Review Quran: Reformist Translation

Pendahuluan

Al-Qur’an merupakan kitab suci agama Islam yang diyakini mengandung banyak pengetahuan dan pelajaran bagi orang yang memahaminya. Berbagai pengetahuan yang terkandung di dalam Al-Qur’an mencakup segala sisi kehidupan manusia, baik itu ajaran tentang ilmu pengetahuan, aturan-aturan tentang hubungan kepada Tuhan dan alam, hingga pengaruh-pengaruh yang akan muncul sebagai akibat dari perbuatan manusia.

Oleh karena itu, banyak golongan yang mencoba untuk mengungkapkan makna-makna yang terkandung di dalam Al-Qur’an. Di kalangan umat Islam sendiri, penafsiran tentang Al-Qur’an telah dilakukan sejak masa penurunan Al-Qur’an oleh nabi Muhammad saw. Pada masa tersebut, Al-Qur’an ditafsirkan dengan menggunakan metode penafsiran Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, baik itu dari segi hubungan antar ayat dan ayat serta surah dan ayat, maupun penjelasan antar ayat yang satu dengan menggunakan ayat yang datang kemudian. Di sisi lain Nabi saw dan para shahabah juga menggunakan metode penafsiran Al-Qur’an dengan hadis yang disampaikan Muhammad saw berkaitan dengan keadaan masyarakat pada saat itu.[1]

Pada era modern sekarang, penafsiran Al-Qur’an telah mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Banyak cabang ilmu yang digunakan oleh para sarjana Islam untuk mengungkapkan makna-makna yang terkandung dalam Al-Qur’an, seperti penafsiran Al-Qur’an yang menggunakan kajian ilmiah milik Thanthawi Jauhary[2], penafsiran Al-Qur’an dari sisi hukum-hukum yang terkandung di dalamnya milik ‘Aliy al-Shabuniy, dan penafsiran Al-Qur’an melalui metode-metode kebahasaan seperti balaghah dan linguistik.[3]

Di sisi lain, para sarjana di luar Islam juga ikut tertarik untuk menafsirkan Al-Qur’an sebagai pedoman ilmu pengetahuan dan kehidupan manusia. Para sarjana orientalis ini banyak mengungkapkan pemikiran-pemikiran mereka dalam memahami Al-Qur’an, seperti Montgomery Watt dengan metode historis-kritisnya, Maurice Bucaille dengan metode science, Andrew Rippin dengan menggunakan metode sosio-filologis, dan Toshihiko Izutsu dengan metode semantik Al-Qur’an. Penafsiran-penafsiran ini banyak menyumbangkan pengetahuan bagi manusia dalam memahami Al-Qur’an hingga Al-Qur’an bisa dipahami dan diamalkan sesuai dengan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.

Dalam makalah ini akan dibahas penafsiran Al-Qur’an yang ditulis oleh Edip Yuksel dan kawan-kawan. Dalam karyanya yang berjudul “Quran: A Reformist Translation” Yuksel menawarkan metode baru dalam memahami Al-Qur’an yang dianggap sebagai bentuk baru pembacaan terhadap Al-Qur’an yang berbeda dari penafsiran-penafsiran ulama Islam sebelumnya.

Sekilas Tentang Author

Buku yang berjudul “Quran: A Reformist Translation” ini ditulis oleh tiga orang, yaitu Edip Yuksel, Layth Shaleh al-Shaiban, dan Marta Schulte-Nafeh. Buku ini merupakan hasil kolaborasi pemikiran tiga orang tersebut dalam memahami teks suci agama Islam.

Edip Yuksel merupakan seorang penulis yang berdarah Amerika-Turki-Kurdi. Ia menghabiskan waktu selama 4 tahun di penjara Turki karena menulis tentang politik dan mempromosikan gerakan revolusi Islam di Turkey. Ia mengalami perubahan paradigma dari seorang muslim sunni menjadi seorang muslim reformis atau yang lebih dikenal sebagai monoteis rasionalis. Ia telah menulis lebih dari 20 buku yang berkaitan tentang agama, politik, filsafat, dan hukum di Turki. Ia juga merupakan pendiri dari gerakan Islam Reformis dan website 19.org. Ia menempuh pendidikan di University of Arizona dimana ia mendapatkan gelar kesarjanaan dalam bidang filsafat dan hukum. Edip bekerja sebagai asisten Profesor di Prima Community College dan mengajar berbagai kelas di sekolah anaknya.[4]

Layth Shaleh al-Shaiban merupakan seorang penulis berbagai buku dan artikel tentang Islam. Ia juga merupakan pendiri dari gerakan muslim progresif dan membantu berdirikan organisasi Islam Reformis. Layth bekerja sebagai penasehat keuangan di sebuah institusi finansial dan tinggal di Arab Saudi.[5]

Martha Schulte-Nafeh merupakan seorang asisten profesor yang praktek di University of Arizona dan seorang koordinator bahasa dalam bidang bahasa Timur Tengah di Departmen of Near Eastern Studies. Ia mendapatkan gelar kesarjanaannya dalam bidang ekonomi di Warthon School, University of Pennsylvania, menerima gelar M.A. dalam bidang linguistik di University of Arizona pada tahun 1990, dan mendapatkan gelar Ph.D. di universitas yang sama dalam bidang Arabic Language and Linguistic pada tahun 2004.[6]

Definisi Reformist Translation

Translation (English), ترجمة (Arab), dan terjemah (Indonesia) merupakan pemindahan atau alih bahasa dari suatu bahasa ke bahasa yang lain. Al-Zarqany memaknai terjemah sebagai pengungkapan makna sebuah kata dalam sebuah bahasa dengan kata lain dalam bahasa lain yang meliputi seluruh makna dan maksud yang terkandung dalam kata tersebut.  Dengan kata lain, terjemah yang benar adalah memindahkan bahasa sebuah kata ke dalam bahasa yang berbeda dengan menggunakan kata yang memiliki makna dan maksud yang sama sesuai dengan makna dan maksud yang terkandung di dalam kata yang diterjemahkan.[7]

Menurut al-Dzahaby, terjemah bisa merujuk pada dua hal, yaitu alih bahasa tanpa menjelaskan makna aslinya dan alih bahasa dengan menjelaskan makna aslinya. Pengertian pertama disebut dengan terjemah harfiyah dan pengertian yang kedua disebut dengan terjemah tafsiriyyah.[8] Terjemah juga berarti menyalin atau memindahkan sebuah perkataan dari satu bahasa ke bahasa lain agar maksud perkataan tersebut dapat dimengerti dan dipahami oleh orang yang tidak mampu memahami bahasa asal perkataan tersebut secara langsung.

Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa terjemah merupakan salah satu metode komunikasi antar 2 orang atau kelompok yang ingin memahami perkataan, konsep, maupun tulisan yang tidak mampu dipahami secara langsung karena keterbatasan bahasa yang dimiliki. Dengan demikian, terjemah menjadi sebuah sarana untuk memahami konsep pemikiran yang terkandung dalam sebuah tulisan maupun perkataan tanpa harus menguasai bahasa yang digunakan. Pada masa sekarang, terjemah banyak digunakan oleh berbagai kalangan untuk memahami makna yang terkandung dalam sebuah karya tulis terutama yang berhubungan dengan kitab suci, baik itu Al-Qur’an maupun Bible.

Sedangkan reformis merupakan gerakan pembaharuan dalam pemikiran Islam terutama yang menyangkut tentang penafsiran Al-Qur’an. Gerakan ini menggunakan monotheism (tauhid) sebagai aturan dasar bagi masyarakat dan merupakan dasar dari pengetahuan agama, sejarah, metafisik, estetika dan etika, seperti halnya sosial, ekonomi dan aturan dunia.[9]

Gerakan reformis mempercayai dasar ajaran Islam seperti rukun iman dan rukun Islam. Mereka menganggap cara pandang mereka sangat cocok dengan ajaran Islam. Perbedaan utama antara kelompok ini dengan kelompok Islam konservatif adalah penafsiran tentang cara mengamalkan nilai-nilai inti ajaran Islam ke dalam kehidupan modern dan menggunakan bahasa yang keras dalam mengkritik narasi tradisional bahkan ada yang menolaknya. Oleh karena itu, gerakan ini cenderung tidak mengikuti tradisi Islam yang berkembang hingga saat ini (sunnah) dan menafsirkan Al-Qur’an secara bebas tanpa memperhatikan fungsi hadis.[10]

Adapun reformist translation adalah model penafsiran Al-Qur’an yang diajukan oleh kaum reformis Islam sebagai kritik atas penafsiran-penafsiran terdahulu yang cenderung terikat pada tradisi lokal dan memuat unsur kepentingan politik. Oleh karena itu, kaum reformis menawarkan model penafsiran yang terlepas dari aturan, kepentingan, pengaruh, dan ajaran-ajaran yang berasal dari tradisi Islam. Al-Qur’an adalah teks yang hidup, wahyu Tuhan yang mengungkapkan dirinya sendiri tentang pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh Tuhan.[11]

Hermeneutika Reformist Translation

Pada cover buku “Quran: a Reformist Translation” dinyatakan bahwa buku ini secara eksplisit menolak pendapat ulama dalam menentukan makna yang tepat pada ayat-ayat yang bertentangan. Buku ini menggunakan logika dan bahasa Al-Qur’an sebagai otoritas tertinggi (ultimate authority) dalam penentuan makna yang tepat, tidak menggunakan penafsiran ulama terdahulu yang cenderung bersifat patriarki. Buku ini juga menawarkan penafsiran yang luas dengan lintas rujukan (cross referencing) baik itu rujukan dari Bible maupun argumen dari bidang ilmu pengetahuan dan filsafat. Buku ini berisi pesan-pesan Tuhan bagi siapa saja yang menginginkan bukti (reason) daripada taklid buta, bagi siapa saja yang mencari kedamaian dan kebebasan yang luas (ultimate freedom) dengan cara menyerahkan diri kepada kebenaran semata.[12]

Dalam pengantar buku tersebut diungkapkan bahwa argumen yang dibangun oleh ulama-ulama baik dari segi ajaran maupun praktek telah menimbulkan banyak kontroversi baik di jaman dahulu maupun sekarang, sedangkan Al-Qur’an merupakan pesan Tuhan yang maha kuasa yang menginginkan pesan-Nya disampaikan tanpa ada penyimpangan dan gangguan. Buku ini merupakan versi bahasa inggris dari Al-Qur’an yang mana menggunakan isi Al-Qur’an itu sendiri sebagai bacaan yang akurat. Buku ini tidak mencantumkan pendapat atau penafsiran yang kaku dari ulama terdahulu (all male scholarly) dan kepentingan politik yang disampaikan secara turun-temurun dalam bentuk tulisan dan ajaran yang dikenal dengan sebutan “hadis dan sunnah” dimana dua hal tersebut tidak memiliki otoritas dalam Al-Qur’an sebagaimana yang dinyatakan Al-Qur’an dalam berbagai surah, yaitu:[13]

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Artinya: “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (Q.S. al-Taubah ayat 31).

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya: “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.” (Q.S. al-Syura ayat 21).

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Artinya: “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (Q.S. al-Kahfi ayat 110).

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

Artinya: “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). (Q.S. al-A’raf ayat 3).

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا وَالَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ مُنَزَّلٌ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

Artinya: “Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.” (Q.S. al-An’am ayat 114).

Dalam hal ini, author berkata:

“Centuries after the revelation of the Quran, understanding of the Quran was inevitably influenced by the cultural norms and practices of tribal cultures in ancient Arabia, which were attributed to Prophet Muhammad and his close friends, and introduced as secondary religious sources besides the Quran. As the sample comparisons offered below demonstrate, these norms and practices distorted the perceptions of what the text actually said. When translation is liberated from these traditions the Quran conveys clearly a message that proclaims freedom of faith, promotes male and female equality, encourages critical thought and the pursuit of knowledge, calls for accountability and repudiation of false authority, as well as the replacement of political tyranny and oppression through representation in government, Above all, it is God’s command for the realization of justice for every man, woman, and child irrespective of ethnic origin or religion.”[14]

Disisi lain author mengakui bahwa pendapat dan penafsiran ulama terdahulu bisa dijadikan sumber referensi dan sejarah walaupun seringkali tidak memberikan sumbangan yang cukup. Hal ini disebabkan penafsiran tersebut sangat terpengaruh pada budaya patriarki, sangat bergantung pada ajaran dari kabar (hadis dan sunnah) yang disandarkan pada Nabi Muhammad saw dan shahabahnya. Penafsiran tersebut juga seringkali mengarah pada kepentingan kelompok dan politik yang tidak baik. Oleh karena itu author menolak untuk menggunakan penafsiran-penafsiran tersebut sebagai rujukan dalam menafsirkan Al-Qur’an.[15]

Buku ini secara keseluruhan menggunakan subtitle dan endnote dalam menjabarkan pesan-pesan yang disampaikan dalam Al-Qur’an. Dua hal tersebut tidak termasuk dalam “pesan Tuhan” dan tidak melambangkan sumber maupun otoritas apapun. Author berpendapat bahwa ini merupakan “terjemahan” terbaik dalam bahasa Inggris dimana terjemahan yang lain terpaku pada kesesuaian bahasa manusia yang tidak identik dengan makna yang dikandung teks dimana hal tersebut menunjukkan pemahaman yang keliru yang terikat dengan keterbatasan waktu, keterbatasan pengetahuan, dan kelemahan manusia. Oleh karena itu, author menggunakan pendekatan inklusif dengan menerima masukan dari berbagai sumber baik itu para sarjana, orang awam, bahkan non-muslim. Akan tetapi tulisan dalam karya ini merupakan hasil pemikiran dari author sehingga mereka nanti yang akan bertanggungjawab di hadapan Tuhan jikalau terdapat kekeliruan dalam mengungkapkan pesan-pesan yang terdapat di dalam Al-Qur’an.[16]

Sebagai penutup pembahasan ini, author menyampaikan bahwa dalam terjemahan ini pasti terdapat kesalahan. Oleh karena itu, pendapat dan kesimpulan dalam buku ini jangan diterima begitu saja, sekalipun penulis dari buku ini merupakan para sarjana dalam bidang teologi, linguistik dan filsafat. Para pembaca diharapkan dapat memberikan sumbangan  berupa saran dan kritik agar terjemahan ini bisa menjadi lebih baik daripada sebelumnya.[17]

Analisa Hermeneutika Reformist Translation

Secara umum, hermeneutika yang dibangun oleh Yukzel dan kawan-kawan dalam bukunya Qur’an: Reformist Translation mirip dengan hermeneutika Gadamer. Dalam hal ini ada empat teori hermeneutika Gadamer yang terdapat dalam Terjemahan Reformis ini, yaitu:[18]

  1. Kesadaran Keterpengaruhan Sejarah

Dalam pembahasan sebelumnya kita dapat melihat adanya kesadaran author tentang keterpengaruhan sejarah. Menurut Gadamer, seorang penafsir harus menyadari bahwa dirinya hidup dalam lingkungan sejarah yang membentuk pemikirannya. Pemahaman pembaca terhadap teks disadari ataupun tidak akan dipengaruhi oleh konsep-konsep yang sudah tertanam dalam pemikirannya. Hal ini berimplikasi terjadinya subyektifitas dalam penafsiran teks. Oleh karena itu, pembaca harus mampu mengatasi keterpengaruhan tersebut dalam menafsirkan agar dapat mengungkapkan makna seperti yang diinginkan oleh teks tersebut, dengan kata lain membiarkan teks menafsirkan dirinya sendiri (berbicara sendiri).[19]

Hermeneutika yang dibangun oleh Yukzel dan kawan-kawan cenderung dipengaruhi oleh hermeneutika Gadamer yang banyak dipakai oleh sarjana muslim saat ini untuk mengkritik penafsiran-penafsiran ulama klasik. Adanya kesadaran akan pengaruh sejarah merupakan salah satu teori hermeneutika Gadamer agar pembaca bisa memahami teks secara objektif.[20]

Gadamer menjelaskan bahwa para penceramah atau ulama menanamkan prasangka (kebenaran dari isi ceramahnya) kepada jamaah dan dilegitimasi oleh pribadi jamaah itu sendiri menjadi sebuah kebenaran yang objektif.[21] Doktrin yang ditanamkan secara turun-temurun dan diwariskan melalui tradisi mengakibatkan pendapat satu orang tentang satu masalah adalah pendapat yang benar dan absolut serta harus diikuti. Hal inilah yang kemudian dikritik oleh Yukzel dengan menolak pendapat-pendapat ulama sebagai hasil absolut dari penafsiran Al-Qur’an sebagaimana yang dipahami oleh masyarakat pada umumnya.

Quran: A Reformist Translation offers a non-sexist understanding of the divine text; it is the result of collaboration between three translators, two men and a woman. We use logic and the language of the Quran itself as the ultimate authority in determining likely meanings, rather than previous scholarly interpretations. These interpretations, though sometimes useful as historical and scholarly reference resources, are frequently rendered inadequate for a modern understanding and practice of Islam because they were heavily influenced by patriarchal culture, relied heavily on the hearsay teachings falsely attributed to the prophet Muhammad, and were frequently driven by hidden or overt sectarian and political agendas. We therefore explicitly reject the right of the clergy to determine the likely meaning of disputed passages.”[22]

  1. Teori Prapemahaman

Gadamer mengungkapkan bahwa seorang penafsir ketika berhadapan dengan teks telah memiliki pengetahuan awal tentang teks yang dibacanya. Pengetahuan awal ini terbentuk dari hasil sejarah pembelajarannya baik di keluarga maupun di sekolah. Dengan kata lain, prapemahaman merupakan pengetahuan dasar seorang pembaca ketika ia akan membaca sebuah teks untuk mendapatkan pemahaman dari teks tersebut.[23]

Yukzel mengungkapkan bahwa Al-Qur’an merupakan teks yang agung yang berasal dari Tuhan dan memiliki otoritas tertinggi. Akan tetapi otoritas dan pesan yang terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur’an telah mengalami distorsi pemaknaan yang terbatas pada pendapat para mufassir klasik. Oleh karena itu, ia menolak pendapat-pendapat mufassir sebagai landasan dalam penafsiran dan lebih mengutamakan penafsiran Al-Qur’an dengan Al-Qur’an. Dalam hal ini Yukzel berkata:

“Quran: A Reformist Translation is an English version of the Quran that takes an accurate reading of what is in the Quran itself as the standard. It thus abandons the rigid preconceptions of all-male scholarly and political hierarchies that gave rise to the series of writings and teachings known as the “Hadith & Sunna”, which, according to the Quran itself, carry no authority according to the Quran itself (9:31; 42:21; 18:110; 98:5; 7:3; 6:114). It is a progressive translation of the final revelation of God to all of humanity – a translation resonates powerfully with contemporary notions of gender equality, progressivism, and intellectual independence.”[24]

 Dalam hal ini, Yukzel memiliki prapemahaman Al-Qur’an sebagai teks yang bisa menafsirkan dirinya sendiri sehingga model dan hasil penafsiran ulama klasik bisa ditinggalkan. Oleh karena itu, ia lebih mengutamakan untuk mengungkap pesan-pesan dalam Al-Qur’an dengan menggunakan logical explanation yang terdapat di dalam ayat-ayat Al-Qur’an.

  1. Teori Horizon

Menurut Gadamer, dalam proses penafsiran terdapat dua horison (cakrawala). Horison yang pertama adalah horison yang terdapat di dalam teks dan yang kedua adalah horison yang dimiliki oleh pembaca. Dalam proses penafsiran terjadi asimilasi kedua horison tersebut yang kemudian membentuk sebuah hasil penafsiran.[25]

Dua horison antara teks dan pembaca ini sangat disadari oleh Yukzel ketika ia berusaha menulis buku Qur’an: Reformist Translation. Ia juga mengungkapkan bahwa ia hanya mencoba untuk mengungkapkan pesan-pesan yang terdapat di dalam Al-Qur’an tanpa adanya pengaruh dari otoritas lain seperti yang terjadi pada kitab-kitab tafsir klasik.

Selain itu, Yukzel juga menyadari bahwa kesalahan dan kekurangan adalah hal yang niscaya dalam penterjemahan dan penafsiran Al-Qur’an yang dimilikinya. Oleh karena itu ia meminta bantuan kepada semua pihak yang mengetahui kekurangan dan kesalahan dalam buku terjemahan Al-Qur’annya tersebut untuk memberikan kritik serta saran agar hasil penafsiran bisa menjadi lebih baik dan pesan Tuhan bisa disampaikan dan diterima oleh semua kalangan. Dalam hal ini ia berkata:

We argue that any modern commentary on the Quran – and all translations are, by definition, commentaries upon the Arabic text – should not be monolithic, but should instead reflect the perspective and critical evaluation of diverse disciplines and populations. We also argue that the voices of women, suppressed for so many centuries by Sunni or Shiite alike, should be taken into account in any interpretation of these extraordinary verses. To correct the egregious historical biases so obvious in previous English translations, we have chosen to take an inclusive approach incorporating input from scholars, lay readers, and even non-Muslims. The final word choices of the actual translation, however, are ours. We alone are responsible for them before God; if we have made an error, we appeal only to God for forgiveness.”[26]

Secara umum hermeneutika Reformist Translation mencakup beberapa hal, yaitu:

  1. Penafsiran ini merupakan penafsiran kolaboratif yang memuat pemikiran tiga orang penafsir, bukan tafsir invidual seperti halnya tafsir-tafsir klasik sarjana muslim.
  2. Model penafsiran ini menolak pendapat-pendapat dari ulama tafsir yang sering dijadikan sandaran oleh ulama tafsir modern. Author lebih cenderung menggunakan logika dan bahasa Al-Qur’an dalam menentukan makna dari ayat yang akan ditafsirkan dengan melibatkan ilmu pengetahuan dan filsafat.
  3. Model penafsiran ini menggunakan cross-reference dari berbagai kitab suci terutama kitab suci agama Kristen (Bible).
  4. Model penafsiran ini menggunakan berbagai pendapat dari berbagai ahli disiplin ilmu yang kemudian dikolaborasikan dengan pendapat author sehingga membentuk sebuah penafsiran yang multidisipliner.
  5. Model penafsiran ini berusaha melepaskan diri dari keterpengaruhan berbagai kepentingan dan berusaha untuk menampilkan makna yang sebenarnya berdasarkan apa yang terdapat di dalam ayat-ayat Al-Qur’an.
  6. Model penafsiran ini lebih cenderung menggunakan realitas sebagai referensi utama yang kemudian dirujuk pada bahasa Al-Qur’an untuk menemukan jawaban dari permasalahan-permasalahan yang terdapat dalam realitas kehidupan.

Contoh Penafsiran

Adapun contoh penafsiran dalam bentuk reformist translation yaitu pada surah al-Nisa’ ayat 34:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diriketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Author menungkapkan bahwa ayat ini tidak menunjukkan bentuk kekuasaan apapun antara satu pihak terhadap pihak yang lain, melainkan sebuah wujud hubungan yang seimbang dan setara antara laki-laki dan perempuan.

Selain itu, author juga menafsirkan kata nusyuz (نُشُوز) disini tidak berarti pemberontakan ataupun perlawanan, melainkan bentuk perselingkuhan yang dilakukan oleh isteri kepada suami. Hal ini sesuai dengan kalimat sebelum kata nusyuz yang menunjukkan pentingnya kesetiaan dalam kehidupan rumah tangga. Di sisi lain, dalam ayat 128 pada surah yang sama, kata nusyuz ditujukan kepada kaum pria (suami) sehingga hal ini berimplikasi pada bentuk perselingkuhan yang dilakukan oleh orang yang sudah menikah baik suami maupun isteri.[27]

Author juga membandingkan penafsiran dari Perjanjian Lama yang kemudian diinterpretasikan oleh Saint Paul dalam ajarannya tentang misogonis. Dalam kitab Imamat pasal 2 ayat 1-5 yang menyebutkan tentang kotornya seorang wanita ketika ia telah melahirkan. Uniknya adalah waktu kotornya (nifas) seorang wanita berbeda tergantung jenis kelamin yang dilahirkannya. Jika ia melahirkan laki-laki maka masa kotornya hanya seminggu, akan tetapi jika ia melahirkan perempuan maka masa kotornya bertambah menjadi dua minggu.[28]

Hal tersebut di atas merupakan bentuk diskriminasi terhadap perempuan yang kemudian dibawa masuk oleh orang-orang Yahudi dan Kristen yang masuk Islam dan digunakan dalam penafsiran-penafsiran klasik yang cenderung patriarki. Hal ini berbeda dengan tujuan Al-Qur’an melarang untuk berhubungan dengan isteri ketika telah melahirkan. Al-Qur’an bertujuan untuk melindungi kesehatan wanita dari hasrat seksual suaminya.[29]

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa dengan adanya cross-referencing para pembaca bisa mengetahui sebab munculnya tafsir-tafsir yang misogonis. Di sisi lain author juga ingin mengungkapkan bahwa Al-Qur’an bukanlah sebuah kitab suci yang misogonis, melainkan kitab suci yang adil terhadap semua gender dan memberikan perlindungan kepada wanita, tidak mengandung unsur-unsur yang melecehkan para wanita tersebut.

Penutup

Secara garis besar Edip Yuksel dan kawan-kawan menawarkan pembacaan Al-Qur’an yang lebih terjamin kebenarannya dengan menggunakan tafsir Qur’an bi al-Qur’an, baik dari sisi munasabah maupun menjelaskan satu ayat dengan menggunakan ayat lainnya. Di sisi lain mereka juga mengambil pendapat-pendapat dari berbagai golongan masyarakat dan berbagai ahli disiplin ilmu dengan tujuan agar Al-Qur’an bisa ditafsirkan sesuai dengan masa sekarang.

DAFTAR PUSTAKA

Muhammad Husein al-Dzahaby, Al-Tafsir wa al-Mufassirun (Kairo: Dar al-Hadis, 2005).

Edip Yuksel dkk., Quran: A Reformist Translation (USA: Brainbow Press, 2007).

Abd al-Qadir Muhammad Shalih, al-Tafsir wa al-Mufassirun fi al-‘Ashr al-Hadits (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 2003).

Sahiron Syamsudin, Hermeneutika dan Pengembangan  Ulumul Qur’an (Yogyakarta: Nawasea Press, 2009).

Hans-Georg Gadamer, Kebenaran Metode terj. Ahmad Sahidah (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010).

[1] Lihat Muhammad Husein al-Dzahaby, Al-Tafsir wa al-Mufassirun (Kairo: Dar al-Hadis, 2005), jilid 1, hlm. 37-45.

[2]  Kitab tafsir beliau diberi judul “al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an al-Karim”.

[3] Hal ini bisa dilihat dari model penafsiran yang ditawarkan oleh Amin al-Khulliy, Nasr Hamid Abu Zayd dan Muhammad Syahrur.

[4] Edip Yuksel dkk., Quran: A Reformist Translation (USA: Brainbow Press, 2007), hlm. 5.

[5] Edip Yuksel dkk., Quran: A Reformist Translation, hlm. 5

[6] Edip Yuksel dkk., Quran: A Reformist Translation, hlm. 5.

[7] Abd al-Qadir Muhammad Shalih, al-Tafsir wa al-Mufassirun fi al-‘Ashr al-Hadits (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 2003), hlm. 97.

[8] Muhammad Husein al-Dzahaby, Al-Tafsir wa al-Mufassirun, jilid 1, hlm. 25.

[9]  Teks aslinya berbunyi: “monotheism as an organizing principle for human society and the basis of religious knowledge, history, metaphysics, aesthetics, and ethicsm as well as social, economic, and world order.” Lihat en.wikipedia.org/wiki/liberal_movements_within_Islam, diakses tanggal 1 oktober 2013 jam 22.30 wib.

[10] en.wikipedia.org/wiki/liberal_movements_within_Islam.

[11] Hal ini bisa berarti tafsir Qur’an bi al-Qur’an dengan menggunakan logika dan bahasa Al-Qur’an.

[12] Ebook “Quran: a Reformist Translation” by Edip Yuksel and Company.

[13] Edip Yuksel dkk., Quran: A Reformist Translation, hlm. 10.

[14] Edip Yuksel dkk., Quran: A Reformist Translation, hlm. 11.

[15] Edip Yuksel dkk., Quran: A Reformist Translation, hlm. 11.

[16] Edip Yuksel dkk., Quran: A Reformist Translation, hlm. 11.

[17] Edip Yuksel dkk., Quran: A Reformist Translation, hlm. 12-13.

[18] Diambil dari Sahiron Syamsudin, Hermeneutika dan Pengembangan  Ulumul Qur’an (Yogyakarta: Nawasea Press, 2009), hlm. 45-52.

[19] Lihat Sahiron Syamsudin, Hermeneutika dan Pengembangan  Ulumul Qur’an, hlm. 46.

[20] Lihat Hans-Georg Gadamer, Kebenaran Metode terj. Ahmad Sahidah (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 410.

[21] Hans-Georg Gadamer, Kebenaran Metode, hlm. 338.

[22] Edip Yuksel dkk., Quran: A Reformist Translation, hlm. 11.

[23] Sahiron Syamsudin, Hermeneutika dan Pengembangan  Ulumul Qur’an, hlm. 46.

[24] Edip Yuksel dkk., Quran: A Reformist Translation, hlm. 10.

[25] Sahiron Syamsudin, Hermeneutika dan Pengembangan  Ulumul Qur’an, hlm. 48.

[26] Edip Yuksel dkk., Quran: A Reformist Translation, hlm. 11.

[27] Edip Yuksel dkk., Quran: A Reformist Translation, hlm. 104.

[28] Edip Yuksel dkk., Quran: A Reformist Translation, hlm. 105.

[29] Edip Yuksel dkk., Quran: A Reformist Translation, hlm. 104-105.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s