Review Manusia Dalam Perspektif Al-Qur’an (Maqal al-Insan fi al-Qur’an) Karya Bintu Syathi’

Pendahuluan

Penggunaan metode-metode tafsir klasik yang marak digunakan oleh sarjana-sarjana muslim pada saat ini mengundang kritikan dari beberapa tokoh tafsir kontemporer seperti Muhammad Syahrur, Nasr Hamid Abu Zayd, Amin al-Khully, dan Bintu Syathi’.

Tokoh-tokoh tersebut mengungkapkan bahwa penafsiran-penafsiran terdahulu terfokus pada kajian-kajian yang sesuai dengan keadaan masyarakat pada jaman mereka dan cenderung lokalistik. Muhammad Syahrur berpendapat bahwa sudah saatnya umat Islam saat ini menafsirkan Al-Qur’an sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat yang pada masa ini. Amin al-Khully mencoba menggeser paradigma yang tertanam kuat dalam pemikiran umat Islam dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai kitab bahasa Arab yang agung.

Di sisi lain, kegelisahan Bintu Syathi’ akan tiadanya pengungkapan kemukjizatan Al-Qur’an dari sisi balaghahnya membuat ia berusaha menafsirkan Al-Qur’an dari sisi bayaninya. Ia sangat menyesalkan keadaan sarjana sastra Arab yang hanya terfokus pada puisi-puisi Arab, padahal Al-Qur’an jauh lebih baik dan lebih layak untuk diungkapkan maknanya daripada puisi-puisi tersebut.

Dalam makalah ini penulis berusaha untuk mengungkapkan pemikiran Bintu Syathi’ dalam menafsirkan ayat-ayat yang membahas tentang konsep manusia. Makalah ini ingin mengungkapkan secara ringkas isi dari buku tafsir tersebut dengan melihat pada latar belakang penulisan, sistematika dan isi, serta corak dan metode penafsiran yang digunakan oleh Bintu Syathi’ dalam menguraikan pandangan dunia Al-Qur’an tentang al-insan.

Biografi Bintu Syathi’

Bintu Syathi’ merupakan seorang mufassir yang berasal dari Mesir. Nama lengkapnya adalah Aisyah Abdurrahman, putri dari pasangan Muhammad Ali Abdurrahman dan Farida Abdussalam Muntasyir. Ia lahir pada tanggal 06 November 1913 di Dumyat yang terletak di sebelah barat sungai Nil.[1] Nama Bintu Syathi’ memiliki arti gadis pinggir sungai, nama itu ia gunakan sebagai kamuflase agar aktivitasnya sebagai penulis tidak diketahui oleh ayahnya.[2]

Ayah Bintu Syathi’ dikenal sebagai seorang sufi yang konservatif. Ia melarang putrinya untuk mengikuti pendidikan formal di sekolah, ia lebih cenderung mendidik pturinya di rumah sendiri. Akan tetapi sikap ayahnya tersebut tidak disetujui oleh ibu dan kakek Bintu Syathi’ yang menginginkan ia mengikuti pendidikan formal. Berkat bantuan ibu dan kakeknya, Bintu Syathi’ berhasil menamatkan pendidikan formal dari Madrasah Ibtidaiyah hingga sekolah keguruan di Tanta dengan predikat lulusan terbaik.[3]

Setelah lulus sekolah keguruan, Bintu Syathi’ diangkat menjadi sekretaris pada sekolah khusus wanita di Jizah. Disana ia memperdalam pengetahuannya dalam bidang bahasa Inggris dan Perancis serta menyesuaikan diri dengan kehidupan modern.[4]

Bintu Syathi’ kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas Fuad I (Universitas Kairo) pada tahun 1936 dengan mengambil jurusan sastera. Pada tahun 1939 ia lulus dengan predikat Cumlaude dan menyelesaikan pendidikan Masternya di Universitas yang sama dengan mendapatkan predikat summa cumlaude pada tahun 1931.[5]

Setelah lulus kuliah, Bintu Syathi’ bekerja sebagai asisten Lektor di Universitas Kairo. Ia juga menjadi Inspektur Bahasa Arab dan Kritikus Sastera di Koran Al-Ahram. Disamping itu, ia juga melanjutkan pendidikan doktoralnya dalam bidang sastera di Universitas Kairo. Disanalah ia bertemu dengan professor Amin al-Khulli (w. 1966) yang mengajar dalam bidang tafsir dan memberikan banyak pengaruh dalam pemikiran Bintu Syathi’ terutama dalam bidang tafsir sastra.[6]

Pada tahun 1950 Bintu Syathi’ menyelesaikan pendidikan doktoralnya dan diangkat menjadi Kepala Jurusan Bahasa Arab dan Islamic Studies di Universitas ‘Ain Syams. Pada tahun 1957 ia diangkat menjadi asisten Professor dan 10 tahun kemudian ia mendapatkan gelar professor dalam bidang sastra Arab.[7]

Selain bekerja sebagai pengajar di Universitas, Bintu Syathi’ juga aktif dalam kegiatan menulis. Ia sering mengirimkan tulisan dalam bidang sastera dan syair pada majalah wanita al-Nahdah al-Nisaiyah. Pada tahun 1936 ia mulai menggunakan nama Bintu Syathi’ untuk menyembunyikan kegiatan penulisannya dari ayahnya.[8]

Adapun karya-karya Bintu Syathi’ diantaranya adalah al-Hayyah al-Insaniyah ‘Inda Abi al-A’la, al-Gufran li Abu al-A’la al-Ma’ary, Risalah al-Gufran li Abu al-A’la, al-Khansa’, Ard al-Mu’jizat, Rihlah fi Jazirah al-‘Arab, Umm al-Nabiy, Banat al-Nabiy, Sukainah bint al-Husain, Batalat al-Karbala, Ma’a al-Mustafa, Nisa’ al-Nabiy, Tarajum Sayyidat Bait al-Nubuwwah Radiyullah ‘an Hunna, Tafsir al-Bayani li al-Qur’an al-Karim (jilid I-III), Kitabuna al-Akbar, Maqal fi al-Insan: Dirasah Qur’aniyyah, Al-Qur’an wa al-Tafsir al-‘Ashry, Al-I’jaz al-Bayani li al-Qur’an, dan Al-Syakhsiyyah al-Islamiyyah: Dirasah Qur’aniyyah.[9]

Bintu Syathi’ meninggal pada tahun 1998 akibat serangan jantung, pemakamannya dihadiri oleh banyak tokoh intelektual dari berbagai negara.[10]

 

Latar Belakang Penulisan Kitab

Pada halaman awal bukunya Bintu Syathi’ mengungkapkan kesedihan dan kesepian yang ia alami setelah suaminya meninggal. Amin al-Khully yang juga merupakan professor yang memunculkan tafsir sastra sebagai sebuah disiplin ilmu tafsir diakui oleh Bintu Syathi’ telah banyak memberikan makna kehidupan pada dirinya, terutama dalam hal memahami esensi dari manusia itu sendiri.[11]

Dalam mukaddimah bukunya Bintu Syathi’ menyadari bahwa kehidupan harus terus berlangsung meski banyak kepedihan di dalamnya. Ia bertanya-tanya tentang langkah apa yang harus ia ambil untuk menapaki kehidupan selanjutnya, apa maksud dari perjalanan hidup sebenarnya, apa tujuan hidup jika semuanya sudah diatur sedemikian rupa oleh Tuhan. Ia juga menyadari bahwa tidak ada orang yang tahu dimana ia akan melangkah selanjutnya, bagaimana masa depan yang akan dilaluinya karena itu semua adalah rahasia dari kehidupan itu sendiri.[12]

Oleh karena itu, ia berusaha menemukan jawaban-jawaban dari kitab suci Al-Qur’an tanpa menghadirkan kitab-kitab dan buku-buku lain disisinya. Ia berusaha untuk mengungkapkan pandangan dunia Al-Qur’an tentang manusia, kemampuan yang dimiliki oleh manusia, kelemahannya maupun kehinaannya, kelicikan dan kesombongannya. Selain itu ia juga mengamati perjalanan manusia dari alam yang tidak diketahui (majhul) hingga ke alam gaib.[13]

Secara garis besar, Bintu Syathi’ menulis karya ini berawal dari kesadarannya akan kehidupan manusia sepeninggal suaminya. Oleh karena itu, ia berusaha untuk memahami manusia dan kehidupannya secara mendalam melalui pembacaan terhadap Al-Qur’an untuk mengetahui rahasia manusia sebenarnya yang terkandung di dalam Al-Qur’an.

Sistematika Penulisan dan Isi Kitab

Penulisan buku Maqal al-Insan: Dirasah Qur’aniyyah ini disusun secara tematik yang membahas tentang satu tema pokok yaitu manusia. Tema tentang manusia memiliki ciri khas tersendiri dalam Al-Qur’an yang membuat Bintu Syathi’ merasa tertarik untuk menuangkan pandangan Al-Qur’an tentang manusia. Oleh karena itu, pembahasan awal yang ia lakukan adalah menelaah term-term manusia dalam Al-Qur’an.[14]

Adapun tema-tema yang menjadi susunan buku ini antara lain:

  1. Inilah Manusia (الإنسان)

Dalam pembahasan ini Bintu Syathi’ mencoba untuk memetakan term-term manusia dalam Al-Qur’an. Ia juga mengemukakan alasan mengapa ia memilih kata al-insan sebagai judul bukunya sekaligus tema pokok yang dibahas dalam buku ini.

Term manusia dalam Al-Qur’an terbagi dalam beberapa kata, yaitu al-basyar, al-nas, dan al-ins. Kata al-basyar digunakan dalam Al-Qur’an untuk menyebut manusia sebagai anak keturunan adam, yaitu makhluk fisik yang suka makan dan berjalan ke pasar. Kata ini digunakan untuk menunjukkan aspek fisik manusia secara keseluruhan, dengan kata lain menunjukkan keturunan Adam seluruhnya baik itu orang beriman, orang kafir, maupun para nabi.[15]

Adapun kata al-nas dalam Al-Qur’an memiliki penekanan makna yang menunjukkan satu kesatuan makhluk hidup. Dengan kata lain, kata al-nas digunakan dalam Al-Qur’an untuk menunjukkan jenis makhluk hidup keturunan Adam.[16]

Sedangkan kata ­al-Ins dan al-insan memiliki kesamaan makna (ملحظ مشترك) karena berasal dari akar kata yang sama yaitu a-n-s (ا – ن – س). Kedua kata ini merujuk pada makna yang sama, yaitu lawan kata dari “liar” (التوحش). Akan tetapi kedua kata ini memiliki perbedaan dari segi penggunaan kata dalam Al-Qur’an. Kata al-ins digunakan dalam Al-Qur’an sebagai lawan kata dari al-jinn. Dalam relasi paradigmatifnya, kata al-ins memiliki makna yang disesuaikan dengan kata al-jinn sebagai antonimnya, yaitu makna yang terkandung dalam kata al-ins adalah tidak liar (jinak) sebagai lawan dari kata al-jinn yang berbentuk metafisik menandakan sifat liar atau bebas karena tidak terikat ruang dan waktu. Dengan kata lain, kata al-ins merujuk pada sifat manusia yang berbeda dari makhluk selainnya yang bersifat metafisik dan berbeda cara hidupnya.[17]

Adapun penggunaan kata al-insan dalam Al-Qur’an adalah untuk menunjukkan tingginya derajat manusia sehingga ia pantas untuk menjadi khalifah di bumi. Hal tersebut disebabkan karena manusia memiliki kemampuan dalam bidang ilmu, berbicara, akal dan berpikir, pandai membedakan antara yang benar dan yang salah, serta mampu mengatasi segala masalah dan kesesatan yang datang dalam dirinya. Oleh karena itu, manusia diberikan tanggung jawab yang besar baik dari segi hubungan kepada Tuhan maupun kepada alam sekitar. Di sisi lain, kata al-insan juga menunjukkan kelemahan manusia dan kehinaannya ketika ia tidak mampu melaksanakan tanggung jawab tersebut sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Tuhan.[18]

Secara garis besar, Bintu Syathi’ ingin menjelaskan sebab pemilihan kata al-insan sebagai fokus kajiannya terhadap manusia. Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa kompleksitas manusia yang terdapat di dalam Al-Qur’an tertuang dalam penggunaan kata al-insan yang kemudian menjadi tema-tema penting dalam pembahasan buku ini.

  1. Kisah Kehidupan Manusia

Awal kehidupan manusia diungkapkan oleh Al-Qur’an dengan adanya penciptaan Adam sebagai khalifah di bumi. Penunjukkan status kekhalifahan ini bahkan telah ditentukan sebelum Adam diciptakan. Hal ini membuat entitas lain yang telah ada sebelum lahirnya Adam bertanya-tanya tentang maksud dan tujuan diciptakan makhluk baru ketika makhluk yang ada sudah melakukan perintah Tuhan dengan sebaik-baiknya.[19]

Sebagaimana yang diketahui oleh mayoritas umat Islam di seluruh dunia bahwa penciptaan manusia yang pertama kali dilakukan dengan adanya perdebatan antara Tuhan dan Malaikat. Malaikat adalah makhluk yang telah ada jauh sebelum manusia diciptakan. Mereka terikat pada perintah yang mutlak, dikendalikan oleh kehendak yang Maha Tinggi yang tidak dapat dibangkang, tidak diuji dengan adanya kehendak dan kebebasan, sehingga alam raya sebelum kemunculan Adam adalah alam yang penuh kedamaian.[20]

Permasalahan muncul kemudian ketika datang firman Allah yang menyatakan akan hadirnya makhluk baru. Hal ini menyebabkan terjadinya anomali pada malaikat dimana aktivitas berpikir berdasarkan hukum kausalitas terjadi. Malaikat yang awalnya merupakan makhluk patuh tanpa pernah menanyakan apapun yang diperintahkan dan disampaikan Tuhan, mengalami keadaan di luar kebiasaan dan mempertanyakan tentang kehadiran manusia. Akan tetapi anomali segera berakhir ketika Tuhan menjelaskan tentang makhluk baru tersebut beserta kemampuannya dan malaikat kembali menjadi makhluk yang patuh seperti biasanya.[21]

Penunjukkan manusia sebagai khalifah di bumi tidak terlepas dari kemampuannya yang berbeda dengan makhluk sebelumnya. Manusia memiliki kemampuan untuk menyerap ilmu, kebebasan berkehendak, serta kemampuan untuk menghadapi berbagai ujian kehidupan yang akan dialaminya. Hal inilah yang menjadikan manusia sebagai makhluk istimewa dibandingkan makhluk sebelumnya. Pertentangan antara kebaikan dan keburukan serta munculnya Iblis sebagai pembanding dari malaikat yang akan terus menggoda manusia melakukan keburukan, menjadikan manusia sebagai makhluk terbaik yang menjembatani dua medan yang saling bertentangan tersebut dengan adanya pertanggungjawaban kepada Tuhan di hari akhir nanti. Hal inilah yang membuat manusia layak untuk menjadi khalifah di bumi.[22]

Setelah menunjukkan kualitas manusia yang layak menjadi khalifah di bumi, kemudian Allah mengajarkan manusia al-bayan. Kata al-bayan ditafsirkan oleh Bintu Syathi’ sebagai kemampuan untuk menjelaskan sesuai dengan keadaan masyarakat pada saat itu. Ucapan manusia memiliki nilai untuk menjelaskan, pendengarannya untuk memahami dan mencerna, dan penglihatannya untuk membedakan dan mencari hidayah. Hal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.[23]

Selanjutnya manusia diberikan amanat oleh Tuhan. Dalam hal ini amanat adalah ujian seiring dengan adanya pemberian kewajiban dari Allah disertai adanya hak kebebasan bertindak dan tanggung jawab dalam setiap perbuatan. Makhluk-makhluk lainnya tidak sanggup menerima amanat ini dikarenakan besarnya tanggung jawab dibebankan dimana amanat tersebut nantinya akan diminta pertanggungjawaban dan diberikan balasan sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukan.[24]

Adapun kebebasan manusia terletak pada berbagai macam pilihan yang tersedia untuknya dalam menjalani hidup. Pilihan tersebut kemudian diikuti dengan usaha sebagai proses untuk mewujudkan keinginan dasar dari pilihan itu. Pilihan ini kemudian akan menjadi final sesuai dengan iradah Tuhan yang merupakan ketentuan akhir dan tujuan dari ikhtiar manusia.[25]

Akhir perjalanan kehidupan manusia dalam Al-Qur’an ditandai dengan adanya kematian dan hari kebangkitan. Konsep kehidupan setelah kematian ini dibawa oleh agama samawi sebagai jawaban dari konsep duniawi yang menyatakan bahwa manusia akan punah seiring dengan datangnya kematian. Keinginan manusia akan kehidupan yang abadi dijawab oleh Al-Qur’an dengan adanya kehidupan lain setelah dunia. Oleh karena itu, Al-Qur’an menganjurkan bahkan menyuruh manusia untuk berlomba-lomba mengisi bekal untuk kehidupan selanjutnya setelah mereka terlepas dari ikatan dunia fana ini.[26]

  1. Manusia Modern

Kehidupan manusia modern diliputi oleh permasalahan klasik antara agama dan ilmu pengetahuan. Seiring meningkatnya ilmu pengetahuan dengan berbagai revolusi di berbagai bidang, banyak orang yang mulai menganggap bahwa ilmu pengetahuan lebih layak diimani daripada agama. [27]

Pertentangan ini sebenarnya bukan berasal dari agama dan ilmu pengetahuan itu sendiri, melainkan dari tokoh dari kedua kubu tersebut. agama dan ilmu pengetahuan sebenarnya saling mendampingi satu sama lain, saling menyokong dan membuktikan kebenaran bersama-sama.[28]

Oleh karena itu, manusia modern perlu memahami esensi dari agama dan pengetahuan sehingga dapat saling membangun satu sama lain dalam menjalani kehidupan di dunia ini.[29]

Corak dan Metode Penafsiran

Dalam pengantar kitab tafsirnya, Bintu Syathi’ mengungkapkan bahwa para mahasiswa dan sarjana sastera lebih banyak terpaku pada puisi-puisi pra Islam daripada Al-Qur’an itu sendiri. Padahal sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Amin al-Khully, Al-Qur’an merupakan kitab bahasa Arab terbesar dimana terdapat mukjizat bayan yang abadi dan gagasan-gagasan yang tinggi.[30]

Di sisi lain, umat Islam masih banyak yang terpaku pada metode tafsir klasik. Bintu Syathi’ menyatakan sangat langkanya ahli sastera Arab di Al-Azhar yang menjadikan Al-Qur’an sebagai objek kajian metodologis. Mereka lebih terpaku pada teks-teks lain, padahal Al-Qur’an mengandung kemukjizatan bayan yang luar biasa yang tidak bisa ditandingi oleh teks-teks lainnya. Oleh karena itu, ia mencoba untuk mentafsirkan Al-Qur’an sebagai upaya untuk mengungkapkan sisi bayan Al-Qur’an yang belum disentuh oleh mufassir lain sebelumnya.[31]

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa corak penafsiran yang digunakan oleh Bintu Syathi’ adalah kebahasaan dengan menggunakan metode sastra. Tafsir jenis ini disebut oleh Bintu Syathi’ sebagai tafsir bayani. Sedangkan menurut Abdul Qadir Muhammad Shalih, model penafsiran Bintu Syathi’ termasuk dalam tafsir balaghy, yaitu menafsirkan Al-Qur’an dari segi keindahan bahasanya.[32]

Menurut Issa Boullata, ada beberapa prinsip yang digunakan dalam metode tafsir ini, antara lain: [33]

  1. Memahami Al-Qur’an secara objektif yang dimulai dengan pengumpulan semua surah dan ayat dari tema yang ingin dipelajari.
  2. Ayat-ayat tersebut kemudian disusun sesuai dengan kronologis pewahyuannya sehingga keterangan mengenai wahyu dan tempat turunnya dapat diketahui. Kaedah yang dipakai adalah ­al-‘ibrah fi ‘umum al-lafz wa la bi khususi al-sabab.
  3. Mengungkap makna-makna Al-Qur’an dengan mengumpulkan seluruh bentuk kata dan mempelajari konteks khusus kata tersebut dalam ayat-ayat dan surah-surah tertentu serta konteks umumnya dalam Al-Qur’an.
  4. Menyingkirkan penafsiran yang bersifat sektarian dan israilliyat, memperhatikan bentuk lahir teks dan pesan yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, penggunaan kaedah kebahasaan dan retorika Al-Qur’an merupakan inti dari metode ini.

Muhammad Yusron menjelaskan bahwa prinsip-prinsip tersebut mengandung empat inti metode penafsiran, yaitu ayat Al-Qur’an menafsirkan ayat yang lainnya, konsep munasabah dengan mengaitkan kata atau ayat Al-Qur’an dengan ayat yang berada di dekatnya atau ayat lain yang mengandung tema yang sama, menafsirkan suatu masalah dengan menggunakan lafaz Al-Qur’an yang umum bukan sebab yang khusus, dan meniadakan sinonim dalam Al-Qur’an karena setiap kata memiliki makna masing-masing yang berbeda walaupun terlihat sama.[34]

Cara kerja penafsiran dalam buku Maqal al-Insan: Dirasah Qur’aniyyah ini adalah dengan mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan tema yang dibahas, terutama yang berkaitan dengan kata-kata tertentu. Pembahasan dalam buku ini selalu mengarah pada wilayah semantik kata yang dijadikan fokus penafsiran dengan menganalisa kedalaman makna berdasarkan ayat-ayat yang memuat kata tersebut. kemudian membandingkan kata tersebut dengan kata lain yang mengandung makna yang sama dan menguraikan perbedaan makna dan penggunaannya di dalam Al-Qur’an.

Metode penafsiran di atas bisa terlihat dari penafsirannya terhadap kata al-Basyr, al-nas, al-ins dan al-insan. Disamping itu, Bintu Syathi’ juga mengungkapkan beberapa pandangan ulama dan kritikan dari rekan-rekannya sesama mufassir terhadap penafsiran ayat-ayat tersebut.

Contoh dan Analisis Penafsiran

Ada beberapa term yang menjadi fokus penafsiran Bintu Syathi’ dalam buku Maqal al-Insan: Dirasah Qur’aniyyah ini. Term-term tersebut terbagi sesuai dengan tema yang dibahas, walaupun tema-tema tersebut hanya penjelasan dari tema pokok yaitu tentang pandangan Al-Qur’an terhadap manusia.

Disini penulis mencoba untuk memetakan term-term yang dijadikan fokus kajian Bintu Syathi’ dalam penafsirannya, yaitu:

  1. هذا الإنسان dengan term yang ditafsirkan البشر، الناس، الإنس، الإنسان
  2. قصة الإنسان من المبتداء الى المنتهى dengan term yang ditafsirkan الأسماء، البيان، أمانة، الحمل، عبد، جدل، إرادة، روح، نفس، رأي

Sebagian besar buku ini membahas tentang konsep al-insan yang ditinjau dari berbagai aspek yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya, Bintu Syathi menafsirkan kata al-insan sebagai sosok manusia yang memiliki keistimewaan dari makhluk lain yang membuatnya layak menjadi khalifah di bumi.

Bintu Syathi’ memulai penafsirannya dengan menjelaskan penafsiran tentang surah al-‘Alaq:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى أَنْ رَآَهُ اسْتَغْنَى إِنَّ إِلَى رَبِّكَ الرُّجْعَى

Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu).” (Q.S. al-‘Alaq ayat 1-8).

Ia menyatakan bahwa kata ­al-insan dalam surah tersebut terulang sebanyak tiga kali dengan beberapa pesan yang terkandung di dalamnya, yaitu mengingatkan manusia akan asal-usul kejadiannya dari segumpal darah, memberitahukan kelebihan manusia yang diberikan ilmu, menyadarkan manusia akan potensi kesalahan dari perbuatan yang melampaui batas.[35]

Selanjutnya Bintu Syathi’ menjelaskan bahwa ayat-ayat yang menjelaskan tentang asal-usul serta proses penciptaan manusia mengandung pesan untuk mengingatkan manusia atas kelemahan dan kehinaan yang terdapat dalam dirinya, serta tidak melupakan asal-usul kejadiannya.[36]

أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَى ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّى فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَى أَلَيْسَ ذَلِكَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَى

Artinya: “Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?” (Q.S. al-Qiyamah ayat 37-40).

يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

Artinya: “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (Q.S. al-Nisa’ ayat 28).

Dalam menjelaskan ayat di atas, Bintu Syathi’ cenderung meniadakan bukti-bukti ilmiah dalam mengungkapkan pesan yang dikandung oleh Al-Qur’an. Ia berpendapat bahwa manusia tidak memerlukan pembelajaran ilmiah untuk membangkitkan kesadarannya akan asal-usul dan potensi yang dimilikinya. Manusia cukup merenungi dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an agar bisa menahan diri dari sikap melampaui batas dan berlaku sombong di dunia ini.[37] Hal ini seperti yang diungkap dalam Al-Qur’an:

أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ

Artinya: Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata! Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?”. Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.” (Q.S. Yasin ayat 77-79).

Dari contoh di atas dapat diketahui bahwa Bintu Syathi’ menafsirkan ayat dengan menggunakan metode tematik yang dianalisis secara semantik. Ia mengumpulkan ayat-ayat tersebut kemudian menghubungkannya dengan ayat yang lain untuk mendapatkan makna umum dari kata al-insan serta konsep yang terkandung di dalamnya. Kajian munasabah seperti ini cukup lazim digunakan dalam metode tafsir tematik yang berkembang saat ini. Akan tetapi, peniadaan sinonim kata dalam Al-Qur’an dengan mengungkapkan kemukjizatan bayani merupakan ciri khas penafsiran Bintu Syathi’.

Kesimpulan

Secara umum buku ini bukanlah kitab tafsir sebagaimana lazimnya yang ditulis oleh ulama-ulama tafsir klasik, melainkan pembahasan tematik tentang konsep manusia dalam Al-Qur’an. Konsep-konsep tersebut dituangkan dengan menggunakan metode tafsir tematik – tafsir bayani menurut perspektif Bintu Syathi’ – dengan menggunakan analisis semantik maknawi.

Ada beberapa catatan yang penulis temukan dalam buku ini, diantaranya:

  1. Buku ini berusaha mengungkapkan pandangan dunia Al-Qur’an tentang manusia dengan menelaah ayat-ayat yang mengandung pesan-pesan inti kemanusiaan.
  2. Buku ini disusun secara tematis sesuai dengan tema pokok yang menjadi fokus kajian, yaitu manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya ditinjau dari perspektif Al-Qur’an.
  3. Buku ini tidak memuat tentang kesejarahan manusia, walaupun jika dilihat sub bab terdapat pembahasan tentang kisah-kisah manusia. Buku ini lebih terfokus pada fungsi dan keadaan manusia yang terungkap dalam Al-Qur’an.
  4. Buku ini tidak menjelaskan secara rinci term-term yang berkaitan dengan kata fokus. Padahal dalam studi semantik, kata-kata kunci lain yang mempengaruhi pemaknaan kata fokus harus dijelaskan dengan tepat dimana letak relasi kebahasaan yang mengakibatkan terjadinya pergeseran makna.
  5. Mengambil istilah pak Yusron, Bintu Syathi’ seolah-olah tidak perduli tentang dalil-dalil dan penjelasan rinci tentang kata-kata lain diluar fokus kajian seperti kata al-jinn dalam perbandingan kata al-ins, sehingga penafsiran tersebut terlihat rancu dan cenderung dipaksakan.

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdurrahman, Aisyah, Maqal al-Insan fi al-Qur’an: Dirasah Qur’aniyyah, (Kairo: Dar al-Ma’arif, 1969).

———, ‘Ala al-Jisr (Kairo: al-Hay’ah al-Mishriyah li al-Kitab, 1986).

———, Tafsir Bint al-Syathi’ terj. Mudzakir Abdussalam (Bandung: Mizan, 1996).

———, Al-Qur’an wa Qadhaya al-Insan (Beirut: Dar al-Ma’arif, 1999).

———, Manusia Dalam Perspektif Al-Qur’an terj. Ali Zawawi (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003).

Agustini, Kritik Aisyah Abdurrahman Terhadap Berbagai Pandangan Tentang huruf Muqatta’ah, Skripsi Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2012.

Hidayah, Nuril, Konsep I’jaz Al-Qur’an Dalam Perspektif Mazhab Tafsir Sastra, Skripsi Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2006.

Muhammad Yusron dkk., Studi Kitab Tafsir Kontemporer (Yogyakarta, TH Press, 2006).

Roxanne D. Marrote, The Qur’an in Egypt I: Bintu al-Syathi’ on Women’s Emancipation dalam Jurnal “Coming to Terms with The Qur’an” (New Jersey: Islamic Publication International, 2008).

Sahiron Syamsudin, An Examination of Bintu al-Syathi’s Method of Interpreting The Qur’an (Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1999).

Shalih, Abd al-Qadir Muhammad, al-Tafsir wa al-Mufassirun fi ‘Ahd al-‘Ashr (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 2003).

[1] Sahiron Syamsudin, An Examination of Bintu al-Syathi’s Method of Interpreting The Qur’an (Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1999), hlm. 6.

[2] Roxanne D. Marrote, The Qur’an in Egypt I: Bintu al-Syathi’ on Women’s Emancipation dalam Jurnal “Coming to Terms with The Qur’an” (New Jersey: Islamic Publication International, 2008), hlm. 180.

[3] Bintu Syathi’, ‘Ala al-Jisr (Kairo: al-Hay’ah al-Mishriyah li al-Kitab, 1986), hlm. 56.

[4] Nuril Hidayah. Konsep I’jaz Al-Qur’an Dalam Perspektif Mazhab Tafsir Sastra, Skripsi Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2006, hlm. 54.

[5]  Nuril Hidayah. Konsep I’jaz Al-Qur’an Dalam Perspektif Mazhab Tafsir Sastra, hlm. 54.

[6]  Nuril Hidayah. Konsep I’jaz Al-Qur’an Dalam Perspektif Mazhab Tafsir Sastra, 54.

[7]Agustini, Kritik Aisyah Abdurrahman Terhadap Berbagai Pandangan Tentang huruf Muqatta’ah, Skripsi Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2012, hlm. 35.

[8]  Nuril Hidayah. Konsep I’jaz Al-Qur’an Dalam Perspektif Mazhab Tafsir Sastra, 55.

[9]Agustini, Kritik Aisyah Abdurrahman Terhadap Berbagai Pandangan Tentang huruf Muqatta’ah, hlm. 36-37.

[10] Agustini, Kritik Aisyah Abdurrahman Terhadap Berbagai Pandangan Tentang huruf Muqatta’ah, hlm. 37.

[11] Aisyah Abdurrahman, Maqal al-Insan fi al-Qur’an: Dirasah Qur’aniyyah, (Kairo: Dar al-Ma’arif, 1969), hlm. 7.

[12]Aisyah Abdurrahman, Manusia Dalam Perspektif Al-Qur’an terj. Ali Zawawi (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003), hlm. vii.

[13] Aisyah Abdurrahman, Maqal al-Insan fi al-Qur’an: Dirasah Qur’aniyyah, hlm. 7.

[14] Lihat Aisyah Abdurrahman, Manusia Dalam Perspektif Al-Qur’an, hlm. 1.

[15] Aisyah Abdurrahman, Maqal al-Insan fi al-Qur’an: Dirasah Qur’aniyyah, hlm. 11.

[16] Aisyah Abdurrahman, Maqal al-Insan fi al-Qur’an: Dirasah Qur’aniyyah, hlm. 13.

[17] Aisyah Abdurrahman, Maqal al-Insan fi al-Qur’an: Dirasah Qur’aniyyah, hlm. 14.

[18] Aisyah Abdurrahman, Maqal al-Insan fi al-Qur’an: Dirasah Qur’aniyyah, hlm. 15-19.

[19] Aisyah Abdurrahman, Al-Qur’an wa Qadhaya al-Insan (Beirut: Dar al-Ma’arif, 1999), hlm. 34.

[20] Aisyah Abdurrahman, Maqal al-Insan fi al-Qur’an: Dirasah Qur’aniyyah, hlm. 27.

[21] Aisyah Abdurrahman, Maqal al-Insan fi al-Qur’an: Dirasah Qur’aniyyah, hlm. 27.

[22] Aisyah Abdurrahman, Manusia Dalam Perspektif Al-Qur’an, hlm. 17-21.

[23] Aisyah Abdurrahman, Maqal al-Insan fi al-Qur’an: Dirasah Qur’aniyyah, hlm. 47.

[24] Aisyah Abdurrahman, Maqal al-Insan fi al-Qur’an: Dirasah Qur’aniyyah, hlm. 58.

[25] Aisyah Abdurrahman, Maqal al-Insan fi al-Qur’an: Dirasah Qur’aniyyah, hlm. 117.

[26] Aisyah Abdurrahman, Maqal al-Insan fi al-Qur’an: Dirasah Qur’aniyyah, hlm. 119-140.

[27] Aisyah Abdurrahman, Maqal al-Insan fi al-Qur’an: Dirasah Qur’aniyyah, hlm. 181.

[28] Aisyah Abdurrahman, Maqal al-Insan fi al-Qur’an: Dirasah Qur’aniyyah, hlm.  168.

[29] Aisyah Abdurrahman, Maqal al-Insan fi al-Qur’an: Dirasah Qur’aniyyah, hlm. 172-174.

[30] Aisyah Abdurrahman, Tafsir Bint al-Syathi’ terj. Mudzakir Abdussalam (Bandung: Mizan, 1996), hlm. 30.

[31] Aisyah Abdurrahman, Tafsir Bint al-Syathi’, hlm. 30-31.

[32] Abd al-Qadir Muhammad Shalih, al-Tafsir wa al-Mufassirun fi ‘Ahd al-‘Ashr (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 2003), hlm. 401.

[33] Aisyah Abdurrahman, Tafsir Bint al-Syathi’, hlm. 12-13.

[34] M. Yusron, Studi Kitab Tafsir Kontemporer (Yogyakarta, TH Press, 2006), hlm. 25.

[35] Aisyah Abdurrahman, Maqal al-Insan fi al-Qur’an: Dirasah Qur’aniyyah, hlm. 15.

[36] Aisyah Abdurrahman, Maqal al-Insan fi al-Qur’an: Dirasah Qur’aniyyah, hlm. 17.

[37] Aisyah Abdurrahman, Maqal al-Insan fi al-Qur’an: Dirasah Qur’aniyyah, hlm. 17.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s