Pemikiran Filsafat Yunani Kuno

Pendahuluan

Era filsafat Yunani dimulai dari Thales (624-546 SM) sebagai orang yang pertama kali mengenalkan filsafat. Hal ini kemudian dilanjutkan oleh Heracleitus yang menyebutkan bahwa sesuatu yang benar-benar ada adalah gerak dan perubahan. Pendapat ini kemudian oleh Parmenides dengan mengatakan bahwa yang hakikat adalah diam, tetap, dan tidak berubah.[1]

Filsafat semakin berkembang ketika kaum sofistik membawa warna baru dalam pemikiran pada saat itu. Mereka mengungkapkan bahwa kebenaran bersifat relatif dan tidak ada yang universal. Hal ini kemudian dikritik oleh Socrates dan penerusnya yang menjawab berbagai persoalan dengan menggunakan metode induksi, deduksi dan gabungan keduanya.

Dalam tulisan ini akan dijelaskan tentang pemikiran Socrates, Plato, dan Aristoteles yang merupakan tiga filsuf besar yang sangat mempengaruhi pembentukan peradaban Barat pada generasi berikutnya. Dalam hal ini akan dibahas mengenai metode yang dipakai oleh tiga orang filsuf Yunani kuno ini yang kemudian membawa pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan filsafat dan pengetahuan dunia Barat.

Socrates

Socrates merupakan salah satu filsuf terkenal di era awal kejayaan filsafat Yunani. Ia merupakan salah satu orang yang mempengaruhi cara berpikir masyarakat Yunani pada saat itu dengan mengajak mereka berfilsafat. Akan tetapi, Socrates tidak meninggalkan tulisan-tulisan yang berisi pemikiran maupun metode berfilsafatnya.

Sumber-sumber yang menyatakan kehidupan Socrates terlihat dari karya-karya orang-orang setelahnya seperti Aristophanes dengan opera komedinya, Xenophon dengan “Memorabilia”, dan Plato sebagai muridnya banyak mengarang dialog-dialog yang berkaitan dengan kehidupan gurunya tersebut karena ia menilai Socrates merupakan sosok filsuf istimewa  yang tidak pernah berhenti mencari kebenaran.[2]

  1. Riwayat Hidup Socrates

Socrates lahir dari seorang bidan yang bernama Phainarete pada tahun 470 SM, dimana pada saat itu terdapat banyak orang-orang jenius yang tinggal di Athena. Ia hidup sezaman dengan Aeschylus yang merupakan penulis naskah drama, dan Pericles sebagai tokoh yang mengantarkan Yunani pada era demokrasi. Pada masa kehidupannya, Athena memiliki pengaruh yang cukup besar di laut Aegean.[3]

Selama hidupnya, Socrates pernah menjadi tentara Athena yang cukup dikagumi keberaniannya. Ia juga menikah dengan Xantippe dan memiliki tiga anak laki-laki. Pada tahun 406-405 SM Socrates menjadi anggota panitia pengadilan dan dua tahun kemudian ia menolak ajakan pemerintah untuk membunuh orang yang bernama Leon agar dapat disita hartanya. Peristiwa ini menjadi salah satu sebab kematian Socrates pada saat itu.[4]

Pada tahun 399 SM, Socrates dipanggil oleh pengadilan dengan tuduhan menyebarkan pengaruh yang kurang baik pada generasi muda. Selain itu, ia juga dituduh tidak percaya pada dewa-dewa Yunani yang merupakan pelanggaran dalam kepercayaan masyarakat pada saat itu. Dari hasil keputusan jaksa dan hakim, Socrates dijatuhi hukuman mati dengan meminum racun.[5]

  1. Pemikiran dan Metode Filsafat

Pemikiran para filsuf sebelum era Socrates lebih diarahkan pada masalah kosmologi atau ilmu tentang alam semesta (perbintangan), sedangkan Socrates lebih memfokuskan diri pada masalah kemanusiaan.[6] Hal ini berdasarkan sikapnya yang berlawanan dari sofis pada saat itu yang memungut biaya ketika mengajarkan pengetahuan kepada manusia. Dari pergaulannya dengan masyarakat setempat, ia pun menaruh perhatian khusus pada manusia.[7]

Socrates memahami kebenaran ada yang bersifat obyektif dan ada yang bersifat relatif. Kebenaran obyektif adalah kebenaran yang memang sudah ada yang tidak bergantung pada siapa yang berpendapat.[8] Ia berusaha untuk mengungkapkan sifat semu yang terdapat dalam pengetahuan agar diketahui sumber pengetahuan yang sebenarnya.[9]

Dengan menggunakan metode dialektika, Socrates berusaha mengajarkan orang lain untuk mencari kebenaran. Setiap hari ia berjalan berkeliling kota untuk mempelajari kebiasaan manusia, ia berbicara dengan berbagai macam orang, bertanya tentang pekerjaan dan keseharian mereka sesuai dengan pengetahuan yang mereka miliki. Dari tanya-jawab ini, Socrates membuka pikiran masyarakat tentang pengetahuan yang mereka miliki serta menambah pengetahuan yang ia miliki.[10]

Seni melahirkan pengetahuan ini disebut dengan maieuteke tekhne atau seni kebidanan. Menurut Socrates, setiap orang memiliki pemahaman sejati yang terdapat dalam jiwanya, akan tetapi pemahaman tersebut telah tertutupi oleh pengetahuan semu yang berasal dari doktrin yang berkembang pada saat itu. Sehingga dengan menggunakan metode dialektika tersebut, ia berusaha melahirkan kembali pemahaman sejati serta membongkar pengetahuan semu yang terdapat dalam pikiran seseorang.[11]

Keadaan masyarakat Yunani pada saat itu sangat dipengaruhi paham Sofis yang mengatakan bahwa tidak ada kebenaran yang abadi, kebenaran bersifat relatif dan bisa dikaji ulang. Hal ini yang kemudian dikritik oleh Socrates, ia berpendapat bahwa ada kebenaran obyektif yang memang sudah ada dan bersifat universal. Untuk itu, ia mengajak orang lain untuk berdiskusi dengan menggunakan metode dialektikanya. Dalam pencarian kebenaran ini, ia tidak memikirkannya sendiri, melainkan selalu mencari orang lain yang dianggapnya memiliki pengetahuan yang tidak ia miliki.[12]

Metode dialektika ini dilakukan dengan tanya jawab. Diawali dengan pertanyaan yang diajukan oleh Socrates terhadap lawan bicaranya yang kemudian menjawab dengan pengetahuan yang dimiliki. Hipotesa dari jawaban tersebut dipertanyakan lagi oleh Socrates hingga lawan bicaranya terjebak dengan jawabannya sendiri dan mulai memikirkan kembali tentang kebenaran yang terdapat dalam pengetahuan yang ia miliki. Diskusi ini terus berlanjut dengan menguji setiap hipotesa yang terdapat dalam jawaban yang kemudian ditarik satu kesimpulan umum tentang kebenaran pengetahuan tersebut. Metode ini kemudian dikenal dengan sebutan metode Induksi.

Konsep dialektika dengan menguji kebenaran pengetahuan yang dimiliki seseorang milik Socrates ini kemudian dipakai oleh filsuf abad pertengahan. Seperti Rene Descartes yang mengenalkan metode “keraguan” dalam pengetahuan. Dalam bukunya Meditations on First Philosophy Descartes mempertanyakan kembali semua pengetahuan yang ia miliki. Ia bertanya kepada dirinya sendiri dan mengumpulkan beberapa hipotesa yang kemudian memunculkan sebuah kebenaran yang universal. Pemikiran Descartes ini kemudian dikembangkan oleh generasi selanjutnya dan disebut dengan aliran Rasionalisme.[13]

Konsep dialektika ini kemudian dikembangkan lagi oleh filsuf pasca Descartes seperti Francois Bacon dan Immanuel Kant. Mereka berusaha menguji kembali paham-paham serta kebenaran-kebenaran dari teori pendahulunya hingga memunculkan beberapa aliran filsafat dan metode menguji kebenaran ilmiah. Hal ini kemudian menjadi langkah awal berkembangnya peradaban Barat yang terus dikembangkan hingga saat ini.

Plato (427-327 SM)

Plato merupakan murid Socrates yang terinspirasi dari pemikiran gurunya. Cerita kehidupan Socrates banyak tertuang dalam karya Plato, diantaranya: Apology, Crito, Charmides, Laches, Euthyphro, Euthydemus, Cratylus, Protagoras, dan Gorgias. Selain itu ia juga menyumbangkan karya tentang metafisika, diantaranya: Menon, Symposium, Phaedo, Republic, dan Phaedrus.  Karya-karya Plato yang lainnya antara lain: Theaetetus, Parmenides, Sophist, Statesmen, Philebus, Timaeus, dan Laws.[14]

  1. Teori tentang Ide

Plato memakai konsep pengetahuan yang diajarkan oleh Socrates, yaitu terdapat kebenaran universal dalam setiap pengetahuan. Ia juga meneruskan metode dialektika dengan mengemukakan beberapa hipotesa pada setiap jawaban. Kemudian hipotesa tersebut dianalisa dengan memberikan keterangan-keterangan hingga sampai pada pengetahuan yang definitif.[15]

Setiap pengetahuan mengandung ide-ide yang terdapat di dalam pikiran manusia. Dalam menjelaskan ide-ide ini, Plato menjelaskan tentang fungsi rasio dan realitas (empiris). Rasio digunakan untuk mengenali ide-ide yang terdapat dalam pikiran maupun benda-benda kongkrit sehingga dicapai sebuah pengetahuan yang universal.[16]

Dalam menjelaskan tentang ide, Plato terpengaruh pemikiran gurunya Socrates. Socrates selalu mencari kebenaran dengan mengungkapkan definisi-definisi yang didapatkan dari hasil diskusi dengan menggunakan dialektika. Socrates berusaha menemukan hakikat dari kebenaran pengetahuan dengan menganalisis hipotesa yang ia dapatkan. Beranjak dari pemikiran ini, Plato meyakini bahwa ada ide universal yang terdapat dalam sebuah pengetahuan. Ide tersebut merupakan konsep yang sebenarnya dari sebuah pengetahuan, dengan kata lain konsep ideal dari sesuatu.

Dengan mengambil sampel dari kaum Phytagorian, Plato berusaha menjelaskan tentang segitiga. Sebuah segitiga adalah penyatuan garis lurus yang memiliki tiga sudut, hal ini yang kemudian dikembangkan oleh Phytagoras dan menyebutnya sebagai segitiga. Menurut Plato, ide tentang segitiga ini terdapat dalam pikiran manusia, sedangkan bentuk konkrit dari segitiga adalah sebuah usaha dari manusia untuk menggambarkan segitiga yang ideal, dengan kata lain segitiga konkrit tersebut adalah tiruan dari segitiga yang ideal.[17]

Dalam hal ini, Plato mengenalkan tentang konsep dua dunia, antara dunia realitas dan dunia pikiran. Realitas merupakan tiruan dari ide yang terdapat dalam pikiran manusia. Rasio digunakan untuk menganalisis setiap ide universal yang terdapat di dalam pikiran yang kemudian diwujudkan dalam realitas. Pengujian terhadap perwujudan dari ide tersebut dilakukan melalui ilmu pengetahuan untuk mengetahui sejauhmana ide tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk yang bisa ditangkap oleh panca indera.

Konsep ide Plato ini kemudian dikembangkan oleh filsuf abad pertengahan. Mereka berusaha menggunakan imajinasi pikiran mereka untuk menemukan sesuatu yang baru yang berguna bagi kehidupan sehari-hari. Pemikiran ini yang kemudian melahirkan revolusi industri di Inggris dengan maraknya penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan seperti pembuatan mesin, otomotif maupun alat-alat produksi lainnya.

  1. Teori tentang Etika

Plato menjelaskan tujuan hidup adalah untuk mencapai kesenangan. Kesenangan ini akan didapatkan dari pengetahuan tentang nilai-nilai baik dari realitas dan pikiran. Ide kebaikan ini nantinya akan mengarahkan manusia untuk mencapai keadilan dalam pergaulan hidup. Egoisme pribadi dan masyarakat harus dicegah agar tidak terjadi konflik antara satu orang dengan yang lainnya maupun dari beberapa kelompok.[18]

Dengan mempelajari ide kebaikan, manusia akan tahu dan mengerti dengan kebaikan tersebut. Orang yang telah mengerti tentang kebaikan tersebut akan mencintai kebaikan. Kebaikan ini disebut dengan budi yang bermakna tahu. Setelah mengetahui dan mencintai kebaikan maka manusia akan susah untuk meniadakannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kecintaannya terhadap budi tersebut, manusia mulai menemukan keadilan dan berusaha mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya praktek keadilan ini maka egoisme pribadi maupun kelompok akan hilang dengan sendirinya dan konflik tidak akan terjadi.

Hal ini menjadi landasan etika Plato. Ide tentang kebaikan akan mengarahkan manusia kepada kebaikan itu sendiri. Praktek dari ide kebaikan ini mengarahkan manusia mencapai keadilan hingga hubungan satu dengan yang lainnya akan semakin kuat dan terjadi kehidupan yang seimbang serta saling pengertian satu sama lain. Dari praktek yang seperti ini akan terpenuhi tujuan hidup untuk memperoleh kesenangan dimana setiap orang saling membantu dan saling mengerti satu sama lain sehingga kehidupan yang harmonis yang tercapai.

  1. Teori tentang Negara

Menurut Plato, manusia adalah makhluk sosial yang saling terikat antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, kehidupan manusia yang ideal adalah hidup berkelompok yang teratur dan saling membantu satu sama lain. Kepentingan umum harus didahulukan daripada kepentingan pribadi, konsep keadilan bersama sangat penting hubungan bermasyarakat dan bernegara.[19]

Negara yang ideal memiliki tiga golongan, yaitu filsuf atau pemimpin, prajurit atau petugas keamanan, dan pekerja. Golongan filsuf adalah orang-orang yang terpilih dari golongan prajurit yang telah menempuh pendidikan dan latihan spesial. Mereka bertugas untuk membuat undang-undang dan aturan hukum. Golongan ini merupakan golongan yang ideal untuk menjadi pemimpin negara. Disamping itu, mereka juga memiliki dituntut untuk mempelajari filsafat dan ilmu pengetahuan untuk mencapai kebijaksanaan. Kebijaksanaan adalah syarat wajib bagi seorang pemimpin yang ideal.[20]

Golongan kedua adalah penjaga keamanan dan stabilitas negara. Golongan prajurit yang terbiasa dengan pertempuran dan latihan fisik merupakan sosok yang ideal untuk mengamankan negara dari serangan musuh. Selain itu mereka juga bertugas untuk mentertibkan masyarakat yang melanggar undang-undang negara maupun hukum yang berlaku.[21]

Golongan yang terakhir adalah golongan pekerja. Mereka terdiri dari petani, nelayan, buruh dan orang-orang yang bekerja di lingkungan sosial. Tugas mereka adalah untuk menciptakan keadaan ekonomi negara yang stabil dan menyediakan kebutuhan sosial. Mereka merupakan dasar kehidupan ekonomi dalam masyarakat, segala kebutuhan hidup bergantung pada hasil pekerjaan mereka. Oleh karena itu, mereka dituntut untuk pandai menguasai diri dan menghindari egoisme agar tidak terjadi konflik dalam masyarakat.[22]

Menurut Plato, peraturan dasar dalam pemerintahan harus ditentukan melalui sebuah ajaran yang berdasarkan pengetahuan dan pengertian yang kemudian mendatangkan keyakinan bahwa pemerintah harus dipimpin oleh ide yang tertinggi yaitu ide kebaikan.[23] Oleh karena itu, pemimpin negara adalah seseorang yang harus memahami dengan benar tentang ide kebaikan tersebut. Keadilan adalah ketika setiap orang melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuannya.

Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwa Plato ingin menunjukkan konsep pemerintahan yang ideal. Sosok pemerintah yang ideal adalah orang yang telah menempuh pendidikan khusus selama hidupnya sebagai prajurit hingga mengerti bagaimana menjaga stabilitas negara. Selain itu, mereka juga dituntut untuk mempelajari filsafat dan ilmu pengetahuan agar mencapai sebuah budi yang disebut budi kebijaksanaan.

Negara yang baik adalah negara yang mensejahterakan rakyatnya, oleh karena itu setiap pemimpin harus memiliki kebijaksanaan dalam membuat undang-undang dan mengatur rakyatnya. Golongan pekerja ditempatkan pada tempat bekerja dan diberikan upah yang sesuai dengan pekerjaannya, begitu juga golongan prajurit ditempatkan pada pos-pos keamanan agar bisa menjaga kedamaian baik di dalam maupun di luar negeri.

Aristoteles (384-322 SM)

Aristoteles merupakan seorang anak dari dokter kerajaan Macedonia. Ayahnya banyak mengajarkan tentang tehnik membedah dan mempengaruhi pemikiran Aristoteles sehingga ia banyak mempelajari ilmu-ilmu alam. Pada umur 18 tahun ia pergi belajar di Athena dimana ia banyak mendapatkan pengetahuan dari Plato. Pemikiran filsafatnya banyak dipengaruhi oleh pemikiran Plato. Selain itu, ia juga merupakan guru khusus bagi Alexander yang menyatukan Eropa dan Asia dalam kerajaannya.[24]

Adapun karya-karya Aristoteles antara lain: Categoriae, De Interpretatione, Analytica Priora, Analytica Posteriora, Topica, De Sophistic Elenchis, Physica, De Caelo, De Generatione et Corruptione, Meteorologica, De Anima, Parva Naturalia, De Partibus Animalium, De Motu Animalium, De Generatione Anumalium, Metaphysica, Ethica Nicomachea, Magna Moralia, Ethica Eudemia, Politica, Economica, Rhetorica, dan  Poetica.[25]

  1. Teori Pengetahuan

Secara umum Aristoteles membagi ilmu pengetahuan menjadi tiga bagian, yaitu pengetahuan praktis, produktif dan teoritis. Praktis mencakup etika dan politik, produktif adalah pengetahuan yang menghasilkan karya seperti seni dan tehnik, dan teoritis adalah ilmu pengetahuan alam yang meliputi fisika, matematika dan filsafat. Sedangkan logika digunakan sebagai persiapan untuk berpikir secara ilmiah yang kemudian mendorong manusia untuk melakukan penelitian ilmiah dan mengembangkan ilmu pengetahuan.[26]

Ilmu pengetahuan praktis adalah ilmu pengetahuan yang membutuhkan praktek nyata dalam kehidupan sehari-hari. Konsep tentang etika tidak akan terwujud jika manusia tidak melakukannya sebagai kebiasaan hidup. Untuk mengetahui tentang kebaikan dalam bergaul, maka seseorang harus mempraktekkannya ketika bergaul dengan orang lain. Sopan santun dan berkata yang baik merupakan salah satu ajaran etika, ajaran tersebut tidak akan terwujud jika tidak dipraktekkan oleh orang yang mengetahuinya.

Aristoteles mengemukakan dua cara untuk memperoleh pengetahuan, yaitu induksi dan deduksi. Induksi merupakan pengambilan pengetahuan umum dari beberapa contoh kasus yang khusus yang juga bisa digunakan sebagai dasar pijakan pada kasus-kasus yang belum diselidiki. Sedangkan deduksi merupakan sinkronisasi dari beberapa kebenaran umum yang kemudian memunculkan pengetahuan yang khusus.[27]

Dengan menggunakan induksi, seseorang tidak perlu lagi mengadakan percobaan yang sama terhadap kasus yang mirip. Kesimpulan yang ditarik dari kasus sebelumnya dapat digunakan untuk memecahkan persoalan kasus berikutnya yang memiliki kesamaan masalah. Contohnya, seseorang yang merasa badannya dingin baik jika diberikan makanan atau minuman yang menghangatkan. Begitu juga jika terjadi kasus orang yang suhu badannya panas, hendaknya ia diberikan sesuatu yang bisa menurunkan suhu tubuhnya.

Adapun deduksi merupakan kesimpulan yang ditarik dari dua pengetahuan yang tidak diragukan lagi kebenarannya. Hal ini digunakan Aristoteles dalam menjelaskan tentang silogisme. Silogisme sendiri merupakan gabungan bahasa antara subyek dan predikat. Dengan menggabungkan dua fakta ilmiah yang kemudian ditarik kesimpulan ilmiah ketiga, maka bisa didapatkan sebuah pengetahuan yang universal. Misalnya dua proposisi yang berbeda seperti:

–          Semua manusia bisa terkena penyakit.

–          Dokter adalah seorang manusia.

–          Dokter bisa terkena penyakit.

Kedua metode ini kemudian digunakan oleh ilmuwan-ilmuwan abad pertengahan untuk menganalisis berbagai jenis pengetahuan baik dalam bidang biologi, fisika, matematika maupun astronomi. Munculnya berbagai penelitian tentang obat-obatan, anatomi tubuh dan ramuan-ramuan didasarkan pada metode yang digunakan oleh Aristoteles ini.

  1. Teori tentang Metafisika

Metafisika sendiri adalah jenis pengetahuan yang berbeda dari ilmu pengetahuan alam (science), metafisika mengacu pada pengetahuan tentang realitas yang sebenarnya.[28] Dalam menjelaskan tentang metafisika, Aristoteles menyebutkan dua istilah tentang ide dan benda yaitu substansi dan universal. Substansi adalah ide yang melekat pada sesuatu, menjadi ciri khas dirinya dan tidak terdapat pada sesuatu yang lain. Sedangkan universal adalah ide yang bersifat umum, sesuatu yang menjadi bagian dari beberapa hal.[29]

  1. Konsep tentang Etika

Aristoteles menjelaskan bahwa hal yang baik adalah kebahagiaan yang merupakan aktivitas jiwa. Untuk mencapai kebahagiaan tersebut, seseorang harus memiliki intelektual dan moral. Intelektual bisa didapatkan dari pembelajaran dan moral didapatkan dari kebiasaan. Seseorang menjadi adil ketika ia melakukan tindakan adil yaitu dengan membiasakan diri untuk melakukan hal-hal yang baik sehingga kebaikan akan selalu tercipta dan konflik bisa dihindari. Dengan cara ini, kebahagiaan bisa terwujud dan hubungan antar manusia bisa terjalin dengan baik.[30]

Berdasarkan konsep di atas, tawaran Aristoteles tentang etika terpaku pada intelektual dan moral. Intelektual atau wawasan pengetahuan didapatkan dengan mengikuti pembelajaran, baik itu di akademi maupun seminar-seminar di luar akademi. Dengan mengikuti kuliah-kuliah yang disampaikan oleh para filsuf dan guru-guru, seseorang dapat menambah pengetahuannya tentang sesuatu sehingga ia mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk, bagaimana cara mengetahui kebenaran dan bagaimana cara menerapkannya.

Sedangkan moral didapatkan dari kebiasaan. Setelah mengetahui konsep kebaikan, seseorang harus menerapkan kebaikan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Tingkah laku yang didasarkan pada kebaikan akan menghasilkan perbuatan yang terpuji dan menyenangkan diri serta orang di sekitarnya. Dengan berbekal pengetahuan yang didapatkan dari hasil belajar, praktek dari pengetahuan tersebut membentuk moral manusia sehingga kebaikan bisa tercipta dalam pergaulan sehari-hari.

Sebagai contoh, di sekolah diajarkan untuk menyapa dan memberi salam kepada orang lain. Hal ini kemudian dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari dengan menyapa setiap orang yang dikenal. Kesan yang muncul dari orang yang disapa tersebut adalah kesan kebaikan dan menciptakan rasa senang dan bahagia dalam hatinya. Dari sapaan ini kemudian terbentuklah hubungan baik dan keakraban serta keinginan untuk saling tolong-menolong. Inilah salah satu bentuk etika yang diajarkan oleh Aristoteles.

  1. Konsep tentang Negara

Negara adalah kumpulan dari beberapa keluarga dan desa yang membentuk satu kesatuan pemerintahan untuk mewujudkan hidup yang bahagia dan mulia.[31] Pemerintahan yang baik antara lain yang bersifat monarki, aristokrasi dan konstitusional. Sedangkan pemerintahan yang buruk diantaranya tirani, oligarki dan demokrasi. Pemerintahan yang baik dan buruk ditentukan oleh etika dan kualitas pemimpinnya, bukan bentuk konstitusinya.[32]

Hatta menjelaskan bahwa konsep pemerintahan konstitusional adalah pemerintahan yang berdasarkan seluruh kekuasaan rakyat (demokrasi pada masa sekarang). Akan tetapi, Aristoteles lebih menyukai model pemerintahan Aristokrasi daripada demokrasi. Hal ini disebabkan karena rakyat mudah tertipu sehingga pemerintahan tidak dikuasai oleh orang-orang yang kompeten di bidangnya. Lebih lanjut, pemerintahan yang terbaik adalah gabungan antara demokrasi dan aristokrasi dimana orang-orang cerdik yang ahli dalam bidangnya menduduki jabatan pemerintahan sehingga bisa menciptakan stabilitas negara yang baik dan mewujudkan kebahagiaan bersama seperti yang terdapat dalam konsep etika.[33]

Kesimpulan

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kejayaan Yunani terletak pada tiga orang filsuf yang menjadi pedoman peradaban Barat. Filsafat Socrates dengan dialektikanya mencoba membangkitkan kesadaran masyarakat akan kemampuan dirinya dan hak-hak yang harus didapatkannya. Dialektika ini kemudian menjadi alat yang digunakan oleh filsuf abad pertengahan untuk membongkar kembali pengetahuan yang terbentuk dari doktrin gereja hingga melahirkan revolusi pengetahuan secara besar-besaran mulai dari era Descartes hingga saat ini.

Plato melanjutkan dengan konsep idenya yang melahirkan revolusi industri di Inggris. Berangkat dari ide yang berasal dari imajinasi, kemudian para ilmuwan abad pertengahan berusaha untuk mengembangkan ide tersebut hingga tercipta berbagai alat produksi, mesin dan otomotif.

Aristoteles dengan metode deduksinya melahirkan silogisme yang kemudian menjadi tolak ukur penelitian dan pengembangan pengetahuan. Pengetahuan yang berkembang dari metode tersebut antara lain dalam bidang matematika dengan berbagai rumus yang ditemukan, bidang fisika yang melahirkan berbagai macam percobaan kimia, hingga biologi yang menganalisis secara mendalam tentang anatomi tubuh serta cara menjaga dan menanggulangi penyakit yang diderita.

DAFTAR PUSTAKA

 

Baker, Anton, Metode-metode Filsafat (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1986).

Bertens, Kees, Sejarah Filsafat Yunani (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1999).

Delfgaauw, Bernard, Sejarah Ringkas Filsafat Barat terj. Soejono Semargono (Yogyakarta: PT Tiara Wacana, 1992).

Hatta, Mohammad,  Alam Pikiran Yunani (Jakarta: UI Press, 1986).

Russel, Bertrand, Sejarah Filsafat Barat terj. Sigit Jatmiko dkk. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004).

Stumpf, Samuel Enoch, Socrates to Sartre and Beyond: A History of Philosophy (New York: McGraw-Hill, 2008).

Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales Sampai James (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1994).

[1] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales Sampai James (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1994), hlm. 1.

[2] Kees Bertens, Sejarah Filsafat Yunani (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1999), hlm. 95-96.

[3] Samuel Enoch Stumpf, Socrates to Sartre and Beyond: A History of Philosophy (New York: McGraw-Hill, 2008), hlm. 31.

[4] Kees Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, hlm. 99-100.

[5] Kees Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, hlm. 100. Lihat juga Samuel Enoch Stumpf, Socrates to Sartre and Beyond: A History of Philosophy, hlm. 39-40.

[6] Anton Baker, Metode-metode Filsafat (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1986), hlm. 25.

[7] Bernard Delfgaauw, Sejarah Ringkas Filsafat Barat terj. Soejono Semargono (Yogyakarta: PT Tiara Wacana, 1992), hlm. 14-15.

[8] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales Sampai James, hlm. 46.

[9] Bernard Delfgaauw, Sejarah Ringkas Filsafat Barat, hlm. 15.

[10] Mohammad Hatta,  Alam Pikiran Yunani (Jakarta: UI Press, 1986), hlm. 74.

[11]Anton Baker, Metode-metode Filsafat, hlm. 27.

[12] Mohammad Hatta,  Alam Pikiran Yunani (Jakarta: UI Press, 1986), hlm. 81.

[13] Lihat Rene Descartes, Meditations on First Philosophy trans. John Cottingham (Sydney: Cambridge University Press, 1986).

[14]Samuel Enoch Stumpf, Socrates to Sartre and Beyond: A History of Philosophy, hlm. 43.

[15] Metode ini sering disebut dengan metode induksi. Lihat Anton Baker, Metode-metode Filsafat, hlm. 33-36.

[16] Lihat Kees Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, hlm. 106-110.

[17] Lihat Kees Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, hlm. 107.

[18] Untuk lebih jelasnya lihat Mohammad Hatta,  Alam Pikiran Yunani, hlm. 106.

[19] Mohammad Hatta,  Alam Pikiran Yunani, hlm. 109.

[20] Kees Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, hlm. 145.

[21] Mohammad Hatta,  Alam Pikiran Yunani, hlm. 111-112.

[22] Mohammad Hatta,  Alam Pikiran Yunani, hlm. 111.

[23] Mohammad Hatta,  Alam Pikiran Yunani, hlm. 109.

[24] Mohammad Hatta,  Alam Pikiran Yunani, hlm. 115.

[25] Kees Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, hlm. 160-163.

[26] Kees Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, hlm. 167.

[27] Kees Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, hlm. 168-169.

[28] Samuel Enoch Stumpf, Socrates to Sartre and Beyond: A History of Philosophy, hlm. 74.

[29]Bertrand Russel, Sejarah Filsafat Barat terj. Sigit Jatmiko dkk. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 221.

[30] Bertrand Russel, Sejarah Filsafat Barat, hlm. 233-238.

[31] Samuel Enoch Stumpf, Socrates to Sartre and Beyond: A History of Philosophy, hlm. 89.

[32] Bertrand Russel, Sejarah Filsafat Barat, hlm. 256-257.

[33] Mohammad Hatta,  Alam Pikiran Yunani, hlm. 134-138.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s