunakan kalimat perintah dimana frase 2-4 dihadapkan pada frase 5-8. Urutan doa juga berbeda yang mana terdapat tiga bentuk kalimat perintah Tuhan (frase 2-4) berbanding dengan empat (frase 5-8) kalimat perintah untuk manusia dimana frase 8 menjadi pusat. Di sisi lain, penggunaan frase 5 yang dipertegas dengan frase 1 mengungkapkan turunnya Tuhan ke alam manusia yang merupakan bentuk dari penyelematan (salvation). [22]

Bentuk struktur kalimat yang menganut konsep yang sama (dari segi pengungkapan), memperlihatkan perbedaan yang cukup jelas antara Fatihah dan the Lod’s Prayer dari segi hubungan antara Tuhan dan manusia. Surah al-Fatihah menekankan penyampaian doa manusia melalui amal ibadah dan konsep tentang jalan yang lurus agar mendapatkan keselamatan, sedangkan the Lord’s Prayer menekankan pada menjelmanya (descent) Tuhan ke alam manusia untuk menyelamatkan manusia dari siksaan kejahatan dan dosa. Dalam hal ini Sperl mengungkapkan:

In their relationship, the three non-imperative phrases of the prayer thus convey both the descent from the divine to the human sphere and the hoped for analogy between the two, an analogy which points the way to salvation. This structural procedure, while revolving around similar concepts, is quite distinct from the Fatiha which links divine and human sphere through evocation of the act of worship and the image of the straight path.

It is interesting to note that man’s undertaking to show forgiveness, a key concept of Christian morality, is, as we have seen, structurally highlighted by appearing in the very centre of the prayer’s second half while in the Fatiha forgiveness and mercy become exclusive-but equally highlighted-epithets of God as expressed by the twice repeated al-rahman al-rahim. The forces of perdition, twice evoked in both texts, provide a further point of contrast: in the Lord’s Prayer, abstract concepts only appear (temptation/evil) whereas in the Fatiha perdition becomes tangible in the fate of ‘those who incur anger and those who go astray’. The personalization of evil and wrongdoing would seem to be a corollary of forgiveness and mercy as primarily divine rather than human epithets.[23]

 

Sperl menyadari ada hal yang menarik dari doa yang terdapat dalam Bible di atas. Ungkapan pada frase 8 merupakan konsep kunci dari ajaran moral Kristen yang penting dalam struktur kebahasaan dimana frase tersebut ditempatkan sebagai pusat permohonan dalam bidang manusia. Sedangkan di dalam Fatihah, ampunan dan rahmat (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) bersifat eksklusif yang hanya dimiliki oleh Tuhan dan diulang sebanyak dua kali.[24]

Selain itu, Sperl mengungkapkan perbedaan lain antara Fatihah dan the Lord’s Prayer yang harus diperhatikan. Bagian pemujaan yang terdapat dalam Fatihah (frase 5 dan 6) tidak ada bandingannya dalam the Lord’s Prayer. Perbedaan terakhir adalah permohonan yang disampaikan dalam the Lord’s Prayer memiliki empat bentuk permohonan (frase 6, 7, 9, 10), sedangkan pada surah al-Fatihah hanya terdapat satu permohonan (frase 7).[25]

Sebagai penutup, Sperl mengungkapkan bahwasanya dengan mengesampingkan perbedaan yang ada, urutan rumus (pola pengungkapan) dan tema yang diusung oleh kedua doa tersebut merupakan bagian dari satu tradisi peribadatan. Asal muasal dari dua agama tersebut seringkali dianggap berasal dari tradisi Yahudi dan kesamaan antara teks the Lord’s Prayer dan teks Yahudi memang banyak dan dikaji dengan intensif.[26]

  1.          Shu-ila[27]

Sperl melanjutkan penelitiannya dengan mencoba mencari referensi perbandingan ke masa sebelum hadirnya dua kitab suci agama besar di dunia saat ini. Ia mencurigai adanya kesamaan komposisi yang terdapat dalam doa-doa yang disebarkan di daerah Timur Dekat. Oleh karena itu ia melacak kebudayaan yang jauh lebih tua dari agama Islam dan Kristen dengan mencari teks yang masih bisa diakses oleh para orientalis.[28]

Perhatiannya tertuju pada doa pemujaan yang terdapat dalam kebudayaan Babilonia yang dikenal dengan sebutan shu-ila atau doa dengan “Mengangkat tangan”. Ia mensinyalir terdapatnya kesamaan rangkaian dalam doa-doa agama Timur Dekat dalam bentuk pujian-pemujaan-permohonan (invocation-worship-petition) yang berkembang dalam peribadatan di wilayah tersebut. Sperl mengungkapkan:

The structure of the doxology is more complex, however, because the theme of praise is resumed after the worship section so as to shift the focus from God onto Jesus Christ to whom the petition is then addressed. None the less the compositional similarity between the two texts would seem to suggest that the invocation-worship-petition sequence was more widespread in Near Eastern liturgies. The earliest parallel to it is, however, not found in Jewish liturgy but in the widely attested Babylonian prayer type known as shu-ila or prayer of the ‘raised hand’.[29]

 

Dalam perbandingan teks ini, ia mencoba membandingkan dua teks sebelumnya dengan doa kepada Dewa Bulan Sin yang terdapat dalam tablet yang terdapat dalam perpustakaan raja Assyiria yang bernama Ashurbanipal (668-33 SM). Doa tersebut ia bagi dalam tiga bentuk sebagaimana analisa yang ia gunakan pada dua teks sebelumnya.[30]

       I.          Praise

1)        Sin, O Nannar, glorified one…,

2)        Sin, unique one, who makes bright…,

3)        Who furnishes light of the people…,

4)        To guide the dark-headed people aright…,

5)        Bright is thy light in the heaven…,

6)        Brilliant is thy torch like fire…,

7)        Thy brightness has filled the broad land.

8)        The people are radiant: they take courage at seeing thee.

9)        O Anu of heaven whose design whose no one can conceive,

10)    Surpassing is thy light like Shamash thy first-born.

11)    Bowed down in thy presence are the great Gods; the decisions of the land are laid before thee.

12)    When the great Gods inquire of thee thou dost give councel.

13)    They sit (in) their assembly (and) debate under thee;

14)    O Sin, shining one of Ekur, when they ask thee

Thou dost give the oracle of the Gods.

II.          Lament and Worship

15)    On account of the evil of the eclipse of the moon…,

16)    On account of the evil of bad and unfavourable portents and signs which have happened in my palace and my country,

17)    In the dark moon, the time of thy oracle…,

18)    On the thirtieth day, thy festival,

The day of delight of thy divinity,

19)    O Naramsit, unequalled in power whose design no one can conceive,

20)    I have spread out for thee a pure incense offering of the night; I have poured out for thee the best sweet drink.

21)    I am kneeling; I tarry (thus); I seek after thee.

III.          Petition

22)    Bring upon me wishes for well-being and justice.

23)    May my god and my goddes, for many days have been angry with me,

24)    In truth of justice be favourable to me; May my road be propitious; may my path be straight.

25)    After he has sent Zakar, the god of dreams,

26)    During the night i may hear the undoing my sins; let my guilt be poured out;

27)    And forever let me devotedly serve thee.

Sebagaimana halnya dua teks yang telah dibahas sebelumnya, proses peribadatan (doa) kaum monoteisme dimulai dengan pengungkapan nama, status, dan kekuasaan Tuhan. Konsep ini juga berlaku bagi agama politeisme dimana pengungkapan tersebut tidak hanya menyebutkan satu dewa saja, melainkan juga dewa-dewa lain yang ada dalam kuil peribadatannya.[31]

Pada frase 1-8 dalam shu-ila diawali dengan puji-pujian kepada dewa bulan yang mana tidak hanya menyebutkan konsep spiritualnya melainkan juga kesesuaian dengan realitas fisik dimana cahaya bulan menerangi malam hari dan menjadi petunjuk bagi manusia. frase 9-14 menunjukkan status yang dimiliki oleh Sin dihadapan dewa lainnya. Disini terdapat perbedaan dengan dua teks sebelumnya yang hanya tertuju pada satu Tuhan dan berorientasi pada hari kemudian, sedangkan teks Babilonia menunjukkan kekuasaan yang tidak terbatas waktu sebagai bentuk hormat kepada dewa tersebut.[32]

Pada frase selanjutnya diungkapkan bentuk pemujaan dimana upacara tersebut dilakukan oleh seseorang yang membutuhkan pertolongan dalam menghadapi ancaman dan  malapetaka. Sperl menemukan hal yang menarik tentang pesan yang terkandung dalam pemujaan ini. Kandungan syair atau doa yang terdapat dalam shu-ila tersebut memiliki redaksi yang mirip dengan Fatihah dimana keduanya sama-sama menyembah dan memohon pertolongan. Ia mengungkapkan:

The worship sections of the shu-ila prayers contain two key statements: (1) that a rite of worship is to be performed by someone;(2) that the worshipper requires help in the face of a threat or calamity. It is interesting to note that the worship section of the Fatiha contains, in most condensed form, the same message:- ‘thee we worship – thee we seek for help’.”[33]

 

Sperl melanjutkan bahwa konsep yang ditawarkan oleh Al-Qur’an lebih umum dan universal, sedangkan shu-ila selalu menempatkan penyembahan dan kebutuhan pada konteks yang spesifik. Pada frase 21, kata-kata i am kneeling (نَعْبُدُ) dan i seek after thee (نَسْتَعِينُ) ditujukan untuk menghindari terjadinya bencana ketika gerhana bulan muncul. Oleh karena itu, manusia mengadakan perayaan (ritual) kepada dewa bulan agar terhindar dari malapetaka yang akan menimpa mereka.[34]

Contoh yang terdapat dalam peribadatan Babilonia di atas tidak hanya mengenalkan cara beribadah, akan tetapi juga menegaskan bentuk peribadatan yang benar dengan sikap yang sopan ketika memohon kepada Tuhan. Hal tersebut ditunjukkan dalam frase 20 yang mengungkapkan bentuk penghormatan kepada dewa bulan dengan melakukan persembahan.[35] Pola praktek peribadatan juga ditunjukkan dalam surah al-Fatihah dengan menggunakan kata إِيَّاكَ secara berulang yang ditujukan kepada Tuhan yang Maha Esa sebagai bentuk penyembahan yang tepat dalam ajaran Islam. Di sisi lain, Yesus juga mengajarkan umat Kristen untuk melakukan peribadatan dengan cara yang benar dan sopan.[36]

Sperl menarik kesimpulan dari pembahasan ini dengan menyatakan bahwa terdapat beberapa elemen kunci dalam kata-kata yang digunakan untuk berdoa kepada Tuhan. Doa tersebut dimulai dengan puji-pujian yang diikuti dengan penyembahan dan diakhiri dengan memohon pertolongan. Di sisi lain, pengungkapan yang terdapat dalam shu-ila menunjukkan adanya konsep yang sama yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Bible, hal ini kemudian mengantarkan Sperl pada kesimpulan bahwa shu-ila memiliki elemen-elemen kunci yang terdapat dalam Fatihah dan the Lord’s Prayer. Sperl menyimpulkan sebagai berikut:

“The petition of the Babylonian prayer faces us once more with a pantheon of interacting deities: Sin is requested to intervene with the worshipper’s personal gods so that the dream God Zakar might relieve his distress with an auspicious dream. However the worshipper’s supplications are, aside from the polytheist superstructure, most familiar, for they combine key elements in the petitions of the Qur’anic and the Christian prayers. There is fear of God’s anger (23) and hope for God’s favour (24) which parallels the same polarity in the Fatiha (ghadab vs. an’am). The ‘straight path’ (24) appears to anticipate al-sirat al-mustaqim while the plea for the ‘undoing of sins’ and the ‘pouring out of guilt’ is no different from ‘forgive us our debts’.[37]

 

Analisis Tulisan

Studi komparasi yang dilakukan oleh Sperl tidak terlepas dari pengaruh tulisan Arkoun yang menyatakan bahwa bentuk-bentuk kebahasaan yang terdapat dalam surah al-Fatihah melambangkan proses ibadah yang juga terdapat dalam tradisi peribadatan agama lain.

Hal ini bisa dilihat dari pemilihan kata-kata yang diawali dengan pujian yang terdapat dalam tiga teks yang menjadi objek kajian Sperl. Pujian itu kemudian diikuti dengan penyembahan dan diakhiri dengan memohon pertolongan menjadikan tiga teks tersebut memiliki rangkaian yang sama ketika menghadap Tuhan.

Kesamaan bentuk peribadatan dalam berbagai agama adalah hal yang niscaya dalam sejarah agama. Hal ini akan lebih terlihat dalam konsep hubungan antara manusia kepada Tuhannya yang disampaikan dalam pola-pola tertentu yang tersusun rapi. Pola dan rangkaian penyampaian keinginan tersebut juga sudah menjadi tradisi umum dalam kehidupan manusia dimana pujian diletakkan pada posisi pertama, kemudian diikuti dengan kepatuhan dalam bentuk peribadatan kepada Tuhan dan diakhiri dengan  menyampaikan keinginan terdalam yang dimiliki oleh manusia.

Disamping itu, terdapat potensi dan kemungkinan bahwa shu-ila sebagai teks tertua dari tiga teks yang diperbandingkan ini merupakan bentuk asal dari doa-doa yang terdapat pada agama yang muncul kemudian. Kemungkinan yang pertama yaitu masuknya shu-ila ke dalam Gospel Bible melalui warisan budaya yang dikompilasi dalam bahasa Aramaic kemudian digunakan oleh Yesus seperti yang terungkap dalam the Lord’s Prayer. Di sisi lain, kemungkinan warisan yang masuk ke dalam Islam dibawa oleh raja terakhir Babilonia yang bernama Nabonidus. Raja ini pernah tinggal di Madinah setelah diusir dari negerinya karena mengajarkan agama baru. Secara tidak langsung dengan jarak waktu yang cukup jauh, Madinah telah menjadi “Kota para Nabi” sebanyak dua kali. Dalam hal ini Sperl mengungkapkan:

“It is possible, for instance-though no written evidence existsthat after the demise of cuneiform writing, shu-ilatype prayers continued to be composed in Aramaic, the language which came to replace Akkadian. They may have formed part of the liturgy of worship in Mesopotamian and other Near Eastern sanctuaries until the spread of monotheist religions in the early centuries of our era. In this context it may be worth recalling that the cult of the Moon God Sin was introduced into north-western Arabia by one of his most fervent devotees, the last Babylonian King Nabonidus who mentions Yathrib as one of the locations he visited during his long exile in Taima. In his study of Nabonidus’s Harran inscriptions, C. J. Gadd notes the remarkable coincidence that’ two illustrious fugitives, separated by thirteen centuries,..both expelled in the cause of their religions, took refuge in the same city and returned thence … in partial or complete triumph’; Gadd concludes that ‘Medina has twice been the City of a Prophet’ (Gadd, 1958: 84). However, there appears to be little evidence that the cult of the Moon God survived in the area for long (see Wellhausen 1887/1961: 210).”[38]

 

Akan tetapi dalam hal status teks keagamaan, al-Fatihah memiliki status yang tertinggi dimana ia merupakan wahyu asli yang dibukukan dan tidak diragukan lagi kebenarannya oleh umat Islam. Peringkat kedua ditempati oleh the Lord’s Prayer yang merupakan ajaran langsung dari pembawa agama yang diakui keabsahannya oleh umat Kristen. Sedangkan shu-ila tidak membawa bukti bahwa ia merupakan wahyu Tuhan sehingga otensitasnya sebagai wahyu diragukan kebenarannya.[39]

Terlepas dari kesejarahan yang terpaut waktu cukup jauh, kesamaan rangkaian kata dan bentuk pemujaan dalam syair dan doa kepada Tuhan merupakan hal yang cukup fundamental dalam peribadatan agama-agama di Timur Dekat. Dengan adanya kesamaan dari tiap generasi, kita bisa melihat bahwa hubungan antara Tuhan dan manusia seperti mengalami beberapa tahapan yang mengarah kepada semakin dekatnya dialog  yang terjadi antara Tuhan dan manusia. Hal yang berubah dari generasi ke generasi diantaranya adalah perantara, fungsi dari ritual, dan bahasa yang digunakan kepada Tuhan.[40]

 

 Kesimpulan

Secara umum tulisan ini berusaha untuk menindaklanjuti penafsiran Arkoun tentang surah al-Fatihah dan di sisi lain berusaha membuktikan klaim yang menyatakan bahwa al-Fatihah merupakan surah yang unik dan tiada persamaannya dalam Taurat dan Injil.

Melalui metode komparasi teks suci keagamaan, Sperl berhasil menunjukkan sisi kesamaan bahasa dan ungkapan serta makna yang ingin dicapai dari teks-teks tersebut. Hal ini sekaligus membuka mata kita bahwa agama sedikit banyaknya diwariskan dari generasi ke generasi dalam bentuk yang berbeda, akan tetapi esensi yang ingin dicapai tetap sama.

Terlepas dari semuanya, Sperl sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan tentang hal-hal yang bersifat teologi. Beliau cenderung menghindari perdebatan teologi tentang status teks dan lebih mengarah kepada analisa pemaknaan teks dan bentuk tata bahasa yang digunakan dalam teks tersebut.

Selain itu, tulisan Sperl ini bisa dijadikan batu loncatan bagi para sarjana muslim yang tertarik pada studi teks agama-agama, terutama yang tertarik pada kesejarahan agama baik dari esensi ajaran dan bentuk peribadatan untuk menemukan nilai universal yang telah diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

 

Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, dalam Jurnal “Bulletin of The School of Oriental and African Studies”, University of London, vol. 57, no. 1

Muhammad Arkoun, Berbagai Pembacaan Al-Qur’an terj. Machasin (Jakarta: INIS, 1997)

Muhammad bin ‘Isa bin Surah al-Turmuzy, Sunan al-Tirmidzi terj. M. Zuhri dkk. (Semarang: Asysyifa’, 1992).

 

[1]  Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, dalam Jurnal “Bulletin of The School of Oriental and African Studies”, University of London, vol. 57, no. 1, hlm. 213.

[2]Muhammad Arkoun, Berbagai Pembacaan Al-Qur’an terj. Machasin (Jakarta: INIS, 1997), hlm. 95.

[3]Muhammad Arkoun, Berbagai Pembacaan Al-Qur’an, hlm. 97.

[4]Hal yang sama berlaku pada ayat-ayat berikutnya. Lihat Muhammad Arkoun, Berbagai Pembacaan Al-Qur’an, hlm. 99-101.

[5]Menurut penulis, tidak disebutkannya pelaku disini untuk menunjukkan bahwa kesesatan dan jalan yang tidak diridhai merupakan hasil perbuatan manusia, sedangkan Tuhan selalu memberikan kemurahan dan ridhanya kepada manusia. lihat Muhammad Arkoun, Berbagai Pembacaan Al-Qur’an, hlm. 101.

[6]Hadis ini hasan shahih menurut al-Tarmizi. Lihat Muhammad bin ‘Isa bin Surah al-Turmuzy, Sunan al-Tirmidzi terj. M. Zuhri dkk. (Semarang: Asysyifa’, 1992), jilid 4, hlm. 473.

[7] Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 213.

[8] Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 213-218.

[9]Lihat Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 214.

[10]Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 214.

[11]Lihat Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 215.

[12] Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 215.

[13] Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 215-216.

[14] Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 216.

[15] Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 217.

[16]Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 218.

[17] Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 219-221.

[18] Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 218.

[19]Lihat Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 219.

[20]Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 219.

[21] Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 219.

[22] Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 220.

[23]Lihat Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 220.

[24] Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 220.

[25]Lihat Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 220.

[26] Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 220.

[27] Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 221-226.

[28] Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 221.

[29] Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 221.

[30] Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 221.

[31] Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 222.

[32] Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 222.

[33] Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 222.

[34] Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 223.

[35]Dalam hal ini ritual persembahan dengan memberikan secangkir anggur yang terbaik.

[36] Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 223.

[37] Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 223.

[38]Lihat Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 225.

[39] Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 225.

[40] Stefan Sperl, The Literary Form of Prayer: Qur’an Sura One, The Lord Prayer, and a Babylonian Prayer to The Moon God, hlm. 226.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s