Sebab-sebab Turun Ayat Al-Qur’an

Oleh

Himmatul Ulya

PENDAHULUAN

Semua umat Islam meyakini bahwa al-Qur’an sebagai sumber asasi ajaran Islam, kitab suci yang bertugas memberi arah petunjuk perjalanan hidup manusia dari dunia yang fana menuju akhirat yang baqo’. Dikatakan pula bahwa al-Qur’an merupakan Hudan Lil Muttaqin. Dalam rangka mendapatkan petunjuknya, umat Islam berlomba-lomba menjalankan ajaran Islam ke dalam prilaku hidup manusia di dunia, karena itu dibutuhkan berbagai macam disiplin ilmu guna mengungkap pesan dalam al-Qur’an itu sendiri, dan salah satu disiplin ilmu yang memberikan peran penting dalam upaya menggali dan memahami makna-makna al-Qur’an adalah dengan mengetahui sebab-sebab turunnya al-Qur’an.

Asbabun Nuzul merupakan ilmu yang menunjukkan hubungan dan dialektika antara nash (teks) dengan realitas. Tidak ada bukti yang menyingkap kebenaran sunnatullah itu selain sejarah. Al-Suyuthi menegaskan bahwa seseorang tidak berhak berbicara tentang al-Qur’an tanpa bekal pengetahuan kronologi pewahyuan yang memadai.[1] Pada perkembangannya sejarah merespon manusia untuk memahami al-Qur’an, mulai dari pemahaman awal masa Rasulallah SAW dan terus berkembang  hingga muncul tafsir-tafsir/ ilmu khusus asbabun nuzul seperti Aly ibn al-Madany guru Imam al-Bukhari (324 H) yang dilanjutkan oleh al-Wahidy (468 H) “Asbab Nuzul al-Qur’an”, al-Iraqi (567 H) “Asbab Nuzul wa al-Qasas al-Furqaniyyah”,  Ibnu al-Jauzi (597 H) “Asbab Nuzul al-Qur’an”, al-Ja’bary (732 H) “Asbab al-Nuzul”, al-‘Asqalany (852 H) “al-‘Ujab fi Bayan al-Sabab”, al-Suyuthi (911 H) “Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul”, Ibnu Khulaifah’Ulawi “Jami’ al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul”, Maqbal bin Hadid al Wadi’I “al-Shahih al-Musnad min Asbab al-Nuzu”l.[2] Karena kemajuan dan kemunduran umat Islam tergantung kepada kedekatan dan kekokohan dalam pengejawantahan al-Qur’an.[3]

Metode penafsiran ayat menggunakan asbabun nuzul akan menambah pengetahuan baru dalam memahami al-Qur’an. Sebagaimana al-Wahidi mengatakan bahwa “untuk mengetahui tafsir suatu ayat al-Qur’an tidak mungkin bisa tanpa mengetahui latar belakang peristiwa dan kejadian diturunkannya”. Pendapat lain menyebutkankan bahwa “keterangan tentang sebab turunnya ayat merupakan jalan kuat untuk memahami makna-makna al-Qur’an”, hal ini dikemukakan oleh Ibnu Daqiq al-Ied. Sedang Ibnu Taimiyyah menyebutkan “mengetahui sebab turunnya ayat, menolong sesorang memahami makna ayat, karena mengetahui sebab turunnya itu memberikan dasar untuk mengetahui akibatnya”.[4]

DEFINISI ASBABUN NUZUL

“Asbabun nuzul” merupakan susunan kata yang terdiri dari dua kata, yaitu Asbab dan al-Nuzul. Secara etimologi, “asbab” yang merupakan bentuk plural dari kata “sabab” yang mempunyai arti hakiki yaitu menunjukkan pada suatu yang dengannya dapat dicapai sebuah tujuan dan maksud.[5] Dalam Lisan al-Arab kata sabab berarti saluran, yang artinya dijelaskan sebagai segala sesuatu yang menghubungkannya dengan yang lain (adanya suatu keterkaitan satu sama lain).[6] Jadi arti kata sabab adalah sesuatu yang menghantarkan kepada perkataan atau jawaban.[7] Kedua, kata “nuzul” yang merupakan masdar dari kata “nazala” yang memiliki arti meluncur dari atas ke bawah, turun.[8]

Secara terminologi para ulama salaf dan modern berbeda dalam mendefinisikan asbabun nuzul diantaranya:

  1. Menurut al-Zarqani

Asbabun Nuzul adalah peristiwa atau kejadian yang menyebabkan turunnya satu ayat atau beberapa ayat al-Qur’an yang berfungsi sebagai penjelas hukum pada saat peristiwa itu terjadi.[9]

  1. Al-Shabuni

Asbabun Nuzul adalah peristiwa atau kejadian yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat al-Qur’an yang berhubungan dengan peristiwa tersebut baik berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi Muhammad atau kejadian yang berkaiatan dengan urusan agama.[10]

  1. Subhi Shalih

Asbabun Nuzul adalah sesuatu yang menjadi sebab turunnya satu atau beberapa ayat al-Qur’an yang terkadang menyiratkan suatu peristiwa sebagai respon atasnya atau sebagai penjelas terhadap hukum-hukum ketika peristiwa itu terjadi.[11]

  1. Mana’ al-Qathan

Asbabun Nuzul adalah peristiwa yang menyebabkan turunnya al-Qur’an berkenaan dengan waktu peristiwa itu terjadi baik berupa kejadian atau berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi.[12]

  1. Fahd bin Abdurrahman ar-Rumi

Asbabun Nuzul adalah peristiwa yang melatarbelakangi pada saat turunnya al-Qur’an.[13]

  1. Nurcholis Madjid

Menyatakan bahwa Asbabun Nuzul adalah sebuah konsep, teori atau berita tentang adanya sebab-sebab turunnya wahyu tertentu dari al-Qur’an kepada nabi Muhammad baik berupa satu ayat, satu rangkaian ayat, maupun satu surat.[14]

  1. Salim Muhammad

Asbabun Nuzul adalah pertanyaan, permintaan, keterangan, penjelasan, kejadian, peristiwa yang karenanya al-Qur’an diturunkan sebagai jawaban, penjelasan berdasarkan ketetapan Allah.[15]

Kendatipun redaksi pendefinisian Asbabun Nuzul bermacam-macam, bisa disimpulkan bahwa Asbabun Nuzul adalah suatu kejadian atau peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat atau beberapa ayat al-Qur’an dalam rangka menjawab dan menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dari suatu peristiwa yang terjadi pada masa Nabi SAW. Definisi ini memberikan pengertian bahwa sebab turunnya suatu ayat adakalanya berbentuk peristiwa dan adakalanya berbentuk pertanyaan.

Sebab turun ayat dalam bentuk peristiwa ada tiga macam, yaitu:[16]

  1. Disebabkan peristiwa pertengkaran. Contoh peristiwa ini adalah perselisihan yang berkecamuk antara suku Aus dengan suku Khazraj. Perselisihan tersebut muncul dari intrik-intrik yang dihembuskan oleh kelompok Yahudi sehingga mereka berteriak “senjata! Senjata” (perang! Perang!). Peristiwa ini menyebabkan turunnya suarat Ali Imran ayat 100 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ

“ Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi kafir.”

            Ayat tersebut dilanjutkan sampai beberapa ayat sesudahnya. Hal ini merupakan cara terbaik untuk menjauhkan orang dari perselisihan dan merangsang orang untuk berkasih sayang satu dengan yang lainnya, memiliki rasa persaudaraan yang tinggi dan kekompakan atau kesepakatan yang kuat.

  1. Disebabkan peristiwa kesalahan yang serius. Contoh, seorang menjadi Imam dalam shalat dan dalam keadaan mabuk, sehingga menjadikannya salah dalam membaca surat al-Kafirun. Imam tersebut tidak mengucapkan “لا” dalam bacaannya. Peristiwa ini menyebabkan turunnya surat an-Nisa ayat 43 yang melarang mengerjakan shalat ketika mabuk.

…يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghampiri (mengerjaka) shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan…”

  1. Disebabkan adanya cita-cita atau keinginan. Contoh, sejarah mencatat ada beberapa ucapan yang ingin disampaikan sahabat, seperti Umar bin al-Khattab, tetapi dia tidak berani mengucapkannya, kemudian turunlah ayat yang diinginkan Umar bin al-Khattab dalam surat al-Mukminun ayat 14:

فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ…

“… Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.”

 

Selanjutnya, Sebab turun ayat dalam bentuk pertanyaan ada tiga macam, yaitu:[17]

  1. Pertanyaan yang berhubungan dengan sesuatu yang telah lalu, seperti dalam surat al-Kahfi ayat 83:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ ذِي الْقَرْنَيْنِ قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُمْ مِنْهُ ذِكْرًا

Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah: “Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya”.

  1. Pertanyaan yang berhubungan dengan sesuatu yang sedang berlangsung pada saat itu, seperti dalam surat al-Isra’ ayat 85:

šوَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.

  1. Pertanyaan yang berhubungan dengan sesuatu di masa mendatang, seperti dalam surat an-Nazi’at ayat 42:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا

            (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan, kapankah terjadinya?

  

MACAM-MACAM ASBABUN NUZUL

Pembahasan mengenai Asbabun Nuzul harus lebih dipahami lebih dulu seperti apa cakupan dari Asbabun Nuzul itu sendiri. Bila ditilik kembali, Asbabun Nuzul ada dua macam yaitu, 1) turunnya didahului sebab tertentu, 2) tidak didahului sebab tertentu.[18] Untuk memahami al-Qur’an tidak selalu mempelajari situasi dan masalah lokal saat itu sebagai latar belakang turunnya al-Qur’an, tetapi juga harus memahami situasi dan kondisi masyarakat secara keseluruhan ketika al-Qur’an diturunkan, yang kini kita sebut dengan Asbabun Nuzul terbagi dua yaitu Mikro dan Makro.

Yang dimaksud dengan Asbabun Nuzul Mikro adalah ilmu yang mengelaborasi hubungan antara suatu ayat al-Qur’an dengan peristiwa yang melatarbelakanginya. Pemahaman dalam metode yang dikembangkan ulama salaf ini berimplikasi pada keharusan adanya Asbabun Nuzul yang tersebut dalam al-Qur’an, sehingga hal-hal yang tidak disinggung dalam al-Qur’an tidak bisa disebut sebagai Asbabun Nuzul.[19] Konsekuensi yang muncul adalah banyak ayat al-Qur’an yang tidak bisa dipahami maksudnya karena tidak adanya Asbabun Nuzul. Konsep ini hanya menerima periwayatan yang shahih dan tidak mengenal bentuk ijtihad. Para mufassir yang menggunakan konsep ini diantaranya, al-Zarkasyi, al-Suyuthi dan al-Zarqani.

Sedang Asbabun Nuzul Makro diperkenalkan pertama kali oleh Imam al-Syatibi dalam kitabnya al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari’ah yang mendefinisikan Asbabun Nuzul sebagai situasi dan kondisi yang melingkupi orang yang bicara, orang yang diajak bicara dan pembicaraannya. Sebab, suatu peristiwa tertentu lahir dari realitas sosial tertentu. Setiap peristiwa selalu merupakan akibat dari fungsi realitas.[20] Ide ini dikembangkan oleh Syekh al-Dahlawi yang menganggap bahwasanya usaha para ulama dalam mengumpulkan riwayat Asbabun Nuzul adalah mengada-ada. Yang dimaksud dengan asbabun nuzul makro adalah latar belakang sosio-historis masyarakat Arab secara keseluruhan, yaitu memahami situasi makro dalam kondisi Arab pra Islam dan ketika datang Islam.[21] Jelasnya, metode Makro ini tidak hanya membahas bagian-bagian individual al-Qur’an saja, tetapi juga terhadap al-Qur’an secara keseluruhan dengan latar belakang paganisme Mekkah. Dengan konsep ini maka akan menghasilkan pemahaman secara menyeluruh tentang pesan al-Qur’an. Konsep ini secara detail dapat dielaborasi dengan pemikiran Fazlurrahman dengan Double Movementnya. Langkah pertama, dimulai dengan mengkaji situasi atau problem historis dimana teks al-Qur’an tersebut merupakan jawabannya. Termasuk dalam langkah ini mengkaji situasi makro dalam masyarakat, adat istiadat, lembaga-lembaga, termasuk kehidupan bangsa Arab secara keseluruhan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui prinsip-prinsip umum dalam al-Qur’an. Langkah kedua, berangkat dari prinsip-prinsip umum tersebut harus ada gerakan kembali ke kasus-kasus yang dihadapi sekarang, tentunya dengan mempertimbangkan kondisi sosial saat ini.

Penerapan Asbabun Nuzul yang sangat terbatas dikalangan ulama ini menimbulkan kesan yang ambigu, yakni disatu sisi kegunaannya diakui mayoritas ulama, disisi lain penerapannya terkesan sangat kasuistik. Minimnya peran Asbabun Nuzul dalam penafisran al-Qur’an disebabkan karena Asbabun Nuzul lebih dipahami dalam konsep Mikro, sehingga ruang lingkup pembahasannya sangatlah terbatas. Dan paradigam para ulama mengenai al-ibrah bi umumi al-lafdzi laa bi khusisi al-sabab. Berbeda jika kita menggunakan konsep Mikro dan Makro secara bersamaan maka akan menghasilkan pemahaman yang menyeluruh.

 

CARA MENGETAHUI ASBABUN NUZUL

Al-Qur’an merupakan respon atas situasi saat ayat tersebut turun. Sebab-sebab turunnya suatu ayat dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: Pertama, al-Qur’an diturunkan berkaitan dengan suatu peristiwa tertentu. Kedua, al-Qur’an diturunkan ketika nabi SAW ditanya mengenai suatu masalah. Pengetahuan Asbabun Nuzul dapat diketahui dengan cara merujuk pada suatu periwayatan yang shahih atau dengan berijtihad.

  1. Periwayatan

Adanya sebab turunnya al-Qur’an adalah suatu peristiwa sejarah yang terjadi pada masa Nabi SAW, oleh karena itu untuk mengetahui Asbabun Nuzul tidak bisa hanya dengan rasio, akan tetapi harus dengan riwayat yang shahih dan didengar langsung dari orang-orang yang mengetahui sebab turunnya al-Qur’an atau dari orang yang memahami Asbabun Nuzul secara mendalam, lalu mereka menelitinya dengan cermat, baik dari kalangan sahabat/ tabi’in/ lainnya dengan catatan pengetahuan mereka diperoleh dari para ulama yang dapat dipercaya.[22]

Jika diriwayatkan oleh sahabat maka riwayatnya shahih dan dihukumi Marfu’. Seperti yang dikatakan al-Wahidy “Mengenai asbabun nuzul tidak boleh seseorang mengatakan sesuatu selain riwayat atau berita hadis yang didengar dari mereka yang mengalami masa turunnya ayat-ayat al-Qur’an, memperhatikan sebab-sebabnya dan berusaha keras mencari pengertiannya”.[23]

Dan jika diriwayatkan berdasarkan hadis mursal[24] maka riwayatnya tidak diterima, kecuali apabila diperkuat oleh hadis mursal yang lain yang rawinya belajar dari sahabat, seperti Mujahid, Ikrimah, Said bin Zubair, ‘Atho’, Hasan al-Basri, Sa’id al-Musayyab, adh- Dhahhak.[25] Dengan demikian para ulama menetapkan bahwa tidak ada jalan untuk mengetahui asbabun nuzul kecuali dengan riwayat yang shahih. Mereka tidak dapat menerima hasil nalar atau ijtihad  dalam masalah ini.

Ada dua alasan yang menyebabkan orang meragukan hadis tentang asbabun nuzul. Pertama, gaya kebanyakan perawi tidak meriwayatkan asbabun nuzul, tetapi  meriwayatkan suatu kisah dan menghubungkannya dengan ayat-ayat al-Qur’an dan bukan atas dasar pengalaman atau pengamatan. Kedua, pelarangan periwayatan hadis berlangsung sampai abad pertama hijriyah mengakibatkan periwayatan secara maknawi kemungkinan mengalami perubahan.[26]

Apabila riwayat yang menjelaskan asbabun nuzul lebih dari satu, maka timbul 4 kemungkinan (menurut al-Zarqani).

  • Satu diantaranya shahih, apabila ada dua riwayat, pertama menggunakan redaksi yang jelas, sedang yang satunya menggunakan redaksi yang merupakan istinbath, maka yang diambil adalah yang lebih valid periwayatannya (yang menggunakan redaksi yang jelas)
  • Keduanya shahih tetapi yang satu punya dalil penguat sementara yang satunya tidak, maka yang diambil adalah yang pertama.
  • Keduanya shahih dan sama-sama tidak dikuatkan oleh dalil lain, tetapi keduanya memungkinkan untuk dikompromikan, maka ayat tersebut mempunyai dua asbabun nuzul.
  • Keduanya shahih, tetapi tidak ditemukan dalil yang menguatkan dan juga tidak dapat dikompromikan, maka jalan keluarnya adalah ayat tersebut turun dua kali dengan latar belakang yang berbeda.[27]

Beberapa redaksi/ sighat yang digunakan para sahabat ini dalam meriwayatkan asbabun nuzul suatu ayat ada yang berupa lafadz yang jelas menunjukkan asbabun nuzul, ada pula yang berupa indikasi.

  • Redaksi yang jelas, apabila seorang rawi menggunakan lafadz سبب نزول الآية كذا, artinya tidak mengandung kemungkinan-kemungkinan makna lain.
  • Menggunakan huruf “ف” yang diletakkan pada ayat setelah suatu peristiwa diceritakan حدث هذا … فنزلت الآية, رسول الله عن كذا … فنزلت الآية سئل.
  • Dilihat melalui konteks dan jalan cerita suatu riwayat. Biasanya berupa jawaban atas suatu pertanyaan.
  • Redaksi yang berupa asumsi atau indikasi asbabun nuzul. Apabila seorang rawi berkata نزلت هذه الآية في كذا , أحسب هذه الآية في كذا. Redaksi ini belum bisa dipastikan untuk menunjukkan Asbabun Nuzul.[28] Menurut al-Zarkasyi, penyebutan redaksi ini telah dimaklumi dari kebiasaan para sahabat dan tabiin jika salah satu mereka berkata “ayat ini turun tentang demikian, maka sesungguhnya ia maksudkan ayat ini mengandung hukum ini, dan ini bukan sebab bagi turunnya ayat tersebut”.[29] Namun menurut al-Zarqani, satu-satunya cara untuk menentukan salah satu dari dua makna yang terkandung dalam ungkapan itu adalah konteks pembicaraanya.[30]

  1. Ijtihad

Pendapat para ulama yang tidak setuju akan adanya ijtihad tidak selamanya diterima secara mutlak. Jika ditilik kekinian dan lebih dikritisi lagi, sebagian ulama masih bisa menemukan celah sebagai jalan ijtihad dalam masalah Asbabun Nuzul meski masih dalam lingkup yang terbatas. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa banyak riwayat yang kadang bertentangan dengan riwayat lainnya hingga diperlukan tarjih (mengambil riwayat yang lebih kuat). Untuk melakukan pentarjihan ini diperlukan analisis dan ijtihad.[31]

Cara mengetahui asbabun nuzul dengan ijtihad dilakukan dengan bersandar pada sejumlah unsur dan tanda-tanda internal atau eksternal dalam suatu ayat, karena asbabun nuzul hanyalah konteks sosial suatu ayat sehingga sebab-sebab turunnya ayat dapat dicari dalam ataupun luar teks.

Ijtihad sebagai cara mengetahui asbabun nuzul telah dilakukan oleh Imam al-Syafi’I, seorang tabi’ tabi’in, dalam menjelaskan asbabun nuzul Qs. Al-An’am yang secara lahiriah menyebutkan makanan yang diharamkan Allah adalah bangkai, darah yang mengalir, daging babi dan hewan yang disembelih tidak karena Allah. Ayat ini menurut Imam Syafi’I bukan merupakan pembatasan sesuatu yang diharamkan Allah sebagaimana pendapat Imam Malik, tetapi ayat ini turun berkaitan dengan situasi orang-orang kafir yang mengharamkan apa yang dihalalkan dan menghalalkan apa yang diharamkan. Pendapat Imam Syafi’I juga didasarkan pada urutan turunnya ayat dalam pelarangan khusus soal makanan adalah sebagai berikut: QS. Al-An’am 145, QS, an-Nahl 115-116, QS al-Baqarah 172-173, kemudian Qs. Al-Maidah 4. Ayat yang membatasi makanan yang haram adalah ayat yang terakhir, yaitu QS. Al-Maidah 4.[32]

 

HUBUNGAN ASBABUN NUZUL DENGAN PENERAPAN HUKUM YANG TERKADUNG DALAM SUATU AYAT

Ada dua pendapat yang mendasari tentang hubungan asbabun nuzul dengan penerapan hukum yang terkandung dalam suatu ayat al-Qur’an, yaitu:

  1. Dengan didasari kaidah العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب, kandungan ayat dengan asbabun nuzul tertentu tidak hanya berlaku pada kasus yang menjadi asbabun nuzul. Sebagai contoh dalam peristiwa Hilal bin Umayyah yang menuduh istrinya berzina. Kemudian turun surat an-Nur ayat 6:

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلَّا أَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ

“dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), Padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, Maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, Sesungguhnya Dia adalah Termasuk orang-orang yang benar”.

Sangat jelas bahwa sebab turunnya ayat ini bersifat khusus, yaitu tuduhan Hilal terhadap istrinya. Akan tetapi dalam nash menggunakan lafadz yang umum الذين  adalah isim maushul untuk bentuk jama’. Ayat ini menjelaskan hukum mula’anah tanpa takhshish atau pengecualian. Dengan keumumannya, hukum dalam ayat ini berlaku untuk Hilal bin Umayyah (sebagai orang yang menjadi sebab turunnya ayat) dan bagi orang-orang yang menuduh istrinya berzina serta tidak dapat menghadirkan saksi-saksi atas tuduhan tersebut.

      Dalam menerapkan ayat ini untuk selain Hilal tidak diperlukan dalil lain, qiyas misalnya. Dilihat dari keumuman lafadz nashnya  jelas jika memang peristiwa yang terjadi dikemudian hari sama seperti yang dilakukan Hilal terhadap istrinya, maka tidak diperlukan adanya ijtihad.

Metode ini membuka peluang untuk menggeneralisasi pesan ayat ke dalam realitas dan peristiwa yang berbeda dengan realitas yang melatarbelakangi turunnya.[33]

  1. Dengan didasari kaidahبخصوص السبب لا بعموم اللفظ العبرة, kandungan ayat dengan asbabun nuzul tertentu atau khusus hanya berlaku pada kasus yang menjadi sebab turunnya ayat itu (lafadz ayat terbatas pada peristiwa yang mana lafadz itu turun karenanya). Adapun jika terjadi suatu hal yang serupa dengan peristiwa itu, maka hukumnya tidak dapat diketahui dari nash ayat tersebut, melainkan dari dalil lain yang berupa qiyas.

Dengan demikian, ayat qadzf (penuduhan zina terhadap istri) atas sebab peristiwa Hilal dengan istrinya hanya berlaku khusus untuknya. Adapun jika terjadi kasus serupa pada masa setelahnya, maka cara untuk menghukuminya dengan jalur qiyas. Seperti sabda Nabi:

حكمي على الواحد حكمي على الجماعة

            “hukumku atas seseorang adalah hukumku atas orang banyak”.

Uraian dua penndapat diatas menunjukkan perbedaan yang jelas. Pendapat pertama yakni pendapat mayoritas berpegang pada keumuman lafadz/ nash, sedang pendapat kedua, pendapat minoritas berpegang pada kekhususan sebab.[34]

Atau dalam contoh lain, Misalnya seperti dalam surat al-Lail 17-21:

وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى (17) الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى (18) وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى (19) إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى (20) وَلَسَوْفَ يَرْضَى 21

“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha tinggi Dan kelak Dia benar-benar mendapat kepuasan.”

Menurut riwayat yang bersumber dari Urwah bin… menyatakan, bahwa Abu Bakar ash-Shidiq telah memerdekakan 7 orang hamba sahaya yang disiksa karena menegakkan ajaran Islam maka turunlah ayat tersebut. Dapat diapahami bahwa menurut asbabun nuzul ayat tersebut ditujukan untuk Abu Bakar. Pendapat ini disetujui oleh jumhur ulama. Al-Wahidi menyatakan bahwa ketaqwaan Abu Bakar diakui semua mufassir.[35]

Beberapa argument yang dilontarkan mereka yang menggunakan al-ibrah dengan sebab khusus (minoritas), yaitu:

  1. Seandainya yang dimaksudkan bukan menerangkan sebab suatu hokum namun menerangkan hokum umum maka penjelasannya tidak perlu ditunda sampai terjadinya suatu peristiwa.
  2. Apabila ibrah berlaku umum maka boleh meriwayatkan asbabun nuzul dengan ijtihad.
  3. Apabila asbabun nuzul itu tidak berpengaruh kepada aspek hokum, maka seorang rawi tidak akan pernah meriwayatkannya.
  4. Apabila sebuah soal itu khusus sedang jawabannya umum maka tidak cocok dengan soal. Seharusnya ada keserasian antara keduanya.

Jawaban atas argument diatas oleh mereka yang menggunakan al-ibrah dengan keumuman lafadz (mayoritas), yaitu:

  1. Sesungguhnya ayat-ayat al-Qur’an turun menurut ketentuan, tujuan dan hikmah Allah SWT.
  2. Dalam kenyataannya tidak ada pertentangan dalam posisi sabab nuzul itu menjadi penjelas dalam proses sebuah hokum. Maka seyogyanya mengambil ibrah dengan keumuman lafadz melalui proses ijtihad.
  3. Salah satu faedah periwayatan asbabun nuzul adalah untuk dijadikan dasar dalam proses ijtihad, bukan malah menghalangi proses ijtihad.
  4. Kalaulah yang dimaksudkan adalah ahrus ada kesesuaian antara jawaban dan soal, maka sebenarnya sudah sesuai. Namun jika dimaksudkan adalah ajwaban soal dibatasi dan tidak menerangkan perkara yang sesuai, itupun tidak terima, karena kenyataannya jawaban dimaksud sering merupakan kesatuan tema.[36]

Bukan menjadi persoalan yang besar jika keduanya memperkuat argumennya atas pendapatnya masing-masing, Yang perlu diingat, pertama, perbedaan pendapat ini hanya berlaku pada lafadz umum yang qarinahnya (konteks) tidak menunjukkan takhshish (pengkhususan) dengan sebab terkait. Akan tetapi jika qarinahnya menunjuk pada pengkhususan, maka hukumnya terbatas pada sebabnya saja berdasarkan ijma ulama (contoh pendapat kedua nomer 2).[37] Kedua, hukum nash yang umum dan turun atas sebab tertentu, menurut pendapat mayoritas, hukum tersebut menjangkau siapapun yang serupa akan peristiwanya, sedang menurut pendapat minoritas, hokum itu tidak bisa berlaku untuk mereka, kecuali dengan melalui qiyas (analogi) atau dengan nash lain.[38]

Yang menjadi permasalahan adalah bagaiaman cara memeberlakukan suatu hukum atas mereka yang mengalami hal serupa dengan latar belakang sebab yang sama. Singkatnya, pendapat mayoritas menerapkan hukum secara langsung, sedang minoritas tidak secara langsung, yakni dengan melalui jalur qiyas.

Menurut ahli tafsir Indonesia, Dr. M. Quraisy Syihab, ia lebih cenderung sependapat dengan pendapat minoritas, karena baginya kaidah ini lebih mendukung perkembangan tafsir. Ia menjelaskan bahwasanya setiap Asbabun Nuzul memiliki 3 unsur, peristiwa, pelaku, dan waktu. Akan tetapi selama ini para ahli tafsir seringkali lebih menekankan pada peristiwanya dan mengabaikan waktu dan pelakunya. Maka dari itu untuk menarik kesimpulan dari ayat yang memiliki latar belakang asbabun nuzul, pendapat minoritas ini memerlukan qiyas.[39]

Pemahaman yang dikemukakan oleh Quraisy Syihab sejalan dengan pendekatan sosio-historis dalam kajian keislaman. Kaidah ini memberi banyak peluang kepada mufassir untuk mendapatkan interpretasi al-Qur’an yang sesuai dengan perkembangan zaman ketimbang kaidah yang dianut oleh mayoritas. Akan tetapi penerapan kaidah ini tak semudah penerapan kaidah mayoritas. Karena kondisi masayarakat saat berlangsungnya asbabun nuzul tidak sama dengan kondisi zaman sekarang, mengingat waktu sebagai salah satu unsur asbabun nuzul yang harus diperhitungkan dan menyebabkan penawaran tafsir yang banyak. Karena itu, mayoritas ulama sampai saat ini masih berpegang pada al-Ibrah bi Umum al-Lafdzi laa bi Khusus al-Sabab, sedang untuk menghadapi dan mengikuti perkembangan zaman, mereka menganut kaidah al-Hukmu Yaduru ma’a al-‘Illat dan menggunakan metode istinbath al-Mashalih al-Mursalah.[40]

 

FAEDAH MENGETAHUI ASBABUN NUZUL

Pengetahuan terhadap asbabun nuzul bukan hanya merupakan suatu observasi historis yang melatarbelakangi turunnya nash al-Qur’an, namun tujuan yang terpenting adalah untuk membantu memahami al-Qur’an dann medapatkan petunjuk al-Qur’an. Hal ini tentu tidak sesuai dengan apa yang telah diklaim oleh sebagian orang yang mengatakan tidak ada faedahnya mengetahui asbabun nuzul yang tidak lebih hanya berupa sejarah yang telah lalu. Padahal mempelajari Asbabun Nuzul memiliki beberapa faedah, diantaranya:[41]

  1. Membantu mengetahui rahasia dan tujuan Allah yang melatarbelakangi disyariatkannya suatu hukum melalui al-Qur’an.
  2. Membantu memudahkan pemahaman terhadap ayat-ayat al-Qur’an dan menghindarkan kesulitan.
  3. Menolak dugaan adanya hashr (pembatasan) dalam suatu ayat yang menurut lahirnya mengandung hashr.
  4. Menghindari salah duga pemahaman sebuah ayat yang datang setelahnya ayat mutakhashishnya.
  5. Penentuan/ pengkhususan hukum terhadap ayat yang menggunakan redaksi umum. Hal ini bagi mereka yang berpegang teguh pada kaidah al-ibrah bi khusus al-sabab laa bi umum al-lafdzi.
  6. Menjelaskan terhadap siapa ayat tersebut ditujukan sehingga tidak terjadi spekulasi.
  7. Mempermudah orang menghafal al-Qur’an serta memperkuat keberadaan wahyu dalam ingatan orang yang mendengarnya jika ia mengetahui sebab turunnya.

 

PENUTUP

Dari uraian mengenai Asbanun Nuzul di atas, Asbabun Nuzul merupakan bagian penting dalam upaya untuk lebih memahami apa yang ingin disampaikan al-Qur’an dan sebagai salah satu kajian Ulumul Qur’an yang lebih objektif dan kontekstual. Karena al-Quran tidak bisa dipahami tanpa terlebih dahulu mengetahui sebab turunnya ayat tersebut.

Perdebatan mengenai al-Ibrah bi umumi al-lafdzi laa bi khususi al-sabab sebenarnya tidak perlu dipersoalkan, karena masing-masing mempunyai konteks yang berbeda dan menempati porsinya sendiri secara tepat. Al-ibrah bi umumi al-lafdzi tidak bisa digunakan dengan sempurna dalam seluruh ayat al-Qur’an, begitu juga dengan kaidah al-ibrah  bi khususi al-sabab. Karena menyamakan kasus yang berbeda itu tidak bisa kecuali dengan jalan Qiyas.

Sampai saat ini para ulama masih berpegang pada pendapat mayoritas, meski pada faktanya sekarang kaidah minoritas diakui lebih bisa mengikuti perkembangan zaman meski agak susah dalam menerapkannya. Yang jelas, menurut hemat penulis, menerapkan suatu hokum kepada orang yang satu dengan yang lain bisa saja berbeda, karena harus dilihat berdasarkan konteksnya (kondisi sekitarnya) dan pastinya tidak menyimpang dari apa yang terkandung dalam al-Quran.

Karena itu, diperlukan pemahaman asbabun nuzul secara mendalam dalam memahami makna ayat, selain mengetahui Asbabun Nuzul Mikro harus pula diperhatikan Asbabun Nuzul Makro karena keduanya saling berhubungan sehingga menjadi suatu pemahaman yang benar-benar jelas dan agar tercapainya al-Qur’an yang shalihun likulli zaman wa makan.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Wahid, Ramli. Ulumul Qur’an. Jakarta: Rajawali, 1993.

Abdullah, Mawardi. Ulumul Qur’an. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011.

al-Qathan, Mana’. Pembahasan Ilmu al-Qur’an. Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2001.

Al-Shalih, Subhi. Membahas Ilmu-Ilmu al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001.

Al-Suyuthi, Jalaluddin, Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul

Al-Suyuthi, Jalaluddin. al-Itqan fi Ulumi al-Qur’an. Beirut: Dar al-Fikr, 199.9

Al-Zarqani, Manahil al-‘Irfan fi Ulum al-Qur’an. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah

Ar Rumi, Fahd bin Abdurrahman. Ulumul Qur’an. Yogyakarta: Titian Ilahi, 1996.

Ash Shabuni, M. Aly. Pengantar Studi Al-Qur’an. Bandung: PT. al-Ma’arif, 1996.

Daud, M. Ali. Ulum al-Qur’an wa al-Hadis, Oman: Dar al-Basyir, 1984.

http://www.badilag.net/data/ARTIKEL/Peran%20Asbab%20an-Nuzul%20Makro.pdf

  1. Ahmadehijrin, Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an. Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Primayasa, 1998.
  2. H. Thabathabai, Allamah , Mengungkap Rahasia Al-Qur’an (terj. A. Malik Madany dan Hamim Ilyas) Bandung: Mizan, 1992.

Ma’luf, Louis. al-Munjid fi al-Lughoh wa al-‘Alam. Beirut: Dar al-Masyrik, 1986

Mandhur, Ibnu. Lisan al-Arab. Beirut: Muassasat al-Tarikh al-Arabi, 1999

Muhammad, Salim. Asbab al-Nuzul Baina al-Fikr almani wa al-Fikr al-‘Ilmani . Kairo: Dar al-Maktabah al-Misriyyah, 1996.

Nawar, Abu. Ulumul Qur’an . Pekanbaru: Amzah, 2009.

Wijaya, Aksin. Arah Baru Studi Ulum al-Qur’an .Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.

[1] Jalaluddin al-Suyuthi, al-Itqan fi Ulumi al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Fikr, 1999), hal. 41.

[2] Fahd bin Abdurrahman ar-Rumi, Ulumul Qur’an, (Yogyakarta: Titian Ilahi, 1996), hal. 180, lihat juga M. Ali Daud, Ulum al-Qur’an wa al-Hadis, (Oman: Dar al-Basyir, 1984), hal. 45.

[3] Mawardi Abdullah, Ulumul Qur’an, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011) hal. 51.

[4] Al-Suyuthi, Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul , hal. 7.

[5]Salim Muhammad, Asbab al-Nuzul Baina al-Fikr almani wa al-Fikr al-‘ilmani, (Kairo: Dar al-Maktabah al-Misriyyah, 1996), hal. 9.

[6] Ibn Mandhur, Lisan al-Arab, (Beirut: Muassasat al-Tarikh al-Arabi, 1999), jilid. VI, hal. 127.

[7] Salim Muhammad, Asbab al-Nuzul …. Hal. 26.

[8] Louis Ma’luf, al-Munjid fi al-Lughoh wa al-‘Alam, ( Beirut: Dar al-Masyrik, 1986), hal. 802, Ibn Mandhur, Lisan al-Arab, jilid. XI, hal. 783.

[9] Al-Zarqani, Manahil al-‘Irfan fi Ulumi al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah), jilid.I, hal. 108.

[10] M. Aly Ash Shabuni, Pengantar Studi Al-Qur’an (Bandung: PT. al-Ma’arif, 1996) hal 45

[11] Subhi al-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu al-Qur’an (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001) hal. 160

[12] Mana’ al-Qathan, Pembahasan Ilmu al-Qur’an ( Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2007) hal. 95

[13] Fahd bin Abdurrahman ar-Rumi, UlumulQur’an…hal.181

[14] M. Ahmadehijrin, Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an (Yogyakarta: PT. dana Bhakti Primayasa, 1998) hal.30

[15] Salim Muhammad, Asbab al-Nuzul… hal. 32

[16] Abu Nawar, Ulumul Qur’an (Pekanbaru: Amzah, 2009) hal.30-31

[17] Ramli Abdul Wahid, Ulumul Qur’an, (Jakarta: Rajawali Pers, 1993), hal. 32.

[18] Al-Zarqani, Manahil al-‘Irfan fi Ulumi al-Qur’an , hal. 107

[19] Ahsan Dawi, “Peran Asbab an-Nuzul Makro Dalam Pembentukan Hukum Islam” hal. 3 http://www.badilag.net/data/ARTIKEL/Peran%20Asbab%20an-Nuzul%20Makro.pdf diakses tanggal 26 November 2012, pukul 08.15 WIB

[20] Aksin Wijaya, Arah Baru Studi Ulum al-Qur’an (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009) hal. 141

[21] Ahsan Dawi, “Peran …” hal. 3

[22] M. Aly Ash Shabuny, Pengantar Studi Al-Qur’an,  hal. 46

[23] Al-Suyuthi, Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul….hal.

[24] Hadis mursal adalah hadis yang gugur dari sanadnya seorang sahabat dan mata rantai periwayatannya hanya samapai pada seorang tabi’in.

[25] M. Ali Daud, Ulum al-Qur’an wa al-Hadis, hal. 46

[26] Allamah M. H. Thabathabai, Mengungkap Rahasia Al-Qur’an, alih bahasa A. malik Madany dan Hamim Ilyas (Bandung: MIzan, 1992) hal. 121

[27] Al-Zarqani, Manahil al-‘Irfan fi Ulumi al-Qur’an, hal. 170-120.

[28] Abu Anwar, Ulumul Qur’an, hal. 31-32

[29] Lihat Muhammad Ibn Abdillah al-Zarkasyi dalam al-Burhan fi Ulum al-Qur’an….Kairo, 1972, 31-32

[30] Lihat Muhammad Abd al-Adzim al-Zarqani dalam Manahil al-Irfan fi Ulum al-Qur’an…Beirut, 1988, 114-115

[31] Ramli Abdul Wahid, Ulumul Qur’an, (Jakarta: Rajawali, 1993), hal. 37.

[32] Ahsan Dawi, Peran… hal. 11

[33] Aksin Wijaya, Arah Baru Studi Ulum al-Qur’an (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009) hal. 141

[34] Ramli Abdul Wahid, Ulumul Qur’an, hal. 71

[35] Abu Anwar, Ulumul Qur’an, hal 44

[36] Mawardi Abdullah, Ulumul Qur’an, hal.63-65.

[37] Ramli Abdul Wahid, Ulumul Qur’an, hal. 71-72.

[38] Ibid., hal. 72.

[39] Ibid., hal. 78.

[40] Ramli Abdul Wahid, Ulumul Qur’an, hal. 79

[41] Al-Zarqani, Manahil al-‘Irfan fi Ulumi al-Qur’an, hal. 110-114

2 responses to “Sebab-sebab Turun Ayat Al-Qur’an

  1. Assalamu’alaikum, kaka?? Maaf sebelumnya,, Aku izin lihat, baca, nyatet, ngga smuanya ko ka, hnya beberapa(yang inti”nya saja), soalnya dosen memberi tugas merangkum tapi di dlm rangkuman tsbt hnya di buatnya 3 Paragraf dan kebetulan judul nya Asbab Nuzul Al-Qur’an, jd pas aku searching ke temu ini yg lengkap:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s