Gender Dalam Al-Qur’an (Contoh Aplikasi Hermeneutika Dilthey)

Pendahuluan

Pada awal penciptaan manusia, Al-Qur’an menyebutkan tentang penciptaan satu sosok manusia yang kemudian diberi nama Adam. Pada awal mulanya, tidak ditentukan jenis kelamin pada sosok manusia tersebut karena pada saat penciptaan tersebut belum terjadi pembagian jenis kelamin.

Dalam Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 30 dijelaskan bahwa pada awalnya Allah ingin menjadikan seorang khalifah di bumi, kemudian orang tersebut diberikan kemampuan dan pengetahuan tentang berbagai macam hal sebagai bekal untuk hidup di bumi. Manusia pertama tersebut yang lebih kita kenal dengan nama Adam itu tinggal selama beberapa waktu di surga.

Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa ketika Adam sedang sendirian di dalam surga, Allah merasa kasihan padanya dikarenakan kesepian yang dirasakan oleh Adam. Kemudian Allah menciptakan seorang manusia lagi yang bernama Hawa untuk menemani Adam. Dari sinilah pembedaan jenis manusia dan terjadinya pasangan antara Adam (laki-laki) dan Hawa (perempuan).

Sejak kemunculan hawa, era wanita sudah dimulai sebagai pasangan dari pria dan sebagai orang yang menemani pria itu serta menyenangkan hatinya. Wanita dalam sejarahnya mengalami berbagai periode kedudukannya. Dimulai sejak era wanita diciptakan dan tinggal di surga, kemudian wanita menjadi sebab turunnya manusia ke bumi, hingga era kehidupan wanita di bumi sebagai sebuah tokoh yang mempunyai peranan penting dalam regenerasi keturunan dan perkembangbiakan manusia.

Dalam kajian sejarah ini, akan dipaparkan sebuah pembacaan terhadap Al-Qur’an surah an-Nisa’ ayat 34 yang mengungkapkan bahwa laki-laki memiliki tanggung jawab terhadap wanita karena memiliki kelebihan yang diberikan Allah kepadanya. Ayat ini sering kali dianggap sebagai petunjuk bahwasanya kaum pria lebih superior daripada wanita sehingga sering menjadi bias gender yang sering diperjuangkan oleh para feminis dalam menghadapi tradisi superioritas tersebut.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah benar laki-laki itu lebih dalam segala hal daripada wanita? Ataukah laki-laki dan wanita itu setara dalam bidangnya masing-masing sesuai kemampuan yang diberikan Allah kepadanya?

Ayat Tentang Gender

Ayat yang akan menjadi landasan pembacaan hermeneutika pada tulisan ini adalah surah an-Nisa’ ayat 34:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka  wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Dalam ayat ini disebutkan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita dikarenakan telah diberikan kelebihan antara satu dengan yang lain. Dan wanita dituntut untuk mentaati laki-laki (suaminya) dan berhak diberikan hukuman jika mereka membangkang.

Dalam tafsir ath-Thabariy dijelaskan bahwa kelebihan yang dimaksud disini adalah kelebihan dari harta dan biaya kehidupan, mulai dari mahar pernikahan hingga biaya hidup sehari-hari setelah mereka menikah. Adapun dalam tafsir Ibn Katsir dijelaskan bahwa ayat ini dimaksudkan pada posisi suami sebagai seorang pemimpin dalam rumah tangga. Jadi seorang laki-laki tidak akan kelihatan kelebihannya jika ia belum menjadi seorang suami, begitu juga seorang wanita, ia tetap setara kedudukannya dengan laki-laki selama ia belum menjadi seorang istri.

Hermeneutika Historis

Al-Qur’an adalah kitab sejarah, jika dipandang melalui metode pembacaan historisitas Dilthey. Menurut Dilthey, manusia adalah makhluk historis sebagai pembentuk sejarah akan sebuah peristiwa melalui pengalaman empiris dalam kehidupan sehari-harinya. Dalam kacamata Dilthey ada beberapa landasan yang membentuk kesejarahan manusia tersebut, yaitu:

 a)        Pengalaman.

Dilthey memaknai pengalaman dengan kehidupan itu sendiri. Pengalaman hidup dimaknai sebagai suatu unit yang secara bersamaan diyakini mempunyai makna yang umum:

“Apa yang terdapat dalam arus waktu satu kesatuan pada masa sekarang karena makna kesatuannya itu merupakan entitas paling kecil yang dapat kita tunjuk sebagai sebuah pengalaman. Lebih jauh, seseorang dapat menyebut setiap kesatuan menyeluruh dari bagian-bagian hidup terikat secara bersama melalui makna umum bagi keseluruhan hidup sebagai suatu pengalaman, bahkan jika bagian-bagian lainnya terpisah antara satu dengan yang lain oleh adanya gangguan berbagai peristiwa.”[1]

Pengalaman memiliki dua arti, yaitu kesegeraan dan totalitas. Kesegeraan menunjukkan bahwa makna hadir tanpa kebutuhan akan rasionalisasi. Totalitas berarti bahwa kandungan makna mempunyai bobot dan cukup signifikan untuk memadukan beberapa momen dalam kehidupan seseorang. Pengalaman dalam hal ini dipandang sebagai sumber sejarah.[2]

Dilthey mendefinisikan pengalaman tidaklah dibentuk sebagai kandungan perilaku kesadaran reflektif, karena jika demikian ia akan menjadi sesuatu yang akan kita sadari, lebih dari itu ia merupakan prilaku itu sendiri. Ia merupakan sesuatu dimana kita hidup dan kita lalui, ia merupakan sikap yang sebenarnya kita jalani untuk hidup dan dimana kita hidup. Hal ini mengandung makna bahwa pengalaman secara langsung tidak akan dapat memahami dirinya sendiri, karena jika hal ini terjadi maka sesungguhnya pengalaman merupakan perilaku kesadaran reflektif.[3]

Pemahaman Dilthey terhadap pengalaman membawa ia sampai pada sebuah kesadaran penting yang ia gunakan dalam hermeneutikanya bahwa pengalaman secara instrinsik bersifat temporal (dan ini bermakna historis dalam artian yang paling dalam dari kata tersebut) dan untuk itu pemahaman akan pengalaman juga harus sepadan dengan kategori temporal (historis) pemikiran.[4]

b)        Ekspresi.[5]

Dilthey memahami ekspresi bukan merupakan pembentukan perasaan seseorang namun lebih kepada ekspresi hidup. Sebuah ekspresi mengacu pada ide, hukum, bentuk sosial, bahasa dan segala sesuatu yang merefleksikan kehidupan manusia. Dengan demikian, ekspresi bisa dimaknai dengan obyektivikasi pemikiran/pengetahuan, perasaan dan keinginan manusia.

Signifikansi hermeneutis obyektivikasi adalah sesuatu yang oleh karena pemahaman dapat difokuskan terhadap sesuatu yang dapat difiksisasikan, ekspresi obyektif pengalaman hidup yang berlawanan dengan segala upaya untuk dapat mengatasinya melalui aktifitas introspeksi. Introspeksi tidak dapat dijadikan sebagai basis ilmu-ilmu kemanusiaan, karena refleksi langsung atas pengalaman menghasilkan sebuah intuisi yang tidak dapat dikomunikasikan dan konseptualisasi yang dengan sendirinya merupakan sebuah ekspresi kehidupan yang mendalam. Setiap sesuatu dimana spirit manusia telah mengobyektifikasikan dirinya masuk dalam wilayah ilmu-ilmu kemanusiaan. Cakupannya seluas pemahaman itu sendiri dan pemahaman memiliki obyek kebenarannya dalam obyektifikasi kehidupan itu sendiri.

c)        Karya Seni Sebagai Obyektifikasi Pengalaman Hidup.[6]

Dilthey mengklasifikasikan hidup dan pengalaman manusia ke dalam tiga kategori utama:

Pertama, gagasan-gagasan (yaitu konsep, penilaian, dan bentuk-bentuk pemikiran yang lebih luas) merupakan sebuah kandungan pemikiran yang terbebaskan dari ruang, waktu dan pelakunya dimana gagasan-gagasan itu lahir dan untuk alasan inilah gagasan-gagasan itu memiliki akurasi dan mudah dikomunikasikan.

Kedua, tindakan lebih sulit untuk diinterpretasikan karena di dalam sebuah tindakan terdapat sebuah tujuan tertentu, namun hanya dengan kesulitan besarlah kita dapat menemukan faktor-faktor yang dapat bekerja yang memastikan sebuah tindakan tersebut.

Ketiga, terdapat ekspresi pengalaman hidup yang meluas dari ekspresi kehidupan dalam yang spontanseperti pernyataan dan sikap diri ke ekspresi sadar yang terbentuk dalam karya seni.

“Dalam karya-karya seni agung, sebuah visi dibentuk bebas dari pengarang, penyair, seniman, ataupun penulisnya dan kita dimasukkan dalam suatu bidang dimana permainan atau tipu daya oleh yang berekspresi berakhir. Sebenarnya tidak ada karya seni besar yang dapat mencoba mencerminkan realitasyang asing terhadap isi dalam pengarangnya. Tentu saja, karya tersebut tidak berkeinginan untuk mengatakan segala hal tentang pengarangnya. Dalam dirinya sendiri, karya-karya agung tersebut benar-benar bersifat pasti, visible dan abadi…”[7]

Dalam ungkapan diatas dapat diketahui bahwa karya-karya seni belum bisa menjelaskan kehidupan pengarangnya secara menyeluruh, namun karya tersebut hanya mengungkapkan apa yang ada dalam kehidupan sehingga diperlukan sebuah metode interpretasi untuk mengungkap pemikiran pengarangnya secara obyektif. Metode inilah yang kemudian disebut dengan hermeneutika.

Dilthey menegaskan  prinsip-prinsip hermeneutika dapat menyinari cara untuk memberikan landasan teori umum pemahaman. Dengan demikian hermeneutika menjadi sebuah teori yang tidak hanya interpretasi teks, namun bagaimana hidup mengungkap dan mengekspresikan dirinya dalam karya. Oleh karena itu, ekspresi secara keseluruhan tidak bersifat personal, melainkan merupakan realitas sosial historis yang terungkap dalam pengalaman, realitas sosial historis dari pengalaman itu sendiri.

d)       Pemahaman.[8]

Menurut Dilthey, pengalaman merupakan proses jiwa dimana kita memperluas pengalaman hidup manusia. Ia merupakan tindakan yang membentuk hubungan terbaik kita dengan hidup itu sendiri. Pemahaman membuka dunia individu orang lain kepada kita dan dengan begitu juga membuka kemungkinan-kemungkinan di dalam hakikat kita sendiri.

Dilthey menegaskan bahwa manusia adalah makhluk historis. Manusia memahami dirinya tidak melalui introspeksi tapi melalui obyektifikasi hidup. Sejarah kehidupan dan pengalaman yang didapatkan oleh manusia mengantarkan mereka pada sebuah pemahaman akan nilai-nilai yang terkandung dalam hidup itu sendiri. Masa lalu adalah pembelajaran dimana dengan mengingat kembali rangkaian kejadian dan pengalaman hidupnya, manusia bisa mencapai suatu pemahaman yang mendasar terhadap dirinya sendiri.

Menurut Dilthey, makna memiliki peranan penting dalam pemahaman. Makna adalah apa yang diperoleh pengalaman dalam interaksi resiprokal yang esensial dari keseluruhan dan bagian-bagian lingkaran hermeneutis. Makna keseluruhan adalah suatu “makna” yang diperoleh dalam pemaknaan bagian-bagian individual. Suatu peristiwa atau pengalaman akan mengubah kehidupan kita, dimana apa yang sebelumnya bermakna menjadi tidak bermakna dan sebaliknya.

Makna merupakan sesuatu yang bersifat historis, ia merupakan suatu hubungan keseluruhan kepada bagian-bagiannya yang kita lihat dari sudut pandang tertentu, pada saat-saat tertentu, bagi kombinasi bagian-bagian tertentu. Makna berubah selaras dengan waktu, merupakan persoalan hubungan dimana peristiwa dilihat. Dengan demikian, makna bersifat kontekstual dan merupakan bagian dari situasi.[9]

Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa pemahaman tidak terlepas dari setting historisnya. Kita menangkap makna yang terdapat dalam setiap kejadian dan pengalaman yang mana makna tersebut memberikan pemahaman kepada kita. Pengalaman yang terjadi di masa lalu yang memiliki makna dan memberikan pemahaman bisa merubah manusia dalam menjalani hidupnya. Dengan berkaca pada sejarah kehidupannya, manusia mendapatkan banyak makna-makna penting yang menjadi pemahaman-pemahaman baru dalam menginterpretasikan hidupnya. Hal inilah yang menjadi landasan perubahan besar dalam hidup seseorang yang bisa saja menjadi momentum baru dalam sejarah hidupnya.

Analisis Hermeneutis

Analisa hermeneutik yang dipakai dalam membaca ayat tentang kelebihan laki-laki daripada wanita adalah analisis kesejarahan Wilhem Dilthey. Oleh karena itu, ada beberapa langkah dalam membaca dan memahami makna dari ayat tersebut. Dalam hal ini penulis membagi pada empat kategori analisa, yaitu:

a)         Pengalaman

Makna pengalaman yang digunakan dalam kajian ini adalah kehidupan itu sendiri. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, manusia adalah makhluk sejarah yang mengukir sejarahnya melalui pengalaman hidupnya. Dalam hal ini, jika merujuk pada konsep superioritas laki-laki dalam Al-Qur’an, maka harus dijelaskan bagaimana kehidupan laki-laki pada masa awal kemunculannya. Dengan kata lain, disini akan dibahas tentang sejarah penciptaan manusia dari awalnya dengan merujuk pada teks-teks yang terdapat di dalam Al-Qur’an.

Sejarah kemunculan manusia pertama kali terdapat pada surah al-Baqarah ayat 30:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ

Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Pada ayat ini dijelaskan bahwa Tuhan berkehendak untuk menjadikan seorang pemimpin di muka bumi. Akan tetapi para malaikat bertanya-tanya tentang alasan Tuhan menciptakan khalifah tersebut.[10] Pada ayat ini belum dijelaskan tentang makhluk jenis apa yang akan diciptakan oleh Tuhan, lebih lanjut belum diketahui jenis kelaminnya apa.

Pada ayat lain diceritakan tentang kelanjutan peristiwa ini, yaitu:

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِين فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِين

Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” (Q.S. Shad ayat 71-72).

Pada ayat ini dijelaskan bahwasanya Tuhan ingin menciptakan sebuah makhluk yang bernama manusia. Dia menciptakan manusia dari tanah dan meminta makhluk yang ada di sekitar manusia untuk bersujud kepadanya. Awal mula sejarah manusia dimulai dari diciptakannya manusia pertama yang kemudian diberi nama Adam dengan jenis kelamin laki-laki. Hal ini terlihat pada ayat lain yang menjelaskan bahwa Tuhan menciptakan manusia kedua yang merupakan pasangan dari manusia yang pertama.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Artinya: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (Q.S. An-Nisa’ ayat 1).

Pada ayat ini dijelaskan konsep hubungan pertama dari dua jenis manusia pertama yang merupakan babak awal sejarah kehidupan manusia di dunia. Pada ayat ini terkesan bahwa Adam memiliki jenis kelamin laki-laki yang darinya diciptakan seorang isteri sebagai pasangannya. Isteri sendiri dalam bahasa Indonesia dipahami sebagai manusia dengan jenis kelamin wanita. Sedangkan dalam bahasa Arabnya kata zawj dimaknai oleh Ibnu Katsir sebagai Hawa yang merupakan seorang wanita yang diciptakan dari tulang rusuk Adam ketika ia tidur.

Dari beberapa ayat di atas dapat dipahami bahwa sejarah awal penciptaan manusia sudah menunjukkan bahwa laki-laki adalah yang pertama dan wanita mengikutinya. Konsep superioritas laki-laki terhadap wanita sudah ditunjukkan pada ayat ini, walaupun banyak kaum feminis yang beranggapan bahwa wanita itu tercipta dari sesuatu yang sama dengan laki-laki.[11] Disini sejarah membuktikan bahwa pengalaman pertama manusia adalah realitas bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri, manusia memerlukan pasangan untuk melanjutkan kehidupan.

Drama kehidupan manusia berlanjut ketika saatnya sudah tiba bagi Tuhan untuk mengembalikan manusia ke tempat asalnya sebagai khalifah di bumi. Peristiwa ini sangat terkenal bagi pemeluk agama samawi dan diceritakan dalam berbagai kitab suci. Ketika Adam diciptakan dan para makhluk disuruh untuk bersujud, hanya satu makhluk yang menolak untuk melakukannya yang kemudian diusir dari surga dan bersumpah untuk melakukan perlawanan terhadap manusia. Makhluk ini dikenal dalam Al-Qur’an dengan sebutan Iblis. Serangan pertama Iblis dilancarkan dengan menggoda manusia untuk melakukan hal yang dilarang oleh Tuhan dan menyebabkan manusia terusir dari surga serta diturunkan ke bumi untuk menunaikan tugas yang sebenarnya.

Adam dan Hawa yang tinggal di bumi kemudian melahirkan banyak keturunan yang tersebar di seluruh dunia dan menjadi bangsa-bangsa yang kita kenal hingga saat ini. Dalam perjalanan kehidupan manusia, Tuhan selalu mengirimkan orang-orang bijak yang diberikan pengetahuan akan kebajikan dan ketuhanan agar manusia selalu ingat akan Tuhan dan selalu melakukan perintah-Nya. Dalam penentuan utusan ini, sekali lagi realitas menunjukkan bahwa para Nabi yang menjadi mediator antara Tuhan dan manusia ditentukan dari kaum laki-laki. Walaupun Al-Qur’an tidak menyebut secara langsung, tetapi dalam berbagai literatur dan kitab suci menyebutkan bahwa para utusan Tuhan tersebut adalah kaum pria. Lalu wanita diposisikan sebagai pendamping pria, ikut andil sebagai penenang dan penentram hati para Nabi tersebut agar tetap semangat dalam menyampaikan ajaran Tuhan.[12]

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa sejarah manusia menunjukkan keutamaan laki-laki dari perempuan karena Allah telah memberikan mereka kelebihan dalam berbagai hal agar bisa menjadi pemimpin atas kaumnya dan atas keluarganya. Akan tetapi hal ini tidak meniadakan akan pentingnya posisi wanita dalam kehidupan manusia. Wanita menjadi sosok yang sangat berpengaruh dan memberikan dukungan yang sangat besar pada laki-laki, seperti Hawa, Zulaykha, Balqis dan Maryam.[13]

b)        Ekspresi

Ekspresi kehidupan disini memiliki makna segala produk yang dihasilkan oleh manusia seperti hukum, budaya, tradisi dan bahasa. Dalam interaksi antar manusia, manusia memiliki beberapa pola yang mereka tetapkan agar bisa terhubung satu sama lain. Pola dasar yang digunakan manusia adalah bahasa yang terdiri dari ungkapan bunyi dan simbol-simbol tulisan. Dari hasil interaksi inilah kemudian manusia bisa membentuk beberapa ekspresi kehidupan dari hasil intelektual dan kesepakatannya dengan manusia lain.

Dalam kajian tentang ayat superiotas laki-laki atas perempuan ini, ekspresi kehidupan dihasilkan dari pengalaman empiris manusia sesuai dengan kebudayaan yang diwariskan secara turun temurun dari generasi sebelumnya. Dalam pembahasan sebelumnya dijelaskan bahwa superioritas laki-laki terhadap wanita telah ditentukan oleh Tuhan dengan kebijakan menciptakan laki-laki terlebih dahulu daripada wanita, lebih lanjut Tuhan mengirim utusan-Nya dalam wujud laki-laki dan wanita diposisikan sebagai pendamping sekaligus penasehat dari laki-laki tersebut.

Dari fakta sejarah yang berkembang dan diwariskan secara turun temurun tersebut memunculkan sebuah ekspresi kehidupan yang dikenal dengan konsep Patriarki. Patriarki bisa dimaknai dengan suatu budaya yang disusun atas struktur dominasi dari kaum laki-laki. Lebih lanjut Amina Wadud menjelaskan bahwa konsep patriarki dibangun dengan prasangka bahwa pria adalah yang utama (androsentrik) dimana pria memiliki kemampuan untuk mewujudkan intelektual dan pengalamannya menjadi sebuah norma yang berlaku di masyarakat.[14]

Dalam kebudayaan patiarki ini, wanita diposisikan sebagai seseorang yang berfungsi untuk melanjutkan keturunan. Kebudayaan ini terus berkembang pada masa sebelum dan ketika Al-Qur’an diturunkan. Al-Qur’an kemudian mencoba mengkompromikan kebudayaan masyarakat Arab pada saat itu dan mengembangkan formulasi baru terhadap tatanan kehidupan sosial wanita.

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. An-Nisa’ ayat 32).

Ayat di atas mengkritik konsep patriarki yang dianut oleh masyarakat Arab pada saat itu. Dengan mengungkapkan kesetaraan dan pembagian hak dan kewajiban yang dimiliki oleh laki-laki dan wanita, posisi wanita yang dulunya hanya sebagai alat reproduksi manusia dikembalikan pada kemanusiaannya sendiri. Setiap manusia, baik laki-laki maupun wanita, memiliki bagian masing-masing dari apa yang mereka kerjakan.

Dengan adanya kritikan tersebut, perubahan tatanan sosial mulai terjadi dimana kaum laki-laki tidak lagi menjadi kaum utama, melainkan sebagai sosok pemimpin yang melindungi wanita. Wanita sebagai pendamping laki-laki diberikan hak dan kewajiban untuk senantiasa memberikan kasih sayang dan semangat kepada laki-laki agar laki-laki dalam mengemban tugas dan tanggung jawab sehari-hari.

c)         Karya Seni

Karya seni yang dimaksudkan dalam metode ini adalah sebuah bukti tertulis yang memuat sejarah kehidupan manusia. Karya-karya tersebut menjadi rujukan bagi manusia dalam membentuk konsep kehidupan yang dijalaninya. Dengan kata lain, karya seni dalam pembahasan konsep superiroritas laki-laki disini adalah Al-Qur’an.

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, Al-Qur’an adalah kitab sejarah yang memuat kisah-kisah kehidupan manusia dari fakta sejarah yang diwariskan secara turun temurun. Kesejarahan tentang superioritas laki-laki dimunculkan dari awal penciptaan manusia dan dilanjutkan dengan penentuan utusan dari Tuhan.

Al-Qur’an sebagai bukti otentik dari sejarah masa lalu mencoba mendobrak konsep patriarki yang berkembang di masyarakat pada saat itu. Mulai dari penyetaraan posisi antara laki-laki dan wanita di hadapan Tuhan, hingga pembagian tugas dan kewajiban. Hal ini tercantum dalam berbagai ayat di dalam Al-Qur’an. Ayat-ayat inilah yang kemudian ditafsirkan ulang oleh kaum feminis untuk mendobrak tradisi patriarki yang berkembang dalam masyarakat Islam. Seiring dengan adanya kesetaraan gender, ideal moral yang ingin disampaikan Al-Qur’an tentang keutamaan laki-laki dan perempuan semakin terbuka dengan adanya konsep “semua manusia itu setara di hadapan Tuhan, yang membedakannya hanyalah ketakwaan”.

d)        Pemahaman

Pemahaman disini memiliki makna segala kesadaran yang dimiliki oleh manusia dengan mempelajari masa lalu hidupnya sebagai sebuah konsep baru dalam membentuk masa depannya. Kata kunci dalam pemahaman ini adalah sejarah itu sendiri, yaitu masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Selain itu, ada konsep makna dalam pemahaman tersebut, makna sendiri dimaksudkan sebagai sesuatu yang mengandung pelajaran dan sesuatu yang berharga dari sejarah hidup manusia.

Dari berbagai penjelasan yang telah diungkapkan pada pembahasan sebelumnya, sejarah masa lalu manusia dipenuhi dengan intrik dan keputusan dari Tuhan. Tuhan dengan segala kekuasaannya telah menentukan dari awal bahwa laki-laki memiliki kelebihan sendiri daripada wanita, dimana laki-laki telah ditetapkan sebagai pemimpin dan sosok yang memiliki kemampuan untuk membimbing dan mengarahkan wanita.

Dari sejarah dapat dipahami juga bahwa ekspresi kehidupan membentuk sebuah konsep patriarki dimana laki-laki sebagai sentral kehidupan manusia dan wanita adalah pelengkap dalam meneruskan generasi-generasi baru yang akan memimpin di dunia ini. Akan tetapi konsep ini kemudian dikritik oleh Al-Qur’an sebagai sebuah karya seni dari Tuhan bahwa semua manusia itu setara, tidak ada perbedaan dalam status hamba dan status sosial.

Setelah menjelaskan tentang kesetaraan laki-laki dan wanita, Al-Qur’an kemudian menunjukkan tentang hak dan kewajiban kedua jenis manusia tersebut. Dalam surah an-Nisa’ ayat 34 dijelaskan:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka  wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Ayat ini sejatinya tidak mengungkapkan kelebihan dari kaum laki-laki atas kaum wanita, melainkan ingin menyadarkan manusia bahwa setiap orang memiliki hak dan kewajibannya sendiri. Kaum laki-laki dengan kelebihan dari segi fisik dan intelektual dituntut untuk menjadi pemimpin dimana sang pemimpin diwajibkan untuk melindungi orang yang dipimpinnya. Wanita dengan kelebihan perasaan dan kasih sayangnya diberikan tugas untuk menjaga semua yang dimiliki oleh laki-laki dan memberikan ketentraman dalam hatinya, sebagai penyejuk jiwanya tatkala laki-laki tersebut lelah dengan segala tugas yang dilaksanakannya sehari-hari.

Lebih lanjut, ayat ini lebih merujuk pada konsep pernikahan dimana suami menjadi pemimpin keluarga dan istri menjadi pendamping yang setia serta selalu memelihara semua yang diamanahkan oleh suaminya ketika suami tersebut tidak berada di rumah.

Sejauh yang penulis pahami, pada dasarnya laki-laki cenderung menjalani hidup dengan menggunakan rasio (akal pikiran), sedangkan wanita lebih cenderung menggunakan perasaannya. Perasaan itu sendiri tidak bisa menjadi dasar yang kuat dalam pengambilan keputusan dalam hidup karena perasaan bisa dikendalikan oleh akal dan pikiran. Oleh karena itu, laki-laki ditetapkan sebagai pemimpin dalam rumah tangga.

Dalam hal ini, Abbas Mahmoud al-Akkad mengungkapkan:

“Ketetapan Qur’an yang mulia, dalam mengutarakan kelebihan laki-laki dari wanita adalah suatu ketentuan yang sudah jelas. Dalam sejarah anak cucu Adam dan Hawa semenjak mereka ada, baik sebelum munculnya kebudayaan itu ataupun sesudahnya. Sejarah membuktikan bahwa wanita itu berbeda dengan pria dalam kemampuan dan kesanggupannya untuk mengerjakan sekian banyak pekerjaan manusia.”[15]

Dengan turunnya ayat tentang gender dalam Islam, maka konsep patriarki yang berkembang di masyarakat mulai mengalami pergeseran makna. Laki-laki yang menjadi sentral kehidupan manusia pada masa lalu telah kehilangan maknanya dengan adanya penjelasan akan hak dan tanggung jawab antara laki-laki dan manusia. Konsep baru yang muncul adalah kesetaraan sosial antara laki-laki dan wanita.

Laki-laki memiliki kelebihan fisik dan intelektual memiliki hak untuk memimpin istrinya dan wajib dipatuhi keputusannya. Di sisi lain laki-laki memiliki kewajiban untuk memberikan nafkah kepada istrinya, memberikan kebahagiaan lahir dan batin, serta membimbing mereka dalam kehidupannya sehingga tercipta keluarga yang harmonis dan dinamis serta dipenuhi dengan kasih sayang.

Wanita memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh laki-laki yaitu perasaan yang murni dan kelembutan serta kasih sayang yang berlimpah memiliki hak untuk dipimpin, dibahagiakan, disayangi, dimanjakan, dan diberikan kehidupan yang layak baik kebutuhan lahiriah maupun kebutuhan batiniahnya. Disamping itu wanita (istri) memiliki kewajiban untuk melayani suaminya, mematuhi keputusan suami, menjaga amanah suami baik harta maupun dirinya sendiri, serta memberikan kasih sayang dan ketentraman pada suaminya.

Dari berbagai penjelasan diatas dapat diketahui bahwa ayat ini berusaha untuk menjelaskan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan. Ayat ini tidak bermaksud untuk menonjolkan salah satunya, melainkan menjelaskan perbedaan diantara keduanya. Lebih lanjut, ayat ini lebih berkaitan pada konsep hubungan antara suami dan istri dimana suami memiliki hak dan kewajiban kepada istri dan istri juga memiliki hak dan kewajiban kepada suaminya.

Kesimpulan

Laki-laki memiliki pengaruh yang dominan dalan sejarah kehidupan manusia seperti yang dijelaskan dalam teks-teks kitab suci. Al-Qur’an sendiri mengungkapkan tradisi patriarki yang terjadi pada umat-umat di masa lalu hingga pada masa Nabi Muhammad saw. Akan tetapi hal ini kemudian dikritik oleh Al-Qur’an dengan mengungkapkan kesetaraan dan menjelaskan perbedaan antara laki-laki dan wanita. Selain itu, Al-Qur’an juga mengungkapkan bahwa laki-laki memiliki hak dan kewajiban sendiri, wanita juga begitu.

Dari pengalaman sejarah, dominasi laki-laki terlihat jelas dari masa penciptaan dimana laki-laki lebih duluan diciptakan dari wanita. Laki-laki juga diberikan kemampuan yang lebih untuk mengemban tugas-tugas yang diberikan Tuhan yang menjadi sebab kenapa para nabi seluruhnya dari kaum laki-laki.

Dalam ekspresi kehidupan, dominasi laki-laki dalam kehidupan manusia membentuk konsep patriarki dimana laki-laki lebih utama daripada wanita. Setelah Islam datang, konsep tersebut dirubah menjadi kesetaraan diantara keduanya sesuai dengan hak dan kewajiban masing-masing.

Pada karya seni, Al-Qur’an menjadi bukti sejarah terciptanya laki-laki dan wanita. Al-Qur’an juga menjadi sarana Tuhan untuk menjelaskan posisi antara dua jenis manusia tersebut. Di sisi lain, Al-Qur’an menjadi sebuah alat refleksi yang mendobrak tradisi patriarki masyarakat pada saat itu sehingga wanita kembali memperoleh posisinya dalam kehidupan manusia.

Dengan pemahaman manusia, ayat Al-Qur’an yang sering ditafsirkan sebagai bukti konkrit tentang kelebihan laki-laki dari wanita lebih merujuk pada konsep keluarga dalam sebuah pernikahan. Ayat tersebut menjelaskan tentang posisi suami, hak dan kewajibannya dalam rumah tangga. Selain itu, ayat tersebut juga menjelaskan tentang hak dan kewajiban wanita dalam posisinya sebagai istri, sebagai pendamping suami dalam kehidupan rumah tangga. Konsep patriarki kehilangan tidak bermakna lagi dalam masyarakat modern dimana konsep kesetaraan sosial menggantikan posisinya sebagai konsep yang penuh makna pada saat ini.

Laki-laki dan wanita berbeda dari segi kemampuan yang dimiliki. Perbedaan ini tidak berarti mereka berbeda dalam status sosial sebagaimana yang dipahami oleh kebanyakan masyarakat pada saat ini. Status sosial dan keagamaan mereka di hadapan Tuhan tetap sama, akan tetapi dalam fungsi kehidupannya mereka berbeda karena adanya perbedaan kemampuan tersebut. laki-laki dengan kelebihan fisik dan rasionya membuat mereka bisa menghadapi permasalahan hidup dengan tenang dan bijak. Wanita dengan kelebihan perasaan dan kasih sayangnya bisa menjadi penasehat disaat laki-laki kehilangan akal sehatnya.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an al-Karim dan Terjemah

Tafsir Al-Thabari

Tafsir Ibnu Katsir

Roy J. Howard, Hermeneutika terj. Kusmana (Bandung: Penerbit Nuansa, 2001)

Richard E. Palmer, Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi terj. Musnur Hery (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005)

Amina Wadud Muhsin, Wanita di Dalam Al-Qur’an terj. Yaziar Radianti (Bandung: Penerbit Pustaka, 1992)

Abbas Mahmoud al-Akkad, Wanita Dalam Al-Qur’an terj. Chadijah Nasution (Jakarta: Bulan Bintang, 1984)

[1]  Richard E. Palmer, Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi terj. Musnur Hery (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hal. 120-121.

[2]  Roy J. Howard, Hermeneutika terj. Kusmana (Bandung: Penerbit Nuansa, 2001), hal. 164.

[3]  Untuk lebih jelasnya silahkan lihat Richard E. Palmer, Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi, hal. 121-125.

[4]  Richard E. Palmer, Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi, hal. 125.

[5]  Richard E. Palmer, Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi, hal. 126.

[6]  Richard E. Palmer, Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi, hal. 127-129.

[7] Richard E. Palmer, Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi, hal. 128.

[8] Richard E. Palmer, Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi, hal. 129-137.

[9]  Richard E. Palmer, Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi, hal. 134-135.

[10]  Disini seperti ada kesan tidak setuju dari para malaikat akan keputusan Tuhan tersebut, mungkin saja telah terjadi sesuatu di bumi sebelum Adam diciptakan. Untuk lebih jelasnya silahkan baca “Penghuni Bumi Sebelum Kita” karya Muhammad Isa Dawud.

[11]  Lihat Amina Wadud Muhsin, Wanita di Dalam Al-Qur’an terj. Yaziar Radianti (Bandung: Penerbit Pustaka, 1992), hlm. 25-26.

[12]  Dalam hal ini ada beberapa pengecualian seperti istri nabi Luth. Fakta sejarah ini bisa anda temukan dalam perjanjian lama kitab kejadian, dalam tafsir-tafsir terhadap surah al-A’raf ayat 80-81 dan buku sejarah para nabi.

[13]  Lebih jelasnya tentang wanita-wanita paling berpengaruh sepanjang masa dalam Al-Qur’an, silahkan baca Women in the Qur’an, Tradition, and Interpretation karya Barbara Freyer Stowasser.

[14]  Amina Wadud Muhsin, Wanita di Dalam Al-Qur’an, hlm. 108.

[15]  Abbas Mahmoud al-Akkad, Wanita Dalam Al-Qur’an terj. Chadijah Nasution (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), hlm. 10.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s