Hadis-hadis Tentang Pendidikan Shalat Anak

PENDAHULUAN

Hadis Nabi saw merupakan salah satu sumber ajaran Islam selain Al Qur’an. Hadis dari segi periwayatannya berbeda dari Al Qur’an. Ayat-ayat Al Qur’an bersifat mutlak dan tidak perlu melakukan penelitian lagi. Sedangkan hadis Nabi diperlukan penelitian secara cermat untuk mengetahui orisinalitasnya, sehingga dapat diketahui apakah hadis tersebut benar-benar berasal dari Nabi atau tidak. Penelitian disini tidak hanya ditujukan pada isi hadis (matan), tetapi juga pada hal-hal yang berhubungan dengan periwayatan atau sanad agar dapat diketahui apakah hadis itu dapat dipertanggungjawabakan kehujjahannya atau tidak.

Hadis-hadis yang akan diteliti disini berisi tentang pendidikan kepada anak. Pendidikan merupakan kebutuhan manusia yag dilahirkan untuk menjadi khalifah di bumi. Allah memberikan fitrah kepada manusia berupa kemampuan dari segi intelektual dan bakat-bakat skill agar dia mampu mengolah apa-apam yang ada di bumi dalam kehidupannya sehari-hari.

Manusia pada waktu dilahirkan dalam keadaan bersih dan bebas dari dosa. Untuk itu orang tua dituntut untuk memberikan pendidikan dan pengajaran kepada anak agar anak itu nantinya menjadi baik dan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Allah dan Nabi saw.

Rasulullah saw sangat memperhatikan tentang pendidikan dan ilmu. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya hadis-hadis beliau yang mengutamakan untuk menuntut ilmu. Dan ketika manusia masih dalam keadaan anak-anak (kecil), orang tua dituntut untuk mendidik anak-anak untuk melaksanakan shalat agar ank-anak tersebut mengenal Tuhannya dan kewajibannya sebagi manusia. Nabi saw sangat menekankan hal ini, bahkan beliau menyuruh para orang tua untuk memberikan hukuman kepada anaknya apabila anak tersebut enggan melaksanakan shalat pada umur 10 tahun.

Begitu pentingnya pendidikan sehingga Nabi sangggup berlaku tegas, apalagi yang menyangkut soal ibahdah. Hal ini tidak lain karena beliau sangat memperhatikan kesejahteraan dan kedamaian umatnya.

TAKHRIJ HADIS

Metode takhrij yang digunakan dalam penelitian ini adalah Takhrij al hadis bil lafz dan Takhrij al hadis bil maudhu’. Adapun metode takhrij hadis bi lafz ada dua cara, yaitu:

  1. Dengan cara mengetahui lafaz dari matan hadis
  2. Dengan cara mengetahui lafaz matan hadis yang paling sedikit berlakunya

Dalam penelitian hadis bi lafz pelacakan materi hadis ini mencakup kata ‘allimu, dharaba, al-shalah dan madja’un (jamak : madaji’) dan walada. Setelah dilihat langsung dalam kitab Mu’jam al Mufahraz li Alfazi al Hadis an Nabawi, penyusun mendapatkan hadis-hadis tersebut terdapat dalam kitab-kitab hadis yaitu Kitab Sunan Abi Daud, Sunan at Turmuzi, Sunan ad Darimi dan Musnad Ahmad bin Hanbal.

MATERI HADIS

  1. Sunan Abi Daud

حَدَّثَنَا مُؤَمَّلُ بْنُ هِشَامٍ يَعْنِي الْيَشْكُرِيَّ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ عَنْ سَوَّارٍ أَبِي حَمْزَةَ قَالَ أَبُو دَاوُد وَهُوَ سَوَّارُ بْنُ دَاوُدَ أَبُو حَمْزَةَ الْمُزَنِيُّ الصَّيْرَفِيُّ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

  1. Sunan at Turmuzi

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ أَخْبَرَنَا حَرْمَلَةُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ الرَّبِيعِ بْنِ سَبْرَةَ الْجُهَنِيُّ عَنْ عَمِّهِ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ الرَّبِيعِ بْنِ سَبْرَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمُوا الصَّبِيَّ الصَّلَاةَ ابْنَ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا ابْنَ عَشْرٍ

  1. Sunan ad Darimi

رَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ الْحُمَيْدِىُّ حَدَّثَنَا حَرْمَلَةُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ الرَّبِيعِ بْنِ سَبْرَةَ بْنِ مَعْبَدٍ الْجُهَنِىُّ حَدَّثَنِى عَمِّى : عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ الرَّبِيعِ بْنِ سَبْرَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : عَلِّمُوا الصَّبِىَّ الصَّلاَةَ ابْنَ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا ابْنَ عَشْرٍ

  1. Musnad Ibnu Hanbal

حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ حَدَّثَنِي عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ الرَّبِيعِ بْنِ سَبْرَةَ الْجُهَنِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا بَلَغَ الْغُلَامُ سَبْعَ سِنِينَ أُمِرَ بِالصَّلَاةِ فَإِذَا بَلَغَ عَشْرًا ضُرِبَ عَلَيْهَا

SKEMA DAN I’TIBAR SANAD

Ada tiga hal yang penting yang harus diperhatikan dalam pembuatan skema sanad hadis, yaitu:

  1. Jalur seluruh sanad
  2. Nama-nama periwayat untuk seluruh sanad
  3. Metode periwayatan yang digunakan oleh masing-masing periwayat

Jalur-jalur dari seluruh sanad harus dicantumkan dalm skema untuk melihat persambungan sanad tersebut sampai kepada Rasulullah, selain itu penyebutan seluruh nama periwayat dalam skema juga diperlukan untuk diteliti keadilan dan kedhabitan periwayat tersebut. Kemudian digunakan pula lambang-lambang atau lafaz-lafaz yang memberi petunjuk tentang metode periwayatan yang digunakan oleh masing-masing perawi.

Penulis mengambil tiga buah hadis yang diriwayatkan dari Abu Dawud sebagai acuan, dengan pertimbangan karena Sunan Abi Dawud mempunyai tingkatan yang lebih tinggi keshahihannya bila dibandingkan dengan Sunan at Turmuzi, Sunan ad Darimi, dan Musnad Ibnu Hanbal. Adapun bunyi hadis yang akan diteliti adalah sebagai berikut:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى يَعْنِي ابْنَ الطَّبَّاعِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ الرَّبِيعِ بْنِ سَبْرَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا

حَدَّثَنَا مُؤَمَّلُ بْنُ هِشَامٍ يَعْنِي الْيَشْكُرِيَّ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ عَنْ سَوَّارٍ أَبِي حَمْزَةَ قَالَ أَبُو دَاوُد وَهُوَ سَوَّارُ بْنُ دَاوُدَ أَبُو حَمْزَةَ الْمُزَنِيُّ الصَّيْرَفِيُّ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْمَهْرِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ سَعْدٍ حَدَّثَنِي مُعَاذُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ خُبَيْبٍ الْجُهَنِيُّ قَالَ

دَخَلْنَا عَلَيْهِ فَقَالَ لِامْرَأَتِهِ مَتَى يُصَلِّي الصَّبِيُّ فَقَالَتْ كَانَ رَجُلٌ مِنَّا يَذْكُرُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ إِذَا عَرَفَ يَمِينَهُ مِنْ شِمَالِهِ فَمُرُوهُ بِالصَّلَاةِ

KRITIK SANAD

Adapun analisa sanad hadis-hadis tersebut adalah dilihat dari ketersambungan (ittishal) sanad, ke’adilan dan kedhabitan perawi serta metode periwayatannya. Analisa sanad hadis riwayat Abu Daud ini adalah sebagai berikut:

  1. Hadis Pertama :

Periwayat yang terdapat dalam mata rantai sanad hadis pertama ini adalah :

  • Abu Daud
  • Muhammad bin Isa
  • Ibrahim bin Sa’ad
  • Abdul Malik bin ar Rabi’
  • Ar Rabi’ bin Sabrah
  • Sabrah bin Ma’bad

 

Abu Daud

Beliau adalah Sulaiman bin Asy’as bin Syaddad bin Amru bin ‘Amir,
Ibnu Dassah menyebutkan namanya Sulaiman bin Al Asy’as bin Basyir bin Saddad Abu Daud as Sijistani al Hafiz, seorang imam, syekh dan hafiz terkenal.dia adalah Abu Daud al Azdi ahli hadis dari Basrah. Beliau lahir pada tahun 202 H dan wafat pada pertengahan bulan Syawal tahun 275 H.

Guru-gurunya : Abu Slamah, Abi al Walid, Muhammad bin Kasir, Sulaiman bin Harbi, Muslim bin Ibrahim, Abdullah bin Slamah bin Raja’, Hasan bin Rabi’, Ahmad bin Yunus, Abi Tabah ar Rabi’, Ahmad bin Abi Syu’aib, Hisyam bin Imran, Ishaq bin Rawahaih, Ahmad bin Hanbal, Ahmad bin Salih, Ali bin al Madani, Hakim bin Musa, Khalaf bin Hisyam, Mu’ammal bin Hisyam, Said bin Mansur, Abdul bin Whhab, Amru bin ‘Aun, Sulaiman bin Daud, Muhammad bin Isa, Abdul Wahhab bin Najdah, Mu’az bin Asad, Yahya bin Ma’in dan ulama Iraq, Mesir, Khurasan, Syam, Hijaz, Kufah, Damaskus dan Baghdad.

Adapun murid-muridnya adalah : Abu Isa, Nasa’I, Ibrahim, Ibn Hamdan, Ahmad bin Ibrahim, Abu Hamid, Ahmad bin Ja’far, Abu Bakar an Najdi, Abu al Arabi, Abu Bakar Ahmad bin Muhammad, Ishaq bin Musa, ar Ramli, Ismail bin Muhammad, Harb bin Ismail, dan lain-lain.

Kritik ulama hadis terhadap dirinya :

  1. Abu Bakar al Khilal : “Abu Daud seorang imam terkemuka di zamannya “.
  2. Ahmad bin Muhammad bin Yasin al Harawi : “beliau adalah salah seorang huffaz Islam untuk hadis Rasul, menguasai ilmu hadis dan sanadnya “.
  3. Muhammad bin Makhlad : “Abu Daud meriwayatkan seratus ribu hadis dan apa yang ia susun di dalam Sunannya dan menjadi rujukan umat serta kitabnya menjadi menjadi pedoman ahli hadis”.
  4. Musa bin Harun : “Abu daud diciptakan di dunia untuk hadis dan di akhirat untuk surga”.
  5. Abu Hatim ibn Hibban : “Ia adalah seorang imam dunia yang faqih, ilmuwan, hafiz, wara’, nusuk, dan mutqin”.
  6. Al Hakim : “Abu Daud ahlul hadis di zamannya”.
  7. Al Hafiz Zakariya Syaji : “Kitabullah adalah Islam sedangkan kitab Abu DAud adalah janji Islam”.

Dari pendapat-pendapat ulama hadis diatas, dapat disimpulkan bahwa Abu Daud adalah perawi yang siqah, dan lafaz periwayatan hadis antara guru dan murid yaitu  Muhammad bin Isa dan Abu Daud menggunakan sigah haddatsana. Dengan begitu, sanad antara Abu Daud dan Muhammad bin Isa adalah muttashil.

Muhammad bin Isa

Beliau adalah Muhammad bin Isa bin Najih al Bagdadi Abu Safar ibn at Taba’. Beliau lahir pada tahun 150 H dan wafat pada tahun 224 H.

Beliau meriwayatkan hadis dari : Malik, Hammad bin Zaid, Ibn Zibbi, Abdul Wahab bin Sa’id, Abdullah bin Ja’far, ‘Utbah bin Abdul Wahid, Hisyam, Mu’tamir bin Sulaiman, Hasan bin Ibrahim, Ibrahim bin Sa’ad, Ismail bin ‘Ulaiyah, Ismail bin ‘Iyas, Ibn al Mubarak, dan lain-lain.

Kemudian beliau meriwayatkan hadis kepada : al Bukhari, Abu Daud, at Turmuzi, An Nasa’i, Ibn Majah, Abdullah bin Abdurrahman ad Darimi, Muhammad bin Yahya, Ahmad al Azhar, Muhammad bin Amir, ‘Amru bin Mansur, dan lain-lain.

Kritik ulama terhadap beliau :

  1. Al Bukhari : “Aku mendengar Ali berkata, ketika Yahya bin Abdurrahman bertanya kepada Muhammad bin Isa dari hadis Hisyam dan aku tidak melihat ada orang lain yang lebih tahu daripadanya”.
  2. Abi Hatim : “Kami berguru kepada Muhammad bin Isa ibn at Taba’ al Faqih al Makmun aku tidak melihat ada ahli hadis yang lebih hafal darinya”.
  3. Abi Daud : “Aku mendengar Muhammad bin Bakr berkata bahwa Muhammad bin Isa lebih mulia daripada Ibn Ishaq”.
  4. An Nasai : “Beliau adalah siqah“.
  5. Ibn Hibban : “Beliau siqah, dan beliau lebih mengetahui hadis-hadis Hasyim”.
  6. Al Asram : “Ibn Taba’ adalah siqah”.

Lafaz periwayatan yang beliau gunakan adalah sigah haddatsana dan antara beliau dengan Ibrahim bin Sa’ad pernah terjadi pertemuan antara guru dan murid. Dengan begitu sanad antara Muhammad bin Isa dan Ibrahim bin Sa’ad adalah muttashil.

Ibrahim bin Sa’ad

Beliau adalah Ibrahim bin Sa’ad bin Ibrahim bin Abdurrahman bin ‘Auf az Zuhri Abu Ishaq al Madani. Beliau lahir pada tahun 108 H dan wafat pada tahun 183 H.

Guru-guru beliau adalah ayahnya, yakni Sa’ad bin Ibrahim, Salih bin Kisani, Az Zuhri, Hisyam bin ‘Ummah, Sofwan bin Alim, Abdullah bin Rabi’, Muhammad bin Ishaq, Syu’bah, Yazid bin al Hadi.

Adapaun murid-muridnya adalah : al Lais, Qois bin Robi’, Abu Daud, Abu al Wahid at Talisiyani, Yahya bin Yahya, Yahya bin Ya’qub, Sa’ad dan lain-lain.

Komentar para ulama hadis terhadap beliau :

  1. Ahmad berkata : “Hadis-hadisnya lurus dan ia adalah siqah”.
  2. Ibn Abi Maryam : “Siqah hujjah Ibrahim lebih kokoh dari Walid Ibn Katsir dan dari Ibn Ishaq”.
  3. Ibn Mu’in : “Siqah”.
  4. Al ‘Ajali berkata : ” Tidak ada cacat baginya”.
  5. Bukhari berkata : “Aku mempunyai hadis dari Ibrahim bin Hamzah, sedangkan dari Ibrahim bin Sa’ad dari Ibn Ishaq sekitar 17.000 hadis di bidang hukum sama dengan dimiliki al Maghas dan Ibrahim bin Sa’ad adalah ulama Madinah yang paling banyak meriwayatkan hadis di zamannya.
  6. Ibn Khawasy : “saduq”.
  7. Ibn ‘Adi : “Ibrahim termasuk ulama yang siqah yang diriwayatkan darinya oleh para ulama”.

Ibrahim bin Sa’ad meriwayatkan hadis dari Abdul Malik bin Rabi’ dengan menggunakan sigah ‘an. Sedangkan pertalian sanad antara Ibrahim bin Sa’ad dan Abdul Malik bin Rabi’ adalah pertalian guru dan murid sehingga memungkinkan mereka untuk bertemu. Dengan demikian sanad antara keduanya adalah muttashil.

Abdul Malik bin ar Rabi’

Beliau adalah Abdullah bin ar Rabi’ bin Sabrah bin Mu’bad  al Juhany. Beliau meriwayatkan hadis dari ayahnya sendiri yaitu ar Rabi’ bin Sabrah. Kemudian beliau meriwayatkan hadis-hadis tersebut kepada : Sabrah bin Abdul Aziz, Harmalah bin Abdul Aziz, Ibrahim bin Sa’ad, Zaid bin al Hibban, Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’ad al Waqidi.

Kritik para ulama hadis terhadap beliau :

  1. Ibnu Hajar al ‘Asqalani : “Al Azali menyatakan beliau siqah”.
  2. Abu Khusaimah : “Yahya bin Mu’in ditanya tentang hadis Abdul Malik bin ar Rabi’ dari ayahnya dari kakeknya, maka ia berkata bahwa mereka lemah hafalannya”.
  3. Ibnu al Jauzi menceritakan dari Ibnu Mu’in bahwa : “Abdul Malik lemah hafalannya”.
  4. Al Hasan bin al Qattan : “Keadilannya kuerang kokoh sekalipun diriwayatkan dari Muslim”.

Walaupun banyak ulama yang mencela , tetapi jarh yang ditujukan kepadanya tidak memberikan alasan yang menjelaskan secara detail letak ketercelaannya. Dengan demikian beliau adalah perawi yang siqah dan beliau meriwayatkan hadis dari ayahnya yang juga sekaligus sebagai gurunya. Dengan demikian sanadnya adalah muttashil.

Ar Rabi’ bin Sabrah

Beliau adalah ar Rabi’ bin Sabrah bin Ma’bad, beliau juga disebut Ibnu ‘Ausajah al Juhany al Madani. Beliau meriwayatkan hadis dari ayahnya sabrah bin Ma’bad, Umar bin Abdul Aziz, Amin bin Murrah al Juhany, Yahya bin Sa’id bin al ‘As. Kemudian diriwayatkan darinya oleh : Abdul Malik dan Abdul Aziz bin ar Rabi’ (anak-anaknya), “Umarah bin Gazyah, Umarah bin Abdul Aziz, Abdul Aziz bin Umar bin Abdul Aziz, az Zuhri, Yazid bin Abi Habib, Ibrahim bin Sa’ad, “Amru bin Haris, al Lais dan lain-lain.

Kritik para ulama hadis terhadap beliau :

  1. Al ‘Ijli : “Beliau adalah siqah”.
  2. An Nasai : “Siqah”
  3. Ibnu Hibban : “Siqah”

Beliau meriwayatkan hadis dari Sabrah bin Ma’bad dengan menggunakan sigah ‘an. Hubungan mereka adalah ayah dan anak sekaligus guru dan murid sehingga sanadnya adalah muttashil.

Sabrah bin Ma’bad

Beliau adalah Sabrah bin Mu’bad bin ‘Ausajah, beliau disebut juga Sabrah bin Ausajah al Juhany Abu Sariyah dan juga disebutkannya dengan Abu Baljah dan Abu ar Rabi’ al Madani. Beliau wafat pada masa khalifah Mu’awiyah. Beliau meriwayatkan hadis langsung dari Rasulullah saw dan ‘Amru bin Murrah al Juhany. Kemudian beliau meriwayatkan kepada anaknya sendiri yaitu ar Rabi’ bin Sabrah.

Karena beliau termasuk golongan sahabat, maka tidak diragukan lagi ke siqahan dan keadilannya dan dilihat dari pertemuan beliau dengan Rasulullah, maka sanadnya adalah muttashil.

Melihat kenyataan bahwa seluruh perawi dalam mata rantai sanad ini tidak ada yang di jarh pada tingkat yang dapat melemahkan periwayatan mereka, bahkan penggunaan sigah tahammul wal ada’ yang tergolong pada metode sama’ dan sanadnya muttashil, maka jelas bahwa sanad hadis ini adalah shahih.

  1. Hadis Kedua

Perawi yang terdapat dalam mata rantai sanad hadis ini adalah :

  • Abu Daud
  • Muammil bin Hisyam
  • Ismail bin Ibrahim
  • Daud bin Sawar (Sawar Abu Hamzah)
  • Amru bin Syu’aib
  • Syu’aib bin Muhammad
  • Muhammad Abdullah bin Amru bin ‘Ash

 

Abu Daud

Seperti yang telah penulis jelaskan diatas bahwa salah satu guru dari Abu Daud adalah Muammil bin Hisyam.

Muammil bin Hisyam

Beliau adalah Muammil bin Hisyam al Taskary Abu Hisyam al Tastary. Beliau wafat pada Rabiul awal tahun 253 H. Adapun guru-gurunya adalah : Ismail bin ‘Ulaiyah dan Abu Mu’awiyah, Ad Dariri dan Yahya bin ‘Ibad ad Dabi’i.

Adapun murid-muridnya adalah : Bukhari, Abu Daud, an Nasa’I, Abu Hatim, Ibn Abu Daud al Bajiri, Ibn Khuzaimah, Muhammad bin Ali Hakim, at Turmuzi, Abu Bakar Muhammad bin Harun ar Ruyani, Yahya bin Muhammad bin Sa’id, Abu ‘Arubah dan lain-lain.

Kritik para ulama hadis terhadap beliau :

  1. Abu Kharim : “Dapat dipercaya”.
  2. Ibn Hibban : “Siqah”.
  3. Abu Daud dan an Nasa’I :”Siqah”.

Beliau meriwayatkan hadis dengan menggunakan sigah haddatsana, dan dilihat dari hubungan antara guru dan muridnya, maka sanad antara Muhammil bin Hisyam dan Ismail bin Ibrahim adalah muttashil.

Ismail bin Ibrahim

Beliau adalah Ismail bin Ibrahim bin Muqsim al Asadi. Abu Basyar al Basri, disebut juga Ibn ‘Ulaiyah. Beliau lahir pada tahun 110 H dan wafat pada tanggal 13 Zul Qa’dah tahun 193 H.

Adapun guru-gurunya adalah : Abdul Aziz bin Sahib, Sulaiman at Tamyi, Jamid at Tahmili, ‘Asim al Ahwal, Sawwar Abi Hamzah, Ayyub, Ibn ‘yun, Abi Rihanah, Jariri, Ibn Abi Naqih, Mu’ammar, A’uf al Agrabi, Abi ‘Atiyah, Yunus bin ‘Abid, dan lain-lain.

Dan murid-muridnya adalah : Syu’bah, Ibn Juraij, Baqiyah, Hammad bin Zaid, Ibrahim bin Tuhman, Ibn Wahhab, Syafi’i, Ahmad, Yahya, Ali as Saqafi al Falas, Abu Muammar al Hazali, Abu Khaisumah, anak-anaknya Abi Syaibah, Ali bin Hijr, Ibn Nawir dan lain-lain.

Kritik Ulama hadis terhadap beliau :

  1. Yunus bin Bakir : “Ibn Ulaiyah adalah panutan para muhaddisin”.
  2. Ibn Mahdi : “Ibn Ulaiyah lebih kokoh dari Hasyim”
  3. Ibn Muhriz dari Yahya bin Mu’in : “Siqah ma’mun, sangat jujur, muslim yang teguh”.
  4. Qutaibah : “Para ulama berkata ada 4 orang Huffaz yaitu Ismail bin Ulaiyah, Abdul Waris, Yazid bin Zar’i dan Wahabi”.
  5. Al Haisam bin Khalid : “Telah berkumpul para huffaz hadis ahli basrah, maka berkata kuffah untuk ahli basrah, kami berguru pada Ismail”.
  6. Ziyad bin Ayyub : “Aku tidak pernah melihat kitab yang seperti milik Ibn Ulaiyah”.
  7. Abu Daud as Sijistani : “Tidak ada seorang ahli hadis pun yang tidak pernah melakukan kesalahan kecuali Ismail bin Ulaiyah dan Basyar bin al Mufadil”.
  8. Ibn Sa’ad : “Siqah, kokoh dalam hadis dan dijadikan hujjah”.
  9. Ahmad bin Sa’ad ad Darimi : “Tidak pernah didapati dalam diri Ibn Ulaiyah cacat, kecuali hadis Jabir dalam penyebutan nama Gulam ke nama Maula dan nama Maula ke nama Gulam”.
  10. Ibn Wahadi bertanya kepada Abu Ja’far al Bisri tentang Ibn Ulaiyah, maka ia berkata : “Bahwa orang Basrah itu (Ibn Ulaiyah) Siqah dan lebih kuat kepalanya dibanding as Saqafi”.

Beliau meriwayatkan hadis dari Sawwar dengan menggunakan sigah ‘an.  Dan dilihat dari perjumpaan beliau dengan Sawwar sebagai guru dan murid, maka sanadnya adalah muttashil.

Sawwar Abu Hamzah

Beliau adalah Sawwar bin Daud dijuluki Abu Hamzah as Sairafi al Bisri penulis al Halli. Adapun guru-gurunya adalah Tawus, ‘Ata’, Abdul Aziz bin Abi Bakrah, Amr bin Syu’aib, dan lain-lain. Dan murid-muridnya adalah : Ismail bin Uliyah, Nadirin bin Syamli, Ibn Mubarak, Abu ‘Itab ad Daili, Muhammad bin Bakar al Barsani, Abu Hamzah as Syakari, Muslim bin Ibrahim dan Waki’.

Kritik ulama hadis terhadapnya :

  1. Abui Talib dari Ahmad : “Syekh Bisri tidak ada cacat baginya”.
  2. Darul Quthni : “Tidak diikuti hadisnya namun diakui”.
  3. Ishaq bin Mansyur dari Ibn Mu’in : “Siqah”.
  4. Ibn Hibban : “Siqah”.

Beliau meriwayatkan hadis dari Amru bin Syu’aib dengan menggunakan sigah ‘an. Dan dilihat dari pertemuan beliau dengan Amru bin Syu’aib sebagai guru dan murid, maka sanadnya adalah muttashil.

Amru bin Syu’aib

Beliau adalah Amru bin Syu’aib bin Muhammad bin Abdullah bin Amru bin ‘Ash bin Qurasyi asy Syahrani Abu Ibrahim disebut Abu Abdullah al Madani disebut juga at Taifi. Beliau wafat pada tahun 118 H.

Adapun guru-gurunya adalah : bapaknya Syu’aib bin Muhammad, bibinya Zaenab binti Muhammad, dan Zaenab binti Salamah, Rabi’ binti maudu Tawus, Sulaiman bin Yasir, Mujahid, ‘Ata’ az Zuhri, Sa’id al Maqbari, ‘Ata’ bin Sufyan as Saqafi, dan lain-lain. Dan murid-muridnya adalah : ‘Ata’, Amru bin Dinar, Yahya bin Said, Hisyam bin Urwah, Ubaid al Bunani, ‘Asyim al Ahwal, Qatadah, Mskhul, Hamid at Tawil, Hisyam bin Urwah, Ibrahim bin Maisarah, Haris bin Usman, Abu Ishaq asy Syaibani, Yazid bin Abi Hubaib, al Auza’i, Ibn Jarir, Muhammad bin Ishaq, Husain, Hakim bin Utbah, Hirmalah, Sawwar Abu Hamzah, dan lain-lain dari tabi’in.

Kritik Ulama hadis terhadap beliau :

  1. Sadaqah bin al Fadl : “Aku mendengar Yahya bin Said berkata, apabila diriwayatkan darinya berarti siqah karena ia adalah terpercaya dan dijadikan hujjah”.
  2. Al Maimuri : “Aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata, sesungguhnya hadis-hadis darinya ditulis dan diakui dan terkadang dijadikan hujjah”.
  3. Abu Daud : “Dari Ahmad bin Hanbal, para ahli hadis apabila mereka berhujjah mereka memakai hadis Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dan terkadang mereka meninggalkannya jika diriwayatkan dari bapaknnya saja”.
  4. Al Bukhari : “Aku melihat Ahmad bin Hanbal dan Ali bin al Madani dan Ishaq ibn Rahawaih adan Abu Ubaid dan sahabat-sahabat kami lainnya mereka berhujjah dengan hadis Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya”.
  5. Ishaq bin Mansyur dari Yahya bin Ma’in : “Apabila meriwayatkan Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya maka ia adalah para penulis (kuttab)”.
  6. Ad Durri bin Mu’awiyah bin Salih : “Dari Ibn Mu’in bahwa ia adalah siqah”.
  7. Abu Hatim : “Aku bertanya kepada Ibn Mu’in tentang Amru bin Syu’aib, maka ia berkata bahwa imam-imam meriwayatkan darinya”.
  8. Ayyub bin Suwaid dari al Auza’i : ”Aku belum pernah melihat orang Quraisy yang lebih menguasai hadis daripada Amru bin Syu’aib”.
  9. Al ‘Ajalai an Nasa’I : “beliau siqah”.

Beliau meriwayatkan hadis dari Syu’aib bin Muhammad dengan menggunakan sigah ‘an. Dan dilihat dari pertemuan beliau dengan Syu’aib bin Muhammad sebagi guru dan murid sekaligus ayah dan anak, maka sanadnya adalah muttashil.

Syu’aib bin Muhammad

Beliau adalah Syu’aib bin Muhammad bin Abdullah bin Amru bin ‘Ash al Qurasi asy Syahmi al Hijaji. Ayahnya Amru bin Syu’aib dan ia dinasabkan kepada kakeknya Abdullah bin Amru. Guru-gurunya antara lain : Ubadah bin Samad, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar bin Khattab, kakeknya, ayahnya Muhammad bin Abdullah, Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Murid-muridnya antara lain : Sabit al Banani, Abu Sahabah, Ziyad bin Umar, Salamah bin Abi Hisyam, Said bin Salamah, Usman bin Hakim, al Anshari, ‘Ata’ al Khurasani, anak-anaknya sendiri yaitu Umar bin Syu’aib dan Amru bin Syu’aib.

Kritik ulama hadis terhadap beliau :

  1. Khalifah bin Khiyad : “Dia tabaqah yang pertama dari ahli Taif”.
  2. Muhammad bin Sa’ad : “Menyebutkan tabaqah yang kedua dari ahli Madinah”.
  3. Ibn Hibban : “Siqah”.
  4. Ahmad bin Hanbal : “Sesungguhnya Syu’aib meriwayatkan hadis dari kakeknya dan belum pernah didengar dari bapaknya”.
  5. Muhammad bin Sa’ad : “Syu’aib meriwayatkan dari kakeknya Abdullah bin Amru dan meriwayatkan lagi kepada anaknya Amru bin Syu’aib. Hadis dari kakeknya berarti Abdullah bin Amru”.
  6. Ad Darawardi : “Dari Ubaidillah bin Umar seperti riwayat Muhammad bin Ubaid ini berarti sandnya shahih karena Syu’aib mendengar dari Abdullah bin Amru dan dari Ibn Abbas dan Ibn Umar”.
  7. Bukhari, Abu Daud dan lain-lain : “Menyebutkan bahwa ia menyebutkan dari kakeknya, yakni Abdullah bin Umar”.

Beliau meriwayatkan hadis dari Muhammad bin Abdillah bin Amru bin Ash dengan menggunakan sigah ‘an. Dan dilihat dari pertemuan antara guru dan murid sekaligus sebagai ayah dan anak, maka dapat disimpulkan bahwa sanadnya adalah muttashil.

Muhammad bin Abdullah bin Amru bin ‘Ash

Beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Amru bin ‘Ash As Sahmi. Beliau wafat mendahului ayahnya. Beliau meriwayatkan hadis dari ayahnya Abdullah bin Amru bin Ash. Sedangkan muridmuridnya adalah : anaknya Syu’aib, Hakim bin al Haris al Fahmi, dan lain-lain.

Kritik ulama hadis terhadap beliau :

  1. Ibn Hibban : “Beliau termasuk golongan periwayat yang siqah”.
  2. Ibn Hajar al ‘Asqalani : “Baik Bukhari, Ibn Abi Hatim maupun Ibn Hibban tidak memasukkan Muhammad bin Abdillah kedalam kitab Rijalul hadis, kecuali kitab Tarikh Misr dan Tarikh Makkah“.

Beliau meriwayatkan hadis dari ayahnya dengan menggunakan sigah ‘an. Dan dilihat dari pertemuan mereka sebagi guru dan murid sekaligus sebagai ayah dan anak, maka sanadnya adalah muttashil.

Abdullah bin Amru bin Ash

Belisu adalah Abdullah bin Amru bin Ash bin al Wail bin Hasyim bin Saad bin Syahmi bin Amru bin Hasisi bin Ka’ab bin Lui bin Galib al Quraisyi, Abu Muhammad dan disebut Abu Abdurrahman, disebut juga Abu Nasir dan disebut juga namanya adalah al ‘As, ketika masuk Islam diganti namanya dengan Abdullah. Beliau masuk Islam sebelum bapaknya, beliau adalah seorang yang rajin ibadah dan luas pengetahuannya,

Adapun guru-gurunya adalah : Nabi saw, Abu Bakar Siddiq, Amru bin Abdurrahman bin Auf, Mu’az bin Jabal, Abi Darda’, Suraqah bin Malik bin Ju’sin, dan lain-lain.

Adapun murid-muridnya adalah : Anas bin Malik, Abu Imamah bin Sahal, Abu Taif, Abdullah bin Haris bin Naufal, Masruq bin Ajda’i, Sa’id bin al Musayyab, Jabir bin Nafir, Sabit bin ‘Iyyad, Khaisumah bin Abdurrahman, Hamid bin Abdurrahman ‘Auf, Jarra’ bin Habsyi, Salim bin Abi al Ja’di, Sa’id bin Mina, dan anaknya Muhammad bin Abdullah bin Amru, cucunya Syu’aib bin Muhammad bin Abdullah bin Amru bin ‘Ash, Tawus, Abdullah bin Ribah dan lain-lain.

Kritik ulama hadis terhadap beliau :

  1. Abu Hurairah : “Tiada seorangpun yang lebih banyak meriwayatkan hadis dari Nabi saw daripada aku kecuali Abdullah bin Amru, karena ia selalu menulis sedangkan aku tidak”.
  2. Ahmad bin Hanbal berkata : ia meninggal pada tahun 63 H bulan Zulhijjah pada malam Sirah, sementara diriwayatkan yang lain menyebutkan tahun 65 H. Ibn Bakir berkata dalam riwayatnya bahwa ia wafat tahun 68 H.

Dikarenakan beliau adalah seorang sahabat Nabi saw, maka tiada keraguan lagi akan kesiqahannya dan keta’dilannya, dan jika dilihat dari pertemuannya dengan Rasulullah, maka sanad hadis ini adalah muttashil.

Seperti halnya hadis pertama, hadis kedua ini juga dapat dinyatakan shahihul isnad, karena para perawi dalam mata rantai sanad ini tidak ada yang ditarjih pada tingkat yang dapat melemahkan kredibilitasnya sebagi seorang perawi. Dan jika dilihat dari pertemuan guru dan murid, bisa diketahui bahwasanya sanad ini secara keseluruhan adalah bersambung (muttashil).

  1. Hadis Ketiga

Periwayat yang ada dalam mata rantai hadis ini adalah :

  • Abu daud
  • Sulaiman bin Daud
  • Ibn Wahab
  • Hisyam bin Sa’ad
  • Mu’az bin Abdillah
  • Imra’ah
  • Rajul

 

Abu Daud

Penulis telah menjelaskan biografi Abu Daud pada hadis pertama, jadi penulis tidak akan menyebutkannya lagi. Yang jelas, Sulaiman bin Daud adalah salah satu guru beliau.

Sulaiman bin Daud

Beliau adalah Sulaiman bin Daud bin Himad bin Sa’ad Al Muhri Abu Rabi’ bin Abi Akhi Rusydi bin al Misri. Beliau lahir pada tahun 178 H, dan wafat pada hari ahad bulan Zulhijjah tahun 235 H.

Guru-gurunya cukup banyak, antara lain : Daud bin Himad (bapaknya), Himad bin Saad al Muhri, Hizaj bin Rusyd bin Abi Sa’ad, Abdul Mulk al Majisyun, Abdullah bin Wahhab, Abdullah bin Wafi’ dan lain-lain. Murid-muridnya antara lain : Abu Daud, an Nasa’I, ‘Amr bin Bukhair, Abu Bakar bin  Abu Daud, Zakariya as Saji’, Muhammad bin Ziban al Hadrami, Ibrahim bin Yusuf al Hasan Jani.

Kritik ulama hadis terhadap beliau :

  1. An Nasa’i : “Beliau Siqah”.
  2. Ibn Abi Hatim : “Diriwayatkan darinya Hadis”.
  3. Ibn Yunus : “Sulaiman seorang yang zahid dan faqih”.
  4. Ibnu Hibban : “Siqah”.

Beliau meriwayatkan hadis dari Abdullah bin Wahhab dengan menggunakan sigah haddatsana, dan dilihat dari pertemuan antara guru dan murid, sanadnya adalah muttashil.

Abdullah bin Wahab

Beliau adalah Abdullah bin Wahb bin Muslim al Quraisyi Abu Muhammad al Misri al Faqih, beliau dilahirkan pada tahun 125 H dan wafat pada hari ahad bulan Sya’ban tahun 197 H.

Guru-gurunya banyak, antara lain : ‘Amru bin Haris, Ibn Hani, Husein bin Abdullah al Mu’afiri, Bakr bin Mudarr, Sa’id bin Abi Ayyub, al Lais bin Sa’ad, ‘Iyad bin Abdullah al Fahari, Abdurrahman bin Syarih, Malik, Sulaiman bin Bilal dan Yunus bin Yazid, Salamah bin Wardan, Sa’id bin Abdurrahman al Juwahi, Ibn Jarih, Umar bin Muhammad, Mu’awiyah bin Salih, Hisyam bin Sa’ad, Daud bin Abdurrahman al Atar, as Sauri, Ibn Abinah, Hafiz bin Muyassarah.

Adapun murid-muridnya adalah : Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb (keponakan), al Lais bin Sa’ad, Abdurrahman bin Mahdi, Abdullah bin Yusuf at Ta’nisi, Ahmad bin Salih al Misri, Yahya bin Yahya an Naisaburi, Ali al Madani, Sa’id bin Ibrahim, Yahya bin Bakir, Ibrahim bin Mundzir, Asbag bin al Faraji, Abu Tahrir bin Sarji, Hirmalah bin Yahya, Qutaibah, Isa bin Himad, Harun bin Ma’ruf, Yahya bin Ma’ruf al Maqburi, Muhammad bin Salamah, Bahri bin Nasir al Khalani, Muhammad bin Abdul Hakim, Yunus bin Abdul A’la, ar Ra’i dan Sulaiman.

Kritik ulama  hadis terhadap beliau :

  1. Abu Thalib : “Hadisnya Shahih, pendengarannya baik tentang hadis, betapa shahih dan kokohnya hadis yang diriwayatkannya. Aku melihat tidak ada keburukan dalam hadisnya”.
  2. Ahmad bin Salih : “Ibn Wahb telah meriwayatkan seratus ribu hadis”.
  3. Ibn Abi Khaisumah : “Ibn Wahb siqah”.
  4. Abu Zar’ah : “Aku telah mendengar Ibn Bakir berkata bahwa Ibn Wahb lebih kuat hafalannya dari Ibn Qasim”.
  5. Ibn Abi Hatim : “Ibn Wahb itu seorang yang salih hadisnya dan sangat jujur dan hadisnya banyak yang shahih”.
  6. Harun bin Abdullah az Zuhri : “ketika masyarakat Madinah berselisih pendapat tentang sesuatu yang diriwayatkan Malik maka mereka menunggu kedatangan Ibn Wahb dan menanyakan masalah itu kepadanya”.
  7. Haris bin Miskin : “Aku melihat ketika Ibn Uyainah berkata bahwa Ibn Wahb adalah Syeikh masyarakat Mesir”. Apa yang diberikannya sangat luar biasa dan aku mengutip darinya, ia dijuluki “Diwanul ilmi“.
  8. Abu Hakim bin Hibban: “Ibn Wahb telah mengumpulkan dan menyusun hadis dari ahli Hijaz dan Mesir serta menghafalkannya”.
  9. Yahya mengumpulkan hadis yang diriwayatkan dari Ibn Wahb dan berkata : “Ia adalah seorang ahli ibadah, Ibn Adi dan Ibn Wahb orang yang siqah, sedangkan hadis yang beredar di Hijaz dan Mesir selalu diriwayatkan dari Ibn Wahb, danmengumpulkannya sebagi sebuah musnad bagi mereka, aku tidak pernah mendapatkan hadis munkar darinya dan ia siqah, siqah”.

Beliau meriwayatkan hadis dari gurunya Hisyam bin Sa’ad dengan menggunakan sigah haddatsana, dan ada pengakuan dari keduanya bahwa telah terjadi pertemuan antara guru dan murid. Dengan demikian sanadnya adalah muttashil.

Hisyam bin Sa’ad

Beliau adalah Hisyam bin Sa’ad Abu ‘Ibad disebut juga Abu Sa’ad al Qurasyi. Beliau wafat tahun 102 H dan tidak disebutkan tahun kelahirannya.

Guru-gurunya antara lain : Zaid bin Aslam, Nafi bin Umar, Amin bin Syu’aib, Abi Zubair, Sa’id al Maqburi, Abi Hazim bin Dinar, Nu’aim bin Muzmar, Usman bin Hiyan ad Dimasyqi, ‘Ata’ al Khurasani, az Zahiri, Yazid bin Na’im bin Hazal. Dan murid-muridnya antar lain : al Lais, as Sauri, Waki’, Ibnu Abu Fadaik, Ibn Wahb, Ibn Mahdi, Abu ‘Amir al Aqadi, Mu’awiyah bin Hisyam, Ja’far bin ‘Aun, Basyar bin Umar az Zahrani, as Sabt bin Muhammad, Abu Na’im al Qu’ni.

Kritik ulama hadis terhadap beliau :

  1. Ibn Abu Khaisumah dan Ibn Mu’in : “Hisyam bukan periwayat hadis matruk”.
  2. Mu’awiyah bin Shaleh : “Hisyam tidak begitu kuat”.
  3. Abu Hatim : “Hadis-hadis beliau ditulis tetapi tidak dapat dijadikan hujjah”.
  4. As Saji : “Ia seorang yang sangat jujur tetapi hafalannya lemah”.

Walaupun ada yang mentarjihkannya, tetapi pendapat tersebut tidak dibarengi argumentasi yang kuat. Beliau meriwayatkan hadis dari Mu’az bin Abdillah dengan menggunakan sigah haddatsani, dan dilihat dari pertemuan keduanya sebagai guru dan murid menunjukkan bahwa mereka pernah bertemu. Maka sanadnya adalah muttashil.

Mu’az bin Abdillah

Beliau adalah Mu’az bin Khubaib al Juhari al Madani. Beliau wafat pada tahun 118 H, sedangkan tahun kelahirannya tidak disebutkan. Beliau termasuk tabaqah ketiga dari para ulama Madinah.

Guru-gurunya antara lain : Abdullah bin Khubaib, Abdullah bin Abdullah bin Khubaib, Uqbah bin Amir al Juhani, Sa’id bin Musayyab, Jabir bin Abdillah, Tabi’ al Hamiri. Murid-muridnya antara lain : Abdullah bin Sulaiman bin Abi Salamah al Aslami,  Zaid bin Aslam, Bakir bin al Asyakhi, Saad bin Said al Ansari, Usaid bin Abi Usaid al Burdi, Sa’id bin Abi Hilal dan Hisyam bin Sa’ad.

Kritik ulama terhadap dirinya :

  1. Usman ad Darimi : “Usman ad Darimi bertanya kepada Ibn Mu’in tentang Mu’az bin Abdullah yang diriwayatkan dari bapaknya maka ia berkata mereka siqah”.
  2. Ibn Hibban : “Mu’az itu siqah”.
  3. Ad Daruqutni : “tidak ada cacat padanya”.
  4. Al Azir : “Siaqah”.

Beliau meriwayatkan hadis dari Imra’ah (mubham) dengan menggunakan sigah qala. Sedangkan pertemuan antara keduanya masih diragukan karena gurunya tidak diketahui identitasnya. Oleh karena itu, sanad hadis ini bisa muttashil dan bisa ghaira muttashil.

Imra’ah

Beliau adalah istri Mu’az bin Abdullah. Para periwayat sepakat mengatakan bahwa ia adalah majhul.

Rajul

Beliau berasal dari negeri Juhainah, namun namanya tidak disebutkan dalam riwayat, dengan demikian periwayat ini juga tergolong periwayat yang majhul.

Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa pada hadis ini ada periwayat yang dijarh karena dinyatakan lemah hafalannya yakni Hisyam bin Sa’ad. Lebih dari itu juga ternyata mata rantai hadis ini terdapat perawi mubham yakni Imraah dan Rajul. Fatkhurrahman berkomentar bahwa hukum hadis majhul adalah Dhaif (Dhaiful isnad). Akan tetapi jika hadis ini mempunyai mutabi’ atau syahid yang tidak sedikit jumlahnya, maka statusnya bisa ditingkatkan menjadi hasan li ghairih.

Hadis ini mengalami keterputusan sanad pada tingkat sahabat dimana perawi tingkat ini tidak diketahui secara jelas identitasnya dan juga nama pada tingkat tabi’in.

KRITIK MATAN

Setelah dilakukan penelitian sanad, maka yang berikutnya adalah meneliti matannya. Adapun langkah-langkah dalam penelitian matan antara lain :

  1. Meneliti matan dengan melihat kualitas sanadnya.
  2. Meneliti susunan matan yang semakna
  3. Meneliti kandungan matan.

Untuk menilai kualitan matan hadis diperlukan tolak ukur tentang keshahihan matan. Menurut al Adlabi, matan dinilai shahih apabila :

  1. Tidak bertentangan dengan petunjuk al Qur’an
  2. Tidak bertentangan dengan hadis yang lebih kuat
  3. Tidak bertentangan dengan akal, indra, dan sejarah
  4. Susunan kalimatnya menunjukkan sabda kenabian

Ibn al Jauzi mengemukakan pernyataannya yang cukup singkat yaitu : setiap hadis yang bertentangan dengan akal atau berlawanan dengan ketentuan pokok agama, maka hadis tersebut adalah hadis palsu.

  • Meneliti matan dengan melihat kualitas sanadnya

Pada pembahasan sebelumnya telah diketahui bahwa ada 2 hadis yang berstatus shahihul isnad, dan yang 1 selebihnya adalah dhaiful isnad. Untuk melengkapi sebuah kajian kritik hadis, maka penulis akan meneliti keshahihan matannya.

  • Meneliti susunan matan yang semakna

Dari segi susunan matan, hadis-hadis ini semuanya semakna yaitu hadis-hadis yang berasal dari riwayat Abu Daud. Keseluruhan hadis ini secara serentak menyebutkan kata-kata سَبْعَ سِنِينَ dan kata-kata عَشْرَ.

Namun ada hadis yang berasal dari riwayat Abu Daud yang matannya berbunyi : إِذَا عَرَفَ يَمِينَهُ مِنْ شِمَالِهِ, akan tetapi pada dasarnya semua menyiratkan satu makna yaitu perintah untuk mendirikan shalat bagi anak-anak.

Demikian juga pernyataan hadis-hadis senada yang terdapat dalam riwayat at Turmuzi, Ahmad bin Hanbal dan ad Darimi. Masing-masing riwayat ada yang menyebutkan  kata-kata سَبْعَ سِنِينَ dan عَشْرٍ yang mengindikasikan batasan usia anak yang dijadikan sasaran didik dalam mendirikan perintah shalat. Dalam riwayat at Turmuzi dan ad Darimi menyebutkan kata-kata ابْنَ عَشْرٍ, sementara dalam riwayat Ahmad bin Hanbal menggunakan redaksi بَلَغَ الْغُلَامُ سَبْعَ سِنِينَ  dan بَلَغَ عَشْرًا.

  • Meneliti kandungan matan

Kandungan makna yang terdapat dalam hadis ini adalah ketentuan tegas (wajib) ditujukan kepada orang tua untuk mengajari anak-anaknya shalat. Adapun yang dimaksudkan dengan mengajarkan salat disini adalah pertama-tama diperkenalkan terlebih dahulu tentang syarat-syarat dan rukun-rukun salat, kemudian menyeru mereka untuk segera melaksanakannya setelah mereka mulai mengerti.

Kewajiban pendidik adalah menumbuhkan pemahaman atas dasar-dasr pendidikan iman dan ajaran Islam sejak masa pertumbuhannya. Sehingga anak akan mempunyai tanggung jawab moral terhadap Islam secara akidah dan ibadah. Hadis tentang perintah salat kepada anak ketika berumur 7 tahun, dan memukulnya ketika berumur 10 tahun mengandung arti bahwa apabila si anak meninggalkan salat, orang tua hendaknya memberi hukuman agar perbuatan itu tidak terulang lagi.

Adapun tehnik yang digunakan untuk membina salat anak usia 6-12 tahun antara lain :

  1. Orang tua memberikan contoh rajin melakukan salat tepat pada waktunya kepada anak.
  2. Selalu mengajak anak-anak melakukan salat setiap hari.
  3. Anak didisiplinkan untuk mengerjakan salat.
  4. Anak selalu diingatkan untuk mengerjakan salat.
  5. Pada usia 10 tahun anak diajarkan pokok-pokok salat.
  6. Mendorong anak mencintai kebajikan.

Metode-metode yang dapat digunakan dalam upaya menanamkan pendidikan agama Islam ke dalam kepribadian anak, antara lain :

  1. Pendidikan melalui pembiasaan
  2. Pendidikan dengan keteladanan
  3. Pendidikan melalui nasehat dan dialog
  4. Pendidikan melalui pemberian penghargaan dan hukuman

Ada beberapa kaidah dalam penggunaan hukuman berupa pukulan, yaitu :

  1. Tidak dipergunakan hukuman ini kecuali jika tidak ada cara lain lagi.
  2. Pendidik tidak boleh memukul ketika dalam keadaan marah sekali.
  3. Tidak memukul pada bagian-bagian yang menyakitkan.
  4. Pukulan pada tahap pertama hukuman tidak keras dan tidak menyakitkan serta tidak boleh lebih dari 3 kali.
  5. Jika kesalahan anak baru pertama kali, beri ia kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.
  6. Hendaklah pendidik sendiri yang memukul anak, jangan menyerahkan kepada orang lain.
  7. Jika anak telah memasuki usia dewasa, maka pendidik boleh menambahkan hukuman agar anak itu jera.

Adapun hikmah dalam mengrjakan salat antara lain :

  1. Ibadah salat mendidik jiwa seseorang untuk belajar taat kepada Allah
  2. Ibadah salat mendidik kita supaya selalu ingat kepada Allah dan menimbulkan rasa takwa.
  3. Salat dapat menempa jiwa seseorang dalam menghadapi segala cobaan dan ujian.
  4. Mengerjakan salat tepat pada waktunya mendidik manusia untuk disiplin dengan waktu.
  5. Salat merupakan benteng pertahanan hidup supaya jangan sampai hidup bergelimpang dalam kemaksiatan dan kemungkaran.

Dari uraian diatas dapatlah diketahui bahwasanya hadis-hadis ini tidak bertentangan dengan Al Qur’an, hadis-hadis lain yang semakna dan nalar akal. Dengan demikian dapat pula dikatakan secara matan bahwa hadis-hadis tersebut adalah shahihul matan.

  • Nilai dan kehujjahan hadis

Secara keseluruhan hadis-hadis ini mempunyai sanad dan matan yang shahih kecuali satu hadis yang dalam mata rantai sanadnya terdapat dua orang perawi yang mubham (majhul) dan juga ada seorang perawi yang hafalannya lemah, yaitu Hisyam bin Sa’ad.

Fatkhurrahman berkomentar bahwa hukum hadis majhul adalah daif, tidak dapat dijadikan hujjah. Akan tetapi kalau hadis-hadis semacam itu mempunyai mutabi‘ dan syahid yang tidak sedikit jumlahnya, maka jenis hadis ini meningkat statusnya menjadi hasan li ghairih. Dalam penelitian hadis ini, memang terdapat tawabi’ dan syawahid yang memperkuatnya. Dapat disebutkan disini adalah bahwa yang menjadi mutabi’ terhadap Hisyam bin Sa’ad adalah Amru bin Syu’aib dan Abdul Malik bin ar Rabi’, sedangkan yang menjadi syawahid atas Imraah adalah ar Rabi’ bin Sabrah dan Syu’aib bin Muhammad, dan atas Rajul adalah Sabrah bin Ma’bad dan Muhammad bin Abdullah bin Amr bin Ash.

Apabila hadis itu benarlah hadis hasan, maka hadis itu dapat diterima hujjahnya (maqbul). Dengan begitu hadis tersebut bisa dianggap sebagai hadis yang ma’mul bih dan dapat dijadikan sebagai hujjah.

ANALISA PENELITIAN

Dari kesekian banyak hadis yang diteliti, hanya satu hadis yang memiliki sanad yang dhaif. Hal itu dikarenakan adanya perawi yang lemah dari segi hafalan, dan ada juga perawi yang tidak jelas identitasnya dari tingkatan sahabat dan tabi’in.

Dalam kitab Jarah wa ta’dil Ibn Abi Hatim dijelaskan pendapat-pendapat dari ulama hadis tentang Hisyam bin Sa’ad, antara lain :  Ahmad bin Hanbal berkata “Bahwa Hisyam belumlah menjadi seorang hafiz (kekuatan hafalannya diragukan)”, Ibnu Mu’in berkata : “Dalam diri Hisyam bin Sa’ad terdapat kelemahan dan Daud bin Qays lebih disukai darinya”, beliau juga berkata “Hisyam itu orangnya shalih dan bukan periwayat hadis matruk”, sedangkan Abu Zar’ah berkomentar “Beliau orangnya jujur, begitu juga dengan Muhammad bin Ishaq, tetapi aku lebih menyukai Hisyam”.

Walaupun banyak ulama yang menjarh beliau dalam periwayatan hadis, tetapi ada juga sebagian ulama yang menta’dilkannya. Beliau juga mempunyai mutabi’ yang memperkuat sanadnya, dan matannya tidak mengandung sesuatu yang bisa menolak keshahihannya. Dengan begitu hadis dari beliau masih bisa diterima dalam mengajarkan anak-anak untuk melakukan salat.

Adapun cara membimbing anak untuk melakukan salat bukanlah hal yang susah. Apalagi anak-anak pada usia balita mempunyai sensitivitas untuk mengikuti apa saja yang dilihatnya. Dengan sering membawanya ke tempat-tempat orang melakukan salat pada usia dini, secara tidak langsung kita mengajarkan anak untuk mempraktekkan sendiri cara-cara salat sesuai dengan apa yang dia lihat dan sesuai dengan kemampuannya sendiri.

Lebih jauh tentang hadis ini dalam persepsi matan untuk mengamalkannya hendaklah melakukan proses integrasi dan interkoneksi dengan ilmu-ilmu lainnya. Baik itu ilmu sosial, psikologi, pendidikan, bahasa, dan ilmu-ilmu lainnya yang bisa membantu dalam melaksakan pengajaran salat agar anak-anak terbiasa untuk bertanggung jawab terhadap dirinya dan Tuhannya.

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian terhadap hadis-hadis tentang mendidik anak kecil untuk melakukan shalat yang diriwayatkan oleh Abu Daud, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

  1. Kualitas Sanad

Hadis-hadis tentang mendidik anak kecil untuk melakukan shalat riwayat Abu Daud ada tiga buah. Diantara ketiga hadis tersebut, dua diantaranya mempunyai sanad yang shahih dan muttashil. Sedangkan hadis yang ketiga mempunyai sanad yang dhaif. Hal ini dikarenakan didalam hadis tersebut terdapat seorang perawi yang lemah hafalannya yaitu Hisyam bin Sa’ad, dan dua orang perawi yang majhul, yaitu dari tingkatan tabi’in bernama Imra’ah (isim mubham) dan pada tingkatan sahabat yang bernama Rajul (isim mubham).

  1. Kualitas Matan

Hadis-hadis tentang mendidik anak kecil untuk melaksanakan shalat ini secara matan – sejauh penelitian yang dilakukan – tidak bertentangan dengan Al Qur’an, hadis-hadis lain yang lebih kuat dan semakna, dan penalaran akal. Jadi secara keseluruhan hadis ini adalah shahih. Kecuali satu hadis yang mempunyai sanad yang dhaif, karena sebagian ulama menilai apabila sanad suatu hadis tidak shahih sanadnya, maka matannya pun gugur keshahihnannya.

  1. Nilai dan kehujjahan Hadis

Dari uraian diatas diatas dapat diketahui bahwa semua hadis ini mempunyai sifat-sifat yang dapat diterima sebagai hujjah dan makbul. Hadis yang dikelompokkan sebagai hadis makbul secara otomatis dianggap sebagi hadis ma’mul bih.

Sumber:

Hadis-hadis tentang mendidik anak kecil untuk mendirikan shalat, Yuli Ratnawati, fakultas Ushuludin IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s