Dakhil dan Israilliyat Dalam Tafsir

Oleh

Nablurrahman Annibras

Pendahuluan

            Al-Qur’an sebagai kalam Ilahi yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad Saw melalui perantara malaikat Jibril sekitar empat belas abad yang lalu senantiasa terjaga akan keotentikan dan keasliannya hingga akhir zaman kelak. Perhatian yang tercurah dari umat Islam seluruh dunia terhadapnya menjadi suatu peristiwa yang sulit untuk diungkapkan dalam kata-kata. Betapa sebuah al-Qur’an yang senantiasa dibaca dan dihafal berulang-ulang lalu direnungi dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari mampu menghadirkan sisi spiritual transendental dalam jiwa umat Islam. Sebuah keterikatan yang menjadi penghubung antara manusia sebagai ciptaan dan Allah sebagai penciptanya menjelma menjadi suatu hubungan yang dinamis.

            Al-Qur’an sebagai pelita kehidupan berusaha diinterpretasikan oleh umat Islam sedemikian rupa sehingga setidaknya mampu mencapai akan maksud yang terkandung di dalamnya. Akan tetapi terdapat sebuah fenomena yang menyedihkan terkait maraknya periwayatan-periwayatan dalam kitab-kitab tafsir terutama Tafsir bil Ma`tsur yang menukil dari kisah-kisah bani Israil. Periwayatan-periwayatan Israiliyyat dalam tafsir pada kenyataannya menimbulkan dampak negatif pada pemahaman akan sebuah ayat. Pemahaman yang justru akan menjauhkan si penafsir dari makna sebenarnya.

            Pada makalah ini, penulis berupaya mengulas secara umum akan apa makna sebenarnya dari Israiliyyat? Lalu apa hubungannya dengan dakhiil ? Dan bagaimana Israiliyyat bisa tersebar dikalangan umat Islam?. Semoga makalah ini bisa memberikan sedikit pencerahan bagi kita semua. Aamiin.

Ad Dakhiil ; Pengertian dan Pembagiannya

            Banyaknya kesalahpahaman dalam memahami akan makna dakhiil dan Israiliyat menjadi sebuah fenomena yang sering terjadi dikalangan cendekiawan Muslim, meskipun ada keterkaitan pada keduanya akan tetapi tetap ada perbedaan definisi yang cukup dalam. Secara etimologi, menurut al-Raghib al-Asfahany kata dakhiil berasal dari dakhl yang merupakan kata lain dari kerusakan, permusuhan yang mendasar [1]. Dalam buku Lisânu al-Arab disebutkan antonim dari kalimat al-Ashîl. Penulis kitab Lisânu al-Arab berkata: Ro’yun Ashîlun Lahû Ashlun (pendapat yang ashîl adalah pendapat yang memiliki landasan). Fulânun Dakhîlun Fî Banî Fulân (si fulan adalah orang asing di lingkungan [bani] fulan). Dari pengertian diatas, secara etimologi kata ad dakhiil adalah segala sesuatu yang berasal bukan dari asalnya. Baik itu berupa manusia, hewan, benda, dan lain sebagainya.

            Sedangkan secara terminologi, ad dakhiil menurut ulama-ulama tafsir berarti apa-apa yang di nukilkan dalam kitab tafsir yang mana belum diterima nukilan tersebut atau diterima akan tetapi bertentangan dengan akal atau tergolong pada pemikiran yang rusak. Dalam pengertian lain, ada juga orang yang mengartikan ad dakhiil sebagai tafsir yang tidak mempunyai dasar dalam agama. Dengan tujuan untuk merusak akan kandungan dari al-Qur’an. Hal ini terjadi akibat kelengahan terhadapnya yang terjadi setelah wafatnya Nabi Muhammad.[2]Dari berbagai pendapat yang ada tentang makna ad dakhiil, penulis menyimpulkan bahwa kata ad dakhiil merupakan input yang masuk ke dalam penafsiran al-Qur’an yang tidak memiliki dasar apapun secara agama, baik itu dari segi pengambilan riwayat, pemikiran maupun metodologi penafsiran.

            Dalam konteks dakhiil ini, Dr. Ahmed Syahaat Ahmed Moosa secara eksplisit membagi dakhiil dalam dua kategori[3] :

  • Dakhiil bil Ma`tsur ; yaitu apa-apa yang diriwayatkan dalam tafsir Al-Qur’an oleh sahabat dengan mengambil dari ahli kitab yang dikenal sebagai kisah Israiliyyat dan tidak ditemukan dalam agama kita apa-apa yang membenarkannya. Seperti yang disebutkan oleh al Qurtuby : dari as Siddy dan ibnu Juraij dan berkata :

“إنّه الصّحيح عن ابن مسعود أنّ الذّبيح إسحاق عليه السلام, فقد روي عنه أنّ رجلاً قال له: يا ابن الأشياخ الكرام, فقال عبد الله : ذلك يوسف بن يعقوب بن إسحاق ذبيح الله, إبن إبراهيم خليل الله صلى الله عليه و سلّم”

 “ Adalah shahih apa yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwasanya yang disembelih adalah Ishaq Alaihi Salam . Dan telah diriwayatkan pula darinya bahwa seorang laki-laki berkata padanya (Abdullah bin Mas’ud) : Wahai putra guru kami yang mulia, lalu berkatalah Ibnu Mas’ud : itu adalah Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq yang disembelih oleh Allah, putra dari Ibrahim Khalilullah”.

Setelah memperhatikan akan riwayat di atas, secara eksplisit di sana kita bisa menilai bahwa semua yang tertera pada teks tersebut mempunyai kemiripan kisah dengan apa yang dimiliki oleh ahli kitab dalam kitabnya. Ironisnya, rupanya kisah ini justru dapat kita temukan dalam kebanyakan kitab-kitab tafsir. Menjadi indikasi akan adanya pengaburan makna dari makna yang sebenarnya.

  • Dakhiil bil Ra’yi ; yaitu dakhiil yang muncul dalam kitab tafsir disebabkan karena disandarkan pada pemikiran yang timbul tanpa didukung metodologi penafsiran yang telah diakui kevalidannya oleh para ulama baik klasik maupun kontemporer. Seperti yang dilakukan oleh al-Zamakhsyari dalam menafsirkan surat al-Baqarah ayat 81 :

بَلَى مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

             Dalam ayat ini Zamakhsyari berusaha menafsirkan kalimat man kasaba sayyiatan sebagai pendosa besar yang akan kekal dalam api neraka jikalau sebelum meninggalnya ia tidak melakukan taubat. Dalam hal ini Zamakhsyari terinspirasi akan pemahamannya tentang faham Muktazilah yang ia anut dan yakini.[4]

Contoh lain seperti yang dilakukan oleh golongan yang berlebih-lebihan dalam mencintai akan ahlul bait dalam menafsirkan surat Al Baqarah ayat 158 :

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

Dalam ayat ini mereka menafsirkan kata-kata al-Shofaa dan al-Marwata  sebagai Rasulullah Saw dan Ali bin Abi Thalib.[5]Sebuah penafsiran yang jauh dari makna asalnya.

Israiliyyat ; Pengertian Umum

Kata Israiliyyat adalah bentuk jamak dari kata Israiliyah, yaitu kisah atau cerita yang berasal dari bani Israil. Israil sendiri merupakan julukan bagi Ya’qub Alaihi Salam. Sedangkan kata-kata bani Israil merupakan penisbatan bagi keturunan Ya’qub yang berjumlah dua belas orang.[6] Jadi, definisi dari Israiliyyat sendiri adalah kisah-kisah atau cerita-cerita dalam tafsir dan hadist yang bersumber dari ahli kitab baik itu Yahudi maupun Nasrani. Pada perkembangannya, sekalipun Israiliyyat dinisbatkan kepada ahli kitab dari Yahudi dan Nasrani, akan tetapi sebagian ulama ada yang menambahkan definisinya menjadi kisah-kisah yang dimasukkan oleh musuh-musuh Islam dalam kitab-kitab tafsir dengan tujuan untuk merusak aqidah dari umat Muslim[7]. Kisah itu seperti kisah Garaniq, kisah Zainab binti Jahsyi dan masih banyak lainnya.

Perhatian para ulama akan keberadaan Israiliyyat yang tersebar pada kitab-kitab tafsir merupakan sebuah indikasi akan kehati-hatian terhadap sesuatu yang berasal dari ahli kitab. Pada surat Al Maidah ayat 41 Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ لَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِينَ قَالُوا آَمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِنْ قُلُوبُهُمْ وَمِنَ الَّذِينَ هَادُوا سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ سَمَّاعُونَ لِقَوْمٍ آَخَرِينَ لَمْ يَأْتُوكَ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ مِنْ بَعْدِ مَوَاضِعِهِ يَقُولُونَ إِنْ أُوتِيتُمْ هَذَا فَخُذُوهُ وَإِنْ لَمْ تُؤْتَوْهُ فَاحْذَرُوا وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا أُولَئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, Yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka:”Kami telah beriman”, Padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (orang-orang Yahudi itu) Amat suka mendengar (berita-berita) bohong[8] dan Amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu[9] ; mereka merobah[10] perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah di robah-robah oleh mereka) kepada kamu, Maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini Maka hati-hatilah”. Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, Maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.”

Ayat diatas merupakan sebuah peringatan serius dari Allah akan kebiasaan yang dimiliki oleh kaum Yahudi. Di sana terdapat penjelasan cukup jelas bagaimana mereka senang untuk merubah-rubah akan apa yang ada dalam kitabnya. Begitupula dengan kaum Nasrani, Allah berfirman dalam surat al-Maidah ayat 14 :

šوَمِنَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى أَخَذْنَا مِيثَاقَهُمْ فَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَسَوْفَ يُنَبِّئُهُمُ اللَّهُ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

 “Dan diantara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya Kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah Kami ambil Perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; Maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang mereka kerjakan”.

Dalam ayat di atas Allah ingin mengenalkan akan kebiasaan dari kaum Nasrani yang gemar untuk menyembunyikan akan suatu kejadian. Atas dasar ini pulalah ulama-ulama baik hadist maupun tafsir melakukan sebuah kajian dan penelitian yang serius tentang segala hal yang berbau Israiliyyat. Penelitian yang bertujuan untuk memilah-milah mana yang benar-benar termasuk dalam kisah Israiliyat dan mana yang tidak termasuk kedalamnya. Sebuah penelitian yang rumit dan sulit mengingat Israiliyyat sudah bercampur-baur dalam kitab-kitab tafsir ( terutama tafsir yang menggunakan riwayat atau bil ma`tsur) seperti Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an karya Ibnu Jariir al-Thabary, Tafsir Al-Qur’an Al Azhim karya Ibnu Katsir, Al-Kasysyaf  karya Imam al-Zamakhsyari, Ruuhul Ma’anii karya al-Alusii, Al-Jami’ al-Ahkam al-Qur’an karya  al-Qurthubi, Al-Jawahir al-Hisan fi Tafsir al-Qur’an karya al-Tsa’labi, Ma’alim al Tanzil karya al-Baghawi dan lain sebagainya.

            Keberadaan Israiliyyat dalam kitab-kitab tafsir menurut hemat penulis bukanlah suatu hal yang merupakan kebetulan belaka. Ada unsur-unsur dan sebab-sebab tertentu sehingga Israiliyyat bisa ditemukan dalam jumlah yang relatif banyak dalam kitab-kitab tafsir tersebut. Salah satunya adanya kemiripan beberapa kisah yang tertera dalam al-Qur’an dan apa yang dimiliki oleh ahli kitab sekalipun ada perbedaan kronologis kejadian, waktu dan tokoh di dalamnya. Pada pembahasan selanjutnya penulis akan berusaha menerangkan akan sebab-sebab munculnya kisah-kisah Israiliyyat dalam tafsir dan hadist.

Sebab-Sebab Masuknya Israiliyyat

Menurut Ibnu Khaldun, sebagaimana dikutip Manna’ al-Qaththan dalam Mabahis| fi> Ulum Al-Qur’an, dalam sejarah diketahui bahwa  orang-orang Arab telah berinteraksi dengan orang Yahudi jauh sebelum Rasulallah Saw datang membawa ajaran Islam. Orang-orang Arab adakalanya menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan penciptaan alam semesta, rahasia-rahasia yang terkandung dalam penciptaan alam, sejarah masa lalu, tokoh-tokoh tertentu, atau tentang suatu peristiwa yang pernah terjadi pada suatu masa kepada kaum  Yahudi karena mereka memiliki pengetahuan yang didapat dari kitab Taurat atau kitab-kitab agama mereka lainnya[11]. Interaksi yang terjadi antara orang-orang Arab pra-Islam rupanya turut mempengaruhi akan kebudayaan dari orang Arab itu sendiri, karena seperti diketahui, bahwa orang-orang Yahudi ketika mereka menetap di jazirah Arab, mereka tidak lantas meninggalkan semua bentuk kebudayaan dan peradaban yang mereka miliki. Mereka tetap memegang teguh apa yang mereka miliki dalam peradabannya. Mereka membangun sinagog, melakukan peribadatan, mengkaji akan hukum-hukum syariat yang ada dalam kitabnya, termasuk mempelajari akan kabar-kabar tentang nabi-nabi mereka. Hal ini bisa dicontohkan dengan pengikraran akan ke-Islaman Abdullah bin Salam tatkala bertemu dengan Rasulullah Saw; kebenaran ramalan akan datangnya seorang Nabi akhir zaman dari kalangan bangsa Arab.[12]

Setelah datangnya Islam, terjadi persinggungan kebudayaan antara kaum Muslimin dengan kaum Yahudi. Hal ini terkait dengan kehidupan yang saling berdampingan antara Islam-Yahudi sebagai suatu kesatuan komunitas yang disebut “masyarakat Madinah”, yang mana seperti yang tercatat dalam sejarah bahwa pada saat itu terdapat komunitas-komunitas Yahudi yang tinggal di kota Madinah, seperti bani Qunaiqa’, bani Quraizhah, bani Nadlir, Yahudi Khaibar dan lain sebagainya.[13]Kehidupan yang saling berdampingan ditambah dengan adanya hubungan perdagangan baik itu di dalam kota Madinah maupun di tempat lainnya di Jazirah Arab membuat kebudayaan Yahudi (bani Israil) secara perlahan turut masuk kedalam dunia Islam. Adanya sahabat yang merupakan ex-ahli kitab seperti Abdullah bin Salam merupakan salah satu pintu masuknya Israiliyyat dalam Islam. Seperti diketahui bahwasanya para sahabat mempunyai antusiasme yang luar biasa melebihi siapapun dalam mempelajari dan menelaah akan isi kandungan al-Qur’an, termasuk dengan hal-hal yang berkaitan dengan kisah-kisah umat terdahulu yang mana dalam al-Qur’an hanya diceritakan secara global. Rasa antusiasme itu yang mengantarkan para sahabat untuk bertanya kepada ex-ahli kitab tentang hal-hal yang hanya diceritakan oleh al-Qur’an dan Rasulullah secara global. Akan tetapi, perlu diketahui bahwasanya para sahabat tidak serta merta menerima akan apa yang mereka ceritakan, dan tidak semua hal pula para sahabat bertanya kepada mereka, terutama tentang hal-hal yang berkaitan dengan aqidah dan ibadah. Begitupula dengan sahabat yang menceritakan akan kisah-kisah dalam Injil dan Taurat, menurut Prof.Dr. Muhammad ‘Izzah Derroz mereka tidak memiliki tendensi apapun dalam menceritakan apa yang ada dalam kitab mereka, mereka menceritakan kisah-kisah yang terdapat dalam kitab mereka apa adanya sesuai dengan pengetahuan mereka tentang hal tersebut[14].

Penyebaran kisah-kisah Israiliyyat dalam kitab-kitab tafsir setidaknya terbagi pada dua periode:[15]

  • Pertama, periode periwayatan; periode ini dimulai sejak Rasulullah ada. Beliau berinteraksi dengan para sahabatnya dan memberikan penjelasan kepada mereka segala urusan yang berhubungan dengan dunia dan akhirat. Beliau juga memberikan penjelasan tentang penafsiran akan ayat-ayat al-Qur’an yang masih dirasa samar oleh para sahabatnya yang kemudian mereka sampaikan kepada para sahabat yang kebetulan berhalangan hadir dalam majelis tersebut, juga kepada para tabi’in dan murid-muridnya. Pada saat itu, kemunculan Israiliyat masih bisa diminimalisir karena adanya sosok Rasulullah sebagai sumber penjelasan akan segala urusan yang menyangkut ibadah, muammalah, aqidah dan lain sebagainya. Pasca wafatnya Rasulullah, terutama pada periode tabi’in, terutama setelah terjadinya fitnah dikalangan umat Islam yang membuat terbaginya umat pada golongan Syi’ah, Khawarij dan Jumhur Ahlussunnah, bermunculan lah hadist-hadist palsu, kedustaan, dan kebohongan yang disandarkan kepada Rasulullah Saw. Tersebarnya kisah-kisah palsu dengan merajalela inilah yang pada akhirnya masuk secara luas kedalam tafsir dan hadist. Hal ini pulalah yang membangkitkan semangat para ulama Islam dan para muhaddisiin untuk mengeluarkan sebuah aturan-aturan yang jelas dalam meriwayatkan hadis demi mencegah tersebarnya kepalsuan diantara umat Islam.
  • Kedua, periode pembukuan; periode ini dimulai pada akhir abad pertama dan awal abad kedua Hijriah. Pada awalnya tafsir dan hadist merupakan sebuah kesatuan dalam bidang ilmu pengetahuan. Saat itu Umar bin Abdul Aziz[16]memerintahkan kepada para ulama untuk bersatu dalam mengumpulkan hadis-hadis yang bertebaran di muka dunia. Para ulama dengan sungguh-sungguh mengumpulkan hadis demi hadis dari suatu negara ke negara lainnya, termasuk di dalamnya hadis tentang penafsiran ayat-ayat al-Qur’an. Kumpulan hadist-hadist tentang penafsiran ayat-ayat al-Qur’an inilah yang kelak dinamakan dengan Tafsir bil Ma`tsur. Lalu pada periode ini pula muncullah para mufassir dan muhaddist yang membukukan riwayat-riwayat tanpa menyebutkan sanadnya. Rupanya hal ini pula lah yang dikemudian hari membuat banyak orang menukilkan kisah-kisah ajaib dari ahli kitab ke dalam penafsiran ayat-ayat al-Qur’an yang berhubungan dengan kisah tersebut. Begitu pula berkembang para da’I yang berceramah di atas mimbar dengan membawakan kisah-kisah yang tidak jelas kevalidannya seolah-olah merupakan bagian dari penafsiran al-Qur’an yang kemudian memikat hati masyarakat awam dan di amini oleh mereka kisah-kisah tersebut.

Efek dari Israiliyyat

            Tersebarnya kisah-kisah Israiliyyat di kalangan umat Islam rupa-rupanya menimbulkan efek tersendiri yang menggerogoti keutuhan aqidah. Betapa menurut al-Dzahabi dalam bukunya Israiliyat Dalam Tafsir dan Hadis setidaknya ada empat efek[17] yang ditimbulkan dari tersebarnya kisah-kisah Israiliyyat, efek tersebut adalah :

  • Perusakan akidah kaum muslimin karena mengandung unsur tasybih dan tajsim akan dzat Allah dengan sifat yang tidak sesuai dengan kesempurnaan dan keagungan – Nya. Seperti kisah penciptaan langit dan bumi selama enam hari yang mana di hari ketujuh Allah dikisahkan beristirahat. Hal ini jelas-jelas bertentangan dengan firman-Nya dalam surat Qaaf ayat 38 :

وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍ

“ Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan.”

Begitu pula adanya kisah-kisah Israiliyyat berpotensi meniadakan akan ishmah nya para Nabi dan Rasul dari dosa, seperti kisah Nabi Luth yang berzina dengan kedua anaknya.

  • Memberikan gambaran seolah-olah Islam adalah agama yang penuh kebohongan dan khurafat.
  • Penisbatan riwayat-riwayat Israiliyyat kepada para sahabat maupun tabi’in sedikit banyaknya menimbulkan efek negatif. Di antaranya berkurangnya kepercayaan kepada mereka. Padahal itu semua merupakan fitnah yang keji, selain itu mereka merupakan orang-orang yang kadar keilmuannya tentang Islam tak perlu diragukan lagi.
  • Cerita Israiliyat dapat menimbulkan efek negatif dikalangan umat Islam, yaitu memalingkan mereka dari esensi dan tujuan al-Qur’an itu sendiri. Seperti penyebutan nama-nama burung yang disembelih dan dipotong-potong oleh Nabi Ibrahim.

Hukum Periwayatan Israiliyyat

            Persoalan akan boleh tidaknya meriwayatkan kisah-kisah Israiliyyat menjadi perbincangan menarik dikalangan ulama-ulama. Adanya beberapa dalil yang seolah pro maupun kontra nyatanya mampu disikapi dengan arif oleh para ulama klasik. Di antara dalil-dalil yang membolehkan akan periwayatan kisah-kisah Israiliyyat seperti yang tertera di bawah ini :

ما روي البخارى عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما أنّ النّبيّ صلى الله عليه و سلّم قال : بلغوا عنّى ولو آية, وحدّثوا عن بنى إسرائيل ولا حرج و من كذّب عليّ متعمّدا فليتبوأ مقعده من النّار.

“Sampaikannlah dariku walau hanya satu ayat. Dan ambillah riwayat dari Bani Israil, tanpa halangan, dan barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka bersiap-siaplah untuk mengambil tempatnya di neraka” (HR. Bukhari)[18]

Selain dalil yang membolehkan akan periwayatan kisah-kisah Israiliyyat, ada pula dalil yang seolah melarang akan periwayatannya, di antara dalil-dalil yang ada adalah sebagaimana tertera di bawah ini[19] :

ما روي البخارى عن إبن عبّاس رضي الله عنهما قال : يا معشر المسلمين كيف تسألون أهل الكتاب عن شىء وكتابكم الّذى أنزل على رسول الله أحدث, تقرؤون محضاً لم يشب؟!, وقد حدثكم أنّ أهل الكتاب بدلوا كتاب الله وغيروه , وكتبوا بأيديهم الكتاب. وقالوا هو من عند الله ليشتروا به ثمناً قليلاً, ألّا ينهاكم ما جاءكم من العلم عن مسألتهم, لا و الله ما رأينا منهم رجلاً يسألكم عن الّذى أنزل عليكم.

 “Wahai kaum Muslimin ! Bagaimana kalian bertanya kepada ahli kitab, sedangkan kitab kalian diturunkan kepada Nabi kalian yang beritanya lebih baru dari Allah, kalian membacanya dan tidak mencela?!. Allah memberitahukan kapada kalian bahwa ahli kitab telah mengganti apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan merubahnya dengan tangan-tangan mereka, kemudian mereka mengatakan bahwa ia berasal dari Allah untuk menjualnya dengan harga yang murah. Tidakkah Ia telah melarang kalian untuk bertanya kepada mereka. Demi Allah, mereka tidak menanyakan sesuatupun kepada kalian tentang apa yang diturunkan kepada kalian.”(HR. al-Bukhari)

Keberadaan dua hadist di atas seolah mempertontonkan sebuah adegan tarik ulur antara menolak atau menyetujui akan pengambilan riwayat berdasarkan kisah-kisah Israiliyyat. Dalam hal ini menarik disimak beberapa komentar ulama-ulama terkemuka di bawah ini :

  • Imam Syafii berkata : “Seperti yang diketahui, bahwa Rasulullah melarang berbicara yang berisikan kedustaan; makna perintah untuk mengambil kisah-kisah dari bani Israil adalah kisah yang tidak ada kepalsuan di dalamnya, sedangkan yang mengandung unsur-unsur kepalsuan maka tidak diperbolehkan untuk mengambilnya[20].“
  • Ibnu Hajar berpendapat : “Pelarangan itu dilakukan sebelum adanya penetapan hukum-hukum Islam dan kaidah-kaidah agama demi menghindari akan fitnah.”[21]
  • Mengutip pernyataan al-Alusy tentang hadist yang melarang periwayatan Israiliyyat : “ Kemurkaan Rasulullah pada waktu itu lebih dikarenakan Taurat yang diyakini oleh Yahudi pada saat itu sudah mengalami pelencengan-pelencengan yang sedemikian parahnya yang mana di dalamnya terdapat penambahan dan pengurangan sehingga bukan lagi Taurat yang Allah turunkan kepada Nabi Musa As, sehingga manusia terjebak pada kekufuran. Seandainya pada waktu itu diperbolehkan untuk merujuk pada Taurat, maka akan terjadi kerusakan yang parah[22].”
  • Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata : “Seandainya ditetapkan untuk diperbolehkan mengambil riwayat dari mereka, maka hal tersebut yang mengarah pada kevalidan (keshahihan) riwayat itu. Sedangkan untuk hal-hal yang kita ketahui akan kebatilannya yang bertentangan dengan kebenaran yang kita imani (syri’at), maka hal tersebut harus kita tinggalkan dan kita tolak.[23]

Dari beberapa pendapat di atas, sekiranya bisa kita simpulkan bahwa periwayatan kisah-kisah Israiliyyat boleh kita ambil seandainya tidak bertentangan dengan syari’at yang kita imani. Adapun yang bertentangan maka sudah semestinya kita tolak akan keberadaannya. Pendapat-pendapat di atas juga bisa menimbulkan sebuah kesimpulan akan pembagian kisah-kisah Israiliyyat berdasarkan diterima atau ditolaknya menjadi tiga kategori[24]:

  • Kisah-kisah Israiliyyat yang sesuai dengan syari’at yang kita miliki; maka kisah tersebut kita akui kebenarannya.
  • Kisah-kisah Israiliyyat yang tidak sesuai dengan syari’at yang kita miliki ; maka kisah tersebut kita tolak keberadaannya.
  • Kisah-kisah Israiliyyat yang absurd ; maka sikap kita terhadap kisah tersebut adalah Hal tersebut ditakutkan apabila kita akui kebenarannya maka fakta yang terjadi adalah sebuah kebohongan, begitu pula sebaliknya.

Di antara tersebarnya kisah-kisah Israiliyyat dalam kitab-kitab tafsir, penulis mencoba mengutip salah satu contoh dari kisah Israiliyyat yang ada pada penafsiran surat al-Shaffaat ayat 99-113 tentang penyembelihan Ismail yang mana diklaim oleh kaum Yahudi sebagai Ishaq.

Allah berfirman :

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي سَيَهْدِينِ رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ  الصَّابِرِينَ فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَى إِسْحَاقَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ

 “Dan Ibrahim berkata:”Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,  sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman, dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang Nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.”

                Dari ayat di atas, banyak para mufassir yang meriwayatkan ( seperti Ibn Jarir al-Thabari, al-Baghawy dan lain-lain) dari beberapa sahabat, tabi’in dan Ka’ab al-Ahbar bahwasanya yang disembelih Nabi Ibrahim adalah Ishaq As. Yang menarik dari riwayat tersebut, ternyata tidak hanya sampai pada sahabat dan tabi’in saja, melainkan juga dinisbatkan kepada Rasulullah Saw. Seperti yang tertera pada riwayat di bawah ini :

ما روي إبن جرير عن أبى كريب عن زيد بن حباب عن الحسن بن دينار عن عليّ بن زيد بن جدعان عن الحسن عن الأحناف بن قيس عن العبّاس بن عبد المطلّب عن النّبيّ صلّى الله عليه و سلّم قال : الذّبيح إسحاق.

 Riwayat di atas secara tegas mengatakan bahwasanya yang disembelih bukanlah Isma’il melainkan Ishaq, akan tetapi hadist di atas setelah melewati analisis mendalam, ternyata hadist tersebut masuk dalam kategori hadist dla’if dan tidak sah dijadikan landasar hujjah dengan alasan sebagai berikut : Hasan bin Dinar merupakan matruk. Sedangkan gurunya; Ali bin Zayd bin Jad’an merupakan munkar al hadis.[25]

 

Kesimpulan

            Dakhiil merupakan suatu fenomena tersendiri dalam dunia penafsiran. Keberadaannya bersama kisah-kisah Israiliyyat seolah mengidentikkan keduanya, meskipun pada dasarnya terdapat perbedaan mendasar di antara keduanya. dakhiil yang lebih bersifat umum, dan Israiliyyat yang bersifat khusus. Dengan kata lain seluruh Israiliyyat adalah dakhiil, akan tetapi tidak semua dakhiil adalah Israiliyyat.

            Tersebarnya kisah-kisah Israiliyyat dalam kitab-kitab tafsir sudah seharusnya menjadi perhatian serius dari para ulama-ulama. Betapa tidak Israiliyyat sudah merasuk sedemikian rupa dalam berbagai karya penafsiran al-Qur’an sehingga seolah kisah-kisah Israiliyyat yang tercantum dalam kitab-kitab tafsir sudah berubah menjadi bagian dari tafsir itu sendiri. Begitupula akan keberadaan dakhiil yang lebih kompleks. Lebih dari itu, dewasa ini tersebarnya kisah-kisah Israiliyyat pada kenyataanya tidak hanya tersebar dalam kitab-kitab tafsir semata. Beberapa waktu yang lalu, penulis pernah menemukan tercantumnya unsur-unsur Israiliyyat dalam Lembar Kerja Siswa  (LKS) bidang studi agama Islam kelas 5  tingkat sekolah dasar, yaitu pencantuman soal  tanya-jawab tentang Sys yang merupakan putra terakhir dari Adam a.s menurut keyakinan teologi Kristiani. Keberadaan ini jelas sangat memprihatinkan, mengingat penyampaian kisah-kisah dalam al-Qur’an – terutama kisah para nabi dan rasul – hendaklah sesuai dengan apa yang ada dalam al-Qur’an dan hadits, yang mana tingkat kevalidannya terpercaya (sesuai dengan fakta), serta menghindari sumber-sumber yang masih meragukan tingkat kevalidannya.

            Proses-proses pengidentifikasian kisah-kisah Israiliyyat pada akhirnya menghasilkan hukum tersendiri dalam periwayatannya yang terangkum dalam tiga hukum :

  1. Diterima
  2. Ditolak
  3. Tawaquf

Pada akhirnya penulis berharap pembahasan dakhiil dan Israiliyyat dalam makalah sederhana ini bisa menjadi semacam alarm kehati-hatian dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an sehingga penafsiran yang didapat bisa mendekati apa yang dimaksud Allah dalam firman-Nya.

 DAFTAR PUSTAKA

 

Abu Syahibah, Dr.Muhammad bin Muhammad , Al Israiliyyat wal Maudlu’at fi Kutubi at Tafsir, Kairo: Maktabah Sunnah , cetakan ke IV, 1408 H

Adz Dzahaby, Muhammad Husein, Al Israiliyyat fi al Tafsir wal Hadis|, Kairo: Maktabah Wahbah, cetakan ke IV, 1990

Ahmed Moosa, Dr. Ahmed Syahaat , Ad dakhiil fii At Tafsiir, Kairo, tanpa penerbit, tanpa tahun

Al Qaththan, Manna’ , Mabahis fii Ulum Al-Qur’an, Kairo; Maktabah Wahbah, 2007

Al-Qur’anul Karim

Dahlan, H.Zaini, Qur’an Karim dan Terjemahan Artinya, Yogyakarta: UII Press, cetakan ke IX, 2010

Zahabi, Muhammad Husein, Israiliat Dalam Tafsir Dan Hadis, (terj,), Drs.Didin Hafidhuddin, Bogor: Pustaka Litera AntarNusa, 1993

[1] Dr. Ahmed Syahaat Ahmed Moosa, Ad dakhiil fii At Tafsiir, ( Kairo, tanpa penerbit, tanpa tahun) hlm. 11

[2] Ibid. hlm. 11-12

[3] Ibid . hlm. 31-35

[4] Dr. Ahmed Syahaat Ahmed Moosa, hlm. 37.

[5] Dr. Ahmed Syahaat Ahmed Moosa, hlm. 35.

[6] Muhammad Husein Zahabi, Israiliat Dalam Tafsir Dan Hadis, (terj,), Drs.Didin Hafidhuddin, ( Bogor: Pustaka Litera AntarNusa, 1993), hlm. 8.

[7] Ibid. hlm. 9.

[8] Maksudnya Ialah: orang Yahudi amat suka mendengar perkataan-perkataam pendeta mereka yang bohong, atau amat suka mendengar perkataan-perkataan Nabi Muhammad s.a.w untuk disampaikan kepada pendeta-pendeta dan kawan-kawan mereka dengan cara yang tidak jujur.

[9] Maksudnya: mereka amat suka mendengar perkataan-perkataan pemimpin-pemimpin mereka yang bohong yang belum pernah bertemu dengan Nabi Muhammad s.a.w. karena sangat benci kepada beliau, atau amat suka mendengarkan perkataan-perkataan Nabi Muhammad s.a.w. untuk disampaikan secara tidak jujur kepada kawan-kawannya tersebut.

[10] Maksudnya: merobah arti kata-kata, tempat atau menambah dan mengurangi.

[11] Manna’ Al Qaththan, Mabahis fii Ulum Al-Qur’an, ( Kairo; Maktabah Wahbah, 2007), hlm. 345.

[12] Lihat Dr.Ramzy Na’na’ah, Al Israiliyyat wa Asaruha fi Kutubi At Tafsir, ( Damaskus: Daar el Qolam, cetakan ke-I, 1970) hlm. 106-107.

[13] Lihat Muhammad Husein Adz Dzahaby, Al Israiliyyat fi al Tafsir wal Hadis|, ( Kairo: Maktabah Wahbah, cetakan ke IV, 1990) hlm. 16

[14] Lihat Dr.Ramzy Na’na’ah, Al Israiliyyat wa Asaruha fi Kutubi At Tafsir, hlm. 110.

[15] Lihat Muhammad Husein Zahabi, Israiliat Dalam Tafsir dan Hadis, hlm. 14-27

[16] Lihat Ibid. hlm. 17

[17] Lihat Ibid. hlm. 27-34.

[18] Dr.Ramzy Na’na’ah, Al Israiliyyat wa Asaruha fi Kutubi At Tafsir. hlm. 90

[19] Ibid. hlm. 87

[20] Ibid, hlm. 92.

[21] Ibid.

[22] Ibid. hlm. 94.

[23] Ibid. hlm. 95-96

[24] Lihat Ibid. hlm. 79-81.

[25] Dr.Muhammad bin Muhammad Abu Syahibah, Al Israiliyyat wal Maudlu’at fi Kutubi at Tafsir, (Kairo: Maktabah Sunnah , cetakan ke IV, 1408 H), hlm. 253.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s