PERNIKAHAN BEDA AGAMA

Tulisan ini telah dimuat dalam Jurnal An-Nahl Edisi Juni 2017

Pendahuluan

Fenomena perkawinan antar pemeluk agama yang berbeda dalam beberapa dekade terakhir ini merupakan fenomena yang turut mengundang perhatian umat beragama di Indonesia khususnya, dan pada masyarakat dunia pada umumnya. Hal ini tak lepas berkembangnya paham pluralisme sebagai bentuk kebebasan dalam beragama dan bergaul dengan pemeluk agama yang berbeda untuk membentuk solidaritas yang kuat sebagai warga negara dan umat beragama.

Islam sebagai salah satu agama mayoritas penduduk Indonesia telah memuat aturan tentang pernikahan lintas agama yang melibatkan dua pihak yang berbeda “keyakinan”. Dalam Al-Qur’an dijelaskan tentang bagaimana proses pernikahan itu terjadi dan siapa saja yang boleh dinikahi. Akan tetapi terdapat batasan-batasan tertentu dimana penganut agama yang boleh dinikahi oleh umat Islam sendiri hanya mencakup dua agama pendahulunya yang sama-sama diturunkan melalui wahyu dari Tuhan yang sama yang dikenal dengan sebutan ahl al-kitab.

Dalil-dalil yang menjelaskan tentang aturan yang mengizinkan terjadinya pernikahan antara umat Islam dengan umat non Islam telah menginspirasi kaum kontemporer dengan bukunya yang cukup terkenal yaitu “Fiqih Lintas Agama” yang diterbitkan oleh Universitas Paramadina. Buku ini juga menerangkan tentang aturan-aturan fiqih dasar yang dimodifikasi sesuai tafsiran para penulisnya dengan menggunakan dalil-dalil ayat Al-Qur’an sehingga tercipta paham “Pluralisme” yang memungkinkan terjadinya pernikahan antara umat Islam dengan umat Yahudi dan Kristiani.

Sedangkan menurut sebagian besar pendapat ulama fiqih klasik dan modern, pernikahan antara umat Islam dengan non Islam merupakan hal yang diharamkan karena aturan-aturan yang terdapat dalam Al-Qur’an dibatasi oleh waktu dan syarat tertentu.

Oleh karena itu, pernikahan beda agama merupakan salah satu bahasan yang cukup menarik untuk dijelaskan dalam memahami aturan-aturan pernikahan dalam konsep fiqih Islam baik itu dari pendapat yang membolehkan maupun dari pendapat yang mengharamkan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s