Fenomena Jilbab

Pendahuluan

Fenomena jilbab pada masa sekarang sudah mengalami berbagai perkembangan paradigma. Pada era Orde Baru, jilbab marak digunakan sebagai praktek keagamaan bagi para muslimah yang ingin menjalani hidup secara Islami. Pada saat ini, jilbab menjadi sebuah identitas bagi muslimah yang sudah dirancang ulang mengikuti gaya hidup dan berpakaian masyarakat yang berkembang.

Di sisi lain, paradigma tentang jilbab berkembang sebagai sebuah simbol kepribadian seseorang. Bagi generasi muda Indonesia, jilbab merupakan simbol keilmuan dan kesalehan seorang wanita. Sebagian beranggapan bahwa wanita yang memakai jilbab adalah orang yang baik, santun dan memiliki ilmu agama yang luas.

Hal ini menyebabkan sebagian generasi muda Indonesia takut menggunakan jilbab. Mereka merasa kepribadian dan kebiasaannya belum sesuai dengan makna yang terkandung dalam jilbab yang mereka gunakan dimana ketika mereka memakai jilbab, mereka beranggapan bahwa diri mereka haruslah berperilaku secara Islami dalam kehidupan sehari-hari.

Jilbab merupakan salah satu syari’at di dalam Islam. Kebutuhan akan jilbab merupakan sebuah ketentuan untuk meningkatkan martabat wanita dihadapan lawan jenis dan menghindari terjadinya maksiat yang dilarang dalam agama. Dari segi psikologi, semakin tertutup seorang wanita tersebut, semakin penasaran para pria dibuatnya. Hal ini menyebabkan, wanita yang menjaga tubuh dan kehormatannya dari pandangan lawan jenis memiliki nilai jual yang tinggi dan menjadi harta yang berharga bagi orang yang memilikinya.

Dalam makalah ini akan dijelaskan dalil-dalil yang menjadi landasan diwajibkannya menggunakan jilbab bagi wanita. Selain itu juga akan dijelaskan tentang bagaimana tanggapan pelajar dan mahasiswi ketika mereka menggunakan jilbab.

 

Pengertian Jilbab

Jilbab merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa Arab. Secara bahasa jilbab memiliki makna menarik, hal ini berimplikasi pada tubuh wanita yang memiliki pesona untuk menarik perhatian dan pandangan kaum pria.[1] Dalam KBBI jilbab dimaknai dengan baju luar yang lebar dan memiliki kerudung sebagai penutup kepala, muka dan dada.[2]

Al-Ashfahaniy memaknai jilbab sebagai baju dan kerudung, yaitu sesuatu yang menutupi tubuh dan aurat. Dalam kitab al-Qamus jilbab dimaknai sebagai pakaian lebar yang biasa dipakai oleh wanita untuk menutupi pakaian dalam mereka. Adapun Ibn Munzur memaknai jilbab pakaian wanita yang digunakan untuk menutupi kepala dan dada. Sedangkan dalam kitab al-Munjid jilbab dimaknai sebagai baju atau pakaian yang lebar.[3]

Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa jilbab dimaksudkan untuk menutup aurat, yaitu “Perhiasan dalam” wanita. Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali yang terbiasa nampak olehnya, yaitu wajah dan telapak tangan. Lebih lanjut Ibn Taimiyah menjelaskan bahwa wajah tidak harus menggunakan cadar, tapi leher dan dada harus ditutupi oleh jilbab.[4]

Pada dasarnya jilbab dimaksudkan sebagai hijab yang digunakan untuk melindungi bagian tubuh wanita yang apabila terlihat oleh lawan jenis maka akan menimbulkan syahwat. Selain itu, jilbab juga dimaksudkan untuk melindungi wanita dari timbulnya fitnah dan hal-hal yang akan merusak kehormatannya, seperti pelecehan seksual maupun tindakan pemerkosaan.

 

Dalil tentang Jilbab

Bagi kaum wanita, trend yang sedang berkembang di kalangan masyarakat Indonesia pada saat ini adalah model jilbaber atau hijaber, yaitu orang-orang yang menggunakan jilbab sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidup mereka. Disisi lain, ada juga kelompok yang menggunakan jilbab yang panjang dan lebar, bahkan sebagian diantara mereka ada yang menggunakan cadar.

Bagi kelompok terakhir yang disebutkan, landasan utama mereka memilih gaya berpakaian tersebut dilandaskan pada ayat Al-Qur’an, yaitu:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya: “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnyake seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. al-Ahzab ayat 59).

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آَبَائِهِنَّ أَوْ آَبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (Q.S. Al-Nur ayat 31).

Dalil diatas merupakan dalil yang kuat sebagai bukti bahwa Allah telah memerintahkan untuk mengulurkan jilbabnya hingga menutup dada. Hal ini ditafsirkan oleh sebagian umat Islam dengan menggunakan jilbab yang panjang dan lebar, bahkan ada yang sampai ke pinggang.

Ibnu Taimiyah menjelaskan jilbab pada ayat tersebut adalah baju wanita yang berukuran panjang. Ibn Mas’ud menyebut pakaian tersebut sebagai mantel atau jubah. Sedangkan kaum awam menafsirkan sebagai busana longgar yang menutupi seluruh tubuh dari ujung kepala hingga seluruh tubuh. Ubaidah dan shahabah lain mengatakan bahwa jenis busana adalah yang menutupi seluruh tubuh kecuali pada bagian mata. Oleh karena itu, cadar termasuk dalam kategori hijab pada ayat ini.[5]

Dalam Shahih Muslim kitab al-Haid diriwayatkan:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ عَنْ الضَّحَّاكِ بْنِ عُثْمَانَ قَالَ أَخْبَرَنِي زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ أَبِيهِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلَا الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ وَلَا يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ وَلَا تُفْضِي الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ

و حَدَّثَنِيهِ هَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ وَمُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ قَالَا حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ أَخْبَرَنَا الضَّحَّاكُ بْنُ عُثْمَانَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَقَالَا مَكَانَ عَوْرَةِ عُرْيَةِ الرَّجُلِ وَعُرْيَةِ الْمَرْأَةِ

Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Laki-laki tidak (boleh) melihat aurat laki-laki lainnya dan perempuan tidak (boleh) melihat aurat perempuan lainnya. Dan tidaklah (boleh) seorang laki-laki dengan laki-laki lainnya berada dalam satu pakaian, dan tidak (boleh) juga perempuan dengan perempuan lainnya berada dalam satu pakaian”. Dalam redaksi lain kata aurat diganti dengan telanjang.

Dalam hadis di atas jelas tertulis bahwa aurat merupakan privasi setiap orang, terutama yang beragama Islam. Kaum laki-laki dilarang memperlihatkan auratnya kepada sesama laki-laki, begitu juga dengan wanita dilarang memperlihatkan auratnya kepada sesama wanita. Jika sesama saja sudah dilarang, apalagi lawan jenis. Hal ini sebagai pencegah terjadinya kemaksiatan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.

Adapun hadis yang selama ini sering digunakan para penceramah dan da’i tentang aurat wanita, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud kitab pakaian, yaitu:

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ كَعْبٍ الْأَنْطَاكِيُّ وَمُؤَمَّلُ بْنُ الْفَضْلِ الْحَرَّانِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ عَنْ سَعِيدِ بْنِ بَشِيرٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ خَالِدٍ قَالَ يَعْقُوبُ ابْنُ دُرَيْكٍ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَاأَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتْ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ

قَالَ أَبُو دَاوُد هَذَا مُرْسَلٌ خَالِدُ بْنُ دُرَيْكٍ لَمْ يُدْرِكْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا

Artinya: Asma’ binti Abu Bakr masuk menemui Rasulullah saw dengan mengenakan kain yang tipis, maka Rasulullah saw berpaling darinya dan berkata: “Wahai Asma’, sesungguhnya wanita yang sudah haid tidak boleh terlihat darinya kecuali ini dan ini beliau menunjuk pada wajah dan kedua telapak tangan”. Abu Dawud berkata: “Hadis ini mursal, Khalid bin Durayk tidak pernah bertemu dengan Aisyah.”

Seperti yang diungkapkan sendiri oleh Abu Dawud dalam hadis tersebut, hadis yang menyebutkan aurat wanita adalah selain wajah dan telapak tangan adalah hadis yang terputus sanadnya sehingga tidak bisa dijadikan hujjah pengambilan hukum Islam. Akan tetapi, adanya dalil dari ayat Al-Qur’an yang menerangkan tentang aurat (apa saja yang boleh terlihat maupun tentang mahram) didukung hadis shahih dari riwayat Muslim di atas, aurat wanita adalah hal yang ada dan tidak boleh diperlihatkan kepada setiap orang.

Dalil-dalil di atas dipahami sebagai inti agama karena mengandung hukum yang dijadikan hujjah oleh ulama fiqih dalam penentuan hukum tentang hijab. Seperti yang diketahui bahwa dalam hadis di atas Nabi saw melarang wanita melihat aurat wanita lain. Larangan ini kemudian dipahami oleh ulama dan umat Islam sebagai salah satu ajaran Islam tentang adab berpakaian sehingga hijab atau jilbab kemudian dipandang sebagai inti ajaran agama Islam, bukan budaya Arab.

Disisi lain, keinginan umat Islam untuk menjalani hidup secara Islami sesuai dengan hukum-hukum yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan hadis menjadi latar belakang yang cukup berpengaruh terhadap perkembangan paradigma tentang jilbab. Seperti yang diungkapkan oleh Sumiati, awal gerakan Jilbab diawali karena adanya keinginan yang kuat dari generasi muda yang ingin menjalani hidup sesuai dengan syari’at yang berlaku, baik syari’at yang berasal dari Al-Qur’an, hadis, maupun ketetapan dari ulama-ulama fiqih.[6]

Berdasarkan alasan di atas, dapat diketahui bahwa hadis-hadis yang kemudian dijadikan dasar pengambilan hukum Islam merupakan hadis-hadis yang menjadi inti ajaran agama Islam. Sedangkan hadis-hadis yang tidak menjadi dasar pengambilan hukum Islam dapat dikategorikan sebagai hadis budaya.

 

Jilbab sebagai Identitas Agama

Jilbab atau pakaian yang menutup tubuh wanita adalah tradisi yang diwariskan oleh pembawa agama Islam Muhammad saw. Akan tetapi, pada masyarakat terdahulu telah ada jenis pakaian tertutup yang merupakan pakaian sehari-hari mereka.

Menurut Murthadha Muthahari, pakaian tertutup sudah banyak digunakan oleh bangsa-bangsa kuno, terutama yang berada di Iran. Di India peraturan untuk memakai pakaian tertutup justru lebih ditekankan. Di sisi lain, orang-orang Arab dinilai meniru tradisi dari Persia yang menilai wanita sebagai makhluk yang tidak suci sehingga diharuskan menutup seluruh tubuh agar tidak mencemari api suci ritual keagamaan Majusi pada saat itu.[7]

Quraish Shihab menjelaskan bahwa pada masa Jahiliyah sudah dikenal model pakaian berkerudung. Akan tetapi, kerudung itu hanya menutupi rambut dan bagian belakang tubuh, sedangkan pada bagian depan dari telinga hingga dada diperlihatkan untuk menarik perhatian kaum pria. Selain itu, wanita pada masa itu juga ingin menunjukkan berbagai perhiasan yang dimilikinya seperti anting, kalung, dan gelang. Oleh karena itu, pada saat Islam datang, nabi Muhammad saw mulai memberikan tuntunan tentang cara berpakaian yang baik dan sopan.[8]

Dalam beberapa dalil pada pembahasan sebelumnya, tuntunan berpakaian sudah cukup jelas bagi para wanita. Mereka dilarang untuk memperlihatkan aurat dan perhiasannya kecuali yang telah terbiasa terlihat dari dirinya. Hal ini disebabkan penampakan aurat bisa menimbulkan pengaruh negatif bagi lawan jenis. Hasrat seksual pria dinilai lebih aktif dan mudah terangsang, bisa jadi dengan melihat senyuman atau bagian dalam wanita terbuka sedikit menimbulkan keinginan yang menggebu-gebu untuk menikmatinya.[9]

Pakaian adalah salah satu faktor yang menunjukkan kepribadian orang lain. Kepribadian sendiri merupakan hal yang melekat pada diri seseorang dan membedakannya dari orang lain. Oleh karena itu, model dan cara berpakaian secara tidak langsung menunjukkan sifat asli pemakainya.[10]

Islam merupakan agama yang universal, ajaran yang terdapat dalam kitab sucinya mencakup segala aspek kehidupan manusia. Dalam hal berpakaian, Islam mengajarkan untuk berpakaian yang sopan dan rapi. Terutama bagi kaum wanita, ada aturan-aturan tertentu dalam mengenakan pakaian.

Dalam beberapa dalil yang telah dijelaskan sebelumnya, wanita dituntut untuk menggunakan pakaian yang menutupi hampir seluruh tubuh mereka. Terlebih lagi pada tubuh bagian depan, wanita dituntut untuk mengenakan sesuatu yang bisa menutupi dan tidak membentuk bagian dadanya. Model busana ini dikenal dengan sebutan jilbab, sehingga peraturan untuk memakainya diwajibkan oleh para ulama.

Ajaran tentang kewajiban memakai jilbab yang diwariskan sejak masa Nabi saw menjadikan jilbab sebagai identitas asli kaum muslimah. Setiap wanita yang memakai jilbab sudah dapat diketahui beragama Islam. Hal ini juga diakui oleh beberapa pelajar di SMU Muhammadiyah Ngawen Gunung Kidul dan mahasiswi Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga.

Dari wawancara yang dilakukan Sumiati, beberapa pelajar mengungkapkan bahwa jilbab adalah refleksi ibadah kepada Allah SWT dan jilbab juga melindungi kehormatan dirinya.[11] Adapun bagi para mahasiswi, mereka berjilbab karena jilbab merupakan syariat Islam dan merupakan salah satu perintah dari Allah serta melindungi dirinya dari fitnah.[12]

 

Jilbab sebagai Fenomena Budaya

Jilbab di kalangan masyarakat Indonesia pada saat ini sudah menjadi trend dalam berbusana. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya model-model jilbab yang dibuat oleh designer maupun orang yang biasa membuat pakaian. Trend ini kemudian dikenal sebagai jilbaber atau hijaber.

Adapun gerakan jilbab pada awalnya dianggap sebagai fenomena politik oleh Orde Baru. Pada tahun 1980-an jilbab dianggap sebagai simbol kesalehan seseorang dalam beragama. Akan tetapi, penggunaan jilbab yang kebanyakan dipelopori oleh remaja puteri ini dilakukan sebagai jawaban atas keinginan generasi muda untuk menjalani hidup yang Islami.[13]

Di lingkungan generasi muda, khususnya sekolah-sekolah yang berlabel Islam, jilbab merupakan model pakaian yang wajib digunakan oleh para siswinya. Siswi-siswi tersebut ada yang menggunakan jilbab karena aturan sekolah dan ada juga yang memakai jilbab karena merasa nyaman dengan model berpakaian tersebut.

Dalam wawancara yang dilakukan oleh Sumiati terhadap beberapa siswi di SMU Muhammadiyah Ngawen, Gunung Kidul, mereka berpendapat bahwa jilbab adalah pakaian yang bisa dikenakan kapan mereka mau dan bisa dilepas ketika mereka tidak ingin. Menggunakan kerudung sudah disebut berjilbab walaupun pakaian yang digunakan justru memperlihatkan bagian tubuhnya seperti pakaian ketat dan transparan. Jilbab sendiri hanya wajib digunakan  ketika bersekolah maupun menghadiri ritual keagamaan.[14]

Di sisi lain, jilbab dipandang oleh generasi muda Indonesia sebagai sebuah identitas yang melambangkan kepribadian seseorang. Wanita yang memakai jilbab biasanya dianggap memiliki ilmu agama yang mumpuni, rajin beribadah, memiliki kepribadian yang sopan dan santun, serta jauh dari prilaku tidak terpuji.[15]

Akan tetapi, ada juga para pelajar yang menganggap jilbab adalah refleksi ibadah, bukan hanya simbol agama maupun budaya Arab. Jilbab diwajibkan karena memiliki fungsi-fungsi yang bermanfaat bagi pemakainya, seperti perlindungan terhadap cuaca, menjaga diri dan menjaga kehormatan wanita.[16]

Fungsi-fungsi jilbab diatas menjadi alasan sendiri bagi beberapa pelajar untuk menggunakan jilbab sebagai busana sehari-hari. Mereka merasakan bahwa ketika berjilbab mereka lebih dihargai oleh teman-temannya, lawan jenis menjadi enggan untuk mengganggu dan berbuat usil, dan orang lain memandang baik kepribadian mereka jika mereka menggunakan jilbab. Jilbab disini tentu saja jilbab yang menutupi tubuh mereka, baik itu kepala, leher, maupun dada mereka. Selain itu, pelajar yang berjilbab juga menggunakan baju yang lebar yang tidak memperlihatkan bagian depan dan belakang tubuh mereka.[17]

Adapun di kalangan mahasiswi, jilbab pada saat ini merupakan gaya hidup tersendiri dalam berbusana. Keinginan untuk selalu tampil modis dan praktis dalam berbusana menjadi lambang bagi kaum perempuan. Juneman berpendapat bahwa model berbusana jilbab pada saat ini merupakan fenomena hibriditas lokasional, yaitu perpaduan antara unsur-unsur model yang didasarkan pada kreativitas dalam pembuatan maupun penggunaan.[18] Hal ini memunculkan beberapa model dan nama bagi desain baru jilbab seperti Jilbab Paris dan Jilbab Syira.[19]

Ada beberapa faktor yang menyebabkan mahasiswi-mahasiswi[20] menggunakan jilbab dengan model yang sesuai dengan trend saat ini, diantaranya:[21]

  1. Faktor Agama. Mahasiswi memakai jilbab agar terhindar dari fitnah dan terlindungi dari bahaya, selain itu jilbab merupakan salah satu syariat dalam Islam.
  2. Faktor Model. Jilbab pada saat ini sudah dirancang sedemikian rupa sehingga mahasiswi terlihat lebih modis dan percaya diri ketika menggunakannya. Selain menjalankan syariat agama, mahasiswi juga bisa terlihat cantik dan Islami.
  3. Faktor Keindahan. Busana merupakan salah satu daya tarik wanita ketika akan bertemu dengan orang lain. Keindahan jilbab yang selaras dengan busana yang digunakan akan menambah pesona yang terdapat dalam diri wanita tersebut, sehingga mereka akan merasa nyaman dan percaya diri.
  4. Faktor Media Massa. Banyaknya tayangan televisi terutama pada bulan Ramadhan yang bernuansa Islami dan menawarkan model-model busana muslimah terbaru, mempengaruhi psikologi para generasi muda. Hal ini membentuk karekteristik dan paradigma baru dalam berbusana sehingga banyak wanita yang merasa ingin menggunakan jilbab. Jilbab tidak lagi dipandang hanya sebagai syariat agama, akan tetapi juga merupakan model berbusana masa kini yang dinamis dan mempesona.

Dari beberapa faktor di atas dapat diketahui bahwa perkembangan budaya pada generasi muda Indonesia menyebabkan pergeseran paradigma tentang jilbab. Jilbab yang pada masa awalnya merupakan simbol keagamaan telah bertambah maknanya menjadi model berbusana masa kini. Akan tetapi, model pakaian ini tetap membawa sebuah identitas dan ciri khas bagi pemeluk agama tertentu.

Jilbab adalah salah satu ajaran berbusana dalam Islam. Oleh karena itu, setiap wanita yang menggunakan jilbab sudah menyatakan bahwa dirinya adalah umat Islam. Di sisi lain, setiap orang yang bertemu dengan wanita yang menggunakan jilbab sudah mengetahui agama wanita tersebut. Paradigma seperti ini membuat jilbab merupakan identitas pemeluk agama Islam bagi kaum wanita.

 

Kesimpulan

Berbusana tertutup dan menggunakan jilbab adalah salah satu ajaran agama Islam. Ajaran ini terlihat jelas dengan adanya dalil yang mewajibkan untuk menjaga diri dan kehormatan wanita dari berbagai fitnah dan maksiat. Selain itu, dalam paradigma generasi muda Indonesia jilbab tidak hanya dipandang sebagai syari’at agama saja, melainkan sebuah identitas agama bagi seorang muslimah dan simbol kepribadian bagi masyarakat muslim indonesia.

Penulis sendiri memaknai jilbab sebagai kerudung wanita yang menutupi kepala hingga dada. Adapun pakaian lebar yang tidak menampakkan aurat wanita penulis sebut sebagai hijab.  Sedangkan aurat penulis maknai dengan apa yang biasa tampak dari seseorang. Disisi lain, Al-Qur’an lebih banyak menggunakan kata libas untuk menerangkan pakaian baik dari segi makna hakiki maupun makna majazi.

Hal ini sangat penting karena setiap tempat memiliki budaya yang berbeda, seperti di Arab yang biasa tampak dari wanita adalah muka dan telapak tangan karena memang tradisi itu diwariskan dari masa Nabi saw. Berbeda dengan kaum wanita Indonesia yang memiliki aurat dari leher hingga mata kaki. Oleh karena itu, penulis berharap pembaca bisa membedakan yang mana Islamisasi dan yang mana Arabisasi.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Fuad Moch Fachruddin, Aurat dan Jilbab: Dalam Pandangan Mata Islam (Jakarta: CV Pedoman Ilmu Jaya, 1991).

Tim Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2005).

Aryani Nurofifah, Jilbab Sebagai Fenomena Agama dan Budaya (Yogyakarta, Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga, 2013).

Husein Shahab, Jilbab Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah (Bandung: Mizan, 1986).

Ibn Taimiyah dkk, Jilbab dan Cadar dalam Al-Quran dan al-Sunnah terj. Abu Said al-Anshori (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1994).

M. Quraish Shihab, Jilbab: Pakaian Wanita Muslimah (Jakarta: Lentera Hati, 2006).

Muhammad Walid dan Fitratul Uyun, Etika Berpakaian Bagi Perempuan (Malang: UIN-Maliki Press, 2012).

Juneman, Psychology of Jilbab: Fenomena Perempuan Melepas Jilbab (Yogyakarta: LkiS, 2012).

 

[1] Fuad Moch Fachruddin, Aurat dan Jilbab: Dalam Pandangan Mata Islam (Jakarta: CV Pedoman Ilmu Jaya, 1991), hlm. 33.

[2] Tim Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), hlm. 363. Lihat juga Aryani Nurofifah, “Jilbab Sebagai Fenomena Agama dan Budaya”, Skripsi Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga, 2013, hlm. 27.

[3] Husein Shahab, Jilbab Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah (Bandung: Mizan, 1986), hlm. 59-60.

[4] Ibn Taimiyah dkk, Jilbab dan Cadar dalam Al-Quran dan al-Sunnah terj. Abu Said al-Anshori (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1994), hlm. 19-20.

[5] Ibn Taimiyah dkk, Jilbab dan Cadar dalam Al-Quran dan al-Sunnah, hlm. 5.

[6] Lihat Sumiati, “Jilbab Sebagai Fenomena Agama dan Budaya”, Skripsi Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2004.

[7] M. Quraish Shihab, Jilbab: Pakaian Wanita Muslimah (Jakarta: Lentera Hati, 2006), hlm. 36.

[8] M. Quraish Shihab, Jilbab: Pakaian Wanita Muslimah, hlm. 40.

[9] M. Quraish Shihab, Jilbab: Pakaian Wanita Muslimah, hlm. 49.

[10] Muhammad Walid dan Fitratul Uyun, Etika Berpakaian Bagi Perempuan (Malang: UIN-Maliki Press, 2012), hlm. 24.

[11]Sumiati, “Jilbab Sebagai Fenomena Agama dan Budaya”, Skripsi Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2004, hlm. 53-54.

[12] Aryani Nurofifah, “Jilbab Sebagai Fenomena Agama dan Budaya”, hlm. 40.

[13] Aryani Nurofifah, “Jilbab Sebagai Fenomena Agama dan Budaya”, hlm. 31.

[14] Sumiati, “Jilbab Sebagai Fenomena Agama dan Budaya”, hlm. 49.

[15] Sumiati, “Jilbab Sebagai Fenomena Agama dan Budaya”, hlm. 50.

[16] Sumiati, “Jilbab Sebagai Fenomena Agama dan Budaya”, hlm. 54.

[17] Sumiati, “Jilbab Sebagai Fenomena Agama dan Budaya”, hlm. 57.

[18]Juneman, Psychology of Jilbab: Fenomena Perempuan Melepas Jilbab (Yogyakarta: LkiS, 2012), hlm. 5.

[19] Lihat Aryani Nurofifah, “Jilbab Sebagai Fenomena Agama dan Budaya”, hlm. 33.

[20] Sampel yang digunakan dalam skripsi ini adalah mahasiswi Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga.

[21] Lihat Aryani Nurofifah, “Jilbab Sebagai Fenomena Agama dan Budaya”, hlm. 41-50.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s