Linguistik Sebagai Metode Penelitian

Pendahuluan

Al-Qur’an merupakan wahyu Tuhan yang tertuang dalam ungkapan bahasa Arab 14 abad yang lalu. Dalam kitab tersebut terdapat banyak tanda-tanda bahasa yang bisa diungkapkan melalui studi kebahasaan.

Studi tentang kebahasaan sendiri telah berkembang pesat sejak Ferdinand De Saussure memperkenalkan metode tersebut dalam kuliah-kuliahnya. Hal yang paling terlihat jelas adalah pendapatnya yang berkaitan dengan bahasa sebagai sebuah sistem tanda. Dalam hal ini ia mengungkapkan bahwa bahasa adalah sebuah sistem tersendiri yang memiliki penanda dan petanda.

Berbeda dari pendapat ahli linguistik lainnya yang menyatakan bahasa adalah realitas dari kehidupan, Saussure menyampaikan bahwa bahasa merupakan sistem tersendiri yang terstruktur dengan sistematis yang terdiri dari tanda-tanda dan memiliki hubungan-hubungan inti dalam pemaknaannya.

Dalam makalah ini akan dijelaskan sedikit tentang sistem tanda bahasa serta hubungannya dalam studi Al-Qur’an masa kini. Selain itu juga dibahas metode yang digunakan dalam studi linguistik ini baik dari segi kesejarahannya maupun dari segi strukturalnya.

 

Tanda Dalam Linguistik

Ilmu tentang tanda dalam studi linguistik diperkenalkan oleh Ferdinand De Saussure dalam bukunya Cours De Linguistique Generale (Pengantar Linguistik Umum). Menurut Saussure, Bahasa adalah sebuah sistem tanda yang terdiri dari penanda (signifiant) dan petanda (signifier). Tanda merupakan gabungan dari penanda dan petanda dimana kedua hal tersebut saling terkait dan menjelaskan satu sama lain dalam sistem bahasa.[1]

Penanda adalah lambang bahasa, yaitu bentuk fisik dari sebuah bahasa baik berupa kata-kata, frase, klausa, dan sebagainya. Sedangkan petanda adalah konsep yang terkandung di dalam penanda yang dipahami ketika penanda tersebut diungkapkan. Penanda juga bisa berarti objek asli dari sebuah kata dan petanda adalah sifat-sifat atau apa yang dipahami dari sebuah penanda.[2]

Setiap bentuk bunyi atau suara yang tidak memiliki makna tidak dapat dikategorikan sebagai sebuah tanda, begitu juga sebaliknya setiap bunyi atau tulisan yang mengandung makna merupakan sebuah bahasa. Dengan kata lain, penanda adalah bunyi atau tulisan yang memiliki makna, sedangkan petanda adalah isi pokok, konsep atau gambaran mental dari sebuah bahasa.[3]

Secara umum, Saussure menyatakan bahwa bahasa merupakan sistem yang terdiri dari petanda dan penanda. Bahasa bukanlah sebuah bentuk yang merupakan refleksi dari realitas, ia memiliki sistem tersendiri yang memiliki struktur dimana makna bisa ditemukan. Relasi ilmiah dalam bahasa hanya hubungan struktural antara penanda dan petanda. [4] Di sisi lain, tidak ada hubungan yang logis antara penanda dan petanda menjadi sebuah kesewenangan dalam bahasa itu sendiri.[5] Misalnya warna merah yang melambangkan berhenti, tidak ada hubungan logis antara warna dengan tindakan, mengapa tidak menggunakan penanda lainnya seperti garis lurus atau garis miring.

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa bahasa melambangkan sesuatu yang memiliki makna dan konsep yang ada dalam masyarakat pengguna bahasa. Bahasa sendiri merupakan sesuatu yang signifikan yang merujuk pada acuan yang mempengaruhi struktur pemikiran masyarakat penggunanya.

Oleh karena itu, sistem bahasa yang digunakan sekelompok masyarakat pada suatu waktu memiliki pengaruh yang kuat dalam pembentukan konsep pemikiran penggunanya. Dengan adanya bahasa, manusia bisa berkomunikasi satu sama lain dan membentuk sebuah masyarakat yang memiliki aturan-aturan. Aturan-aturan tersebut menjadi simbol atau penanda dalam bentuk bahasanya yang disampaikan secara turun temurun menjadi sebuah konsep yang tersimpan dalam tanda bahasa.

Dalam hal ini, bahasa merupakan penanda dari setiap gagasan atau ide-ide yang ingin diungkapkan oleh individu. Bahasa memainkan peranan penting dalam komunikasi diantara makhluk hidup. Dengan adanya bunyi dan tulisan, manusia bisa menyampaikan aspirasi yang ingin diungkapkan dalam urutan bahasa yang sistematis. Dari penjelasan ini dapat diketahui bahwa bahasa adalah penanda dan ide atau gagasan adalah petanda.

Untuk menjadi sebuah penanda, bahasa harus terstruktur secara sistematis hingga memiliki makna. Sebuah kalimat yang tidak tersusun dengan sistematis tidak akan memiliki makna dan tidak dapat dimengerti oleh orang lain. Contoh:

Kitab suci merupakan wahyu Tuhan.

Kalimat di atas merupakan sebuah kalimat yang tersusun secara sistematis dengan adanya subjek dan predikat. Dalam bahasa, susunan (struktur) seperti ini memiliki peranan penting dalam pengungkapan ide dan gagasan yang ada di dalam kalimat tersebut. Ketika susunan tersebut dibalik, maka ia kehilangan makna esensial dari gagasan yang ingin diungkapkan. Contoh:

Merupakan wahyu Tuhan kitab suci.

Tuhan wahyu kitab merupakan suci.

Contoh kalimat di atas adalah kalimat yang tidak terstruktur dengan rapi sehingga kehilangan makna dan konsep yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, struktur kebahasaan memiliki peranan penting dalam penyampaian ide dan gagasan oleh seorang individu.

Bahasa mengalami perkembangan dari awal kemunculannya hingga pada saat teks muncul. Penanda bahasa bisa saja sama, akan tetapi petanda mengalami perubahan seiring meningkatnya kemampuan berbahasa penggunanya. Penelitian bahasa dalam struktur kesejarahannya disebut dengan metode diakronik.[6]

Selain dari struktur kesejarahan bahasa, penanda juga bisa diteliti dari pengguna bahasa pada masa teks tersebut digunakan. Untuk mengetahui petanda dari bahasa tersebut, seseorang peneliti bahasa harus mengetahui struktur (grammar) bahasa yang dipakai pada masa teks tersebut dilahirkan. Studi tentang struktur bahasa dalam satu kondisi masyarakat penggunanya tanpa melihat aspek kesejarahan bahasa tersebut disebut dengan metode sinkronik.

Selain itu, dalam bahasa dikenal hubungan antar kata dalam sebuah kalimat. Seorang peneliti harus memperhatikan hubungan antar kata tersebut, baik secara linear terdapat di dalam kalimat maupun secara luas yang terdapat di luar kalimat. Saussure menyebut hubungan ini sebagai hubungan sintagmatis dan hubungan asosiatif.

Hubungan sintagmatis adalah hubungan antar penanda (satuan bahasa) dengan penanda lainnya yang juga hadir dalam suatu seri yang efektif. Sedangkan hubungan asosiatif adalah hubungan antar penanda dengan objek yang tidak disebutkan dalam tanda tersebut.[7] Contoh:

Kucing memiliki taring yang panjang.

Hubungan antara kata kucing dan taring merupakan hubungan yang sintagmatis, jika salah satu dihilangkan maka yang lain akan kehilangan makna. Sedangkan hubungan paradigmatis disesuaikan dengan subjeknya, yaitu hewan yang sejenis seperti anjing, macan, dan harimau.[8]

Dari penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa bahasa sebagai sistem tanda merupakan sebuah struktur yang tidak bisa dilepaskan dari penanda dan petandanya. Penanda yang berupa bahasa berisi petanda yang berupa gagasan dari individu pengguna bahasa tersebut.

Teks sendiri merupakan sebuah produk bahasa yang berisi banyak gagasan dan ide dari tulisan-tulisan yang dimuat di dalamnya. Oleh karena itu, studi tentang teks tidak bisa dilepaskan dari sudut pandang bahasanya. Teks sebagai sebuah penanda bahasa, pengetahuan yang tersimpan di dalamnya sebagai sebuah petanda bahasa. Oleh karena itu, seseorang yang ingin meneliti sebuah teks dalam suatu masyarakat pengguna bahasa harus memiliki pengetahuan yang tentang bahasa tersebut, bagaimana strukturnya dan konsep apa saja yang berkembang pada saat itu.

 

Pendekatan Linguistik Dalam Studi Qur’an

Definisi umum tentang Al-Qur’an adalah kalam (wahyu) Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad yang menggunakan bahasa sebagai media komunikasinya. Abu Zaid berkata: “Ketika mewahyukan Al-Qur’an kepada Rasulullah saw, Allah memilih sistem bahasa tertentu sesuai dengan penerima petamanya. Pemilihan bahasa ini tidak berangkat dari ruang kosong. Sebab, bahasa adalah perangkat sosial yang paling penting dalam menangkap dan mengorganisasi dunia.”[9] Dengan demikian, kerangka komunikasi dalam bingkai ini terdiri dari: Tuhan sebagai komunikator aktif yang mengirimkan pesan, Muhammad saw. sebagai komunikasi pasif, dan bahasa Arab sebagai kode komunikasi.[10] Hal senada juga disampaikan Syahrur yang berpendapat bahwa bahasa adalah satu-satunya media yang paling memungkinkan untuk menyampaikan wahyu. Wahyu Al-Qur’an berada pada wilayah yang tidak dapat dipahami manusia sebelum ia menempati media bahasanya.[11]

Berdasarkan pendapat di atas, Bahasa Arab merupakan penanda dan pesan Tuhan merupakan petanda, cara memahami isi kandungan Al-Qur’an terdapat pada memaknai bahasa yang merupakan media penyampaian wahyu Tuhan kepada manusia. Oleh karena itu, untuk mengetahui pesan Tuhan yang terdapat di dalam Al-Qur’an, seorang mufassir dituntut untuk menguasai tata bahasa Arab yang digunakan dalam Al-Qur’an, baik itu secara sinkronik maupun diakronik.

Jika dilihat secara sinkronik, tata bahasa yang digunakan Al-Qur’an bisa dilihat pada tata bahasa yang digunakan masyarakat pada saat itu, atau pada masa Rasulullah saw hidup. Adapun secara diakronik adalah mengkaji struktur kebahasaan dari awal ketika bahasa Arab tersebut digunakan atau lebih tepatnya sejak masa pra Islam (Jahiliyah).

Teks adalah susunan huruf yang terjaling membentuk kata-kata dan kalimat merupakan sebuah tanda yang dibuat oleh pengirim tanda (penulis) untuk mempengaruhi pembaca. Dengan adanya tanda-tanda tersebut, pembaca dibawa untuk memasuki dimensi teks yang memiliki berbagai pesan dan makna.[12] Begitu juga halnya dengan Al-Qur’an, ia merupakan teks suci yang berisikan pesan-pesan Tuhan yang disampaikan kepada kita hingga saat ini dalam bentuk tulisan.

Oleh karena itu, cara mengungkap pesan-pesan (petanda) yang terdapat di dalam Al-Qur’an, seorang mufassir harus mempelajari struktur bahasa serta hubungan-hubungan yang terjadi di dalamnya, baik itu hubungan secara sintagmatis maupun paradigmatis.

Dari sudut pandang sinkronik, Al-Qur’an bisa ditafsirkan dengan cara melihat aspek bahasa dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Tanda yang terdapat di dalam Al-Qur’an yang berupa tulisan dalam bahasa Arab tersebut bisa dipahami dengan cara mempelajari bahasa Arab, baik dari segi gramatikalnya maupun dari segi pemaknaannya. Dengan mempelajari penanda (bahasa) dan petanda (pesan) yang terdapat di dalam Al-Qur’an, memahami hubungan sintagmatis dan asosiatifnya, seorang mufassir bisa mengetahui konsep dan ajaran yang terkandung di dalam teks tersebut hingga bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu mufassir yang menggunakan metode struktural ini adalah Muhammad Syahrur. Ia meyakini bahwa tanda bahasa memiliki pengaruh yang signifikan dalam penafsiran Al-Qur’an. Dalam hal ini, ia menitikberatkan kajian linguistiknya pada pengaruh alif lam dalam penafsiran ayat. Ia berpendapat bahwa kata yang tidak terdapat alif lam tersebut hanya menunjukkan sebagian saja, tidak sepenuhnya. Hal ini sesuai dengan tata bahasa Arab yang menunjukkan bahwa alif lam merupakan penanda bagi sesuatu yang sudah jelas pengertiannya. Oleh karena itu, relasi sintagmatis antar huruf dan kata memiliki pengaruh terhadap pemaknaan ayat dan pengungkapan pesan yang terkandung di dalamnya.[13]

Dari penjelasan tersebut, analisis bahasa dari segi strukturnya merupakan salah satu analisis yang penting dalam penafsiran Al-Qur’an. Dengan memperhatikan tanda-tanda bahasa yang digunakan dalam Al-Qur’an, seorang penafsir dapat mengetahui cara memaknai dan menafsirkan ayat. Dengan memperhatikan hubungan antar penanda baik secara sintagmatis dan asosiatif, penafsir dapat menangkap pesan Tuhan yang terkandung dalam kitab suci tersebut.

 

Kesimpulan

Penanda dalam studi strukturalisme linguistik merupakan satuan bahasa itu sendiri, sedangkan petandanya adalah gagasan atau ide yang terkandung di dalam bahasa tersebut. Dengan adanya hubungan antar penanda, seseorang bisa mengungkapkan pesan-pesan yang ingin diungkapkan oleh pengirim tanda. Dalam Studi Al-Qur’an, Allah mengirimkan pesan kepada manusia melalui wahyu yang diverbalkan ke dalam sistem tanda yang mudah dengan dimengerti oleh manusia, yaitu bahasa. Dengan meneliti hubungan-hubungan penanda di dalam Al-Qur’an, penafsir bisa menangkap pesan-pesan tersebut hingga bisa disampaikan kepada orang lain sesuai dengan tujuan diturunkannya Al-Qur’an kepada manusia.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abu Zaid, Nasr Hamid, Tekstualitas Al-Qur’an terj. Khoiron Nahdliyin (Yogyakarta: LKiS, 2005).

De Saussure, Ferdinand, Pengantar Linguistik Umum terj. Rahayu SH (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1996).

Hidayat, Ahmad, Filsafat Bahasa (Bandung: PT Remaja Rosdakraya, 2009).

Mubarok, Ahmad Zaki,  Pendekatan Strukturalisme Linguistik (Yogyakarta: eLSAQ Press, 2007).

Nuha, Ulin, Surah Al-Fatihah: Sebuah Tafsiran Perspektif Semiotika Bahasa dalam Jurnal “An-Nur”, vol. IV, no. 2, 2012.

Setiawan, M. Nur Kholis, Al-Qur’an Kitab Sastra terbesar (Yogyakarta: Elsaq Press, 2006).

 

 

[1] Ferdinand De Saussure, Pengantar Linguistik Umum terj. Rahayu SH (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1996), hlm. 145-147.

[2] Ferdinand De Saussure, Pengantar Linguistik Umum, hlm. 147.

[3] Ulin Nuha, Surah Al-Fatihah: Sebuah Tafsiran Perspektif Semiotika Bahasa dalam Jurnal “An-Nur”, vol. IV, no. 2, 2012, hlm. 164.

[4] Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa (Bandung: PT Remaja Rosdakraya, 2009), hlm 110-111.

[5] Ahmad Zaki Mubarok,  Pendekatan Strukturalisme Linguistik (Yogyakarta: eLSAQ Press, 2007), hlm. 94.

[6] Lihat Ferdinand De Saussure, Pengantar Linguistik Umum, hlm. 152-161.

[7] Ferdinand De Saussure, Pengantar Linguistik Umum, hlm. 220.

[8] Lihat Ahmad Zaki Mubarok,  Pendekatan Strukturalisme Linguistik, hlm. 97.

[9] Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas Al-Qur’an terj. Khoiron Nahdliyin (Yogyakarta: LKiS, 2005), hlm. 19.

[10]  M. Nur Kholis Setiawan, Al-Qur’an Kitab Sastra terbesar (Yogyakarta: Elsaq Press, 2006), hlm. 2.

[11] Ahmad Zaki Mubarok, Pendekatan Strukturalisme Linguistik dalam Tafsir Al-Qur’an Kontemporer “ala” M. Syahrur, hlm. 206.

[12] Ahmad Zaki Mubarok,  Pendekatan Strukturalisme Linguistik, hlm. 103.

[13] Ahmad Zaki Mubarok,  Pendekatan Strukturalisme Linguistik, hlm.  265.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s