Contoh Proposal Tesis

Latar Belakang Masalah

Penelitian tentang agama telah banyak dilakukan oleh sarjana-sarjana terkemuka di berbagai belahan dunia. Penelitian ini mencakup berbagai aspek yang bidang kajiannya, baik itu bidang psikologi, antropologi, fenomenologi, maupun sosiologi. Ilmu-ilmu modern tersebut digunakan untuk mengkaji ragam keberagamaan yang diparktekkan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam agama Islam, banyak sekali praktek-praktek keagamaan yang hidup di kalangan masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun oleh pembawa agama. Praktek keagamaan ini pada awalnya adalah pola beragama yang dibawa oleh berbagai pemuka agama dari daerah yang berbeda. Kemudian, praktek agama ini berkembang dan berakulturasi dengan budaya masyarakat lokal sehingga memunculkan sebuah fenomena praktek keagamaan yang mungkin saja berbeda dari praktek di tempat asal agama tersebut muncul dan berkembang.

Pada masyarakat Indonesia, Islam yang mulai masuk dan berkembang sejak abad ke-7 M telah memunculkan berbagai macam fenomena praktek keagamaan seperti tahlilan dan zikiran. Seperti yang diketahui dalam sirah nabawiyah, dua praktek ibadah tersebut belum ada pada masa Nabi. Tradisi zikiran baru dimulai sejak masa pasca Nabi saw meninggal.

Zikir pada mulanya bermakna mengucapkan dengan lidah atau menyebut sesuatu. Makna ini kemudian berkembang menjadi mengingat karena dengan mengingat seringkali membuat lidah menyebutnya.  Sedangkan zikir dalam pengertian luas adalah kesadaran tentang kehadiran Allah dimana saja dan kapan saja disertai kesadaran akan kebersamaan-Nya dengan makhluk. Kebersamaan ini diartikan sebagai pengetahuan Allah terhadap apapun yang ada di dalam dunia ini serta bantuan dan pembelaan terhadap hamba-hamba-Nya.[1]

Tradisi zikiran ini pada awalnya dikembangkan oleh kaum sufi sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah. Seperti yang diungkapkan oleh Abu al-Qasim al-Junaid:

“Dia tidak menileh kepada dirinya lagi, selalu dalam hubungan intim dengan Tuhan melalui zikir, senantiasa menunaikan hak-hak-Nya. Dia memandanga kepada-Nya dengan mata hati, terbakar oleh-Nya sinar hakikat Ilahi, meneguk minum dari gelas cinta kasih-Nya.”[2]

Ketika aliran sufi masuk ke Indonesia, tradisi zikiran ini mulai berkembang luas di kalangan masyarakat pada saat itu. Metode pengajarannya adalah dengan berkumpul pada malam hari dan mengadakan pengajian yang didahului oleh pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an dan puji-pujian kepada Allah. Tradisi ini berdasarkan beberapa dalil dari Al-Qur’an dan hadis Nabi saw.

Adapun dalil-dalil tentang zikir dalam Al-Qur’an antara lain:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Artinya: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Q.S. Al-Baqarah ayat 152).

Dalam ayat tersebut umat Islam diperintahkan untuk selalu mengingat Allah dimanapun berada, dengan demikian Allah juga akan selalu mengingat mereka dan selalu menolong mereka ketika mereka membutuhkan pertolongan.

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S. Ar-Ra’d ayat 28).

Dalam ayat ini diterangkan tentang manfaat zikir kepada Allah. Dengan berzikir hati akan menjadi tentram, pikiran akan menjadi tenang dan semua masalah akan mudah dicari solusinya.

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Artinya: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Q.S. Al-Ahzab ayat 35).

Ayat ini juga menjadi pendorong bagi umat Islam untuk melaksanakan zikiran, karena dengan berzikir maka dosa-dosa mereka bisa diampuni oleh Allah dan mereka akan mendapatkan pahala atau balasan kebaikan yang besar.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Artinya: “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”

Adapun dalil-dalil dalam hadis antara lain:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

Artinya: “Dari Abu Musa al-Asy’ariy r.a. ia berkata, Rasulullah saw bersabda: perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berzikir laksana orang yang hidup dan orang yang mati.” (H.R. Bukhari dalam bab keutamaan zikir kepada Allah).[3]

Hadis tersebut mengungkapkan tentang perbedaan orang yang berzikir dan orang yang tidak berzikir. Orang yg berzikir jiwanya selalu hidup oleh cahaya Ilahi yang membuat ia sadar akan hakikat kehidupan, sedangkan orang yang tidak berzikir hatinya akan mati dan terbuai pada angan-angan akan kehidupan yang menyesatkan.

Dari dalil-dalil di atas, dapat diketahui bahwa zikir memiliki manfaat untuk menjaga hati dan akhlak agar selalu tetap pada ajaran agama. Zikir juga menjadi sarana dan media seseorang untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya, dengan begitu ia akan memperoleh kesadaran dan pengetahuan (nikmat) dari Tuhannya dalam menjalani kehidupan di dunia. Disamping itu orang-orang yang berzikir akan selalu menjaga akhlaknya dari melakukan kemaksiatan dan sesuai dengan tuntunan agama Islam.

Jika orientasi zikir dalam hubungan sesama manusia adalah akhlak, maka akhlak menjadi bukti penting tentang fungsi zikir yang dipraktekkan. Akhlak secara bahasa dimaknai dengan budi pekerti, perangai dan tingkah laku.[4] Secara umum akhlak dapat dimengerti dengan kebiasaan seseorang dalam kehidupannya sehari-hari baik dari segi perkataan, perbuatan maupun sikap dan kepribadian.

Pada masyarakat desa Sei. Jepun, kecamatan Tembilahan, Riau, yang mayoritas beragama Islam, zikiran menjadi salah satu ritual keagamaan yang dilaksanakan secara rutin. Ritual ini dilaksanakan dalam rangka mengingatkan kembali dan mengajarkan generasi muda tentang ajaran agama. Sebagaimana kehidupan di desa pada umumnya, masyarakat di desa ini mayoritas bekerja sebagai petani dan nelayan, sehingga pada siang hari masyarakat selalu pergi bekerja dan aktivitas keagamaan tidak terlihat jelas.

Ketika menjelang magrib, masyarakat mulai berbondong datang ke mesjid untuk melaksanakan shalat berjama’ah. Suasana keagamaan di desa ini baru kelihatan pada malam hari, dimana setelah selesai shalat magrib berjama’ah masyarakat melanjutkan ritual keagamaan dengan membaca Al-Qur’an hingga waktu shalat isya telah masuk. Setelah shalat isya, ritual rutin seperti tahlilan dan zikiran dilaksanakan pada malam-malam tertentu.

Pada malam jum’at di desa ini biasa terjadi tahlilan untuk mendoakan orang-orang tua yang sudah meninggal serta sebagai wujud praktek keagamaan yang menjadi ciri khas kaum pedesaan. Setiap malam sabtu diadakan ritual zikiran sebagai wadah untuk pembinaan rohani bagi generasi muda dan sebagai pengingat akan ajaran agama bagi generasi tua di desa tersebut.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, zikiran memiliki salah satu manfaat untuk meningkatkan akhlak keagamaan manusia. Dalam observasi penulis, ada kecenderungan pembinaan rohani masyarakat berupa ceramah agama yang dilaksanakan pada ritual zikiran tersebut. akan tetapi, kondisi akhlak masyarakat tidak berubah secara signifikan. Keadaan masyarakat tidak mengalami perubahan sebelum dan setelah ritual zikiran tersebut, sekalipun ritual tersebut dilakukan secara rutin seminggu satu kali.

Jika dilihat dari dalil-dalil tentang zikir di atas, ritual zikiran ini terkesan hanya sekedar acara mingguan yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Tidak terlihat adanya bukti konkrit seperti yang disampaikan oleh ayat-ayat dan hadis tersebut. Hal ini mengindikasikan adanya perbedaan makna zikir antara tradisi generasi awal masyarakat Islam dengan tradisi masyarakat yang ada di desa Sei Jepun ini.

 

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijelaskan sebelumnya, dapat diambil beberapa rumusan masalah yang akan menjadi inti dari penelitian ini. Permasalahan yang akan diteliti tersebut antara lain:

  1. Bagaimana sejarah dan perkembangan ritual zikiran pada masyarakat di Sei Jepun?
  2. Apa makna zikiran bagi masyarakat yang berada di desa Sei Jepun?
  3. Apa pengaruh zikiran terhadap akhlak masyarakat tersebut?

 

Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini antara lain:

  1. Untuk mengetahui makna zikir dalam pemikiran masyarakat yang berada di desa Sei Jepun.
  2. Untuk mengetahui sejauhmana masyarakat menyadari fungsi zikir dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Untuk mengetahui pengaruh apa saja yang ditimbulkan dengan adanya tradisi zikiran mingguan yang dilaksanakan di desa tersebut.
  4. Untuk mengetahui sejauhmana tingkat perbaikan akhlak dan adab masyarakat dalam interaksi sesama manusia.

Adapun kegunaan penelitian ini antara lain:

  1. Sebagai salah satu wadah penelitian lapangan (ground research) terhadap ritual keagamaan di Indonesia.
  2. Sebagai wujud penelitian terhadap Al-Qur’an dan Sunnah yang hidup dan dimaknai oleh masyarakat yang mempraktekkannya.
  3. Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 

Tinjauan Pustaka

Dalam pembahasan ini, penulis akan mengungkapkan sedikit tentang definisi zikir dan akhlak serta karya-karya yang membahas tentang tema tersebut.

  1. Zikir

Dalam hal ini, Quraish Shihab banyak membahas tentang zikir secara mendalam melalui penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. Menurut beliau, zikir adalahkesadaran tentang kehadiran Allah di mana saja dan kapan saja, serta kesadaran akan kebersamaan-Nya dengan makhluk, kebersamaan dalam arti pengetahuan-Nya terhadap apapun di alam raya ini serta bantuan dan pembelaan-Nya terhadap hamba-hamban-Nya yang taat.[5]

Lebih lanjut Quraish menjelaskan hal-hal yang patut direnungkan dan disadari dalam ritual zikir, yaitu: pertama, zikir kepada Allah, dalam hal ini zikir diarahkan untuk merenungkan sifat-sifat, perbuatan, dan kebesaran Allah, bukan zat-Nya. kedua, hari-hari Allah, yaitu hari-hari dimana terjadi peristiwa-peristiwa penting yang dialami baik yang positif maupun yang negatif. Ketiga, kitab Allah, yaitu ayat-ayat Allah yang tercantum dalam kitab suci baik yang berupa kabar, perintah, larangan maupun cerita-cerita. Keempat, tokoh-tokoh yang baik dan yang buruk, yaitu dengan mempelajari sejarah kehidupan mereka serta menjadi pelajaran agar tidak terulang di masa yang akan datang.[6]

Adapun tokoh lain yang membahas zikir adalah Abdun Nafi’. Dalam bukunya beliau menjelaskan tentang dalil-dalil yang menganjurkan untuk berzikir. Selain itu, beliau juga mengungkapkan tentang zikir setelah shalat dilengkapi dengan hadis-hadis yang berasal dari Nabi Muhammad saw.[7] Dengan adanya dalil-dalil ini, dapat diketahui bahwasanya tradisi zikiran sudah berlangsung pada masa Nabi, walaupun pada masa itu hanya dilakukan secara individual, bukan berjama’ah seperti yang sering terjadi pada masyarakat Indonesia pada saat ini.

Pembahasan tentang zikir diungkap lebih mendalam oleh Hasbi ash-Shidqiy. Menurut beliau, zikir adalah menyebut Allah dengan membaca tasbih, tahlil, tahmid, taqdis, takbir, hauqalah, hasbalah, basmalah, Qur’an al-Majid, dan membaca doa-doa yang matsur, yaitu doa yang diterima dari Nabi saw.[8] Selain itu beliau juga membahas tentang definisi dari kata-kata yang digunakan dalam zikir, serta bentuk-bentuk zikir dalam berbagai ragam ritual keagamaan (ibadah).

Berbeda dari buku-buku sebelumnya, Ibn al-Qayyim menjelaskan lebih dalam tentang faedah-faedah dari zikir. Adapun manfaat-manfaat zikir yang diungkapkan oleh beliau antara lain: menghilangkan rasa sedih dan gelisah dari hati manusia, menguatkan hati dan badan, menjaga lidah dari perkataan yang dilarang, mendapatkan kebaikan dan anugerah yang tak terhingga, dan lain-lain.[9]

Dalam buku Etika Berzikir, Samsul Munir memaknai zikir sebagai aktivitas untuk mengingat Allah. lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa zikir adalah amal qauliyah melalui bacaan-bacaan tertentu. Selain itu beliau juga menjelaskan tentang etika berzikir, diantaranya: niat ikhlas dalam berzikir, suci dari hadas dan najis, dilakukan pada tempat yang bersih, sopan dan takzim dalam berzikir, serius dan bersungguh-sungguh dalam berzikir, khusyuk dan konsentrasi dalam berzikir, merendahkan suara, optimis, dilakukan sambil menangis, bisa dalam kondisi duduk atau berbaring, dan lain sebagainya.[10]

Imam an-Nawawi dalam kitabnya yang berjudul “Azkar” menyebutkan tentang zikir-zikir dalam shalat, zikir ketika mengalami kesusahan atau penderitaan, zikir di saat sakit dan menghadapi kematian, zikir dalam ibadah haji, zikir nikah dan hal-hal yang terkait dengan masalah nikah, dan ragam zikir-zikir lainnya.[11] Dalam buku ini, Imam an-Nawawi lebih banyak menyebutkan tentang berbagai macam bacaaan dalam berzikir dalam berbagai keadaan.

  1. Akhlak

Akhlak merupakan salah satu ciri khas umat Islam. Akhlak merupakan cerminan dari keberagamaan seseorang dan bukti konkrit tentang pemahamannya terhadap ajaran agama.

Yunahar Ilyas menjelaskan secara detail tentang akhlak dan pembagiannya. Menurut beliau akhlak adalah tingkah laku dan budi pekerti, dalam pengertian luas akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia sehingga dia akan muncul secara spontan jika diperlukan tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbang lebih dahulu serta tidak memerlukan dorongan dari luar.[12] Selain itu beliau juga mengungkapkan bahwa ukuran akhlak itu dinilai dari aturan-aturan yang ada dalam agama. Selanjutnya beliau membagi akhlak dalam enam cakupan pembahasan, yaitu: akhlak terhadap Allah, akhlak terhadap Rasulullah, akhlak pribadi, akhlak dalam keluarga, akhlak bermasyarakat, dan akhlak bernegara.

Pembahasan lain tentang akhlak disampaikan oleh Muhammad al-Ghazali. Beliau mengungkapkan tentang berbagai macam akhlak yang harus dimiliki oleh seorang muslim serta hukuman yang akan diterima sebagai akibat dari rusaknya akhlak tersebut. Akhlak tersebut mencakup pada beberapa hal, seperti: kejujuran, dipercaya, setia, ikhlas, beradab, jauh dari dengki, istiqamah, sabar, suka memberi maaf, dermawan, tabah, hemat, malu, kasih sayang, dan lain-lain.[13]

Adapun definisi akhlak seperti yang diungkapkan oleh Asmaran adalah sifat-sifat yang dibawa manusia sejak lahir yang tertanam dalam jiwanya dan selalu ada padanya. Selain itu ia juga mengungkapkan tentang ilmu akhlak, yaitu ilmu yang membahas perbuatan manusia dan mengajarkan perbuatan baik yang harus dikerjakan dan perbuatan jahat yang harus dihindari dalam pergaulannya dengan Tuhan, manusia dan makhluk (alam) sekelilingnya dalam kehidupannya sehari-hari sesuai dengan nilai-nilai moral.[14] Selain itu beliau juga mengungkapkan tentang istilah lain dari akhlak, ukuran baik dan buruk, hubungan akhlak dengan iman islam dan ihsan, dan akhlak seorang muslim.

Senada dengan pemikiran di atas, Rachmat Djatnika juga ikut memberikan definisi bagi akhlak serta berbagai sinonimnya dari bahasa-bahasa lain yang berbeda. Menurut beliau akhlak adalah budi pekerti, karakter dan kebiasaan. Sedangkan ilmu akhlak adalah ilmu yang menjelaskan tentang baik dan buruk, apa yang harus dilakukan manusia terhadap sesamanya, dan tujuan yang akan dicapai oleh manusia dari perbuatan yang dilakukannya.[15] Selain itu beliau juga menjelaskan berbagai macam hak dan kewajiban yang dimiliki oleh manusia, baik itu kewajiban kepada diri sendiri, kewajiban kepada Allah maupun kewajiban kepada sesama manusia.

Buku lain yang membahas tentang akhlak adalah Ethika karya Ahmad Amin. Dalam buku ini dijelaskan tentang proses pembentukan akhlak, hubungannya dengan psikologi dan sosiologi, munculnya adat kebiasaan, ukuran dalam berakhlak, serta akhlak pada bangsa-bangsa terdahulu.[16]

Dalam buku “Kepribadian Qur’ani”, Rif’at banyak menjelaskan tentang kepribadian yang merupakan bagian dari proses terbentuknya akhlak. Menurut beliau organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psikofisik, yang menentukan caranya yang khas (unik) dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.[17] Selain itu beliau juga mengungkapkan tentang pola-pola kepribadian yang ada dalam Al-Quran serta jiwa-jiwa Qur’ani.

Abdul Mujin ikut meramaikan daftar karya-karya yang membahas tentang pribadi Islami. Beliau membagi kepribadian Islami dalam beberapa tipe, yaitu kepribadian mukmin, kepribadian muslim, dan kerpibadian muhsin. Selain itu beliau juga menjelaskan tentang gangguan kepribadian dalam psikologi Islam yang bisa membantu untuk mempelajari akhlak seorang muslim.[18]

Metode Penelitian

Dari penjelasan pada pembahasan sebelumnya, penelitian ini termasuk tipe penelitian lapangan (ground research) menggunakan analisis fenomenologi dan psikologi. Pendekatan fenomenologi disini adalah fenomenologi agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala dalam agama agar bisa dipahami arti agama tersebut menurut penganutnya.[19] Dalam pengertian ini, fenomenologi agama adalah studi yang mempelajari praktek keagamaan yang dilakukan oleh umat beragama agar bisa diketahui arti agama menurut penganut agama tersebut.

Metode fenomenologi mencoba menemukan struktur yang mendasari fakta sejarah dan memahami maknanya yang lebih dalam, sebagaimana dimanifestasikan lewat struktur tersebut dengan hukum-hukum dan pengartian-pengartiannya yang khas. Hal ini bertujuan untuk memberikan sebuah pandangan menyeluruh dari ide-ide dan motif-motif yang kepentingannya sangat menentukan dalam sejarah fenomena religius.[20]

Dengan pendekatan fenomenologi agama, penulis berusaha untuk menangkap makna religiusitas dari ritual zikiran yang dilakukan oleh masyarakat di desa Sei Jepun. Makna ini akan terlihat ketika peneliti ikut menjadi bagian dari acara zikiran tersebut. Dengan kata lain, peneliti ikut menjadi bagian masyarakat dan ikut melaksanakan acara zikiran sebagai kerangka penelitian untuk memahami sejauhmana masyarakat memaknai ritual tersebut.

Adapun pendekatan psikologi digunakan untuk menganalisis pengaruh yang ditimbulkan pada kepribadian orang yang mengikuti ritual zikiran tersebut. Cabang ilmu ini dikenal juga dengan sebutan psikologi agama.

Menurut Thouless, psikologi agama adalah cabang dari psikologi yang bertujuan mengembangkan pemahaman terhadap perilaku kegamaan dengan mengaplikasikan prinsip-prinsip psikologi yang diambil dari kajian terhadap perilaku bukan keagamaan.[21] Zakiah Darajat menambahkan, psikologi agama meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari seberapa besar pengaruh keyakinan agama tersebut dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya.[22]

Dengan menggunakan psikologi agama, peneliti bisa mengungkapkan apa saja pengaruh yang ditimbulkan dari adanya ritual tersebut terhadap akhlak dan kepribadian orang yang mengikutinya. Hal ini menjadi salah satu fokus penelitian ini karena dalil yang menganjurkan untuk melakukan zikir cenderung memiliki tujuan untuk meningkatkan akhlak dan adab serta kualitas spiritual dan kepribadian bagi orang yang menjalankannya.

  1. Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di desa Sei Jepun, Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, Indonesia. Desa ini secara geografis terletak cukup jauh dari kota dan terletak di dekat perbatasan antar dua kecamatan.

Desa ini merupakan desa terpencil yang hanya bisa diakses melalui alat transportasi laut sehingga desa ini terkesan seperti desa yang tertinggal. Untuk mencapai desa ini, seseorang harus menaiki pompong (perahu bermotor) dari kota Tembilahan dengan waktu tempuh sekitar 45 menit.

Mata pencaharian penduduk desa ini sebagian besar adalah petani dan nelayan. Kondisi geografis desa yang terletak di tepi perairan membuat warga desa gemar untuk menangkap ikan laut. Bagi warga lain yang tidak memiliki perahu, mereka bekerja sehari-hari sebagai petani. Beras dan sayur-sayuran adalah komoditas hasil panen utama di desa ini, sehingga masyarakat nyaris tidak pernah membeli beras maupun sayuran dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sarana pendidikan di desa ini cukup lengkap. Ada bangunan sekolah dasar yang sudah berstatus negeri untuk pendidikan anak-anak. Kemudian ada sekolah tingkat menengah swasta Islami yaitu Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah yang tergabung dalam satu bangunan yang terdiri dari enam lokal. Walaupun kualitas pengajaran di sekolah ini masih jauh tertinggal dengan kualitas pengajaran di kota, akan tetapi sikap antusias masyarakat cukup besar dengan mengirimkan anak-anak mereka untuk bersekolah. Animo seperti ini merupakan kesadaran yang cukup membanggakan dimana masyarakat desa menyadari akan pentingnya pendidikan.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kehidupan beragama di desa ini baru terlihat pada malam hari, dimana ketika semua warga berbondong-bondong untuk melaksanakan shalat berjama’ah yang diikuti dengan membaca Al-Qur’an di mesjid. Walaupun penduduk di desa ini tidak banyak, akan tetapi antusias mereka terhadap ritual agama cukup tinggi. Setiap kali ada perayaan atau syukuran selalu dilaksanakan dengan cara yang Islami. Sebagai contoh, ketika salah satu anak pemuka desa tersebut menikah, pada malam harinya diadakan acara shalawatan, yaitu dengan membacakan berbagai riwayat tentang Nabi Muhammad dan berbagai syair sebagai wujud cinta dan kasih kepada teladan umat Islam tersebut.

  1. Sumber data

Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian partisipatoris, yaitu terjun langsung dan bergabung dalam ritual keagamaan masyarakat setempat. Dengan berinteraksi langsung dengan masyarakat dan ikut serta dalam ritual keagamaan sehingga bisa dirasakan langsung dan dimaknai sesuai dengan keadaan di desa tersebut.

Oleh karena itu, sumber data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah warga desa Sei Jepun dan buku-buku yang terkait dengan penelitian ini, yaitu buku-buku tentang fenomenologi agama, psikologi agama, zikir dan akhlak. Sedangkan sumber data sekunder adalah semua buku-buku, artikel-artikel dan alat-alat informasi lainnya yang berkaitan dengan tema penelitian ini dan bisa dipertanggungjawabkan kebenaran datanya.

  1. Tehnik Pengambilan Data.

Adapun tehnik pengambilan data di lapangan dilakukan dengan dua cara, yaitu:

Pertama, observasi. Yaitu dengan melakukan pengamatan secara langsung tentang kehidupan beragama pada masyarakat Sei Jepun, baik dengan melakukan pengamatan dari jauh maupun dengan ikut berpartisipasi dalam setiap ritual keagamaan yang diadakan.

Kedua, wawancara. Yaitu dengan melakukan diskusi, tanya jawab kepada warga Sei Jepun mengenai hal-hal yang berkaitan dengan sejarah ritual zikiran serta pengaruhnya terhadap kepribadian orang yang mengikutinya. Wawancara ini bisa dilakukan secara langsung seperti halnya diskusi keagamaan, maupun wawancara tidak langsung yaitu dengan mengobrol santai menjelang waktu istirahat.

  1. Tehnik Analisis Data

Data-data yang diperoleh di lapangan kemudian akan dianalisis dengan mengunakan teori-teori fenomenologi dan psikologi. Teori-teori yang akan digunakan adalah teori-teori yang berkaitan dengan ritual keagamaan. Teori ini terdapat dalam kerangka analisis fenomenologi agama dan psikologi agama.

Sistematika Pembahasan

Sebuah penelitian akan diketahui kualitasnya jika disajikan dengan baik dalam sebuah format yang disebut dengan laporan hasil penelitian. Laporan hasil penelitian ini akan disusun secara sistematis dari pendahuluan, isi, penutup dan lampiran-lampiran dokumentasi kegiatan ritual zikiran tersebut.

Adapun sistematika pembahasan yang akan digunakan dalam penelitian ini antara lain:

Pendahuluan, yaitu berisikan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.

Bab I, yaitu bab yang berisikan tentang tinjauan umum desa Sei Japun. Bab ini meliputi pembahasan tentang kondisi geografis, kondisi kehidupan penduduk, mata pencaharian penduduk, sarana dan prasarana pendidikan, sarana dan prasarana keagamaan, dan kehidupan beragama masyarakat.

Bab II, yaitu bab yang berisikan tentang zikir dan akhlak dalam Islam. Bab ini meliputi pembahasan tentang pengertian zikir dan akhlak, sejarah dan perkembangan tradisi zikiran, dalil-dalil tentang zikir, manfaat dan fungsi zikir, dan implikasi konsep zikir terhadap kehidupan sehari-hari.

Bab III, yaitu bab yang membahas tentang tradisi zikiran pada warga desa Sei Jepun. Bab ini meliputi pembahasan tentang sejarah dan perkembangan zikiran di desa Sei. Jepun, pemaknaan zikir bagi masyarakat di desa Sei Jepun, implikasi ritual zikiran terhadap kehidupan sosial masyarakat Sei. Jepun.

Bab IV, yaitu bab yang membahas tentang pengaruh ritual zikiran terhadap akhlak dan kepribadian masyarakat Sei. Jepun. Bab ini meliputi dua pembahasan, yaitu pengaruh internal dan pengaruh eksternal.

Penutup, yaitu bab terakhir dari laporan hasil penelitian ini. Bab ini meliputi pembahasan tentang kesimpulan, kelebihan dan kekurangan penelitian, dan saran-saran.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Ghazali, Muhammad, Akhlak Seorang Muslim terj. Abu Laila (Bandung: Alma’arif, 1995)

Al-Jauziyah, Ibn al-Qayyim, Zikir Cahaya Kehidupan terj.  Abdul Hayyie (Jakarta: Gema Insani Press, 2003)

Al-Rifa’i, Abd al-Nafi’, Doa-Zikir dan Dasar Pengambilannya terj. M. Nashridini (Solo: Hazanah Ilmu, 1994)

Amin, Ahmad, Ethika: Ilmu Akhlak terj. Farid Ma’ruf (Jakarta: Bulan Bintang, 1993)

Amin, Samsul Munir, Etika Berdzikir: Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah (Jakarta: Amzah, 2011)

Ash-Shidqiy, Hasbi, Pedoman Zikir dan Doa (Jakarta: Bulan Bintang, 1993)

Asmaran, Pengantar Studi Akhlak (Jakarta: RajaGrafindo, 2002)

Dhavanomy, Mariasusai, Fenomenologi Agama terj. A. Sudiarja dkk. (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2001)

Djatnika, Rachmat, Sistem  Etika Islami (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1996)

Darajat, Zakiah, Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: Bulan Bintang, 1970)

Effendy, Mochtar, Ensiklopedi Agama dan Filsafat (Palembang: Universitas Sriwijaya, 2001)

Ilyas, Yunahar, Kuliah Akhlaq (Yogyakarta: LPPI, 2011)

Jalaludin, Psikologi Agama, (Jakarta:PT RajaGrafindo Persada, 1996)

Mujib, Abdul, Kepribadian dalam Psikologi Islam (Jakarta: RajaGrafindo, 2006)

Nawawi, Rif’at Syauqi, Kepribadian Qur’ani (Jakarta: Amzah, 2011)

Shihab, M. Quraish, Wawasan Al-Qur’an Tentang Zikir dan Doa (Jakarta: Lentera Hati, 2008)

Yahya, Abu Zakaria bin Syaraf, Adzkar Nawawi terj. M. Isa Anshory (Solo: Media Zikir, 2010)

[1] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an Tentang Zikir dan Doa (Jakarta: Lentera Hati, 2008), hlm. 16.

[2] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an Tentang Zikir dan Doa, hlm. 16.

[3] Abd al-Nafi’ al-Rifa’i, Doa-Zikir dan Dasar Pengambilannya terj. M. Nashridini (Solo: Hazanah Ilmu, 1994), hlm. 21.

[4]  Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq (Yogyakarta: LPPI, 2011), hlm. 1.

[5] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an Tentang Zikir dan Doa, hlm. 16.

[6]  M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an Tentang Zikir dan Doa, hlm. 22-41.

[7] Lihat Abd al-Nafi’ al-Rifa’i, Doa-Zikir dan Dasar Pengambilannya terj. M. Nashridini (Solo: Hazanah Ilmu, 1994), hlm.15-22.

[8] Hasbi Ash-Shidqiy, Pedoman Zikir dan Doa (Jakarta: Bulan Bintang, 1993), hlm. 36.

[9] Ibn al-Qayyim al-Jauziyah, Zikir Cahaya Kehidupan terj.  Abdul Hayyie (Jakarta: Gema Insani Press, 2003), hlm. 44-168.

[10] Samsul Munir Amin, Etika Berdzikir: Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah (Jakarta: Amzah, 2011), hlm. 1-16.

[11] Abu Zakaria Yahya bin Syaraf, Adzkar Nawawi terj. M. Isa Anshory (Solo: Media Zikir, 2010), hlm. 8-17.

[12] Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq (Yogyakarta: LPPI, 2011), hlm. 2.

[13] Muhammad al-Ghazali, Akhlak Seorang Muslim terj. Abu Laila (Bandung: Alma’arif, 1995), hlm. 62-425.

[14] Asmaran, Pengantar Studi Akhlak (Jakarta: RajaGrafindo, 2002), hlm. 5.

[15] Rachmat Djatnika, Sistem  Etika Islami (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1996), hlm. 26-31.

[16] Lihat Ahmad Amin, Ethika: Ilmu Akhlak terj. Farid Ma’ruf (Jakarta: Bulan Bintang, 1993).

[17] Rif’at Syauqi Nawawi, Kepribadian Qur’ani (Jakarta: Amzah, 2011), hlm. 15.

[18] Lihat Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam (Jakarta: RajaGrafindo, 2006).

[19]  Mochtar Effendy, Ensiklopedi Agama dan Filsafat (Palembang: Universitas Sriwijaya, 2001), edisi ke-2, hlm. 159.

[20] Mariasusai Dhavanomy, Fenomenologi Agama terj. A. Sudiarja dkk. (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2001), hlm. 42.

[21] Jalaludin, Psikologi Agama, (Jakarta:PT RajaGrafindo Persada, 1996), hlm.14.

[22] Zakiah Darajat, Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: Bulan Bintang, 1970), hlm. 11.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s