Fenomenologi agama

Disusun oleh:

Fauzan Azima

M. Rikza Muktada

Andi Zulfikar Darussalam

Pendahuluan

Studi tentang agama mulai marak pada abad ke-18 ketika Max Muller menekankan tentang studi agama yang deskriptif, pengetahuan yang objektif yang terbebas dari jerat normativitas teologi dan filsafat. Studi ini pertama kali dikenal dikenal dalam bahasa Jerman dengan sebutan religionswissenschaft yang kemudian diadopsi ke dalam bahasa Inggris dengan menggunakan kata history of religion.[1]

Dalam perkembangannya, studi agama mengalami akulturasi dengan pendekatan-pendekatan lain baik yang bersifat sosial maupun filsafat. Pendekatan-pendekatan tersebut digunakan untuk melihat agama secara lebih jauh dan mendalam.

Pendekatan antropologi-sosial agama lebih banyak membahas tentang upacara dan tindakan masyarakat yang kemudian menjadi tradisi keagamaan secara menyeluruh. Adapun psikologi agama adalah studi mengenai aspek psikologis dari agama, yaitu penyelidikan mengenai peran religius dari budi. Sedangkan filsafat agama adalah refleksi filosofis mengenai agama dengan menggunakan metode filsafat secara sistematis.

Adapun pendekatan yang sangat digemari oleh para pemuka agama sekarang adalah teologi agama, yaitu studi tentang agama yang dilakukan dengan diskusi antar agama sehingga diperoleh pengetahuan universal tentang agama.

Selain itu, ada pendekatan lain yang digunakan dalam studi agama, yaitu fenomenologi agama. Pendekatan ini lebih mengarah pada refleksi seseorang atau sekelompok orang dalam memahami agamanya. Refleksi ini terwujud dalam praktek keagamaan yang dilakukan setiap harinya.

Dalam makalah ini akan dibahas tentang fenomenologi agama yang membahas tentang gejala-gejala keagamaan masyarakat atau komunitas tertentu yang kemudian menjadi praktek keagamaan yang diwariskan secara turun-temurun.

Pengertian dan Tokoh Fenomenologi Agama

Fenomenologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu phainomenon yang berarti gejala, dan logos yang berarti refleksi atau ilmu. Fenomenologi bisa dimaknai ilmu tentang gejala. Secara istilah fenomenologi adalah studi tentang cara-cara sebuah gejala mewujudkan dirinya sendiri.[2]

Adapun fenomenologi agama adalah studi tentang pendekatan agama dengan cara membandingkan berbagai macam gejala dari bidang yang sama antara berbagai macam agama.[3] Fenomenologi agama juga berarti ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala dalam agama agar bisa dipahami arti agama tersebut menurut penganutnya.[4] Dalam pengertian ini, fenomenologi agama adalah studi yang mempelajari praktek keagamaan yang dilakukan oleh umat beragama agar bisa diketahui arti agama menurut penganut agama tersebut.

Penerapan fenomenologi agama dimulai sejak Chantepie de la Saussaye (1848-1920) menerapkan metode tersebut sebagai disiplin ilmu dalam studi agama. Penggunaan metode ini digunakan sebagai perantara antara sejarah dan filsafat untuk mengumpulkan dan mengelompokkan berbagai macam fenomena keagamaan. Sejarawan Itali Raffael Pettazoni (1883-1959) ikut merumuskan metodologi dalam studi agama dalam dua cara, yaitu sejarah dan fenomenologi. Sejarah mengungkapkan tentang apa yang terjadi dan apa yang ada dibalik sebuah fakta, sedangkan fenomenologi mengungkapkan makna dibalik peristiwa atau apa yang terjadi dalam praktek keagamaan tersebut.[5]

Selain dua tokoh diatas, ada beberapa tokoh lain yang ikut meramaikan fenomenologi agama, antara lain:

  1. W. Brede Kristensen (1867-1953)

Kristensen adalah seorang spesialis dalam bidang Mesir dan agama-agama kuno yang menggunakan metode fenomenologi dalam penelitiannya. Menurutnya, fenomenologi adalah sebuah pendekatan yang sistematis dan komparatif yang dijelaskan secara deskriptif serta tidak bersifat normatif.[6]

Kristensen berpendapat bahwa seorang fenomenologis harus menerima keimanan penganut agama sebagai suatu realitas keagamaan. Oleh karena itu, fenomenologis harus mengesampingkan pemikiran pribadinya ketika berhadapan dengan umat beragama dan beranggapan bahwa umat tersebut adalah orang yang benar. Dengan begitu fenomenologis bisa memahami apa makna yang terkandung dalam praktek keagamaan yang sedang ditelitinya.[7]

  1. Gerrardus Van Der Leeuw (1890-1950)

Beliau adalah seorang tokoh fenomenologi agama yang sangat terkenal. Banyak karya tentang fenomenologi agama saat ini yang merupakan pengembangan dari hasil pemikirannya. Menurut Eric J. Sharpe, pada tahun 1925 sampai tahun 1950, studi fenomenologi agama banyak dikaitkan dengan nama Van Der Leeuw. Dalam bukunya “Phanomenologie der Religion” ia menjelaskan tentang konsep pemahaman (Varstehen) yang dipengaruhi oleh pemikiran tokoh hermeneutika Jerman Wilhem Dilthey.[8]

Van der Leeuw menjelaskan fenomena sebagai sesuatu yang hadir, adanya hubungan timbal-balik antara subjek dan objek yang mana esensi dari hubungan tersebut mengungkapkan gejala pada seseorang. Menurutnya fenomenologi harus digabungkan dengan penelitian sejarah agar didapatkan pemahaman yang tepat dan memberikan data yang dibutuhkan kepada fenomenologis. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa fenomenologi menjelaskan bagaimana seorang manusia memperlakukan dirinya sendiri dalam hubungannya dengan kekuasaan.[9]

  1. Friedrich Heiler (1892-1967)

Beliau adalah peneliti dalam bidang ibadah, kepribadian beragama, paham kegerejaan dan kesatuan seluruh agama. Menurut Heiler fenomenologi bekerja dari luar menuju inti dari agama. Walaupun banyak pendekatan yang bisa dipakai, sikap apriori harus dihindari oleh seorang fenomenologis dan hanya menggunakan pendekatan yang sesuai dan metode induksi. Seorang fenomenologis harus melatih rasa hormat, toleransi dan pemahaman yang simpatik terhadap semua praktek keagamaan dan kebenaran agama yang terlihat dalam data penelitian.[10]

Dari beberapa tokoh di atas, dapat diketahui bahwa fenomenologi agama lebih cenderung pada penelitian tentang praktek keagamaan dengan tujuan untuk mengetahui rahasia dibalik praktek tersebut dan mengetahui apa makna agama dari sudut pandang penganutnya. Metode ini bisa dilakukan dalam beberapa pendekatan, bisa menggunakan pendekatan komparasi dan sistematik, pendekatan empirik, pendekatan sejarah, maupun pendekatan deskriptif.

Metodologi Fenomenologi dalam Penelitian Agama

Penelitian agama tidak cukup hanya bertumpu pada konsep agama (normatif) atau hanya menggunakan model ilmu-ilmu sosial, melainkan keduanya saling menopang. Peneliti yang sama sekali tidak memahami agama yang diteliti, akan mengalami kesulitan karena realitas harus dipahami berdasarkan konsep agama yang dipahami.[11]

Berangkat dari permasalahan tersebut, pendekatan-pendekatan[12] metodologis dalam studi agama secara terus menerus mendapat perhatian cukup besar dari para intelektual agama. Dalam perkembangannya kemudian dirumuskan berbagai pendekatan yang diadopsi atau berdasarkan disiplin-disiplin keilmuan tertentu seperti sejarah, filsafat, psikologi, antropologi, sosiologi termasuk juga fenomenologi yang akan kita bahas.

Fenomenologi agama bisa diartikan sebagai studi agama yang membandingkan berbagai fenomena yang sama dari berbagai agama untuk memperoleh prinsip universal. Dalam upaya itu, prinsip kerja fenomenologi Huserl khususnya epokhe[13] eiditis[14] dipergunakan. Ia juga bisa dipahami sebagai pendekatan terhadap persoalan-persoalan agama dengan mengkoordinasikan data agama, menetapkan hubungan, dan mengelompokkkan data berdasar hubungan tersebut tanpa harus mengadakan komparasi tipologis antar berbagai gejala agama[15].

Dari sisi metodologi, Fenomenologi agama bisa dijadikan sebuah metode pendekatan dalam studi agama dengan mengabaikan historisitas suatu agama[16], tetapi yang perlu diperhatikan adalah bagaimana agama menampakkan diri sehingga hakikat dari agama itu bisa dipahami.

Dengan metode fenomenologi dicoba ditemukan struktur dasar agama yang meliputi isi fundamental, sifat hakiki, relasi hakiki dengan kesadaran dan dengan objek lain yang disadari. Fenomenologi agama tidak hanya sekedar mendeskripsikan fenomena yang ditelaah, tidak juga hanya menggali hakikat filosofis fenomena, lebih dari itu suatu fenomena agama diartikan lebih mendalam sebagaimana yang dihayati manusia beragama, dalam upaya menghindari bias subjektif dan ketidaksesuaian antara penyelidikan dengan kenyataan agama sebagai suatu yang dialami dan dihayati.[17]

Oleh karena itu, dalam pengoprasian fenomenologi agama, Van Der Leeuw dalam bukunya “Religion in Essence And Manifestation; A Study in Phenomenology of Religion” menawarkan setidaknya tujuh langkah dalam fenomenologi sebagai pendekatan studi agama[18] :

  1. Klasifikasi, yaitu memeta-metakan fenomena agama sesuai kategori. Misalnya kurban, sakramen, tempat-tempat suci, waktu suci, teks-teks suci, festival dan mitos. Pengklasifikasian ini diharapkan mampu menggali nilai dari fenomena-fenomena yang ada.
  2. Mengikutsertakan gejala itu ke dalam kehidupan kita, dalam artian peneliti harus membaur dengan fenomena tersebut, karena yang muncul itu selalu merupakan sebuah tanda dengan arti yang pasti, dan yang harus diinterpretasi. Interpretasi itu hanya dapat dilakukan kalau gejala itu dialami dengan sengaja, sadar dan dengan metode.
  3. Epoche[19], yaitu pengurungan (bracketing) sementara semua pertimbangan nilai normatif. Selama penelitiannya, fenomenolog agama harus menahan diri dari memberikan penilaian, karena penilaian yang belum waktunya akan menghalang-halangi pengetahuan tentang esensi, sebuah konsep yang diambil dari filsafat Hegel.
  4. Mencari esensi gejala dan “tipe ideal” hubungan struktur-struktur. Upaya ini untuk memperoleh pemahaman holistik tentang berbagai aspek terdalam suatu agama dari informasi yang didapat.
  5. Das verstehen, yaitu bisa mengerti dan memahami keaslian gejala-gejala agama.
  6. Fenomenologi tidak berdiri sendiri akan tetapi berhubungan dengan pendekatan-pendekatan lain. Dimaksudkan bisa mengadakan koreksi terhadap hasil penelitiannya dengan bantuan filologi dan ilmu purbakala.
  7. Memberikan kesaksian hasil peneliannya[20].

Kerja fenomenologi agama sendiri dimulai dengan melakukan pengamatan sosial, kemudian data-data sosiologis itu digabungkannya dengan ide-ide keagamaan. Dengan begitu fenomenologi agama hendak mememukan logika intern dari agama sebagai fenomena universal di dunia ini. Atau dengan kata lain fenomenologi agama berusaha mencari hakikat atau essensi dari apa yang ada di balik segala macam bentuk manifestasi agama dalam kehidupan manusia di muka bumi.

Ada perbedaan antara pendekatan fenomenologis dengan pendekatan historis. Pendekatan historis menekankan pada apa yang sebenarnya terjadi, sedangkan pendekatan fenomenologis menekankan pada apa yang dianggap subyek telah terjadi, meskipun bukti empirisnya tidak ditemukan.

Misalnya, beberapa cerita maulid yang ditulis kaum Muslim mengatakan bahwa ketika Nabi Muhammad saw lahir, dia sudah dalam keadaan dikhitan dan bercelak mata, dan waktu kelahirannya itu dihadiri oleh Maryam (ibu ‘Isa) dan Asiah (isteri Fir’aun) serta para bidadari. Pendekatan historis akan cenderung menolak riwayat semacam ini karena sulit dibuktikan, tetapi pendekatan fenomenologis menerimanya sebagai suatu fenomena keagamaan kaum Muslim yang menunjukkan pengagungan mereka terhadap Nabi.

Selain itu, pendekatan historis lebih menekankan hubungan sebab akibat dalam kerangka kesinambungan dan perubahan, sedangkan pendekatan fenomenologis lebih melihat pada kesamaan struktur di antara fenomena keagamaan tanpa harus melihat hubungan keterpengaruhan. Maka, argumen dasar fenomenolog adalah bahwa pengalaman keagamaan[21] bersifat universal, dan keserupaan antar fenomena keagamaan tidak harus diartikan yang satu terpengaruh yang lain[22].

Pendekatan fenomenologis nampaknya menjadi “jalan tengah” antara pendekatan positisivistik dan pendekatan teologis yang bersifat dogmatis. Ia juga merupakan upaya mencari jalan keluar agar tidak terperangkap dalam kesalahan para orientalis terdahulu yang seringkali dipengaruhi oleh pandangan keagamaan mereka (Kristen/Yahudi) atau oleh kepentingan politik kolonial. Dengan melihat fenomena sebagaimana adanya, yakni bagaimana fenomena itu menampakkan dirinya sendiri kepada si peniliti, maka diharapkan tidak akan ada lagi penilaian a priori yang seringkali salah kaprah.

Fenomenologi yang diperkenalkan oleh E. Husserl memang punya perhatian khusus pada kesadaran manusia, dan dalam kajian agama, kesadaran merupakan fokus dari pengalaman keagamaan. Mungkin karena inilah maka dalam kajian keislaman, pendekatan fenomenologis banyak dikembangkan oleh para sarjana yang mendalami tasawuf[23]. Seorang orientalis asal Perancis bernama Henry Corbin (1903-1978) merupakan tokoh yang mula-mula menggunakan pendekatan fenomenologis dalam kajian Islam, ia menulis tentang Ibn al-‘Arabi.

Corbin kemudian melanjutkan bahwa tujuan dari studi tentang Ibn al-‘Arabi bukanlah untuk membentangkan sejarah pemikiran dengan cara melacak asal usul dan mendaftar pengaruh-pengaruh, karena pendekatan semacam itu akan mengerdilkan tokoh yang tengah dikaji. Tokoh-tokoh semisal Ibn al-‘Arabi, Suhrawardi, Mulla Sadra dan sebagainya, kata Corbin, mengatakan bahwa ide tertentu yang mereka tulis tidak akan ditemukan di manapun, karena ia adalah temuan mereka sendiri melalui pengalaman pribadi (it is their discovery of their personal experience).

Respon Tokoh Muslim Terhadap Fenomenologi

Tak banyak yang bisa dicatat dari peneliti kajian keagamaan dari kalangan muslim. Barangkali  yang memadai untuk disebutkan di sini adalah Joachim Wach, Charles J. Adam dengan karyanya Islamic Religious Tradition (1976) dan Sayyid Hossein Nasr yang mengarang sebuah buku di bidang fenomenologi yang berjudul Knowledge and The Sacred (1988), Suhrawardi dengan Filsafat Iluminasi dan Fenomenologinya, dan Juga Hasan Hanafi dengan Turast wa Tajdid-nya.

Sedikit mengkomparasikan dua pandangan. Filsafat Iluminasi (Hikmatul Isyraq) dan fenomenologi (al-Falsafah al-Wujudiyyah) ternyata meletakan problematika yang sama, yaitu pada batasan manakah kemungkinan kompromisasi atau akumulasi, antara paradigma persepsi (manhaj an-nadzar) dan paradigma instuisi (manhaj adz-dzauq) dalam pandangan Suhrawardi; atau orientasi rasional dan orientasi empiris menurut pandangan Husserl? Demikian itu untuk membangun paradigma yang satu, yaitu paradigma iluminatif/kesadaran yang mengakumulasikan persepsi dan instuisi, sebagaimana yang terjadi dalam filsafat iluminasi, atau antara rasio dan realitas dalam pengalaman empiris yang dinamis, sebagaimana terjadi dalam paradigma fenomenologi. Suhrowardi mencoba mendamaikan perdebatan dua paradigma, rasional[24] dan hati[25], yang mencoba memperebutkan peradaban islam. Sedangkan Husserl mendamaikan antara orientasi rasional dan orientasi empiris yang berkembang di Eropa pada saat itu[26].

Fenomenologi muncul sebagai solusi kreatif yang menjawab atas krisis rasio dan realitas materiil yang terjadi pada abad 19 dan 20. Abad yang merintis ide-ide pengalaman paradigma ilmu-ilmu alam menuju paradigma ilmu-ilmu humaniora yang menekankan pada pengalaman humanism. Namun pengalaman humanisme ini lebih mendekati pada pengalaman empirik sufisme daripada pengalaman empirik ilmiah. Oleh karenanya, rasio berfungsi sebagai analisis bagi pengalaman kesadaran, sedangkan realitas berfungsi sebagai realisme yang hidup dinamis dalam kesadaran.

Biasanya sebuah komparasi tidaklah menunjukan hubungan sejarah apapun di antara dua filsuf. Husserl secara absolut tidak membaca tradisi klasik Islam, ia tenggelam dalam problematika Kantian dalam bentuk khusus dan filsafat Eropa dalam bentuk umum, bahkan ia dianggap sebagai salah satu teoritikus kesadaran Eropa dan memposisikannya dihadapan peradaban timur klasik yang mitis, praksis, dan religius[27]. Husserl menganggap peradaban timur hanya meliputi Cina dan India, ia mengabaikan Persia maupun peradaban Islam.

Dalam pengkajian Islam, fenomena-fenomena pemikiran masa lampau yang muncul dari interpretasi terhadap teks dianalisa ulang melalui dua langkah; pertama, meruntut kembali munculnya fenomena interpretatif–antitesa ‘peradaban ideal’ Muhammad Arkoun- sebagai konstitusi (al-Takwîn) yang menjelaskan kemunculan suatu gagasan dan perkembangannya; kedua, merujuk sebuah fenomena terhadap teks dasar sebagai ‘pemudaran’ keterpengaruhan lingkungan atau peradaban lain agar sesuai dengan konteks kekinian. Dalam istilah Hassan Hanafi[28], langkah ini dinamakan Tahlîl al-Khubrât. Karena bagaimanapun, tradisi adalah sesuatu yang ditransformasikan kepada kita, kemudian ia dipahamkan, sekaligus menjadi tuntutan kehidupan kita. Pada tahap transformasi, tradisi memberikan “kesadaran historis”; pada tingkat pemahaman, tradisi bermetamorfosa menjadi “kesadaran eidetis”; sedang pada tataran tuntutan kehidupan, tradisi menjadi “kesadaran praksis”. Meruntut fenomena masa lampau sebagai sebuah interpretasi terhadap ‘teks’ mengharuskan pula merombak tatanan disiplin keilmuan Islam. Dengan demikian, ashâlah di sini berperan menyibak realitas sesungguhnya, karena pada dasarnya ashâlah bukanlah tujuan utama, melainkan hanya perantara.

Dalam tataran aplikatif, disiplin keilmuan Islam yang berdimensi teosentris diarahkan menuju antroposentrisme pemaknaan. Ia dicari akar “kesadarannya” melalui perbandingan dengan aspek kemanusiaan. Misalnya saja, pembahasan tentang entitas (dzât), atribut (al-Shifât) serta perbuatan (af’âl) diarahkan menuju pemaknaan manusia sempurna (al-Insân al-Kâmil). Oleh karena itu, dalam buku Min al-‘Aqîdah ilâ al-Tsawrah, Hassan memfokuskan pada pembahasan; dzât al-Insân, shifât al-Insân, fi’l al-Insân, ‘aql al-Insân, dan seterusnya; serta pada pemaknaan manusia sempurna (al-insân al-kâmil).

Dalam filsafat, mantiq ditransformasikan menjadi logika kesadaran (al-Mantiq al-Syu’ûrî) berdasar premis. Dalam filsafat ada tiga wacana yang menggema; logika (al-Mantiq), ketuhanan (al-Ilâhiyyât), alam (al-Thabî’iyyat). Sedang naturalisme – dalam perspektif sarjana klasik – adalah naturalisme rasional, dan sekarang bermetamorfosa menjadi naturalisme matematis. Adapun ketuhanan harus dipahami secara integral dengan alam, guna melekatkan kesadaran integralitas alam dengan Tuhan dalam benak manusia. Sehingga akan muncul wacana, melestarikan alam atas nama Tuhan.

Jika pada kalam dan filsafat, “nash” menghasilkan makna dan teori serta konseptualisasi universal, maka dalam disiplin ushul fiqh, “nash” ditelorkan menjadi metode-rasional-realistis (Manhaj ‘Aqliy Wâqi’î). Problem yang mencuat dalam rekonstruksi Ushul adalah pada bagaimana mentransformasikan ushul fiqh yang istidlâlî-istinbâthî-mantiqî menuju falsafî-insânî-sulûkî. Atau transformasi kesadaran teoritis (al-Wa’y al-Nadzarî) menuju kesadaran praksis (al-Wa’y al-‘Amalî). Hal ini akan menjadikan pelaksanaan tendensi wahyu tertransformasikan menuju hamba; tindakan Tuhan akan terwujud dalam tindakan manusia. Sejalan dengan hal ini, maka Ushul Fiqh merupakan ilmu tanzîl: ilmu pengetahuan yang menginferensikan ketentuan-ketentuan yuridis yang berorientasi pada Allah (teosentris), menuju manusia (antroposentris).

Dalam kacamata fenomenologi, realitas tersebut terejawantahkan dalam dimensi kemanusiaan (antroposentris). Jika semua disiplin keilmuan berpusat pada wahyu, serta diunifikasi ke arah antroposentrisme pemaknaan maka akan menjadi ideologi dalam “kesadaran”[29] manusia sendiri. Sadar bahwa yang sedang dihadapi sekarang adalah kemunduran peradaban; kesadaran sebagai sebuah ideologi yang berelasi secara langsung dengan realitas. Karena “kesadaran individual” itu akan menjelma menjadi “kesadaran sosial” (min al-Wa’y al-Fardî ila wa’y al-Ijtimâ’i). Dan dari dunia “kesadaran” akan menjelma menjadi “dunia realitas”[30]. Contoh realitas yang sedang dihadapi sekarang adalah problematika tanah Palestina, krisis demokrasi dalam setiap Negara karena dominasi penguasa, keadilan sosial, serta problem persatuan umat, dan seterusnya.

Kritik Terhadap Metode Fenomenologi

Terlepas dari beberapa kelebihan pendekatan fenomenologi, terdapat beberapa kesulitan untuk memahami esensi dari suatu pengalaman keagamaan dan manifestasi[31]. Dalam hal ini beberapa kritik terhadap fenomenologi agama diantaranya:

  1. Fenomenologi agama mengklaim pendekatannya deskriptif murni yang resisten terhadap campur tangan peneliti, bagaimana mungkin seorang fenomenolog tidak memiliki kepentingan-kepentingan tertentu dalam mengontrol data dan metode yang digunakan. Maka kurang tepat jika fenomenologi diklaim sebagai pendekatan deskriptif murni.
  2. Fenomenologi agama dinilai cenderung memperlakukan fenomena keagamaan dalam isolasi sejarah. Seolah-olah sejarah tidak diperlukan dalam menentukan relevansi fakta-fakta fenomena bagi praktisi agama. Padahal dalam prakteknya fenomenologi agama seringkali tidak mampu mengkontekstualisasikan fenomena-fenomena keagamaan yang dikaji.
  3. Peneliti kesulitan dalam menentukan sisi yang benar dan dapat diterima, terlebih ketika menggunakan data-data yang bersifat intuitif untuk diverifikasi dalam wilayah objektif. Term “objektif” dan “intuisi” adalah sesuatu yang kontradiktif.
  4. Persoalan empati. Adanya kekhawatiran terjadinya konversi agama karena tuntutan untuk berpartisipasi langsung dalam praktek dan ritual keagamaan.

Dengan beberapa kritik di atas dapat diketahui bahwa metode ini juga mempunyai kelemahan yang cukup signifikan sehingga dalam penerapannya harus dilakukan dengan teliti dan objektif sehingga tidak ada pihak yang merasa diuntungkan ataupun dirugikan.

Aplikasi Fenomenologi dalam Studi Agama

Fenomenologi agama merupakan kajian langsung terhadap praktek keagamaan yang dilakukan dalam sebuah agama. Dalam pembahasan ini akan diterangkan tentang penggunaan metode fenomenologi dalam menjelaskan fenomena kurban menurut dari berbagai agama dan kepercayaan.

  1. Upacara Kurban Secara Umum

Siapa yang tidak kenal dengan salah satu ibadah kurban pada Idul Adha di dalam Islam, disetiap tahunnya umat Muslim dunia merayakannya, pun tak hanya bagi Muslim ibadah satu ini telah menjadi satu ibadah yang universal yang dimana beberapa agama mengenal dan merayakannya, tentunya dengan niat dan cara yang berbeda.

Paradigma manusia religius terhadap kehidupan di alam semesta dalam kesatuan sosial maupun sebagai individu tidaklah dapat berlangsung kalau tidak dipelihara dan dirangsang dengan ritus-ritus yang menjamin kesesuaian dengan kekuatan-kekuatan kosmis atau ilahi. Mereka menyucikan situasi-situasi kritis dan marginal dalam hidup individu dan kolektif. Ya, salah satu dari ritus itu adalah upacara kurban yang mempunyai tempat dalam peribadatan, karena dengannya manusia religius mengadakan persembahan diri kepada dewa atau Tuhan lewat suatu pemberian.

Upacara kurban dapat digambarkan sebagai persembahan ritual berupa makanan atau minuman atau binatang sebagai konsumsi bagi suatu makhluk supernatural. Upacara kurban merupakan ilustrasi yang bagus untuk suatu bentuk komunikasi nonverbal karena mencakup pertukaran barang dan jasa pada taraf religius. Upacara kurban secara ritual adalah benar-benar suatu bentuk pertukaran antara manusia dan makhluk adikodrati.[32] Upacara kurban sebagai suatu komunikasi nonverbal antara manusia dan makhluk adikodrati, meliputi persembahan dan persekutuan.

  1. Upacara Kurban di antara Penduduk Primitif

Berbicara dunia modern dan primitif begitu relatif, dapat dimungkinkan masa sekarang akan menjadi primitif di seratus tahun mendatang, dan menyangkut upacara kurban dalam masyarakat primitif[33] di dunia.

Dari segi ritual maupun fungsi yang kemungkinan antara suku yang satu dengan suku yang lain berbeda cara dan niat dalam mengamalkannya. Ibadah kurban tidak harus dengan mengorbankan hewan ternak saja, tetapi juga bisa menggunakan ritual-ritual yang lain. Di antara penduduk Abaluyia dari Kavirondo[34] pengurbanan di persembahkan kepada leluhur maupun kepada Tuhan pada kesempatan-kesempatan khusus dalam hidup seseorang, untuk meningkatkan kedudukan ritualnya karena mereka memohon berkat leluhur atau Tuhan.

Di Afrika selatan terdapat berbagai jenis upacara kurban, salah satu diantaranya upacara kurban yang besar untuk hujan di antara penduduk Bamangwato di Afrika selatan.[35] Mereka memohon hujan dengan menyembelih seekor banteng hitam, yang tanpa cacat atau belang. Sebelum di sembelih banteng tersebut di beri minum air kemudian di sembelih di kuburan, dimana api dinyalakan di sekitar tempat suci dan di panggang. Mereka memakan daging tersebut di tempat pemujaan, kemudian di bawah pimpinan kepala suku mereka menyanyikan lagu-lagu pujian.

Masih banyak lagi suku primitif lain, yang juga sering melakukan berbagai ritual kurban dalam berbagai acara. Seperti penduduk Mende di Sierre Leone[36].

  1. Upacara Kurban di Israel[37]

Berbicara Israel tidak kalah menariknya dari persoalan perseteruannya dengan Palestina tetapi juga dalam membahas upacara kurban mereka yang berisi berbagai jenis persembahan.

Bagi mereka (Jewish) segala sesuatu yang dimakan dan diminum oleh manusia untuk pemenuhan dirinya sendiri bisa dijadikan bahan untuk pengurbanan, baik persembahan berdarah maupun tidak berdarah. Dalam upacara kurban binatang, bagi mereka darah binatang haruslah sampai memercik ke lantai dan kemudian ditutup dengan tanah. Hampir semua benda menurut hukum Taurat dibersihkan dengan darah. Tanpa menumpahkan darah tidak ada pengampunan (dari dosa).

Teologi penebusan dosa dengan pencurahan darah telah dipraktekkan dalam kehidupan iman umat Israel sejak awal. Setiap umat yang berdosa untuk pengampunan dosanya wajiblah dia membawa kurban penghapus dosa (asyam) atau kurban penebus salah (hattath). Hal ini sudah diterima oleh orang Israel maupun bangsa-bangsa lain, “karena kehidupan daging ada dalam darah: dan aku telah memberikan itu kepadamu, maka engkau dapat membuat pertobatan (semata-mata) dengan itu di altar bagi jiwamu, sebab darah menerima pertobatan berkat jiwa”.[38]

Bagi manusia primitif darah merupakan kehidupan. Dan darah seperti halnya kehidupan, merupakan hadiah yang sangat berharga yang dapat dipersembahkan kepada dewa. Dalam arti sepenuhnya, darah melambangkan kehidupan seseorang.

  1. Upacara Kurban dalam Islam

Wacana kurban dalam Islam, al-Qur’an menyatakan:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: “Daging-daging unta dan darahnya itu tak sekali-kali mencapai (keridhoan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-Haj ayat 37).

Kurban dalam Islam bukanlah untuk penebusan dosa terlebih lagi untuk membujuk Tuhan supaya mengakhiri permusuhan dengan manusia seperti pada beberapa agama lainnya, kurban disini bukan hanya perbuatan mengalirkan darah binatang dan membagi-bagikan dagingnya kepada kaum fakir miskin, akan tetapi berkaitan dengan melekatnya perbuatan taqwa, berserah diri kepada Allah, rendah hati dan sabar dalam menghadapi kesukaran; dan lain sebagainya yang mendekat kepadaNya.

Hikmah lainnya yang terkandung dalam ajaran Islam adalah terjadinya hubungan dengan Allah SWT yang semakin dekat, memudahkan dan memantapkan rasa solidaritas sosial, mendidik manusia yang melaksanakan qurban menjadi orang yang pandai bersyukur atas segala kenikmatan, membuktikan bahwa kita termasuk orang-orang yang taat dalam menjalankan perintah Allah SWT[39], binatang yang dikurbankan melambangkan sifat kebinatangan dalam dirinya, sehingga dengan menyembelih binatang kurban mengingatkan kepada manusia untuk menyembelih sifat kebinatangan dalam dirinya.

Dipilihnya suatu hari untuk menyembelih hewan kurban, ini dimaksud agar seluruh hati kaum Muslimin sedunia berdenyut dalam waktu yang sama untuk melaksanakan satu cita-cita. Dengan demikian, ibadah kurban pada hari Idul Adha memimpin manusia untuk mengembangkan cita-cita berkurban guna kepentingan umat secara keseluruhan.[40]

  1. Upacara Kurban dalam Kristen

Istilah kurban juga sangat populer dan menjadi landasan dogma teologi ini. Secara makro maksud dan tujuannya adalah sama seperti agama Yahudi, yakni sebagai penebus dosa, hanya saja bila dalam syari’at Yahudi yang melakukan pengorbanan adalah pihak manusia yakni dengan memotong hewan ternak maka dalam agama Kristen yang melakukan pengorbanan adalah dari pihak Tuhan itu sendiri, dengan mengutus Anak-Nya yang Tunggal sebagai pihak yang dikurbankan sama seperti anak domba yang dijadikan kurban penebusan dosa:

“Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.”(I Pet 1:18-19).[41]

Walau cara kematian Yesus Kristus merupakan salah satu kematian yang tragis dan menyedihkan, tetapi makna dan pengaruh kematianNya tidaklah sama dengan kematian semua umat manusia dari abad ke abad. Peristiwa kematian Kristus sangatlah unik, mengandung misteri yang tidak terpecahkan, dan membawa pengaruh serta transformasi yang luar biasa bagi kehidupan umat manusia sepanjang abad. Makna kematian Kristus tidak sama dengan kematian para tokoh sejarah, para nabi, rasul-rasul atau orang-orang ternama di dunia manapun. Sebab kematian Kristus di atas kayu salib dua ribu tahun yang lalu telah membawa suatu perubahan yang radikal terhadap makna, nilai-nilai, filosofi, teologi, agama dan arah perjalanan sejarah umat manusia.[42] Surat Ibrani berkata:

Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diriNya sendiri” (Ibr. 10:19).

Pengertian “oleh darah Yesus” menurut iman Kristen begitu sangat penting dan menentukan hakikat keselamatan umat manusia. Sebab tanpa melalui “darah Yesus” yaitu kematian Kristus di atas kayu salib, semua selaku umat kristus tidak mungkin dapat masuk ke dalam tempat kudus yaitu takhta Allah. Tanpa melalui “pencurahan darah Yesus”, semua akan tetap hidup di bawah kuasa dosa dan murka Allah. Tepatnya tanpa melalui kematian Kristus, semua umat manusia tidak dapat memperoleh keselamatan dan hidup kekal di hadapan Allah. Dengan demikian alasan teologis  dari surat Ibrani sangatlah jelas, yaitu melalui kematian dan kurban darahNya, Kristus telah ditentukan oleh Allah untuk membuka jalan yang baru dan yang hidup.[43]

  1. Upacara Kurban dalam Hindu

Ajaran hindu mengajarkan bahwasanya tindakan religius pada hakikatnya adalah pengorbanan yang merupakan suatu tindakan penghormatan kepada dewa-dewa dalam peribadahan.[44] Upacara kurban bukan hanya suatu persembahan, tetapi juga suatu penyucian, suatu perpindahan dari yang profan kepada yang kudus. Melalui kurban itulah komunikasi antara yang profan dan yang kudus di bangun.[45]

Upacara kurban dalam agama hindu di sebut Panca Maha Yajna. Ada empat macam upacara kurban yang harus dilaksanakan oleh umat hindu, yaitu:[46]

Pertama, Brahma Yajna atau Rsi Yajna. Setiap orang hendaknya mempelajari kitab-kitab suci, dan membagi ilmu pengetahuannya dengan orang lain. Ini merupakan Brahma Yajna atau Rsi Yajna. Dengan berbuat demikian, ia membayar hutang-hutangnya kepada Rsi Yajna.

Kedua, Dewa Yajna dan Pitri Yajna. Yaitu upacara kurban yang dipersembahkan untuk para dewa sebagai rasa terima kasih atas pemberi hidup. Dewa Yajna kurban kepada para dewa dan Pitri Yajna kurban untuk para leluhur. Homa atau persembahan kepada api merupakan dewa Yajna, sedangkan Tarpana atau persembahan air pada arwah leluhur dan upacara Sraddha, merupakan Pitri Yajna.

Ketiga, Bhuta-Yajna. Membagikan makanan kepada sapi, anjing, burung-burung dan sebagainya merupakan Bhutta Yajna. Kurban ini adalah hubungan antara sesama makhluk ciptaan.

Keempat, Manusya Yajna. Keramahtamahan kepada para tamu, memberi makan orang-orang miskin, menyenangkan hati orang-orang kesedihan, serta memberi tempat berteduh orang-orang gelandangan merupakan Manusya Yajna. Yakni berbagai macam pelayanan terhadap umat manusia yang kemalangan.

  1. Upacara Kurban di Cina[47]

Pada zaman dahulu, Cina merayakan kurban untuk menghormati leluhur klan yang dimana biasa diselenggarakan dalam agama Chou.

Menurut Li Chi, seorang raja, sebagai “Pura Surga”, diwajibkan setiap lima tahun sekali memeriksa hubungan antara dunia roh dan manusia dan memperbaiki setiap tindakan yang kurang terhormat dalam pelaksanaan upacara kurban yang dilaksanakan untuk dewa-dewa.

Mereka percaya bahwa ada suatu hubungan erat antara hidup manusia dan kesejahteraan serta dunia roh yang kehendak baiknya harus dijaga dengan upacara-upacara kurban yang sesuai.

Upacara kurban besar tahunan kepada Shang Ti merupakan tindakan pemujaan nasional yang paling tinggi, yang menjadi bagian dari ibadah kekaisaran. Pengurbanan itu dilakukan di altar surga oleh satu-satunya orang yang sesuai, sang kaisar, Putra Surga.

 Tiap keluarga atau klan melakukan upacara kurban sendiri-sendiri kepada leluhur dalam rumah suci. Upacara kurban yang paling sederhana terdiri dari dupa yang dibakar di depan batu-batu maklumat dari leluhur. Persembahan-persembahan makanan dan minuman yang lebih rumit dibuat pada hari-hari pesta dan pada ulang tahun kematian beberapa anggota keluarga yang sudah meninggal

Upacara kurban yang besar dari klan dilaksanakan di altar leluhur oleh kepala klan, diikuti dengan sebuah pesta dimana daging kurban dibagi-bagi oleh para peserta sebagai simbol persatuan dan milik klan itu. Seperti dikatakan oleh sebuah teks Cina:

“Upacara kurban bukanlah sesuatu yang dibawa seseorang dari luar; upacara ini muncul dari dalam dan lahir dalam hati. Ketika hati tergerak secara mendalam, pengungkapannya dinyatakan dengan upacara-upacara, dan dengan demikian hanya orang-orang yang mampu dan mempunyai keutamaan dapat memberikan peragaaan lengkap kepada gagasan pengurbanan itu.”

Kesimpulan

Fenomenologi agama adalah studi yang mempelajari praktek keagamaan yang dilakukan oleh umat beragama agar bisa diketahui arti agama menurut penganut agama tersebut. langkah dalam fenomenologi sebagai pendekatan studi agama, antara lain: klasifikasi, yaitu memeta-metakan fenomena agama sesuai kategori; mengikutsertakan gejala itu ke dalam kehidupan kita; pengurungan (bracketing) sementara semua pertimbangan nilai normatif; Mencari esensi gejala dan “tipe ideal” hubungan struktur-struktur; bisa mengerti dan memahami keaslian gejala-gejala agama; Fenomenologi tidak berdiri sendiri akan tetapi berhubungan dengan pendekatan-pendekatan lain; Memberikan kesaksian hasil peneliannya.

Adapun kelebihan dari metode ini antara lain: fenomenologi agama berorientasi pada fakta di lapangan yang deskriptif, bisa dikaji dengan berbagai pendekatan, memahami agama secara kontemporer sesuai dengan penganutnya, terkesan objektif karena berlandaskan pada sesuatu yang sudah ada dan bisa dijelaskan.

Disamping beberapa kelebihan yang dimiliki, fenomenologi agama juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain: tidak ada jaminan bahwa hasil penelitian tersebut tidak terpengaruh oleh pemikiran sang peneliti, terkesan mengesampingkan sejarah walaupun dalam praktisnya sejarah tidak bisa dilepaskan begitu saja, sulitnya membuktikan kebenaran pada hal-hal yang bersifat non material, dan adanya kecendrungan untuk konversi agama karena penelitian tersebut bersifat partisipatoris.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik & M. Rusli Karim, Metodologi Penelitian Agama; Suatu Pengantar, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2004).

Bowker, John, The Oxford Dictionary of World Religions (New York: Oxford University Press, 1997).

Connolly, Peter, Aneka Pendekatan Studi Agama terj. Imam Khoiri (Yogyakarta: LkiS, 2009).

Daya, Burhanuddin,  Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia dan Belanda, (Jakarta: INIS, 1992).

Dhavanomy, Mariasusai, Fenomenologi Agama terj. A. Sudiarja dkk. (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2001).

Effendy, Mochtar, Ensiklopedi Agama dan Filsafat (Palembang: Universitas Sriwijaya, 2001).

Ekeke, Rev. Emeka C. & Chike Ekeopara, “Phenomenological Approach to The Study of Religion A Historical Perspective,” European Journal of Scientific Research, Vol. 44, No. 2, 2010.

Hanafi, Hassan, Islamologi 2: Dari Rasionalisme ke Empirisme (Yogyakarta; LkiS, tt).

Minhaji, Akh., Strategies for Social Rresearch: The Methodological Imagination in Islamic Studies (Yogyakarta: Suka Press, 2009).

Parisada Hindu Dharma Indonesia Pudat. Intisari Ajaran hindu, (Surabaya: Paramita, 1996).

The Encyclopedia of Religion (New York: Mcmillan, 1993).

[1]  The Encyclopedia of Religion (New York: Mcmillan, 1993) hlm. 276.

[2]  Teks aslinya berbunyi “The study of the ways in which appearance manifest themselves”. Lihat John Bowker, The Oxford Dictionary of World Religions (New York: Oxford University Press, 1997), hlm. 748.

[3]  Mariasusai Dhavanomy, Fenomenologi Agama terj. A. Sudiarja dkk. (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2001), hlm. 7.

[4]  Mochtar Effendy, Ensiklopedi Agama dan Filsafat (Palembang: Universitas Sriwijaya, 2001), edisi ke-2, hlm. 159.

[5]  The Encyclopedia of Religion (New York: Mcmillan, 1993),  hlm. 276.

[6] The Encyclopedia of Religion, hlm. 276.

[7] The Encyclopedia of Religion, hlm. 276.

[8]  The Encyclopedia of Religion, hlm. 277.

[9]  Mungkin yang dimaksudkan disini adalah bagaimana sikap manusia ketika berhadapan dengan sang penguasa (Tuhan), atau  lebih tepatnya adalah praktek keagamaan. Lihat The Encyclopedia of Religion, hlm. 278.

[10]  The Encyclopedia of Religion, hlm. 278.

[11]  Mukti Ali, “Metodologi Ilmu Agama Islam” dalam Taufik Abdullah & M. Rusli Karim (ed.), Metodologi Penelitian Agama; Suatu Pengantar, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2004), hlm. 56

[12] Dalam konteks ilmiah pendekatan “approach” memiliki beberapa arti: pertama, cara atau wilayah pandang dalam  suatu obyek; kedua, cara atau langkah yang diambil untuk melaksanakan tugas dalam  mengatasi masalah; ketiga, cara pandang yang digunakan untuk menjelaskan suatu data yang dihasilkan dalam penelitian; keempat; pisau analisis yang didasarkan pada ciri pokok sesuai dengan disiplin tertentu. Lihat Akh. Minhaji, Strategies for Social Rresearch: The Methodological Imagination in Islamic Studies (Yogyakarta: Suka Press, 2009), hlm. 29.

[13] Kata epochè berasal dari bahasa Yunani berarti “menunda semua penilaian” atau “pengurungan” (bracketing). Hal ini berarti bahwa fenomena yang tampil dalam kesadaran adalah benar-benar natural tanpa dicampuri oleh presupposisi pengamat. Karena pada dasarnya membawa konsep-konsep dan konstruk-konstruk pandangan adalah sesuatu yang mempengaruhi dan merusak hasil penilaian.

[14] berarti “yang terlihat” atau pengandaian terhadap epochè yang merujuk pada pemahaman kognitif (intuisi) tentang esensi, ciri-ciri yang penting dan tidak berubah dari satu fenomena yang memungkinkan untuk mengenali fenomena tersebut.

[15] Clive Erricker, “Pendekatan Fenomenologis” dalam Peter Connolly (ed.), Aneka Pendekatan Studi Agama terj. Imam Khoiri (Yogyakarta: LkiS, 2009), hlm. 111.

[16] Bukan historisitas fenomena agama tapi historisitas agama itu sendiri.

[17] Ah.Zakki Fuad dalam http://zakkifuad.blogspot.com/2010/03/makalah.html pada 20-11-12.

[18] Peter Connolly, Aneka Pendekatan Studi Agama, (Yogyakarta; LKiS, 1999), hlm. 143.

[19] Meminjam istilahnya Husserl.

[20] Dalam bukunya Herman L.Beck ada penambahan 1 item. Lihat  Herman L.Beck , Ilmu Perbandingan Agama dan Fenomenologi Agama dalam Burhanuddin Daya (ed) Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia dan Belanda, (Jakarta: INIS, 1992), hlm. 47.

[21] termasuk pengalaman mistik.

[22] Mujiburrahman dalam http://graduate.uinjkt.ac.id/index.php/en/publikasi/artikel-sps/64-berbagai-pendekatan-dalam-mengkaji-tasawuf-mujiburrahman diakses pada 05-12-12.

[23] Ibid.

[24] Dibangun berdasarkan istidlal (inferensi), burhan (pembuktian demonstrative), dan qiyas (silogisme).

[25] Dibangun berdasarkan ilham (inspirasi), kasyf (penyingkapan) dan ar-ru’ya al-bathiniyyah (pandangan eksoterik).

[26]  Hasan Hanafi, Islamologi 2: Dari Rasionalisme ke Empirisme (Yogyakarta; LKiS), hlm. 247-249.

[27] Seperti bangunan filsafat Sokrates dengan sisi-sisi etis, praksis, dan religious.

[28] Dalam sejarahnya pernah berguru pada Husserl.

[29] Dalam istilahnya Hasan Hanafi.

[30] http://masfahmi.blogspot.com/2010/12/fenomenologi-pemikiran-arab-islam.html pada 05-12-12.

[31] Lihat Rev. Emeka C. Ekeke & Chike Ekeopara, “Phenomenological Approach to The Study of Religion A Historical Perspective,” European Journal of Scientific Research, Vol. 44, No. 2, 2010, hlm. 272-273.

[32]  Mariasusai Dhavamoni, hlm. 214.

[33] Primitif berarti: 1. dalam keadaan yg sangat sederhana; belum maju (tt peradaban; terbelakang): kebudayaan –; 2 sederhana; kuno (tidak modern tt peralatan): senjata-senjata –. KBBI, Edisi 3, 2011.

[34] Winam Gulf, formerly Kavirondo Gulf,  gulf of the northeastern corner of Lake Victoria, southwestern Kenya, East Africa. (www.britanica.com, diakses 9/12/2012)

[35] W.C. Willoughby, The Soul of the Bantu, 1928, h. 208-209. Dalam Mariasusai Dhavamoni, Fenomenologi Agama, hlm. 204.

[36] Salah satu negara di bagian barat Afrika.

[37] Mariasusai, Fenomenologi Agama, hlm. 213.

[38] Im 17:10-16; UI 12:23-27; Kej 9:4 (www.Alkitab.sabda.org, diakses 09/12/2012)

[39]  QS. Al-Taghabun: 16.

[40] Erwan, Kurban dalam Islam dan Agama Lain dalam http://www.studiislam.wordpress.com diakses pada 09 Desember 2012.

[41]  Ibid.

[42] Pdt. Yohanes Bambang Mulyono, Kematian Kristus Membuka Jalan yang Baru, www.yohanesbm.com, diakses 09/12/2012.

[43]  Ibid.

[44] L. Renou, L’Inde Classique, I, n. 680, Paris, 1947. dalam Mariasusai Dhavamoni, Fenomenologi Agama, ( Yogyakarta: Kanisius, 1995), hlm. 210.

[45]  Mariasusai Dhavamoni, Fenomenologi Agama, hlm. 208.

[46] Parisada Hindu Dharma Indonesia Pudat. Intisari Ajaran hindu, (Surabaya: Paramita, 1996), hlm. 96.

[47]  Mariasusasi Dhavoni, Fenomenologi Agama, h. 211-213.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s