KEDUDUKAN DAN HAK-HAK PEREMPUAN DALAM AL-QUR’ĀN

Oleh

Hikmawati Sultani

Pendahuluan

Islam diturunkan ke dunia pada saat sebagian manusia ada yang mengingkari kemanusiaan seorang wanita, sebagian lagi ada yang meragukan akan kemanusiaan seorang wanita dan ada juga di antara mereka mengakui tentang kemanusiaan seorang wanita, namun dia menganggap wanita itu sebagai makhluk yang mengabdi kepada kaum lelaki.[1]Dengan mengkaji data dan mencermati fakta yang menyangkut kaum perempuan seperti tingkat pendidikan mereka, derajat kesehatan, partisipasi mereka dalam pengambilan keputusan tindak kekerasan terhadap perempuan, pelecehan seksual, pemerkosaan eksploitasi terhadap tenaga kerja perempuan dan sebagainya yang menunjukkan betapa memprihatinkannya status kaum perempuan.[2] Kemudian Islam merubah pandangan tersebut dan menghilangkan segala bentuk ketidakadilan, kezaliman dan tindak kekerasan pada perempuan sehingga kedudukan perempuan terangkat. Islam juga mengembalikan kehormatan, harga diri dan hak-hak yang seharusnya dimiliki kaum perempuan sejak dia terlahir ke dunia.

Kemudian datanglah era globalisasi, di mana seringkali kita mendengar teriakan seorang perempuan yang menuntut hak-haknya, mereka yang mendengarnya banyak yang mempercayai hal tersebut. Walhasil, apa yang telah disumbangkan untuk kemuliaan setiap wanita akhirnya terlupakan, dan menganggap Islam sebagai agama yang kurang memberikan keadilan dan kesamaan.[3] Untuk lebih mengetahui dan memahami kedudukan perempuan beserta hak-haknya ada baiknya jika kita kembali menelusuri kedua hal tersebut dalam sumber utamanya, yakni al-Quran. Sehingga nantinya kita terhindar dari pernyataan bahwa kitab suci al-Qur’an sebagai sumber ajaran Islam kurang memberikan keadilan dan kesamaan.

Ragam Term Perempuan dalam al-Qur’an

Semua referensi tentang para tokoh wanita dalam al-Qur’an menggunakan suatu keistimewaan budaya yang penting yang memperlihatkan penghormatan terhadap para wanita itu. Kecuali Maryam, mereka tidak pernah dipanggil dengan namanya. Sebagian besar berstatus istri, dan Al-Qur’an menyebutkan mereka dalam bentuk posesif (idhafah) yang mengandung salah satu kata Arab untuk istri: imra’ah (wanita), nisa’ (wanita-wanita), atau zawj (pasangan atau teman) jamak azwaj, dan nama laki-laki tertentu; misalnya, imra’ah Imran, atau zawj Adam. Bahkan wanita lajang atau wanita yang suaminya tidak disebutkan dihubungkan dengan laki-laki tertentu: ukh Musa, ukh Harun, nama lain untuk Maryam; umm Musa. Akan tetapi wujud penghormatan khusus ini terbatas pada konteks itu. Prinsip umumnya –bahwa wanita harus disapa secara terhormat- dimaksukkan untuk mereka yang membaca al-Qur’an di masa yang berbeda.[4]

Adapun term perempuan dalam al-Qur’an sebagai berikut:

  1. Imra’ah(امرأة)

Imra’ah ((امرأةatau Mar’ah (مرأة)berasal dari kata mara’a (مرا ) yang berarti baik dan bermanfaat.[5] Dari akar kata mara’a ini juga menjadi al–mar’u yang bermakna laki-laki (QS. al-Baqarah: 102).

Kata imra’ah/amraah dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak 26 kali dalam berbagai bentuk,[6] namun ghalibnya bermakna isteri, baik itu istri yang salehah maupun istri yang ingkar pada suami yang membawa kebenaran risalah dari Allah swt. seperti yang diilustrasikan oleh al-Qur’an:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آَمَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Artinya: “Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya (QS. al-Tahrim: 11).

فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلَّا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ

Artinya: “Kemudian Kami selamatkan dia (Nabi Luth) dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; Dia Termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).” (QS. al-A’raf: 83).

Berdasarkan penulusuran kataامرأةdalam al-Qur’an dapat diambilkesimpulan bahwa kataامراةbermakna perempuan (QS. al-Naml: 23) dan secara khususامرأت menunjuk kepada perempuan yang pada umumnya bermakna isteri dengan karakternya masing-masing, seperti yang Allah abadikan dalam QS. Yusuf: 30 (امرأة العزيز) istri Aziz, yakni Zulaikha dengan karakternya sebagai wanita penggoda/perayu, Ali Imran: 35 (امرأة عمران); Istri ‘Imran dengan karakternya sebagai wanita yang penyabar dan tawakkalnya kepada Allah, al-Qashash: 9 (امراة فرعون); dengan karakternya sebagai wanita pejuang dan pemberani menentang suami demi keyakinan yang benar namun dia mengidap kemandulan (tentu hal ini sudah menjadi ketentuan Allah, ada hikmah di balik takdirnya sebagai istri mandul), al-Tahrim: 10 (امرأت نوح وامرأت لوط), mereka dilambangkan sebagai wanita dengan karakter antagonis yang tidak setia pada suami.

  1. Nisa’ (نساء)

Al-nisa’ berasal dari kata نساyang bermakna menunda/mengakhirkan[7] yang berkaitan dengan tertundanya haid wanita dikarenakan kehamilan. Al-nisa’ merupakan jamak dari المرأَة.[8]Term al-nisa’ ini bila ditelusuri bentuk tasrifnya (mufrad ke jamak) dapat dikatakan tidak mengikuti kaidah tashrif.Jika kita menelusuri kata al-nisa dalam al-Qur’an, yang jumlahnya 57 dengan berbagai bentuk.[9] Adapun term yang semakna النِّسْوَةُ والنّسوان والنّسُون كلّه: جملة النِّساء.[10] Sedang untuk kata al-niswah (النِّسْوَةُ), al-Qur’an menyebutnya sebanyak 2 kali, yakni pada QS. Yusuf: 30 dan 50.

وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ فَلَمَّا جَاءَهُ الرَّسُولُ قَالَ ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ مَا بَالُ النِّسْوَةِ اللَّاتِي قَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ إِنَّ رَبِّي بِكَيْدِهِنَّ عَلِيمٌ

Artinya: “Raja berkata: “Bawalah dia kepadaku.” Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: “Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku, Maha Mengetahui tipu daya mereka.

وَقَالَ نِسْوَةٌ فِي الْمَدِينَةِ امْرَأَةُ الْعَزِيزِ تُرَاوِدُ فَتَاهَا عَنْ نَفْسِهِ قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا إِنَّا لَنَرَاهَا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Artinya: Dan wanita-wanita di kota berkata: “Isteri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya).

Makna yang terkandung dalam kata al-nisa’ dan al-niswah merujuk kepada komunitas perempuan secara umum, sehingga banyak menjelaskan kehidupan perempuan dalam rumah tangga, bermasyarakat, baik dalam hukum, sosial, serta berbagai aspek lainnya.

  1. Banát (بنات)

Kata banát dalam al-Qur‟an disebutkan 17 kali dalam berbagai bentuk perubahan.[11] Lima ayat di antaranya, yakni QS. al-An’ám: 100, al-Sháffát: 149, dan al-Zukhruf: 16, dan al-Thúr: 39, yang mana menyebut anak laki-laki disusul anak perempuan  atau perempuan dengan anak laki-laki secara berurut.

وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ الْجِنَّ وَخَلَقَهُمْ وَخَرَقُوا لَهُ بَنِينَ وَبَنَاتٍ بِغَيْرِ عِلْمٍ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يَصِفُونَ

Artinya: Dan mereka membohong (dengan mengatakan): “Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan”, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan.(QS. al-An’ám: 100).

فَاسْتَفْتِهِمْ أَلِرَبِّكَ الْبَنَاتُ وَلَهُمُ الْبَنُونَ

Artinya: “Tanyakanlah (ya Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Mekah): “Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki.(QS. al-Sháffát: 149).

Secara keseluruhan kata banát dalam al-Qur’an mempunyai makna yang sama yaitu anak perempuan hingga usia baligh, dan tidak termasuk yang sudah berstatus isteri/janda. Kata banát juga digunakan ketika menyinggung persoalan pernikahan perempuan (gadis) yang boleh dan haram untuk dinikahi, dengan merujuk pada QS. al-Ahzáb: 50: وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالَاتِكَ, dan gadis yang haram dinikahi terdapat pada QS. al-Nisa’: 23: حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ.

  1. Untsa (أنثى)  

Kata untsa dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak 30 kali dalam bentuk yang beragam.[12] Dari jumlah tersebut semuanya bermakna perempuan, dan lebih khusus secara biologis. Selain itu, kata untsa selalu bergandengan dengan kata zakar. Penyebutan keduanya mengindiskasikan makna biologis yakni memfokuskan penyebutan pada jenis kelamin. Di antaranya:

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ

Artinya: Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan Dia sangat marah.(QS. al-Nahl: 58).

وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَى

Artinya: Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita.(QS. al-Najm: 45).

Selain term-term perempuan yang telah disebutkan sebelumnya, al-Qur’an juga mengabadikan beberapa nama perempuan, baik disebutkan secara langsung maupun tidak langsung. Al-Qur’an secara khusus membicarakan jenis-jenis perempuan berdasarkan amalnya. Kadang-kadang al-Qur’an menunjuk nama dengan jelas jika perempuan yang dilukiskannya adalah perempuan ideal. Untuk mendiskripsikan perempuan yang buruk, al-Qur’an tidak pernah menyebut nama secara langsung. Inilah tipologi al-Qur’an mengenai perempuan, al-Qur’an memuji perempuan yang membangkang kepada suami yang dzalim. Pada saat yang sama al-Qur’an mengecam perempuan yang menentang suami yang memperjuangkan kebenaran. Di antaranya perempuan yang beruntung itu adalah: Aisiyah dalam QS. al-Tahrim:11. Tipe Istri yang durhaka pada suami yang dikecam dan diabadikan dalam QS. al-Tahrim: 10, istri Nabi Nuh dan Nabi Luth. Di samping itu disebutkan pula wanita tipe penggoda yang dikisahkan al-Qur’an dalam berkisah tentang Yusuf (QS.Yusuf: 23-34), Zulaikha.

Adapula nama Maryam disebut dengan jelas beberapa kali. Nama Maryam yang berarti wanita yang taat beribadah, disebut dalam al-Qur’an sebanyak 34 kali dan terbagi dalam 11 surat, baik namanya berdiri sendiri (مريم ابنت عمران) maupun bergandengan dengan nama anaknya (عيسى ابن مريم). Bahkan sebuah surat menggunakan nama Maryam. Perlu dicatat bahwa tidak seorang wanita pun yang disebut namanya dalam al-Qur’an kecuali beliau. Ini untuk mengisyaratkan bahwa tidak ada wanita lain yang pernah atau akan mengalami melahirkan anak yang menjadi Nabi tanpa disentuh pria. Ia merupakan icon keshalehan dan kesucian seorang wanita.

Bentuk lain yang digunakan oleh Allah dalam mengungkapkan kata yang merujuk kepada perempuan adalah dengan menambah huruf “ta tamarbuta” pada kata benda (tamarbuta bila tunggal/mufrad dan tamattuha bila dalam bentuk jamak). Ta tamarbuta ini bukan hanya digunakan dan ditujukan untuk perempuan tetapi juga digunakan pada benda dan semacamnya. Hal ini dimaknakan masuk dalam jenis perempuan (diserupakan) dengan menyebutnya dalam istilah muannas.

Kedudukan Perempuan dalam al-Qur’an

Menurut Quraish Shihab kedudukan perempuan dalam pandangan ajaran Islam tidak sebagaimana diduga atau dipraktikkan oleh sementara masyarakat. Ajaran Islam pada hakikatnya memberikan perhatian yang sangat besar serta kedudukan terhormat kepada perempuan.[13] Untuk lebih memahami kedudukan perempuan dalam al-Qur’an sebaiknya jika kita flashback tentang kekejaman yang dilakukan kaum laki-laki terhadap perempuan dalam QS. al-Nahl: 58-59;

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

Artinya: Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan Dia sangat marah.Ia Menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah Dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.(QS. al-Nahl: 58-59).

Terlihat bahwa Al-Qur’an mengecam perbuatan membunuh anak manusia berjenis kelamin perempuan, kemudian al-Qur’an merubah serta mengganti kebiasaan tersebut dengan menempatkan serta mendudukkan perempuan pada tempat yang sewajarnya dan meluruskan segala pandangan yang salah dan keliru yang berkaitan dengan kedudukan dan asal-usul penciptaannya.

Proklamasi al-Qur’an tentang kesetaraan asal usul umat manusia dapat dilihat juga dalam ayat-ayat sebagai berikut. Pertama disebutkan bahwa manusia diciptakan dari jenis yang sama;[14]

…يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ

Artinya: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri…(QS. al-Nisa’: 1).

Kedua, bahwa sumber ciptaan manusia adalah laki-laki dan perempuan;[15]

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.(QS. al-Hujurát: 13).

Dalam al-Qur’an terjemahan Depag RI dijelaskan maksud dari padanya menurut jumhur mufassirin[16] ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari[17] dan Muslim. Di samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa yakni tanah yang dari padanya Adam a.s. diciptakan.[18]Menurut mufassir Indonesia, umumnya menyatakan kata nafs wᾱhidah artinya diri yang satu atau jenis yang sama, sehingga tidak ditafsirkan dengan bahagian dari tubuh Adam atau tulang rusuk.[19]

Quraish Shihab mencoba menengahi dengan argumennya bahwa tulang rusuk yang bengkok harus dipahami dalam pengertian majazi (kiasan), dalam arti bahwa hadis tersebut memperingatkan para lelaki agar menghadapi perempuan dengan bijaksana. Sebab, ada sifat, karakter, dan kecenderungan perempuan yang tidak sama dengan lelaki, di mana bila tidak disadari akan dapat mengantar kaum lelaki untuk bersikap tidak wajar. Mereka tidak akan mampu mengubah karakter dan sifat bawaan perempuan. Kalaupun mereka berusaha, akibatnya akan fatal, sebagaimana fatalnya meluruskan tulang rusuk yang bengkok.[20]

Al-Qardhawy berpandangan bahwa perempuan mempunyai hak sabagaimana laki-laki dalam hal kemanusiaan. Karena kedua jenis manusia itu ibarat dua cabang yang berasal dari satu batang pohon, dua bersaudara yang dilahirkan oleh Hawa’ dan Adam. Mereka adalah sama dalam masalah pertumbuhannya, sama dalam masalah kekhususan-kekhususan kemanusiaan secara umum, sama dalam masalah menjalankan perintah dan larangan di dalam syari’at, sama dalam masalah tanggung jawab dan sama dalam masalah balasan serta tempat kembali.[21]

Asghar Ali Engineer mengajukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa posisi laki-laki dan perempuan dalam agama adalah setara. Pertama, Al-Qur’an memberikan tempat yang sangat terhormat kepada seluruh manusia, baik laki-laki maupun perempuan.Bahwa yang membedakan antara individu yang satu dengan individu yang lain hanyalah ketakwaannya (QS. al-Hujurát: 13) dan bahwa pahala seseorang tergantung pada amal baiknya (QS. Gháfir: 39-40) dan al-Nisá: 124. [22] Ternyata dalam Islam tidak ada pembedaan yang mutlak antara laki-laki dan perempuan dalam masalah keagamaan.[23]Kedua, al-Qur’an membela prinsip-prinsip kesetaraan laki-laki dan perempuan. Al-Qur’an membenci tradisi masyarakat Arab yang tidak menghargai kelahiran anak perempuan, atau bahkan membunuh mereka hidup-hidup (QS. al-Takwir: 9).[24]

Al-Qur’an berbicara tentang “para wanita yang saleh dan beriman”, mu’minᾱt, muslimᾱt, dan bahkan menyebut-nyebut mereka dengan nada yang sama dengan para pria yang saleh dan beriman. Lebih-lebih, para wanita ini diharapkan untuk menjalankan kewajiban-kewajiban agama yang sama sebagaimana pria.[25] Al-Qur’an mendorong semua orang yang beriman, laki-laki dan wanita, supaya mengikuti keimanan mereka dengan tindakan, dan untuk ini al-Qur’an menjanjikan pahala yang besar bagi mereka. Jadi al-Qur’an tidak membedakan antara laki-laki dan wanita dalam penciptaan, tujuan, atau pahala yang dijanjikannya.[26]

Berdasarkan teks al-Qur’an dan hadis serta sejarah umat Islam masa Nabi, maka sudah saatnya kaum hawa untuk tampil berprestasi, bersaing dengan kaum pria dalam hal kebaikan (fastabiqul khairat) tentunya dengan cara-cara yang terpuji, seperti tetap menjaga harkat dan martabat kewanitaannya.[27]

Hak-Hak Perempuan dalam al-Qur’an

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Nisa’: 32).

Secara tekstual, Islam telah melakukan suatu revolusi sosial dalam merubah pandangan terhadap keberadaan wanita yang semula hina dan makhluk yang kurang bernilai menjadi manusia mulia yang memiliki martabat sama dengan kaum pria, seperti: [28]

– Semula perempuan tidak mendapatkan hak waris dan kebendaan lainnya, karena dianggap tidak cakap untuk mempertahankan qabilah, kemudian secara bertahap al-Qur’an memberikan hak-hak waris tersebut kepada wanita (QS.4: 12).

– Semula kaum pria bebas mengawini wanita sebagai istrinya tanpa batas, kemudian al-Qur’an mentolerir sampai 4 saja. (QS.4: 3).

– Semula wanita tidak boleh menjadi saksi, kemudian Islam membolahkannya walaupun dalam berbagai kasus masih dibatasi satu berbanding dua dengan pria. (QS.2: 228) dan (QS.4: 34).

– Secara tekstual tidak ditemukan ayat atau hadis yang melarang kaum wanita untuk aktif dalam bidang kemasyarakatan atau politik, sebaliknya al-Qur’an mengisyaratkan wanita untuk aktif dalam menekuni berbagai profesi di masyarakat. (QS.9:71) dan (QS.60:12).

 

Ketika problem hak-hak perempuan dalam Islam dikemukakan, maka mereka yang membela islam –biasanya para pembaharu- bersandar pada “teks-teks al-Qur’an” seraya menjelaskan bahwa Islam telah memberikan hak-hak kepada perempuan 14 abad yang lalu sebelum dicanangkan legislasi modern.[29] Jika kita pikirkan secara mendalam maka memang benar Islam telah memberikan keadilan yang pantas didapatkan kaum perempuan. Hanya saja aplikasinya di ranah social/public, keluarga yang kurang dimaksimalkan sesuai dengan semangat keadilan yang dibawa oleh al-Qur’an. Ada anggapan bahwa para penafsir al-Qur’an dari zaman ke zaman yang membentuk perbedaan-perbedaan berlandaskan kodrati dan hak perempuan kembali terbatasi.

Mengenai hak-hak perempuan secara umum ayat yang menjadi rujukan adalah di atas. Dalam ajaran Islam, perempuan diberikan hak yang cukup banyak, seperti; hak mendapatkan ganjaran pahala sebagaimana laki-laki dari Allah swt (QS. al-Nahl: 97),[30] hak menerima mahar (QS. al-Nisa’: 4),[31] hak mewarisi (QS. al-Nisa’: 7)[32], hak politik (QS. al-Taubah: 71), hak memberikan kesaksian, hak memilih dan menentukan jodoh (QS. al-Rum: 21),[33] hak mendapatkan pendidikan dan hak beraktivitas di luar rumah, hak memperoleh pekerjaan, dan hak mendapatkan perlakuan yang baik (QS. al-Nisa’: 19), serta masih terdapat lagi hak-hak lainnya.

Al-Qur’an mengajarkan kepada laki-laki agar selalu menghormati dan memperlakukan wanita dengan baik. Hal ini disebutkan dalam QS. al-Nisa’; 19.

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آَتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa, dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. dan bergaullah dengan mereka secara patut. kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, Padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”

Kata bi al-Maruf  (dengan kebaikan) di sini dalam segala bentuk, yaitu perilaku, ucapan, perasaan. Artinya suami dituntut untuk memperlakukan istrinya dengan sebaik mungkin dalam segala hal. Karena dominan perempuan  menggunakan perasaannya. Tidak seperti laki-laki yang sering menggunakan logikanya. Jadi dalam menghadapi pasangan adalah saling pengertian, menimbang perasaan pasangan, berbicara dari hati ke hati dengan ucapan dan bahasa yang baik sehingga penyampaiannya masuk dan diterima hati dan sebisa mungkin menghindari KDRT. Penekanan konteks ayat ini adalah agar suami tidak boleh berbuat buruk kepada pasangan.  Karena bisa jadi ada beberapa persoalan yang  tidak menyenangkan suami, tapi Allah memberikan rahmah-Nya dalam masalah yang sedang dihadapi.

Nash lainnya adalah nash yang berhubungan dengan kesempatan wanita mendapat pendidikan tidak perlu diragukan lagi. Sebab tentang hal itu jelas disebutkan dalam al-Qur’an dan sunnah Nabi. Misalnya ayat al-Qur’an yang memberikan pujian kepada pria dan wanita yang mempunyai prestasi dalam ilmu pengetahuan,[34] seperti tertuang dalam al-Qur’an:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ….

Artinya: “…. Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. al-Mujᾰdalah: 11).

 قل هل يستوي الذين يعلمون والذين لا يعلمون إنما يتذكر أولوا الألباب

Artinya: “Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. al-Zumar: 9).

Menuntut ilmu adalah suatu kewajiban bagi setiap orang sesuai hadis Nabi saw:

عن أنس بن مالك قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: طلب العلم فريضة على كل مسلم.35

Hak lainnya adalah hak waris yang ditetapkan Allah kepada perempuan yang termuat dalam QS. al-Nisa’: 11.

…يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ

Artinya: Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan…

Teori Islam dalam membedakan antara laki-laki dan wanita adalah teori penekanan ekonomi. Dalam keputusan ini, sesungguhnya Islam telah menetapkan suatu putusan hukum seadil-adilnya. Pembagian ini selaras dengan semangat keadilan yang dibawa Islam dalam pembagian hak dan kewajiban. Jika Islam mengistimewakan laki-laki daripada wanita dalam urusan hak waris adalah karena Islam juga mewajibkan laki-laki untuk memikul beban dan tanggungan material di mana hal itu tidak diwajibkan kepada wanita.[36] Dalam artian laki-laki sebagai pencari nafkah dan memikul beban sebagai kepala keluarga terhadap saudara-saudarinya ketika orangtuanya meninggal. Laki-laki juga harus memberikan mahar kepada calon istrinya. Secara tidak langsung bagian warisan yang didapatkan perempuan dari keluarganya akan tercukupi (bertambah) dengan mahar yang diberikan oleh pihak calon suami. Tetapi menurut penulis hal ini perlu dikontekstualisasikan pada kondisi keluarga tertentu.

Banyak orientalis yang memandang Islam cacat dan tercela karena memberi jatah hak waris wanita sebagian dari hak waris laki-laki dengan mengacu kepada kalam Allah dalam QS. al-Nisa’: ayat 4. Padahal, pernyataan ini bukan pernyataan yang pasti, dan hak waris wanita tidak selamanya separuh dari hak waris laki-laki. Ada beberapa kondisi di mana hak waris mereka sama.[37] Hal ini termuat dalam QS. al-Nisa’: ayat 11-12.

Lebih lanjut Fazlur Rahman mengatakan bahwa untuk memahami al-Qur’an diperlukan pemahaman sosiohistoris, dengan asumsi bahwa setiap generasi menghadapi situasi sendiri dan bebas melakukan interpretasi al-Qur’an dengan menekankan pada hal-hal yang bersifat ideal dan prinsip serta mengembangkan kembali dalam bentuk segar sesuai dengan sejarah kontemporer mereka sendiri. Sebab latar belakang sejarah dan sosial turunnya teks tersebut sudah berbeda dengan masa sekarang. Terlebih lagi kondisi sekarang di mana setiap generasi menghadapi situasi berbeda akibat perbedaan waktu dan geografi.[38] Jika dikaitkan dengan teori double movement Fazlur ini, tidak menutup kemungkinan formula 2:1 yang digariskan hukum waris Islam diterapkan menjadi 1:1.

Gustave Le Bon berkata, “Islam telah mengangkat tinggi-tinggi kondisi dan martabat wanita secara sosial, bukan merendahkannya, berbeda dengan asumsi yang terus-menerus tanpa keterangan. Dan al-Qur’an telah memberikan hak waris terhadap wanita lebih baik daripada kebanyakan undang-undang kami di Eropa.[39]

Hak lainnya adalah hak memberikan kesaksian yang dinilai satu banding dua yang ditawarkan al-Quran;

…وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى….

Artinya: “…Persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). jika tak ada dua oang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa Maka yang seorang mengingatkannya….(QS. al-Baqarah: 282).

Dalam memahami ayat ini, Mahmúd Syaltút dengan mengutip Muhammad ‘Abduh yang mengatakan, bahwa masalah saksi ini harus dihubungkan dengan konteks, di mana pada masa itu wanita memang tidak banyak terlibat dengan urusan mu’amalah. Pantas kalau kesaksian wanita tidak sebanding dengan laki-laki. Sebaliknya dalam masalah rumah tangga wanita lebih profesional daripada kaum laki-laki, sebab memang wanitalah yang lebih banyak terlibat dengan masalah rumah tangga ketika itu. Dengan demikian nilai kesaksian wanita yang hanya separuh kesaksian laki-laki yang disebut dalam ayat ini bukan karena ingatan wanita yang lemah dibandingkan dengan laki-laki.[40] Ketika dunia sekarang telah berubah dan jauh lebih maju, di mana keterlibatan wanita dalam kehidupan social dan ekonomi telah menjadi lumrah, maka penting adanya kontekstualisasi dan reintrepetasi ayat tersebut.[41]

Adapun hak perempuan untuk ikut terjun dalam bidang perpolitikan, tertera dalam QS. al-Taubah: 71;

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya: Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Quraish Shihab menyatakan bahwa ayat ini berisi gambaran tentang kewajiban melakukan kerja sama antara lelaki dan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan yang dilukiskan dengan kalimat menyuruh mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar. Dengan demikian, setiap lelaki muslim dan perempuan muslimah hendaknya mampu mengikuti perkembangan masyarakat agar masing-masing mereka mampu melihat dan memberikan saran (nasihat) dalam berbagai bidang kehidupan.[42] Kalimat yang terdapat dalam ayat itu menunjukkan, adanya pengertian pemegang otoritas,tentu saja bukan dalam lingkup domestic seperti rumah tangga, tetapi juga wilayah public, sebagaimana konteks ayat ini menyebutkan.[43] Berlandaskan ayat ini terbuka peluang bagi perempuan untuk menjadi pemimpin dalam berbagai bidang termasuk menjadi pemimpin Negara.

Perempuan dalam Islam tidak dibatasi ruang geraknya hanya pada sector domestic di rumah tangga, melainkan dipersilahkan aktif di ruang public, termasuk bidang iptek, ekonomi, social, ketenagakerjaan, HAM, dan politik. Hanya saja, perlu digarisbawahi bahwa keaktifannya itu tidak sampai membuat ia lupa atau mengingkari kodratnya sebagai perempuan di mana ia berhak menjalankan fungsi-fungsi reproduksinya dengan wajar, seperti hamil, melahirkan, dan menyusui anaknya. Hal yang lebih penting lagi, bahwa keaktifannya itu tidak sampai menjerumuskan dirinya ke luar batas-batas moral yang digariskan agama.[44] Jadi Islam telah memberikan kebebasan terhadap perempuan namun kebebasan tersebut adalah kebebasan yang terkendali oleh nilai-nilai akhlak mulia. Oleh karena itu, diharapkan ke depannya perempuan-perempuan Indonesia lebih berpikiran maju, berwawasan inklusif, modern, aktif, dinamis, terdidik, dan mandiri serta memiliki akidah yang benar, sopan santun, mempunyai rasa malu, dan budi pekerti mulia. Sehingga nantinya perempuan-perempuan ini dapat turut andil membangun bangsa bersama laki-laki ke arah yang lebih baik.

Kesimpulan

Setelah memaparkan kedudukan perempuan dalam al-Qur’an, penulis menarik beberapa kesimpulan, di antaranya:

–          Penyebutan kata perempuan dalam al-Qur’an menggunakan berbagai varian istilah, di antaranya: al-mar’ah/al-imra’ah, al-nisa’, al-banat, al-untsa, atau menyebut nama tokoh perempuan secara langsung, atau pun menggunakan lambang tamarbutah. Al-mar’ah, al-imra’ah dan al-nisa; pengistilahannya terbatas bagi perempuan dewasa baik yang menikah maupun wanita dewasa yang single. Sedang banat tertuju pada pengistilahan bagi remaja perempuan dan masih berstatus single. Istilah  al-untsa sendiri lebih merujuk pada gender/ kelamin atau biologis.

–          Dalam al-Qur’an, penggunaan istilah perempuan berdasarkan ragam bentuk perubahan katanya menunjukkan sesuai karakter-karakternya: wanita shalehah, wanita pejuang, penyabar, setia, durhaka, penghianat, penggoda dan sebagainya. Namun yang istimewa adalah ketika al-Qur’an menyinggung perempuan dengan karakter antagonis, al-Qur’an tidak menyebutkan nama secara terang-terangan hanya berupa inisial, di mana hikmahnya sebagai pelajaran beretika. Sebaliknya, jika menceritakan prestasi akhlak dan perjuangan yang patut dicontohi kaum Hawa maupun seluruh ummat, al-Qur’an menyebut nama secara langsung.

–          Islam telah mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan dari keterpurukan dan penindasan yang telah lama dialaminya. Al-Qur’an memberikan kebebasan dari keterpejaraannya untuk menerima hak-haknya sebagai manusia utuh. Dimulai sejak dia lahir, dia berhak mendapatkan kehidupan tanpa merasa takut kehilangan nyawanya dikarenakan jenis kelamin dan kodratnya sebagai perempuan, dia juga berhak mendapatkan hak warisan yang tadinya dia merupakan harta warisan, dia berhak mengenyam pendidikan dan mendapatkan pekerjaan serta ikut berjuang di jalan Allah melalui keikutsertaannya dalam politik bahkan memimpin sebuah Negara, dan lain sebagainya.

–          Laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan serta keistimewaan dan keterbatasan masing-masing, baik itu dari segi fisik, psikologi maupun emosi. Sehingga hal ini mempengaruhi bidang dan sector pekerjaan masing-masing. Dan yang dituntut adalah memaksimalkan tugas dan tanggung jawab masing-masing sesuai fitrah dan selalu berada dikoridor agama. Sehingga tercipta singkronisasi dan keharmonisan di antara keduanya. Karena di balik kekurangan dan kelebihan ini ada hikmah yang dalam, yakni saling mengisi dan melengkapi kekosongan dan kekurangan satu sama lain.

DAFTAR PUSTAKA

 

Abu Zayd, Nasr Hamid. Dekonstruksi Gender: Kritik wacana Perempuan dalam Islam, terj. Moch. Nur Ichwan dan Moh. Syamsul Hadi. Yogyakarta: Samha, 2003.

Ali, Atabik. Ahmad Zuhdi Muhdlor, Kamus Kontemporer: Arab-Indonesia Yogyakarta: Multi Karya Grafika, 1996.

Amin,Qasim.Sejarah Penindasan Perempuan: Menggugat “Islam Laki-Laki”, Menggugat “Perempuan Baru”, terj. Syariful Alam. Yogyakarta: Ircisod, 2003.

Al-Asfahᾱnῖ, al-Rᾱghib. Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an. Bairut: Dar al-Ma’rifah, tt.

al-Bukhari, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail. Shahih Bukhari. jilid. 3. al-Qahirah: al-Maktabah al-Salafiyah, 1400 H.

al-Misri, Ibnu Manzur Al-Afriqῖ. Lisan al-‘Arab. Dalam Program al-Maktabah al-Syamilah.

al-Qardhawy, Yusuf. Ruang Lingkup Aktivitas Wanita Muslimah, terj. Moh. Suri Sudari A, Entin Rani’ah Ramelan. Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1996.

al-Qashir, Fada Abdur Razak.Wanita Muslimah: Antara Syari’at Islam dan Budaya Barat, terj. Mir’atul Makkiyah. Yogyakarta: Darussalam, 2004.

al-Sajastani, Abu Daud Sulaiman bin al-Asy’ats.Sunan Abi Daud. Jilid 2.Hims Suriah: Dar al-Hadis, tt.

Binti Yasin, Maisar. Wanita Karier dalam Perbincangan. terj. Ahmad Thobrani Mas’udi. Jakarta: Gema Insani Press, 1997.

Al-Qur’an al-Karim dan Terjemahnya Departemen Agama RI. Semarang: Karya Toha Putra, 1996.

Engineer, Ashgar Ali. HakHak Perempuan dalam Islam. terj. Farid Wajidi, Siti Farkhah Asegaf. Yogyakarta: LSPPA, 2000.

Fayumi, Badriyah. dkk, Keadilan dan Kesetaraan Gender Perspektif Islam.Tim Pemberdayaan perempuan bidang agama Departemen agama RI, 2001.

Ibn Muhammad, Abi Abdullah. Sunan Ibnu Mᾰjah. Dalam Program al-Maktabah al-Syamilah.

Ibn Muhammad,Al-Khalil. al-‘Ainu. Dalam Program al-Maktabah al-Syamilah.

Indra, Hasbi. dkk, Potret Wanita Shalehah (Jakarta: Penamadani, 2004),

Junaidi, Hakim. “Hak Waris Perempuan Separo Laki-laki”, dalam Sri Suhandjati Sukri (ed.). Bias Jender: Dalam Pemahaman Islam. Yogyakarta: Gama Media, 2002.

Nasution, Khoiruddin. Fazlur Rahman tentang Wanita. Yogyakarta: Tazzafa, 2002.

Noer, Noor Huda. “Perempuan dalam Perspektif Filsafat al-Qur’an”. Al-Risalah.  Vol. 10 No. 2, 2010.

Roy,Muhammad.Melihat Tuhan dalam Diri wanita.Yogyakarta: Pondok Pesantren UII, 2007.

Schimmel, Annemarie. Jiwaku adalah Wanita: Aspek Feminin dalam Spiritual Islam, terj. Rahmani Astuti. Bandung: Mizan, 1998.

Shihab, Quraish.Wawasan al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan, 1998.

  1. Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan, 1996.

Sriyanto,Alam. “Kedudukan Perempuan dalam al-Qur’an”, dalam Sahiron Syamsuddin (ed.). Studi al-Qur’an: Metoe dan Konsep. Yogyakarta: Elsaq Press 2010.

Subhan, Zaitunah. Tafsir Kebencian: Studi Bias Gender dalam Tafsir Qur’an. Yogyakarta: LKiS, 1999.

Syaltút, Mahmúd.Al-Islam: ‘Aqídah wa al-Syarí’ah. Beirút, Kairo: Dár al-Surúq, 1983.

Umar, Nasaruddin. Amany Lubis, “Hawa sebagai Simbol Ketergantungan: Relasi Gender dalam Kitab Tafsir”, dalam Ali Muhanif (ed.), Mutiara Terpendam: Perempuan dalam Literatur Islam Klasik.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002.

Wadud,Amina.Quran Menurut Perempuan: Meluruskan Bias Gender dalam Tradisi Tafsir, terj. Abdullah Ali. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2001.

Zaini, Wahid. dkk, Memposisikan Kodrat: Perempuan dan perubahan dalam perspektif Islam. Jakarta: Mizan, 1999.

[1]Yusuf al-Qardhawy, Ruang Lingkup Aktivitas Wanita Muslimah, terj. Moh. Suri Sudari A, Entin Rani’ah Ramelan (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1996), hlm. 19.

[2]Wahid Zaini, dkk, Memposisikan Kodrat: Perempuan dan perubahan dalam perspektif Islam (Jakarta: Mizan, 1999), hlm. 1.

[3]Maisar Binti Yasin, Wanita Karier dalam Perbincangan, terj. Ahmad Thobrani Mas’udi (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), hlm. 15.

[4] Amina Wadud, Quran Menurut Perempuan: Meluruskan Bias Gender dalam Tradisi Tafsir, terj. Abdullah Ali (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2001), hlm. 75-76.

[5] Al-Rᾱghib al-Asfahᾱnῖ, Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an (Bairut: Dar al-Ma’rifah, tt.), hlm. 466.

[6] Noor Huda Noer,Perempuan dalam Perspektif Filsafat al-Qur’an, Al-Risalah. Vol. 10 No. 2, 2010. hlm. 381.

[7] Atabik Ali, Ahmad Zuhdi Muhdlor, Kamus Kontemporer: Arab-Indonesia (Yogyakarta: Multi Karya Grafika, 1996), hlm. 1906.

[8] Ibnu Manzur al-Afriqi al-Misri, Lisan al-‘Arab, dalam Program al-Maktabah al-Syamilah.

[9] Noor Huda Noer, Perempuan…, hlm.383.

[10] Al-Khalil bin Muhammad, al-‘Ainu,dalam Program al-Maktabah al-Syamilah.

[11] Noor Huda Noer, Perempuan…, hlm. 384.

[12] Noor Huda Noer, Perempuan…, hlm. 383.

[13]Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan, 1996), hlm. 269.

[14] Khoiruddin Nasution, Fazlur Rahman tentang Wanita(Yogyakarta: Tazzafa, 2002), hlm. 23.

[15] Khoiruddin Nasution, Fazlur Rahman…, hlm. 24.

[16]ParaMufassir sepertial-Thabarῖ, Ibnu Katsir, Jalaluddin al-Suyuthi, al-Qurthubi, al-Biqa’i, Abu al-Su’ud, al-Tabarsi, al-‘Alũsῖ, al-Zamakhsyarῖ, al-Baidhᾱwi dan sebagainya mengintrepetasikan nafs adalah Adam.

[17]  عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمَرْأَةُ كَالضِّلَعِ إِنْ أَقَمْتَهَا كَسَرْتَهَا وَإِنْ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ. Terjemahan: Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Wanita itu bagaikan tulang rusuk, bila kamu memaksa untuk meluruskannya, niscaya kamu akan mematahkannya, dan jika kamu bermesraan namun padanya terdapat kebengkokan. Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih Bukhari (al-Qahirah: al-Maktabah al-Salafiyah, 1400 H), jilid. 3, hlm. 382.

[18] Depag RI, al-Qur’an al-Karim dan Terjemahnya Departemen Agama RI (Semarang: Karya Toha Putra, 1996), hlm. 500.

[19]Zaitunah Subhan, Tafsir Kebencian…,  173.

[20] Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an…, hlm. 271.

[21] Yusuf al-Qardhawy, Ruang Lingkup…, hlm. 19-20.

[22] Abdul Mustaqim, Epistemologi Tafsir Kontemporer (Yogyakarta: LKiS, 2010), hlm. 70-71.

[23] Ashgar Ali Engineer, HakHak Perempuan dalam Islam, terj. Farid Wajidi, Siti Farkhah Asegaf,(Yogyakarta: LSPPA, 2000), hlm. 68.

[24] Abdul Mustaqim, Epistemologi Tafsir…, hlm. 70-71.

[25] Annemarie Schimmel, Jiwaku adalah Wanita: Aspek Feminin dalam Spiritual Islam, terj. Rahmani Astuti(Bandung: Mizan, 1998), hlm. 92.

[26] Aminah Wadud, Quran Menurut Perempuan…, hlm. 51.

[27] Hasbi Indra, Potret Wanita…, hlm. 261.

[28] Hasbi Indra dkk, Potret Wanita Shalehah (Jakarta: Penamadani, 2004), hlm. 259.

[29] Nasr Hamid Abu Zayd, Dekonstruksi Gender: Kritik wacana Perempuan dalam Islam, terj. Moch. Nur Ichwan dan Moh. Syamsul Hadi (Yogyakarta: Samha, 2003), hlm. 171.

[30] Terjemah: Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

[31]Terjemah: Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, Maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.

[32] Terjemah: Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.

[33] Terjemah: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. Laki-laki atau pun perempuan mempunyai hak yang sama dalam pemilihan jodoh untuk menentukan siapa yang menjadi pendampingnyadi masa depan, demi keharmonisan, kebahagiaan, ketenangan dan ketentraman dalam kehidupan berkeluarga. Selain itu adapula hadis Nabi tentang tuntunan memilih pasangan yang bukan hanya berlaku bagi laki-laki tetapi juga perempuan:عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ.  Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih Bukhari…, hlm. 360.

[34]Khoiruddin Nasution, Fazlur Rahman…, hlm. 33-34.

[35] Abu Abdullah bin Muhammad, Sunan Ibnu Mᾰjah. Dalam Program al-Maktabah al-Syamilah. Syeikh Albᾰnῖ berkomentar bahwa hadis ini shahih kecuali redaksi selanjutnya. Begitu pula al-Suyũtῖ  yang menanyakan status hadis ini kepada Mahyuddin al-Nawawῖ, “status hadis ini lemah dari segi sanad namun dari segi matan shahih.

[36]Fada Abdur Razak al-Qashir, Wanita muslimah…, hlm. 100-101.

[37] Fada Abdur Razak al-Qashir, Wanita muslimah…, hlm. 96.

[38] Hakim Junaidi, “Hak Waris Perempuan Separo Laki-laki”, dalam Sri Suhandjati Sukri (ed.), Bias Jender: Dalam Pemahaman Islam (Yogyakarta: Gama Media, 2002), hlm. 187-188.

[39] Fada Abdur Razak al-Qashir, Wanita muslimah…, hlm. 105.

[40] Mahmúd Syaltút, Al-Islam: ‘Aqídah wa al-Syarí’ah (Beirút, Kairo: Dár al-Surúq, 1983), hlm. 240.

[41] Zaitunah Subhan, Tafsir Kebencian: Studi Bias Gender dalam Tafsir Qur’an (Yogyakarta: LKiS, 1999), hlm. 180.

[42]Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an…, hlm. 273.

[43] Nasaruddin Umar, Amany Lubis, “Hawa sebagai Simbol Ketergantungan: Relasi Gender dalam Kitab Tafsir”, dalam Ali Muhanif (ed), Mutiara Terpendam: Perempuan dalam Literatur Islam Klasik (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002), hlm. 13.

[44] Badriyah Fayumi dkk, Keadilan dan Kesetaraan Gender Perspektif Islam(Tim Pemberdayaan Perempuan Bidang Agama Departemen Agama RI, 2001), hlm. 43.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s